PunkYGapteG

Kumpulan Artikel Menarik , Tips Bermanfaat Serta Bacaan Yang Menghibur

ENTRI POPULER

Sendiri

Di jembatan ini ku menunggumu  ,

Senja hinnga malam pun tiba ,

Setia menunggu di gelapnya malam,

Tanpa ku sadari rintik hujan turun,

Tetapi dirimu tak kunjung tiba,

Basah tubuh ini ,

sepi ...........

Tak terasa malam pun mulai larut,

Hingga kusadari tinggal diriku sendiri disini,

Suara langkah kaki datang mendekat,

Perasaan bahagiapun muncul,

Ku toleh ke belakang,

Ternyata bukan dirimu,

Sendiri..........

Dingin malam ini menyelimuti tubuh ini,

Haruskah ku akhiri penantianku ini,

...................
⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇

Lanjutnya gmana????

Malam dingin

Kulalui malam di temani secangkir kopi,
memandang langit dengan segenap hati,
Menanti harapan yang belum pasti,
Etah bagaimana kisah hidupku nanti,

Langit dan bumi menjadi saksi,
Perjuangan keras hidupku hari demi hari,
Kerja keras tak henti henti,
Dengan hasil yang tak pasi,

Dingin malam ini kulalui sendiri,
Menyambut sang mentari esok hari ,
Melanjutkan perjuangan hidupku ini,
Sampai kucapai semua harapan dan mimpiku ini,

Akankah terus srperti ini, 
Semua kuserahkan pada takdir ilahi,
Kalau memang terus seperti ini,
Lebih baik aku mati,

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.


Eeennnndddddddd

Cinta lalu

Semenjak kepergianmu setahun yang lalu di sini ku menunggu sosok gadis sepertimu lagi, 

Hari hari kulalui sendiri...

Sepi sunyi menghantui...

Bayangmu masih saja muncul di benakku ini...

Kapaan....

Sosok penggantimu ada di sisiku lagi....


Penantian panjang ku lalui.....

Setiap saat menanti...

Menunggu disini...

Banyak yang datang silih berganti...

Untuk mengisi ruang kosong di hati ini...

Tapi tak satupun bisa mengganti dirimu hai pujaan hati...

Cinta lalu .....

Duduk diam menunggu.....

Sosok pengganti dirimu...

Yang ada hanya bayangmu di benakku...

Takkan pernah kita bertemu...

Sampai maut menjemputku...

.
.
.
.
.
.
.
.
.

Dah gitu aja ,

Gk bisa nulis

Tahun Baru

Hal sang sangat menggembirakan memang saat momen pergantian tahun baru tiba
Seluruh penjuru dunia ikut merayakan malam pergantian tahun , beragam acara di gelar dan setiap daerah dengan kebudayaannya masing masing ikut memeriahkan malam pergantian tahun,,,,,

