Kumpulan Artikel Menarik , Tips Bermanfaat Serta Bacaan Yang Menghibur

ENTRI POPULER

Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Sendiri

Di jembatan ini ku menunggumu  ,

Senja hinnga malam pun tiba ,

Setia menunggu di gelapnya malam,

Tanpa ku sadari rintik hujan turun,

Tetapi dirimu tak kunjung tiba,

Basah tubuh ini ,

sepi ...........

Tak terasa malam pun mulai larut,

Hingga kusadari tinggal diriku sendiri disini,

Suara langkah kaki datang mendekat,

Perasaan bahagiapun muncul,

Ku toleh ke belakang,

Ternyata bukan dirimu,

Sendiri..........

Dingin malam ini menyelimuti tubuh ini,

Haruskah ku akhiri penantianku ini,

...................
⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇

Lanjutnya gmana????

Malam dingin

Kulalui malam di temani secangkir kopi,
memandang langit dengan segenap hati,
Menanti harapan yang belum pasti,
Etah bagaimana kisah hidupku nanti,

Langit dan bumi menjadi saksi,
Perjuangan keras hidupku hari demi hari,
Kerja keras tak henti henti,
Dengan hasil yang tak pasi,

Dingin malam ini kulalui sendiri,
Menyambut sang mentari esok hari ,
Melanjutkan perjuangan hidupku ini,
Sampai kucapai semua harapan dan mimpiku ini,

Akankah terus srperti ini, 
Semua kuserahkan pada takdir ilahi,
Kalau memang terus seperti ini,
Lebih baik aku mati,

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.


Eeennnndddddddd

Cinta lalu

Semenjak kepergianmu setahun yang lalu di sini ku menunggu sosok gadis sepertimu lagi, 

Hari hari kulalui sendiri...

Sepi sunyi menghantui...

Bayangmu masih saja muncul di benakku ini...

Kapaan....

Sosok penggantimu ada di sisiku lagi....


Penantian panjang ku lalui.....

Setiap saat menanti...

Menunggu disini...

Banyak yang datang silih berganti...

Untuk mengisi ruang kosong di hati ini...

Tapi tak satupun bisa mengganti dirimu hai pujaan hati...

Cinta lalu .....

Duduk diam menunggu.....

Sosok pengganti dirimu...

Yang ada hanya bayangmu di benakku...

Takkan pernah kita bertemu...

Sampai maut menjemputku...

.
.
.
.
.
.
.
.
.