Iseng ngepost

Dah setahun gk buka blog

Kangen banget,,

Bersamamu



“Untung kamu sudah datang, pembukaan lomba bentar lagi mulai tuh.” Pak Sartono – guru agama di SMP 2 Mataram tempat aku sekolah – mengomeliku yang datang tergopoh-gopoh berlari kecil dari gerbang sekolah.
“Maaf pak telat, yang lain sudah datang?”
“Sudah ada Imam sama…”
“Eh kak Fer udah dateng.” Suara Imam memecah ucapan Pak sartono, aku tak mendengar nama siapa tadi yang disebutnya. “ah Imam, ayo dah dimana tempat pembukaannya? Langsung saja kita kesana?.” Aku menarik tangan Imam mengajaknya ke tempat pembukaan. “tunggu Anggun dulu kak.” Imam melepaskan tangannya dari genggaman. “eehh, siapa Anggun?” aku heran.
“Kakak ini tau tim kita gak sih? Kan cerdas cermat dimana-mana bertiga kak.” Imam menunjuk ke arah anak yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Anggun cepet!” Imam melambaikan tangan kepada anak itu.
“Iya kak tunggu.” Anak itu berdiri dan berlari ke arah kami.
Namanya Anggun, Anggun Aprillia Sani. Ini awal cerita aku mengenalnya. Seorang anak kecil yang cantik, lucu, imut – pipinya tembem kayak bakpao – anak yang ceria dan manis. Kami saat itu mengikuti lomba MFQ – Musabaqoh Fahmil Qur’an, lomba cerdas cermat dalam bidang agama Islam. Kami satu tim. Imam dari kelas 8A: aku, Ferry, Firyal Dhiyaul Haqqi – tak ada unsur kata ‘Ferry’ dalam nama lengkapku, semua bertanya begitu, aku tak tau – dari kelas 9H: dan dia, Anggun dari kelas 7A.
“Maaf kak lama.” Wajah ceria itu tersenyum manis padaku. “oh iya gak apa-apa kok.” Aku balik tersenyum padanya. “ayo kak.” Imam balik menarik tanganku sekarang.
Lomba itu diadakan di SMP 1, lokasinya di sebelah SMP kami. Saat itu kami mendapatkan juara 1. Dan lolos ke tingkat kota.
“Selamat nak.” Pak sartono menyambut kami di luar ruangan.
“Alhamdulillah tadi dapet soal yang gampang karena Anggun yang milih soalnya.” Imam terlihat sumringah setelah keluar dari ruangan lomba.
“Iya tadi sistemnya kita dikasih pilihan soal dalam amplop. Tiap regu ngambil 1 soal. Terus yang ngambil Anggun. Waaahhh memang beruntung banget.” Aku menjelaskannya pada Pak Sartono yang tersenyum melihat kami mendapatkan juara. “Iya bapak sudah tau kok Fer, gak perlu kamu jelasin.” Pak sartono menepuk-nepuk bahuku. Anggun hanya tersenyum. Rupanya dia masih malu dengan kakak-kakak kelasnya. Maklum lah, dia kan masih anak kelas 7. Padahal baru saja kita berada dalam satu tim.
Di tingkat kota, kami mendapatkan juara 3, walaupun Anggun kembali mengambil soal yang gampang, tapi lawannya pintar-pintar semua. Maklum lah mereka dari sekolah Madrasah. Mendapatkan juara 3 membuat Imam sedikit sedih, mungkin dia merasa bersalah karena dia yang menjadi juru bicara tim kami, dia merasa bertanggung jawab, tapi ini kan perlombaan tim, jadi tak ada yang bisa disalahkan, kemenangan adalah kemenangan tim, dan kekalahan juga adalah kekalahan tim. Aku mengungatkan Imam. Anggun juga terlihat masam. Lomba itu selesai sore hari. Kami berfoto-foto dengan tim finalis untuk dimuat di koran Lombok Post. Hari itu terasa panjang. Walau kecewa, kami setidaknya telah melakukan yang terbaik, bagi tim kami, dan bagi sekolah kami.
Setelah hari itu, kehidupan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Lomba telah usai, dan kebiasaan sekolah kami adalah mengumumkan hasil lomba-lomba yang diikuti murid-murid setelah upacara hari senin selesai. Kami bertiga maju. Aku bertemu Anggun lagi saat itu. Dia tersenyum manis menyapaku, “Hai kak, lama gak ketemu, hehe.” Pagi itu cerah, dan sapaannya tadi menambah keceriaan di pagi itu.
“Kak Fer!” Imam datang dari arah barisan sebelah selatan.
“Anggun, Imam.” Aku tersenyum pada mereka yang menyapa dengan hangat.
Hari itu kami terlihat hebat di sekolah kami, maju ke depan, disaksikan semua warga sekolah untuk diberikan piala sebagai simbolisasi, karena piala itu akan dipajang di lemari piala sekolah.
Setelah Senin yang membanggakan itu, aku jarang bertemu mereka. Aku juga sibuk persiapan ujian nasional. Aku sudah kelas 9. Saatnya fokus untuk bisa masuk ke SMA impianku, SMA Negeri 1 Mataram. Siapa yang tak mengidam-idamkan SMA itu? Berisi anak-anak terbaik se-pulau Lombok. Anak-anak pilihan. Betapa bangganya mengenakan seragam khas SMA itu. Juga karena kakakku yang sudah lebih dahulu berada disana menjadi lecutan semangatku. Karena selama ini aku selalu mengikuti jejaknya. SD sama, SMP juga, dan SMA harus bisa sama dengannya.
Sebulan berlalu, kembali ke kehidupan normal. Bersama teman-teman sekelas yang gila-gila. Teman sebangkuku yang bernama Adit – dia playboy, sangat playboy, muka sih biasa-biasa aja, standar lah, gantengan juga aku – bercerita-cerita di waktu jam istirahat. Dia cerita kalau dia baru aja mutusin pacar barunya – mutusin pacar baru? Gila ni anak – yang anak kelas 7D, namanya Rina, aku kenal dia. Selama dia pacaran sama si Playboy Adit ini, dia sering curhat sama aku. Secara gitu dia tau kalau aku teman sebangkunya Adit.
Apalagi setelah dia diputusin sama si Adit, Rina jadi temen sms-anku tiap malam. Dia curhat, galau katanya, maklum anak SMP rentan galau. Putusnya dia sama Adit buat saya sama Rina jadi deket – hubungan kakak-adik apa lah namanya – karena aku sudah nganggap dia sebagai adik sendiri. Kasian anak itu, rupanya terlalu cinta sama yang namanya Adit. Dasar playboy.
Aku sering main-main ke kelasnya Rina. Entah kenapa, setelah dekat dengan dia, sepertinya rasa suka’ muncul. Setelah dari kelas 7 sampai kelas 9 semester 1 aku jatuh cinta dengan seorang anak blasteran arab bernama Ismi, sekarang move ke anak kelas 7D ini. Tapi Rina ternyata suka’ sama temenku, temen aku SD, namanya Hadi. Galau, itu tema aku setiap malam – sekali lagi, anak SMP rentan galau.
Hingga suatu hari, aku sama Hadi main-main ke kelasnya Rina. Itu jam istirahat. Melihat Spendu – nama singkat SMP 2 – dari atas lantai 2.
“Hei dek!” itu Anggun, aku menyapanya setelah melihat dia jalan bersama temannya menuju ke arahku.
“Iya kak?” dia tersenyum manis seperti biasa.
“Nnnggg… Boleh minta nomer HP gak?” aku gak tau apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba bisa ngomong to the point gitu. Aku sendiri bingung. Itu kan pertemuan pertama setelah lama gak bertemu dia.
“Boleh kak.” Anggun mengangguk tersenyum malu.
“Di, tulisin dong nomer HP-nya Anggun nih.” Hadi yang memegang Handphone-ku langsung mencatatnya.
“Makasi ya dek.” Aku tersenyum padanya. “iya kak.” Anggun balas senyum. Lalu pergi bersama temannya.
Semenjak aku dan Anggun bertemu kurang lebih sebulan yang lalu di acara MFQ, aku tak tahu nomer HP Anggun, tak pernah terlintas untuk memintanya saat itu. Entah kenapa tadi begitu tiba-tiba, terjadi begitu saja. Perasaan di Rina masih ada, tapi di Anggun ini apa namanya? Lagi-lagi, SMP masa yang rentan galau.
Rupanya si Adit itu telah menemukan pengganti si Rina, langsung, dia kan playboy. Aduh, tak kepikiran aku jadi orang yang kayak dia, kok bisa? Aku juga harus berenti suka’ sama Rina. Harus belajar dari Adit. Di sini banyak kok cewek yang manis, berjilbab, solehah. Jadi sebenarnya gampang lah buat move on. Toh ada Anggun. Aku juga sebenarnya lagi deket sama cewek anak kelas 9F, namanya Ayu. Dia cantik, baik, dan yang paling penting, dia juga suka’ sama aku. Aku curhat sama Ayu tentang Rina, tak tau lah apa yang dia rasain waktu aku curhat ke dia tentang Rina. Tapi Ayu adalah pendengar yang baik. Mungkin hatinya sakit, aku tak tau.
Ada juga cewek yang buat aku tertarik waktu itu, namanya Aini. Anak kelas 9I. Dia awalnya kelas 9G, waktu ada program perluasan kelas, dia dipindah. Tapi perasaan itu hanya rasa suka yang biasa. Karena dia manis, cantik, putih, tembem, berjilbab. Jadi suka’ aja ngeliatnya. Ya, itu tipe cewek aku. Tapi aku tak kenal dengannya. Malu aku berkenalan. Jadi lupakan.
Malam hari terasa sepi. Yang awalnya selalu ditemani Rina, sekarang dia sudah bersama Hadi. Aku teringat dengan Anggun. Kuambil HP. “Assalamu’alaikum. Anggun, gimana kabarnya?” ini sms pertama aku ke Anggun. Maaf, walaupun masa SMP masa yang dibilang Alaayy, tapi aku tak se-alay yang kalian kira. Aku nulis sms biasa aja kok.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya?” tak lama Anggun menjawab sms itu.
“Ini kak Ferry, masi inget kan?”
“Ooohhh, kak Feeerrryyy, apa kabar kak? Anggun baik-baik aja! :D ” terlihat Anggun begitu senang menerima sms dariku. Bukannya kePD-an. Tapi keliatan kok dari caranya membalas sms. Ceria sekali.
Aku juga cerita semua tentang Rina ke Anggun. Dan dia mengatakan, “Aku ada disini kak, sama kakak, akan aku buat kakak ngelupain Rina.” Jawaban itu buat aku tenang. Senang bisa kenal dengan Anggun. Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kedekatan kami. Aku jadi bisa melupakan Rina, total bisa melupakannya. Aku suka sama Anggun. Aku gak mau kehilangan dia. Aku sudah menganggap seperti adik sendiri. Dia juga demikian, menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri.
“Kak kita buat janji yuk?” Anggun mendengarkan sebuah lagu kepadaku. “Ini lagu kita kak.” Anggun tersenyum. Aku terdiam. Mendengarkan lagu itu. “Kakak janji ya bakalan selalu ada, ngejaga Anggun, janji ya” Anggun mengulurkan jari kelingkingnya tanda kesepakatan. “iya kakak janji dek.” Dia tersenyum lebar mendengarnya.
Janji itu masi teringat sampai saat ini. Setiap mendengar lagu itu, aku mengingat Anggun. Mengingat uluran jari kelingkingnya yang meminta kesepakatan.
Aku mendapatkan impianku, mendapatkan SMA 1 Mataram. Yang artinya aku harus pisah dengan Anggun. Tiga bulan masa kedekatan di bangku SMP dengan Anggun. Dan kini aku memulai dunia baru. Dunia SMA. Walaupun sudah berada di bangku SMA, hubungan aku dengannya lancar-lancar saja, komunikasi tak pernah putus. Bahkan kami sesekali pergi jalan-jalan berdua.
Dua bulan berlalu terjadi lost contact di antara kami. Entah kenapa aku berpikir ada yang berubah dari Anggun. Aku tak tahu apa penyebabnya. Hingga saat itu.
“Kak, Anggun capek, sakit hati sama seorang cowok.” Sms itu masuk ke HP-ku.
“Kenapa dek? Siapa?”
“Anggun mau pindah sekolah aja, Anggun mau ke Jakarta. Pindah ke sana.” Aku terkejut membaca sms itu. Tanpa menjawab sms itu aku menuju rumah Anggun untuk mencari kejelasannya langsung.
“Assalamu’alaikum, Anggun.” Lama menunggu pintu itu terbuka. “wa’alaikumsalam” itu bukan Anggun, itu Faras, kakaknya. Aku tau Faras tak setuju aku dekat dengan Anggun. Karena dia sahabatnya Ayu – kelas 9F juga, jadi dia menganggap aku akan mempermainkan adeknya. Raut wajahnya tak bersahabat, tapi dia berbaik hati memanggilkan Anggun untukku. “Anggun, ada Ferry tuh!”