Dah gitu aja ,

Gk bisa nulis

Bersamamu



“Untung kamu sudah datang, pembukaan lomba bentar lagi mulai tuh.” Pak Sartono – guru agama di SMP 2 Mataram tempat aku sekolah – mengomeliku yang datang tergopoh-gopoh berlari kecil dari gerbang sekolah.
“Maaf pak telat, yang lain sudah datang?”
“Sudah ada Imam sama…”
“Eh kak Fer udah dateng.” Suara Imam memecah ucapan Pak sartono, aku tak mendengar nama siapa tadi yang disebutnya. “ah Imam, ayo dah dimana tempat pembukaannya? Langsung saja kita kesana?.” Aku menarik tangan Imam mengajaknya ke tempat pembukaan. “tunggu Anggun dulu kak.” Imam melepaskan tangannya dari genggaman. “eehh, siapa Anggun?” aku heran.
“Kakak ini tau tim kita gak sih? Kan cerdas cermat dimana-mana bertiga kak.” Imam menunjuk ke arah anak yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Anggun cepet!” Imam melambaikan tangan kepada anak itu.
“Iya kak tunggu.” Anak itu berdiri dan berlari ke arah kami.
Namanya Anggun, Anggun Aprillia Sani. Ini awal cerita aku mengenalnya. Seorang anak kecil yang cantik, lucu, imut – pipinya tembem kayak bakpao – anak yang ceria dan manis. Kami saat itu mengikuti lomba MFQ – Musabaqoh Fahmil Qur’an, lomba cerdas cermat dalam bidang agama Islam. Kami satu tim. Imam dari kelas 8A: aku, Ferry, Firyal Dhiyaul Haqqi – tak ada unsur kata ‘Ferry’ dalam nama lengkapku, semua bertanya begitu, aku tak tau – dari kelas 9H: dan dia, Anggun dari kelas 7A.
“Maaf kak lama.” Wajah ceria itu tersenyum manis padaku. “oh iya gak apa-apa kok.” Aku balik tersenyum padanya. “ayo kak.” Imam balik menarik tanganku sekarang.
Lomba itu diadakan di SMP 1, lokasinya di sebelah SMP kami. Saat itu kami mendapatkan juara 1. Dan lolos ke tingkat kota.
“Selamat nak.” Pak sartono menyambut kami di luar ruangan.
“Alhamdulillah tadi dapet soal yang gampang karena Anggun yang milih soalnya.” Imam terlihat sumringah setelah keluar dari ruangan lomba.
“Iya tadi sistemnya kita dikasih pilihan soal dalam amplop. Tiap regu ngambil 1 soal. Terus yang ngambil Anggun. Waaahhh memang beruntung banget.” Aku menjelaskannya pada Pak Sartono yang tersenyum melihat kami mendapatkan juara. “Iya bapak sudah tau kok Fer, gak perlu kamu jelasin.” Pak sartono menepuk-nepuk bahuku. Anggun hanya tersenyum. Rupanya dia masih malu dengan kakak-kakak kelasnya. Maklum lah, dia kan masih anak kelas 7. Padahal baru saja kita berada dalam satu tim.
Di tingkat kota, kami mendapatkan juara 3, walaupun Anggun kembali mengambil soal yang gampang, tapi lawannya pintar-pintar semua. Maklum lah mereka dari sekolah Madrasah. Mendapatkan juara 3 membuat Imam sedikit sedih, mungkin dia merasa bersalah karena dia yang menjadi juru bicara tim kami, dia merasa bertanggung jawab, tapi ini kan perlombaan tim, jadi tak ada yang bisa disalahkan, kemenangan adalah kemenangan tim, dan kekalahan juga adalah kekalahan tim. Aku mengungatkan Imam. Anggun juga terlihat masam. Lomba itu selesai sore hari. Kami berfoto-foto dengan tim finalis untuk dimuat di koran Lombok Post. Hari itu terasa panjang. Walau kecewa, kami setidaknya telah melakukan yang terbaik, bagi tim kami, dan bagi sekolah kami.
Setelah hari itu, kehidupan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Lomba telah usai, dan kebiasaan sekolah kami adalah mengumumkan hasil lomba-lomba yang diikuti murid-murid setelah upacara hari senin selesai. Kami bertiga maju. Aku bertemu Anggun lagi saat itu. Dia tersenyum manis menyapaku, “Hai kak, lama gak ketemu, hehe.” Pagi itu cerah, dan sapaannya tadi menambah keceriaan di pagi itu.
“Kak Fer!” Imam datang dari arah barisan sebelah selatan.
“Anggun, Imam.” Aku tersenyum pada mereka yang menyapa dengan hangat.
Hari itu kami terlihat hebat di sekolah kami, maju ke depan, disaksikan semua warga sekolah untuk diberikan piala sebagai simbolisasi, karena piala itu akan dipajang di lemari piala sekolah.