Malam itu aku mendapatkan kejelasan yang membuatku terkejut. “Kak, Anggun capek nunggu.” Aku heran. “Anggun pengen denger kalimat itu dari kakak.” Tunggu dulu, aku semakin bertanya-tanya. Ini ada apa sebenarnya? “Ada apa dek?”, “Anggun suka sama kakak, Anggun mau jadi pacar kakak, Anggun mau denger kakak bilang cinta ke Anggun.” Aku terperanjat. Bagaimana tidak, seumur-umur baru Anggun yang mengungkapkan perasaannya langsung ke aku. Aku terdiam. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Alisnya mengkerut. “Terus jadi mau pindah ke Jakarta? Cuma gara-gara itu?” aku berusaha tersenyum seolah mengajaknya ikut tersenyum juga. Kepalanya tertunduk dalam diam. “Dek, kakak gak mau pacaran sama Anggun, Anggun sudah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri. Iya kakak suka juga sama Anggun, kakak akui itu, tapi kakak gak mau pacaran sama Anggun. Gak bisa dek. Maaf.” Anggun semakin terdiam. Dia mengangkat wajahnya. Dia tersenyum, meski air mata jatuh di pipinya. Itu senyum terakhir yang aku lihat. “Kakak pamit dek. Maaf ya.” Aku tak tau bagaimana perasaan Anggun waktu itu, yang jelas pasti sakit.
“Dek jangan nangis.” Aku berusaha tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Ya Allah apa yang aku perbuat malam ini. Malam terlihat gelap – meski umumnya malam memang gelap – tapi malam itu terasa lebih gelap dibanding biasanya. Aku pamit ke Anggun. Di tengah jalan terbayang terus senyum manisnya tadi. Apa aku menyesal? Sepertinya tidak. Jalanan itu terasa panjang dan lenggang.
Setelah kejadian itu, aku kembali lost contact dengannya. Sebulan berlalu dan aku mendengar kabar bahwa dia kini berpacaran, dengan seorang yang non-muslim. Saat itu aku benar-benar menyesal. Aku merasa tak sanggup menjaga adik sendiri, tak sanggup menjaganya. Kemana janji itu? Apa aku melanggarnya? Atau Anggun yang membuatku untuk melanggar janji itu?
Satu semester sudah berlalu. “Fer, ada kabar bagus.” Naufal – sahabat baikku – memanggil sambil menunjukkan sms yang ada di HP-nya. Aku cerita semua tentang Anggun padanya. Dia sahabat yang baik. Dari keluarga seorang hakim dan dokter. Tanpa semua sadari – termasuk dia – aku dan Naufal jatuh cinta dengan perempuan yang sama saat itu, teman sekelas kami. Perempuan yang familiar, tak asing bagiku. Tapi aku tak mau membahasnya disini. “Ada apa fal?” aku penasaran. “Anggun mau balik ke kamu katanya!” Balik? Aku heran. “Iya dia mau minta maaf ke kamu. Katanya dia ngerasa kehilangan kakaknya. Berita bagus bro!” tak kepalang tanggung senangnya aku saat itu. Itu adalah titik balik hubungan aku dengannya nyambung lagi.
“Kak, maaf ya, Anggun kehilangan kakak. Kakak masi inget kan sama janji kita? Terus terang Anggun sakit hati malam itu, mangkanya berpikir pendek dan mau pergi dari kakak. Anggun bohong bilang mau pindah ke jakarta, karena emang gak tahan.” Panjang lebar sms Anggun itu. Aku senang dia akhirnya mengerti. “Iya dek, gak apa-apa kok, kakak juga minta maaf ya.”
Sudah 3 tahun kedekatanku dengan Anggun tanpa ada perselisihan apapun. Hubungan yang adem-ayem. Kini aku berada di bangku kuliah. Masuk di Unram Fakultas MIPA jurusan Fisika. Anggun yang berusaha ingin masuk ke SMA 1 harus gagal dengan usahanya. Dia memang sedih. Tapi bukan Anggun namanya kalau larut dalam kesedihan. Dia sekarang di SMA 2 – Smanda, duduk di kelas 11. Sudah lama hubungan kakak-adik ini berjalan. Teman, hubungan adik-kakak ini cuma ada di Indonesia, tak tau lah seperti apa itu hubungan kakak-adik, tapi seperti inilah yang aku jalani dengan Anggun. Kalian yang ada di Indonesia pasti pernah mengalaminya juga.
Kemarin malam aku menelepon Anggun. Dia berceloteh, bercerita tentang masa SMA-nya di Smanda. Aku kangen mendengar suaranya, mendengar keceriaannya. Senang sekali bisa mendengar suara ribut itu. Ahahaha.. Tak terasa hidup ini berjalan begitu cepat. Anggun sudah memiliki dunianya bersama sahabat-sahabatnya. Janji itu tetap ada, dan tetap kami ingat. Malam itu terasa panjang, curhat-curhatan, ketawa bareng, saling olok-olokan. Walaupun hanya lewat telepon, tapi hangatnya terasa. Keceriaan Anggun yang dulu aku kenal sangat terlihat.
“Dek, tunggu dulu, coba denger deh.” Samar terdengar sebuah lagu terputar di radio yang berdiri di atas meja belajar krem di samping kasur. “Ini lagu kita.”
Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia
Tentu saja kita pernah
Mengalami perbedaan
Kita lalui
Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam
Cintamu…
Ku tak akan berubah
Ku tak ingi kau pergi
Slamanya
ku kan setia menjagamu
bersama dirimu,dirimu
sampai nanti akan slalu
bersama dirimu
Saat bersamamu kasih
Ku merasa bahagia
Dalam pelukmu
Ku tak akan berubah
Ku tak ingin kau pergi
Slamanya…
seperti yang kau katakan
kau akan slalu ada
menjaga, memeluk diriku
dengan cintamu
Teringat kembali janji itu, saat-saat itu, masa-masa kedekatan aku dengan Anggun di SMP dulu. Anggun, justru karena aku suka sama kamu mangkanya aku gak ingin berpacaran denganmu. Karena aku tak ingin berpisah denganmu mangkanya aku menolak malam itu. Kita masih SMP saat itu, masa paling labil di dunia. Masa yang rentan galau dan belum dewasa. Anak-anak SMP itu berpikiran pendek. Tak kan ada hubungan pacaran yang akan bertahan lama. Tak ada. Pasangan yang berpacaran, jika sudah putus, pasti ujung-ujungnya bermusuhan, gak saling sapaan, terus pisah deh. Tak ada kelanjutannya. Karena itu aku gak mau pacaran sama Anggun. Karena aku gak mau kehilangan dia.
Jika kamu menyukai seseorang, tak mesti mengaplikasikannya dengan sebuah hubungan pacaran. Simpanlah jika itu memang yang terbaik bagimu, kelak ungkapkan perasaan itu melalui janji suci jika sudah datang waktu yang tepat.


Cerpen Karangan: Firyal D. Haqqi

Cinlok



Rara masih serius menatap dirinya di cermin. Lirik kiri! Lirik kanan! Manyun! Menyeringai! Terbahak! Pasang raut wajah MELAS! NGOOOK! Nampaknya dia masih kurang PD dengan rambut barunya. Suruh siapa dia pangkas rambutnya sependek itu? Ina bilang sih mestinya di botakin tuh rambut, kalo pengen jadi indah. Liat aja noh! Rambut kaya ijuk gitu aja masih dipertahanin. Seenggaknya 2 cm dari akar rambutlah. Hampir gundul dong? Tapi kenyataannya enggak kok. Cuma jadi cepak aja.
Dia masih ragu, mau datang ke acara Birthday Party si Hani apa enggak. Hani itu teman satu kelas kita di SMA. Masalah Cuma satu kok. Ga ada yang lain. Rambutnya itu loooh!
“Heh! Lu mau ikut kaga? Yang lain udah pada siap, lo masih ngaca aja.” Wuuuzzz kayanya Rani langsung darah tinggi lihat kelakuan si Rara.
“Bentar-bentar. Gue pasang nie jepit rambut dulu. Biar rada manis lah.” Jawabnya ketar-ketir.
“Ih sumpah ya sejak kapan lo jadi ganjen gini?”
“Sejak Nene Lampir bondingan.” Tukas Rara jutek.
Rani langsung menarik tangan Rara dan menyeretnya keluar rumah menuju teman-teman yang lain. Rara yang merasa tidak terima dengan seretan Rani, ia langsung melepas tangannya dengan kasar dan berjalan cepat serta sangar TAK TOK TAK TOK suara sepatunya.
Dalam pesta Rara mulai terbawa suasana. Ke-tidak-mood-an dia hilang seketika. Dia sangat menikmat pestanya dan sangat menjadi diri sendiri. Kata teman-temannya, terkadang dia menjadi badut kelas. Artinya selalu bisa menghibur apapun situasinya. Entah dengan tingkah lakunya maupun dengan ucapan yang terkesan.. maaf “Bodoh”. Rara memang masih kekanak-kanakan, dia selalu tampil ceria dan dinamis. Pintar bergaul dan senang menjalin perteman dengan siapapun. Tidak heran banyak orang yang langsung merasa PAS sama dia. Tapi kelemahan Rara yang paling menonjol adalah, gampang di Bodoh-bodohin. Kasihan ya? Untung ada Rani teman paling setia. Teman yang jelas lebih pintar dari Rara.
Di tengah acara, ada sebuah game yang dipandu oleh Hani sendiri, dia itu yang punya hajat. Permainannya adalah oper korek api. Jadi akan di putar sebuah lagu sambil mengoper-oper korek api tersebut, jika lagu mendadak berhenti dan korek api terhenti pada seseorang maka dia yang akan menjadi bulan-bulan yang punya hajat juga seluruh manusia yang hadir di situ. Kesepakatan kami adalah.. Bila sudah mendapatkan korban, korban tersebut harus memilih dari kedua pilihan yang ada sebenernya enak ga enak sih. Pertama Dia Harus Nyanyi sambil Joget. Ke dua Dia harus bawain piring-piring kotor ke dapur sambil jalan jongkok.
Sesuai hobi dan bakat yang dimiliki Rara, tentu dia memilih pilihan pertama. Lagu yang dibawakan dia berjudul “Terajana” lagu bergenre Dangdut ini di buat asik dengan aransement yang rada koplo dan menjadi lebih anak muda bangeeet.
Banyaknya para hadirin tidak menggoyahkan ke-PD-an Rara. Ia begitu antusias bernyanyi dan berjoget sehingga yang lain menjadi bertambah semangat. Matanya lagi-lagi melihat ke arah teman-temannya. Mereka ikut berjoget dihiasi tawa bersama. Rara menjadi ikut tertawa saat bernyanyi. Dalam larutnya kecerian yang ada, tiba-tiba ada sesosok laki-laki yang nampak, ia mencuri perhatian Rara. Dia memiliki lesung pipi di pipi kanannya, itu menambah senyum lelaki itu semakin menawan. Tubuhnya tinggi sehingga terlihat lebih keren. Dan lebih-lebih lelaki itu ikut menikmati persembahan Rara. Mata mereka seakan bertemu, tapi ketika benar-benar saling bertemu, keduanya seolah tidak saling melihat. Rara menjadi malu dengan keberadaannya di depan mereka. Rasanya ingin cepat-cepat mengakhiri aksinya. Mukanya merah dan pandangannya menjadi tidak fokus. Mic yang digenggamnya serasa jadi berat. Tenggorokannya tiba-tiba serak. Duuuh… kenapa nih?
Rara bukannya baru pertama merasa cinta, tapi baru merasakan cinta pada pandangan pertama. Aiiihhh.. Bisa juga disebut sebagai Cinta Lokasi atau Cinlok.
Setelah acara hampir selesai, Hani menyediakan Papan Tulis/Whiteboard berukuran sedang yang ditempel di tengah-tengah tembok ruangan pesta. Seluruh para hadirin diwajibkan, menulis ucapan selamat, tidak lupa di beri nama pengucap serta tanda tangan. Saat itu Rara sengaja mengundur-undur dirinya agar tidak cepat-cepat menulis. Ada saja alasan untuk menundanya. Tahukan kalian maksudnya apa? Yaa! Tidak lain tidak bukan. Rara ingin tahu siapa nama lelaki itu. Tapi sayangnya lelaki itu bukan menuliskan nama asli, melainkan nama seperti nama samara atau nama ketenaran atau apalah. Whatever!
Layaknya situasi normal yang terjadi di setiap kelas kosong tanpa guru, suasana sangat ricuh. Ini adalah implementasi bersosialisi bagi kami. Saling bercanda, bercerita, dan tertawa. Dalam kondisi ini Rara memberanikan diri untuk menanyakan lelaki dalam pesta itu. Hanya sekedar bertanya nama.
“Han! Kemarin itu.. Siapa namanya?” Tanyanya ragu-ragu.
“Yang mana?” Dia berbalik tanya kebingungan.
“Ih.. Itu loh. Dari bet seragamnya. Dia anak SMAN 1.” Rara memperjelas orangnya.
“Ya kan banyak. Yang mana dulu??”
“Ah payah nih si Hani. Mesti gue terangin dulu aja baru ngeuh!” Rara membalas pertanyaan Hani dalam hati.
“Jangan-jangan yang di maksud si Fadli lagi? Eeeh busset daah cinlok mereka?” katanya dalam hati.
Hani sempat terheran-heran. Pantas saja Fadli sms gue minta nomer telepon cewek yang rambut cepak. Tapi dia ga ngeuh siapa yang cewek yang rambutnya cepak, saking banyak orang yang dateng kali ya? Otaknya mulai berputar-putar, menyangka-nyangka dan bertanya-tanya. Pasalnya tidak ada kejadian yang menarik di antara meraka sepanjang acara tersebut berlangsung.
Hari demi hari berlalu. Sejak itu tidak ada yang mengetahui kabar tentang lanjutan cinta pada pandangan pertama. Yang tahu hanya mereka berdua, alam dan Tuhan.
“Aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Rasa yang aku rasakan di mulai saat mata kita saling bertemu untuk pertama kalinya. Aku menyukai keceriaanmu. Dan aku ingin kamu menularkannya untukku.” Fadli tidak melepaskan pandangannya pada mata Rara yang sudah kaku sejak tadi. Mungkin otaknya belum bisa menterjemahkan kalimatnya.
Kriiingg… Kriiingg….
Bell alarm berdering dengan kencang. Dan Rara segera terbagun. Segera meraih Alarm.
“Astaga! Cuma mimpi!” kening Rara langsung mengkerut.
“Tau Cuma mimpi gue langsung aja bilang Iya Aku Mau Nularin Keceriaanku Untukmu. Uuuhh!”
Oke guys. Itu memang hanya sebuah mimpi yang hampir berujung indah. Sayangnya tidak benar-benar terjadi. Well! Rara tetap havefun dengan semuanya. Jadian atau enggak yang penting deketnya itu.