Setelah Senin yang membanggakan itu, aku jarang bertemu mereka. Aku juga sibuk persiapan ujian nasional. Aku sudah kelas 9. Saatnya fokus untuk bisa masuk ke SMA impianku, SMA Negeri 1 Mataram. Siapa yang tak mengidam-idamkan SMA itu? Berisi anak-anak terbaik se-pulau Lombok. Anak-anak pilihan. Betapa bangganya mengenakan seragam khas SMA itu. Juga karena kakakku yang sudah lebih dahulu berada disana menjadi lecutan semangatku. Karena selama ini aku selalu mengikuti jejaknya. SD sama, SMP juga, dan SMA harus bisa sama dengannya.
Sebulan berlalu, kembali ke kehidupan normal. Bersama teman-teman sekelas yang gila-gila. Teman sebangkuku yang bernama Adit – dia playboy, sangat playboy, muka sih biasa-biasa aja, standar lah, gantengan juga aku – bercerita-cerita di waktu jam istirahat. Dia cerita kalau dia baru aja mutusin pacar barunya – mutusin pacar baru? Gila ni anak – yang anak kelas 7D, namanya Rina, aku kenal dia. Selama dia pacaran sama si Playboy Adit ini, dia sering curhat sama aku. Secara gitu dia tau kalau aku teman sebangkunya Adit.
Apalagi setelah dia diputusin sama si Adit, Rina jadi temen sms-anku tiap malam. Dia curhat, galau katanya, maklum anak SMP rentan galau. Putusnya dia sama Adit buat saya sama Rina jadi deket – hubungan kakak-adik apa lah namanya – karena aku sudah nganggap dia sebagai adik sendiri. Kasian anak itu, rupanya terlalu cinta sama yang namanya Adit. Dasar playboy.
Aku sering main-main ke kelasnya Rina. Entah kenapa, setelah dekat dengan dia, sepertinya rasa suka’ muncul. Setelah dari kelas 7 sampai kelas 9 semester 1 aku jatuh cinta dengan seorang anak blasteran arab bernama Ismi, sekarang move ke anak kelas 7D ini. Tapi Rina ternyata suka’ sama temenku, temen aku SD, namanya Hadi. Galau, itu tema aku setiap malam – sekali lagi, anak SMP rentan galau.
Hingga suatu hari, aku sama Hadi main-main ke kelasnya Rina. Itu jam istirahat. Melihat Spendu – nama singkat SMP 2 – dari atas lantai 2.
“Hei dek!” itu Anggun, aku menyapanya setelah melihat dia jalan bersama temannya menuju ke arahku.
“Iya kak?” dia tersenyum manis seperti biasa.
“Nnnggg… Boleh minta nomer HP gak?” aku gak tau apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba bisa ngomong to the point gitu. Aku sendiri bingung. Itu kan pertemuan pertama setelah lama gak bertemu dia.
“Boleh kak.” Anggun mengangguk tersenyum malu.
“Di, tulisin dong nomer HP-nya Anggun nih.” Hadi yang memegang Handphone-ku langsung mencatatnya.
“Makasi ya dek.” Aku tersenyum padanya. “iya kak.” Anggun balas senyum. Lalu pergi bersama temannya.
Semenjak aku dan Anggun bertemu kurang lebih sebulan yang lalu di acara MFQ, aku tak tahu nomer HP Anggun, tak pernah terlintas untuk memintanya saat itu. Entah kenapa tadi begitu tiba-tiba, terjadi begitu saja. Perasaan di Rina masih ada, tapi di Anggun ini apa namanya? Lagi-lagi, SMP masa yang rentan galau.
Rupanya si Adit itu telah menemukan pengganti si Rina, langsung, dia kan playboy. Aduh, tak kepikiran aku jadi orang yang kayak dia, kok bisa? Aku juga harus berenti suka’ sama Rina. Harus belajar dari Adit. Di sini banyak kok cewek yang manis, berjilbab, solehah. Jadi sebenarnya gampang lah buat move on. Toh ada Anggun. Aku juga sebenarnya lagi deket sama cewek anak kelas 9F, namanya Ayu. Dia cantik, baik, dan yang paling penting, dia juga suka’ sama aku. Aku curhat sama Ayu tentang Rina, tak tau lah apa yang dia rasain waktu aku curhat ke dia tentang Rina. Tapi Ayu adalah pendengar yang baik. Mungkin hatinya sakit, aku tak tau.
Ada juga cewek yang buat aku tertarik waktu itu, namanya Aini. Anak kelas 9I. Dia awalnya kelas 9G, waktu ada program perluasan kelas, dia dipindah. Tapi perasaan itu hanya rasa suka yang biasa. Karena dia manis, cantik, putih, tembem, berjilbab. Jadi suka’ aja ngeliatnya. Ya, itu tipe cewek aku. Tapi aku tak kenal dengannya. Malu aku berkenalan. Jadi lupakan.
Malam hari terasa sepi. Yang awalnya selalu ditemani Rina, sekarang dia sudah bersama Hadi. Aku teringat dengan Anggun. Kuambil HP. “Assalamu’alaikum. Anggun, gimana kabarnya?” ini sms pertama aku ke Anggun. Maaf, walaupun masa SMP masa yang dibilang Alaayy, tapi aku tak se-alay yang kalian kira. Aku nulis sms biasa aja kok.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya?” tak lama Anggun menjawab sms itu.
“Ini kak Ferry, masi inget kan?”
“Ooohhh, kak Feeerrryyy, apa kabar kak? Anggun baik-baik aja! :D ” terlihat Anggun begitu senang menerima sms dariku. Bukannya kePD-an. Tapi keliatan kok dari caranya membalas sms. Ceria sekali.
Aku juga cerita semua tentang Rina ke Anggun. Dan dia mengatakan, “Aku ada disini kak, sama kakak, akan aku buat kakak ngelupain Rina.” Jawaban itu buat aku tenang. Senang bisa kenal dengan Anggun. Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kedekatan kami. Aku jadi bisa melupakan Rina, total bisa melupakannya. Aku suka sama Anggun. Aku gak mau kehilangan dia. Aku sudah menganggap seperti adik sendiri. Dia juga demikian, menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri.
“Kak kita buat janji yuk?” Anggun mendengarkan sebuah lagu kepadaku. “Ini lagu kita kak.” Anggun tersenyum. Aku terdiam. Mendengarkan lagu itu. “Kakak janji ya bakalan selalu ada, ngejaga Anggun, janji ya” Anggun mengulurkan jari kelingkingnya tanda kesepakatan. “iya kakak janji dek.” Dia tersenyum lebar mendengarnya.
Janji itu masi teringat sampai saat ini. Setiap mendengar lagu itu, aku mengingat Anggun. Mengingat uluran jari kelingkingnya yang meminta kesepakatan.
Aku mendapatkan impianku, mendapatkan SMA 1 Mataram. Yang artinya aku harus pisah dengan Anggun. Tiga bulan masa kedekatan di bangku SMP dengan Anggun. Dan kini aku memulai dunia baru. Dunia SMA. Walaupun sudah berada di bangku SMA, hubungan aku dengannya lancar-lancar saja, komunikasi tak pernah putus. Bahkan kami sesekali pergi jalan-jalan berdua.
Dua bulan berlalu terjadi lost contact di antara kami. Entah kenapa aku berpikir ada yang berubah dari Anggun. Aku tak tahu apa penyebabnya. Hingga saat itu.
“Kak, Anggun capek, sakit hati sama seorang cowok.” Sms itu masuk ke HP-ku.
“Kenapa dek? Siapa?”
“Anggun mau pindah sekolah aja, Anggun mau ke Jakarta. Pindah ke sana.” Aku terkejut membaca sms itu. Tanpa menjawab sms itu aku menuju rumah Anggun untuk mencari kejelasannya langsung.
“Assalamu’alaikum, Anggun.” Lama menunggu pintu itu terbuka. “wa’alaikumsalam” itu bukan Anggun, itu Faras, kakaknya. Aku tau Faras tak setuju aku dekat dengan Anggun. Karena dia sahabatnya Ayu – kelas 9F juga, jadi dia menganggap aku akan mempermainkan adeknya. Raut wajahnya tak bersahabat, tapi dia berbaik hati memanggilkan Anggun untukku. “Anggun, ada Ferry tuh!”
Malam itu aku mendapatkan kejelasan yang membuatku terkejut. “Kak, Anggun capek nunggu.” Aku heran. “Anggun pengen denger kalimat itu dari kakak.” Tunggu dulu, aku semakin bertanya-tanya. Ini ada apa sebenarnya? “Ada apa dek?”, “Anggun suka sama kakak, Anggun mau jadi pacar kakak, Anggun mau denger kakak bilang cinta ke Anggun.” Aku terperanjat. Bagaimana tidak, seumur-umur baru Anggun yang mengungkapkan perasaannya langsung ke aku. Aku terdiam. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Alisnya mengkerut. “Terus jadi mau pindah ke Jakarta? Cuma gara-gara itu?” aku berusaha tersenyum seolah mengajaknya ikut tersenyum juga. Kepalanya tertunduk dalam diam. “Dek, kakak gak mau pacaran sama Anggun, Anggun sudah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri. Iya kakak suka juga sama Anggun, kakak akui itu, tapi kakak gak mau pacaran sama Anggun. Gak bisa dek. Maaf.” Anggun semakin terdiam. Dia mengangkat wajahnya. Dia tersenyum, meski air mata jatuh di pipinya. Itu senyum terakhir yang aku lihat. “Kakak pamit dek. Maaf ya.” Aku tak tau bagaimana perasaan Anggun waktu itu, yang jelas pasti sakit.
“Dek jangan nangis.” Aku berusaha tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Ya Allah apa yang aku perbuat malam ini. Malam terlihat gelap – meski umumnya malam memang gelap – tapi malam itu terasa lebih gelap dibanding biasanya. Aku pamit ke Anggun. Di tengah jalan terbayang terus senyum manisnya tadi. Apa aku menyesal? Sepertinya tidak. Jalanan itu terasa panjang dan lenggang.