Cerpen Karangan: Kinanti Tiara Dewi

Menjadi Yang Kuinginkan





“Siapa aku?” aku berucap tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerak di bibir.
Yang kutahu aku adalah seorang perempuan. Kuliah di universitas dan jurusan yang kuinginkan. Memiliki nilai di tiap semester seperti yang kuinginkan; ya, selalu IPK di atas 3,00 karena aku ingin pintar, lulus dengan nilai yang memuaskan, lantas berkarier menjadi apa yang kuinginkan. Aku memiliki banyak teman, baik perempuan dan lelaki di kampus, di rumah, di sekolahku dulu, dan di beberapa komunitas di mana aku aktif di dalamnya. Dan aku menyukai berdandan. Aku merawat rambutku yang bergelombang panjang, merawat kulitku dengan beragam perlengkapan, memulas wajahku yang tampak ceria dengan warna, dan memakai baju yang aku padankan dengan segala gaya yang aku suka. Menabur parfum vanila yang kugunakan sejak aku kelas 1 SMA.
Tetapi itu dulu. Kini yang kusadari di dalam kursi belakang taksi yang hanya ada aku dan seorang supir taksi yang diam itu, aku tidak lagi mengenal siapa diriku. Tidak ada bau yang mengingatkanku akan keberadaan diriku sendiri.
Lelaki itu kuakui sungguh tampan. Umurnya beberapa tahun lebih tua dariku. Seorang teman mengenalkannya padaku. Pandangan pertama, aku tertegun melihat sosok tegapnya dengan wajah rupawan. Aku mendekatinya. Ia tertarik padaku. Hingga beberapa kali berkencan, kami menjadi sepasang kekasih.
Sekarang sudah hampir satu tahun kami berpacaran. Ia masih tetap lelaki berbadan kokoh yang tampan. Sedangkan aku, aku tidak pernah sama lagi. Aku mulai sering tidak masuk kelas untuk mata kuliah tertentu. Bahkan aku mendapat nilai E untuk lebih dari dua mata kuliah. IPK-ku turun drastis di bawah tiga. Itu semua kulakukan atas apa yang dikatakan lelaki tampanku sebagai cinta. Ia selalu saja mengajak bertemu di jam-jam aku seharusnya kuliah, siang hari di sela-sela ia istirahat di kantornya. Namun, ketika aku menolak, ia selalu marah dan mengancam untuk memutuskan hubungan. Aku menurutinya dengan resiko yang kudapat saat ini, yaitu kehilangan keinginanku di tempat yang kuinginkan.
Kemudian ia bertindak lebih dari yang kuduga. Saat kami bersama, ia mulai curiga dengan semua teman lelaki yang kumiliki. Matanya memicing tajam, dan bertanya kasar, “Barusan siapa, Sayang?” Setelah aku menyudahi telepon dari temanku. Aku menjawab nama teman yang menelponku secara lantang tanpa ada prasangka. Tersebutlah sejumlah nama lelaki ketika memang teman-teman lelakiku yang menelpon. Ia marah-marah di depanku seolah aku perempuan yang berselingkuh di hadapannya. Sejak itu, aku menerima kehilanganku yang kedua: teman-temanku. Rasanya bagai tidak memiliki apa pun di dunia ini, kecuali hanya ia, lelakiku yang diharapkannya memang hanya ia seorang yang kumiliki.
Ia menyuruhku meluruskan rambut panjangku. Katanya lagi, “Kenapa dandanan kamu se-menor itu? Kamu ingin bertemu aku atau bertemu laki-laki lain?” teriaknya sewaktu kami bertemu dengan aku yang berdandan seperti biasanya. Tentu aku menjawab tidak dan menjelaskan padanya bahwa aku senang berdandan jika bertemu orang lain, terutama bertemu pacarku sendiri. Ia tambah marah-marah dan mengelap paksa mukaku dengan tisu basah. Melarangku mengenakan make-up karena takut setiap lelaki yang berpapasan denganku akan melirik lalu mengajakku menjadi pacarnya. Sungguh aku tidak mengerti. Yang kumengerti, aku kehilangan diriku yang selalu senang ketika aku berdandan.
Di taksi ini, aku dalam perjalanan menemui dirinya di sebuah kafe di dekat kantornya. Rambutku lurus, wajahku tampak pucat karena tanpa make-up apa pun, pakaianku seadanya, dan merasa benar-benar kesepian. Aku rindu mengobrol dengan Anton di komunitas komik. Aku rindu bercanda dengan Miki di warung makan biasa aku dan teman-teman SMA-ku bertemu setiap akhir pekan dua minggu sekali. Aku rindu berada di tengah-tengah obrolan di kampusku dengan teman-teman lelaki maupun perempuan. Bahkan mungkin aku tidak lagi akrab dengan teman-teman perempuanku.
“Mau masuk ke dalam tempat parkir atau menepi di pinggir jalan saja, Mba?” supir taksi itu bertanya. Ternyata sebentar lagi aku akan sampai di tujuan.
“Masuk, Pak, kita menepi di lobi!”
Aku tahu ia pasti sudah menunggu di lobi. Menunggu untuk melihatku benar-benar sendiri menemuinya. Lantas, ia yang akan membayar taksinya. Meski aku memiliki cukup uang, ia selalu marah-marah kalau aku harus mengeluarkan uang di depan matanya. Sungguh aku tidak mengerti mengapa aku harus menggantungkan diriku padanya.
Taksi berbelok memasuki gedung. Menepi di lobi. Aku melihat ia berdiri sendirian di tangga lobi. Dari balik kaca taksi, kulihat mimik mukanya yang kesal seolah lama menunggu. Kulirik jam pada taksi sekaligus melihat argonya, lalu kutahu betul aku tidak telat sama sekali.
Supir taksi turun membukakan pintu untukku meski aku biasa membuka pintu untuk diriku sendiri. Ia menatap supir taksi itu dengan curiga. Membayarnya dengan dua lembar uang pecahan dua puluh ribu setelah bertanya pada supir biaya taksiku yang hanya tiga puluh ribu.
“Simpan saja kembaliannya!” katanya ketus pada si supir taksi.
Kami memasuki sebuah kafe di gedung itu. Ia memesan dua cangkir kopi untuknya dan untukku. Padahal aku tidak menyukai kopi. Tapi di depannya, ia memaksaku menikmati apa yang dinikmatinya. Katanya agar aku lebih bisa mengerti ia. Ia berbicara panjang lebar. Berkeluh kesah soal hari-harinya tanpa aku di kantor. Aku diam saja. Sebab tanggapanku, kutahu akan semakin membuatnya kesal. Ia hanya mau didengar.
Hari ini tepat satu tahun kami berpacaran. Ia mengajakku berkencan biarpun baru kemarin kami bertemu sambil makan nasi goreng di warung langganannya yang tidak kusuka dan berbelanja kemeja di toko favoritnya yang bernuansa kaku.
Sejenak aku bercermin di kamarku setelah mandi dan memakai baju.
Diriku di cermin itu begitu pucat. Begitu menyedihkan. Sepasang mata di cermin itu menatapku. Aku tertunduk. Sepasang mata itu masih menatapku tajam. Mengingatkanku pada diriku yang dulu.
“Apa yang kauinginkan?” Aku mendengar suara bisik itu ketika bercermin. Kutahu ini saatnya ada diriku yang lain yang berbicara.
Spontan aku menjawab: “Banyak hal yang kuinginkan, yang ingin kuraih, yang ingin kupertahankan. Aku ingin bahagia dengan menjadi apa yang kuinginkan.” Aku menteskan air mata. Aku teringat diriku yang rajin kuliah. Mendapat nilai A untuk hampir seluruh mata kuliah. Selalu menjadi mahasiswa dengan persentasi makalah terbaik. Menginginkan menjadi perempuan yang menggapai karier tertinggi dengan pendidikan yang kudapat. Menginginkan kembali memiliki banyak teman yang membuatku merasa senang.
Tiba-tiba saja aku terlonjak. Aku melepaskan baju yang kukenakan. Membuka lemari dan mencari-cari pakaian berwarna-warni yang dulu sering kupakai. Aku membuka laci di bawah cermin riasku. Melihat begitu banyak tumpukan make-up yang menunggu. Dan aku merubah wajahku berwarna pelangi. Lembut dan betul-betul tampak indah.
“Rick, mobil Kakak bawa!” Aku berkata pada adikku yang sedang menonton televisi. Tanpa menunggu adikku berucap, aku segera mengambil kunci mobilku di meja, yang lama tidak aku sentuh karena pacarku melarangku membawa mobilku sendiri.
Aku sampai duluan sebelum pacarku sampai di kafe biasa kami janji bertemu. Aku memesan teh hangat dan sepotong kue stroberi dengan krim yang menggiurkan, yang dibencinya karena bisa membuatku gemuk. Setelah menghabiskan kue itu, aku mengambil buku yang kubawa dari rumah di tasku, dan mulai membaca sambil menunggunya datang. Aku tidak menyalakan handphone untuk sejenak.
Di ujung pintu, aku melihatnya melangkah terburu-buru kemari dengan wajah cemberut dan kesal. Kuhapal betul tabiatnya setiap bertemu aku. Ada saja hal yang dikeluhkan dan perlu dikomentarinya dengan muka begitu.
“Sedang apa kamu di sini? Aku menelponmu dari tadi. Menunggumu di depan lobi sampai setengah jam lebih.” Nada bicaranya membuat beberapa orang menengok ke arah kami. “Apa-apaan ini? Tampilanmu seperti ingin mencari lelaki saja!” Ia masih mengomel sambil berdiri.
Aku beranjak dari dudukku untuk mensejajarkan tinggiku dengannya yang menolak duduk sebelum selesai memarahiku.
Aku mulai angkat bicara, “Sayang, apa kau tahu siapa aku?”
“Kau adalah pacarku.”
“Aku adalah perempuan dengan nilai tertinggi di kelasku. Aku adalah seorang dengan banyak teman. Aku menyukai berdandan. Dan aku tidak suka memiliki rambut seperti yang kauinginkan.” Aku menarik ikat rambutku. Menyembullah rambut panjangku yang bergelombang indah seperti aslinya.
“Aku menyukai menjadi diriku karena dengan begitu aku tahu siapa aku.”
“Apa-apaan kau ini? Bicaramu ngelantur!” Semakin banyak mata orang memandang kami.
Aku sama sekali tidak merasa malu. Entah dari mana keberanian ini muncul. “Dan kau harus tahu bahwa aku ingin menjadi siapa diriku yang sebenarnya. Aku bukan manekin yang bisa kaulekatkan beragam benda yang kauinginkan sekedar untuk memuaskan hasratmu.”
Ia meracau tak karuan. Aku tidak peduli.
Kuambil bukuku. Kukeluarkan uang untuk membayar teh dan sepotong kue stroberi yang kupesan. Kutaruh uang itu di meja.
“Kita sudah berakhir. Carilah boneka sebagai temanmu. Sekedar untuk kaudandani dan mendengar keluh kesahmu tanpa berkata apa-apa.” Aku melangkah pergi menjauhinya keluar kafe.
Ia meneriaki namaku. Semakin jauh suaranya. Semakin aku tersadar bahwa ia bukanlah seseorang yang kuinginkan.
Aku berjalan keluar. Tak kupedulikan dirinya lagi. Untuk pertama kalinya aku merasa menjadi diriku yang sesungguhnya: seorang perempuan dengan banyak keinginan yang menunggu untuk diraih. Aku tetap merasa tenang karena kucium wangi vanila pada diriku.


Cerpen Karangan: Nurdiyansah

Dariku Untukmu


Bagaimana perasaanmu ketika sahabatmu telah menemukan seseorang yang dicintainya? Akankah kau takut ditinggalkan olehnya? Tetapi, sebagai sahabat yang baik kau akan tetap ada untuknya seperti apa pun dia bukan? Bahkan jika dia sering membuatmu berurai air mata sepanjang malam. Kau akan tetap ada untuk menerimanya.
Kehadiran sahabat duniaku begitu indah. Sudah cukup lama aku mengenal mereka, sekitar 3 tahun yang lalu. Namun, aku tak pernah tahu sejak kapan tepatnya menyebut Dira dan Putra sebagai sahabatku. Bagiku mereka sahabat terbaik yang pernah aku miliki hingga saat ini. Walau kini aku tak lagi dapat melihat senyum mereka seperti dahulu. Aku tak bisa membunuh waktu bersama mereka lagi
Bias sinar mentari menyusup di antara celah pepohonan di dekat kelasku, menembus jendela kaca. Menyilaukan. Aku yang baru saja datang disambut dengan senyum hangat seseorang yang selalu duduk di belakangku. Senyumnya yang masih lekat dalam ingatanku.
Kami terdiam hingga bel masuk berdering. Sesaat kemudian Ibu wali kelas memasuki ruang kelasku. Seorang gadis berambut panjang dengan bola mata cokelat terang yang tak pernah kulihat sebelumnya berjalan perlahan mengikuti langkah beliau.
Gadis itu berdiri di depan kelas dan memperkenalkan dirinya, sebagaimana seorang murid baru. Ia menyebut dirinya ‘Dira’. Seusai ia memperkenalkan dirinya pada seisi kelas, kemudian ia duduk di kursi yang masih kosong, di sebelahku. Ia meletakkan tasnya. Aku terus memperhatikannya hingga ia melihat ke arahku seraya tersenyum manis dan menjabat tanganku.
“Dinda.” Kataku sembari membalas senyumnya dengan senyumku.
Tak hanya denganku. Dira juga melakukannya pada beberapa teman yang duduk di dekatnya tanpa kecuali sahabatku, Putra.
Tampaknya Dira sosok gadis pendiam dan sedikit misterius. Setiap kali aku mengajaknya bicara panjang lebar atau menanyakan sesuatu, ia hanya menjawab seperlunya. Bahkan tak jarang ia hanya menjawabnya dengan senyum.
“Dinda!!”
Seseorang memanggilku dan membuat langkahku terhenti. Aku pun menoleh. Kudapati Dira berlari dari kejauhan.
“Kau tinggal di asrama juga?”
“Menurutmu?”
Ia terdiam. Menunduk lalu tersenyum padaku.
“Iya. Apa kau murid yang akan menempati kamar itu bersamaku?” tanyaku lagi.
Dira mengangguk dan kembali tersenyum.
Tidak hanya di kelas namun kini aku benar-benar menghabiskan banyak waktuku bersama Dira. Meski kadang ia begitu menyebalkan.
Ketika mentari sudah berjalan kembali menuju peraduannya, semburat merah yang mewarnai langit yang semakin gelap. Aku dan Dira yang hendak kembali menuju asrama setelah cukup lama menghibur diri di luaran sana mendapat kejutan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Ada sesuatu yang membuat dadaku begitu sesak. Aku tak dapat lagi berkata-kata. Seseorang yang begitu dekat denganku dan beberapa bulan belakangan ini tepat bersama kehadiran Dira, ia menjauhiku.
“Dinda, kau kenapa?” tanyanya padaku yang tiba-tiba terhenti dan pandanganku tertuju pada sosok di seberang sana yang tampaknya begitu bahagia.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menghempaskannya. Dira menyadarkanku. Kemudian kutebar senyum padanya sebagai tanda aku baik-baik saja.
Sepanjang langkah kakiku menuju asrama aku hanya bisa terdiam. Memang aku pernah ditolaknya. Menyakitkan. Kemudian kutahu ia bersama gadis lain. Ia yang pernah memberiku harapan. Ia yang pernah memberiku semangat. Namun, kini ia juga yang menjatuhkan aku dan membiarkanku dalam keterpurukan.
“Dinda, aku bantu membereskan barang-barangmu, ya?”
Sesampainya di kamar, aku dibantu Dira membereskan semua barangku yang harus aku bawa esok hari.
Hari ini terakhir kali aku menginjakkan kaki di tempat ini, di kota ini. Orang tuaku memintaku kembali ke Jogja. Kupikir di saat seperti ini, aku dapat menghabiskan waktu bersama Putra, sahabatku sekaligus orang yang aku cintai. Meski ia sempat berkata padaku ~ Aku memang menyayangimu, tapi maaf. Aku tidak mencintaimu. Namun, apapun yang terjadi kita akan tetap menjadi sahabat ~
Kini ia telah bahagia bersama sosok lain yang menempati hatinya. Mungkin aku juga telah dilupakannya.
Mataku masih terjaga hingga tengah malam.
“Din, belum tidur?”
Aku menggelengkan kepala pada Dira. Ia terus memandangiku lekat. Kami saling beradu pandang.
“Aku sudah tahu semuanya. Maaf, jika aku lancang. Namun aku tidak bermaksud begitu. Aku telah membaca seisi diarymu.”
Aku tak berreaksi apa-apa. Hatiku bersorak gembira. Lega rasanya. Rahasia itu tak lagi kupendam sendiri.
Dira terus menenangkanku hingga kita terlelap. Mentari telah menunggu.
Kusambut pagi ini dengan keceriaan. Aku tak ingin meninggalkan kesan bahwa jiwaku terluka.
Dira, teman-teman sekelasku, juga Putra mengantar keberangkatanku. Aku yang tak pernah berani menangkap cahaya matanya, Putra. Kini kudapati matanya yang sedikit sayu.
“Din, aku bahagia dapat mengenalmu. Tak ada gunanya lagi aku minta maaf sekarang. Aku yakin sakit hatimu tak akan pernah reda sebanyak apapun aku memohon untuk kau maafkan. Aku memang bodoh. Terlalu sering membuatmu terluka. Kau yang seharusnya kujaga…”
“Sstt, diamlah! Jangan kau ungkit lagi. Biarkan aku. Hanya aku yang kau sakiti. Cukup aku. Jika kau tak dapat menjagaku. Semoga kau dapat menjaga ini dengan baik.” Kataku seraya memberikan sebuah kalung kesayanganku yang selalu aku simpan sedari kecil, meski aku tak pernah memakainya. Itu satu-satunya barang yang selalu aku jaga hingga kini. Karena itu berharga untukku.
Aku pun perlahan melangkahkan kaki, menjauh dari mereka yang mengantarku dan menuju bus yang telah menungguku.