Setelah kejadian itu, aku kembali lost contact dengannya. Sebulan berlalu dan aku mendengar kabar bahwa dia kini berpacaran, dengan seorang yang non-muslim. Saat itu aku benar-benar menyesal. Aku merasa tak sanggup menjaga adik sendiri, tak sanggup menjaganya. Kemana janji itu? Apa aku melanggarnya? Atau Anggun yang membuatku untuk melanggar janji itu?
Satu semester sudah berlalu. “Fer, ada kabar bagus.” Naufal – sahabat baikku – memanggil sambil menunjukkan sms yang ada di HP-nya. Aku cerita semua tentang Anggun padanya. Dia sahabat yang baik. Dari keluarga seorang hakim dan dokter. Tanpa semua sadari – termasuk dia – aku dan Naufal jatuh cinta dengan perempuan yang sama saat itu, teman sekelas kami. Perempuan yang familiar, tak asing bagiku. Tapi aku tak mau membahasnya disini. “Ada apa fal?” aku penasaran. “Anggun mau balik ke kamu katanya!” Balik? Aku heran. “Iya dia mau minta maaf ke kamu. Katanya dia ngerasa kehilangan kakaknya. Berita bagus bro!” tak kepalang tanggung senangnya aku saat itu. Itu adalah titik balik hubungan aku dengannya nyambung lagi.
“Kak, maaf ya, Anggun kehilangan kakak. Kakak masi inget kan sama janji kita? Terus terang Anggun sakit hati malam itu, mangkanya berpikir pendek dan mau pergi dari kakak. Anggun bohong bilang mau pindah ke jakarta, karena emang gak tahan.” Panjang lebar sms Anggun itu. Aku senang dia akhirnya mengerti. “Iya dek, gak apa-apa kok, kakak juga minta maaf ya.”
Sudah 3 tahun kedekatanku dengan Anggun tanpa ada perselisihan apapun. Hubungan yang adem-ayem. Kini aku berada di bangku kuliah. Masuk di Unram Fakultas MIPA jurusan Fisika. Anggun yang berusaha ingin masuk ke SMA 1 harus gagal dengan usahanya. Dia memang sedih. Tapi bukan Anggun namanya kalau larut dalam kesedihan. Dia sekarang di SMA 2 – Smanda, duduk di kelas 11. Sudah lama hubungan kakak-adik ini berjalan. Teman, hubungan adik-kakak ini cuma ada di Indonesia, tak tau lah seperti apa itu hubungan kakak-adik, tapi seperti inilah yang aku jalani dengan Anggun. Kalian yang ada di Indonesia pasti pernah mengalaminya juga.
Kemarin malam aku menelepon Anggun. Dia berceloteh, bercerita tentang masa SMA-nya di Smanda. Aku kangen mendengar suaranya, mendengar keceriaannya. Senang sekali bisa mendengar suara ribut itu. Ahahaha.. Tak terasa hidup ini berjalan begitu cepat. Anggun sudah memiliki dunianya bersama sahabat-sahabatnya. Janji itu tetap ada, dan tetap kami ingat. Malam itu terasa panjang, curhat-curhatan, ketawa bareng, saling olok-olokan. Walaupun hanya lewat telepon, tapi hangatnya terasa. Keceriaan Anggun yang dulu aku kenal sangat terlihat.
“Dek, tunggu dulu, coba denger deh.” Samar terdengar sebuah lagu terputar di radio yang berdiri di atas meja belajar krem di samping kasur. “Ini lagu kita.”
Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia
Tentu saja kita pernah
Mengalami perbedaan
Kita lalui
Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam
Cintamu…
Ku tak akan berubah
Ku tak ingi kau pergi
Slamanya
ku kan setia menjagamu
bersama dirimu,dirimu
sampai nanti akan slalu
bersama dirimu
Saat bersamamu kasih
Ku merasa bahagia
Dalam pelukmu
Ku tak akan berubah
Ku tak ingin kau pergi
Slamanya…
seperti yang kau katakan
kau akan slalu ada
menjaga, memeluk diriku
dengan cintamu
Teringat kembali janji itu, saat-saat itu, masa-masa kedekatan aku dengan Anggun di SMP dulu. Anggun, justru karena aku suka sama kamu mangkanya aku gak ingin berpacaran denganmu. Karena aku tak ingin berpisah denganmu mangkanya aku menolak malam itu. Kita masih SMP saat itu, masa paling labil di dunia. Masa yang rentan galau dan belum dewasa. Anak-anak SMP itu berpikiran pendek. Tak kan ada hubungan pacaran yang akan bertahan lama. Tak ada. Pasangan yang berpacaran, jika sudah putus, pasti ujung-ujungnya bermusuhan, gak saling sapaan, terus pisah deh. Tak ada kelanjutannya. Karena itu aku gak mau pacaran sama Anggun. Karena aku gak mau kehilangan dia.
Jika kamu menyukai seseorang, tak mesti mengaplikasikannya dengan sebuah hubungan pacaran. Simpanlah jika itu memang yang terbaik bagimu, kelak ungkapkan perasaan itu melalui janji suci jika sudah datang waktu yang tepat.