Cerpen Karangan: Fatma Roisatin Nadhiroh

Kriteria dan Sosok Wanita Yang Selalu Didambakan Oleh Pria

Memiliki pasangan hidup seorang yang kita dambakan dan sesuai dengan yang kita inginkan adalah merupakan kebahagiaan tersendiri. Baik wanita maupun pria pastinya mendambakan sosok orang terkasih, yang memenuhi kriteria seperti yang di inginkannya.



Khusus bagi kamu kaum wanita, pada Artikel Cinta kali ini kita akan membahas Beberapa Hal Yang Didambakan Seorang Pria Kepada Wanita.

Wanita yang stabil

Stabil maksudnya adalah wanita memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya, dan punya keinginan untuk mewujudkannya. Sosok wanita seperti ini mirip dengan seorang ibu yang membuat pria tergila-gila pada wanita yang stabil seperti ini.
Wanita yang memiliki minat sama
Pria sangat mendambakan wanita yang memiliki minat yang sama dengannya. Minat yang sama tidak berarti adalah hobi yang sama. Mungkin hobi wanita berbeda dengan pria. Tapi, wanita harus menunjukkan ketertarikan/supportnya kepada hobi yang dilakukan pria. Wanita yang seperti ini juga sangat di damba oleh pria.
Wanita yang suka memberi kejutan
Percaya atau tidak, sebagian besar pria suka dengan kejutan. Sebab kejutan berarti sebuah usaha spesial yang dipersiapkan dengan baik. Dari situ terlihat usaha si wanita untuk menyenangkan orang terkasih. Kejutan disini bukan berarti adalah yang terheboh atau besar. Mulailah dengan kejutan hal-hal kecil dengan intensitas yang besar.
Wanita yang mengesankan
Para pria mencari wanita yang tahu bagaimana memberi kesan khusus pada mereka. Setiap wanita juga punya cara yang berbeda-beda untuk membuat pria terkesan. Salah satu cara terbaik untuk membuat pria terkesan adalah dengan eksplorasi kemampuan khusus wanita yang jarang bisa ditemui di wanita lain.
Wanita yang percaya diri
Pria sadar bahwa wanita adalah makhluk sensitif dan terkadang merasa terancam tanpa sebab. Namun rasa percaya diri sangat penting untuk membuat pria tergila-gila pada wanita. Dengan memiliki wanita percaya diri setidaknya akan mengurangi rasa was-was pria terhadap wanita yang di cintainya.
Wanita yang memiliki selera humor
Hidup tidak selalu harus dianggap serius sepanjang waktu. Bahkan pria pun lebih menginginkan wanita yang punya selera humor bagus untuk dijadikan pasangan. Pria suka wanita lucu karena terkesan "ngegemesin". Tidak ada salahnya bagi wanita untuk mempelajari tips-tips humor untuk membuat pria tertawa dan senang.
Wanita yang bisa dipercaya
Pria tidak terlalu suka membeberkan rahasia atau detail kehidupannya pada orang lain. Namun sekali mereka melakukan hal itu, pria akan menceritakan kisah hidupnya pada wanita yang bisa dipercaya. Oleh karena itu, pria juga sangat mendambakan sosok wanita yang bisa

Beberapa Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah

Pernikahan merupakan suatu jalan untuk memulai suatu babak babak baru dalam kehidupan seseorang. Bagi seorang wanita, menikah merupakan tempat untuk mengabdi sebagai seorang istri, dan mempersembahkan semua tanggung jawabnya kepada suami. Selain itu, dengan menikah juga merupakan suatu jalan untuk melanjutkan keturunan.





Namun, terkadang setelah menikah, seorang wanita ternyata masih melakukan hal-hal yang seharusnya tidak lagi di lakukan ketika menjadi seorang istri atau telah menikah. Kesalahan dan kekeliruan ini biasanya terbawa ke pernikahan karena sudah menjadi kebiasaan sebelum menikah. Dimana semua tanggung jawab masih di pegang oleh kedua orang tua. Apa saja Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah atau setelah menjadi istri?

Berikut ini adalah Beberapa Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah, dan biasanya tanpa mereka sadari.

Meninggalkan Kehidupan Sosial

Setelah menikah, wanita merasa sibuk dan bertanggung jawab untuk mengurus rumah tangganya. Alhasil, para wanita mulai meninggalkan kehidupan sosial mereka sebelum menikah.
Terlibat Konflik Dengan Ibu Mertua
Cekcok urusan rumah tangga bukan hal yang aneh. Apalagi kalau menyangkut masalah mertua. Itu sih biasa! Jadi, sebaiknya hadapi masalah bersama pasangan dan jangan bersikap keras, khususnya pada ibu mertua.
Overprotektif Terhadap Suami
Wanita kok jadi overprotektif setelah menikah? Hal ini memang sering terjadi dalam rumah tangga. Mereka selalu ingin tahu kemana suami pergi. Apa yang dia lakukan? Pergi dengan siapa?
Mengadu Kepada Orang Tua
Jangan pernah memberitahu orang tua tentang perkelahian dalam rumah tangga! Mahligai pernikahan hanya mengikat sepasang hati yang saling mencinta. Jadi, apakah kamu akan selalu melibatkan orang tua dalam urusan rumah tangga.
Jika kamu termasuk salah seorang wanita menikah atau seorang istri yang selalu melakukan Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah diatas, tentunya ini saat yang tepat untuk merubahnya. Jangan korbankan pernikahanmu hanya karena kekeliruanmu dalam bersikap.
 

Total Tayangan Halaman

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.