Cerpen Karangan: Firyal D. Haqqi

Cinlok



Rara masih serius menatap dirinya di cermin. Lirik kiri! Lirik kanan! Manyun! Menyeringai! Terbahak! Pasang raut wajah MELAS! NGOOOK! Nampaknya dia masih kurang PD dengan rambut barunya. Suruh siapa dia pangkas rambutnya sependek itu? Ina bilang sih mestinya di botakin tuh rambut, kalo pengen jadi indah. Liat aja noh! Rambut kaya ijuk gitu aja masih dipertahanin. Seenggaknya 2 cm dari akar rambutlah. Hampir gundul dong? Tapi kenyataannya enggak kok. Cuma jadi cepak aja.
Dia masih ragu, mau datang ke acara Birthday Party si Hani apa enggak. Hani itu teman satu kelas kita di SMA. Masalah Cuma satu kok. Ga ada yang lain. Rambutnya itu loooh!
“Heh! Lu mau ikut kaga? Yang lain udah pada siap, lo masih ngaca aja.” Wuuuzzz kayanya Rani langsung darah tinggi lihat kelakuan si Rara.
“Bentar-bentar. Gue pasang nie jepit rambut dulu. Biar rada manis lah.” Jawabnya ketar-ketir.
“Ih sumpah ya sejak kapan lo jadi ganjen gini?”
“Sejak Nene Lampir bondingan.” Tukas Rara jutek.
Rani langsung menarik tangan Rara dan menyeretnya keluar rumah menuju teman-teman yang lain. Rara yang merasa tidak terima dengan seretan Rani, ia langsung melepas tangannya dengan kasar dan berjalan cepat serta sangar TAK TOK TAK TOK suara sepatunya.
Dalam pesta Rara mulai terbawa suasana. Ke-tidak-mood-an dia hilang seketika. Dia sangat menikmat pestanya dan sangat menjadi diri sendiri. Kata teman-temannya, terkadang dia menjadi badut kelas. Artinya selalu bisa menghibur apapun situasinya. Entah dengan tingkah lakunya maupun dengan ucapan yang terkesan.. maaf “Bodoh”. Rara memang masih kekanak-kanakan, dia selalu tampil ceria dan dinamis. Pintar bergaul dan senang menjalin perteman dengan siapapun. Tidak heran banyak orang yang langsung merasa PAS sama dia. Tapi kelemahan Rara yang paling menonjol adalah, gampang di Bodoh-bodohin. Kasihan ya? Untung ada Rani teman paling setia. Teman yang jelas lebih pintar dari Rara.
Di tengah acara, ada sebuah game yang dipandu oleh Hani sendiri, dia itu yang punya hajat. Permainannya adalah oper korek api. Jadi akan di putar sebuah lagu sambil mengoper-oper korek api tersebut, jika lagu mendadak berhenti dan korek api terhenti pada seseorang maka dia yang akan menjadi bulan-bulan yang punya hajat juga seluruh manusia yang hadir di situ. Kesepakatan kami adalah.. Bila sudah mendapatkan korban, korban tersebut harus memilih dari kedua pilihan yang ada sebenernya enak ga enak sih. Pertama Dia Harus Nyanyi sambil Joget. Ke dua Dia harus bawain piring-piring kotor ke dapur sambil jalan jongkok.
Sesuai hobi dan bakat yang dimiliki Rara, tentu dia memilih pilihan pertama. Lagu yang dibawakan dia berjudul “Terajana” lagu bergenre Dangdut ini di buat asik dengan aransement yang rada koplo dan menjadi lebih anak muda bangeeet.
Banyaknya para hadirin tidak menggoyahkan ke-PD-an Rara. Ia begitu antusias bernyanyi dan berjoget sehingga yang lain menjadi bertambah semangat. Matanya lagi-lagi melihat ke arah teman-temannya. Mereka ikut berjoget dihiasi tawa bersama. Rara menjadi ikut tertawa saat bernyanyi. Dalam larutnya kecerian yang ada, tiba-tiba ada sesosok laki-laki yang nampak, ia mencuri perhatian Rara. Dia memiliki lesung pipi di pipi kanannya, itu menambah senyum lelaki itu semakin menawan. Tubuhnya tinggi sehingga terlihat lebih keren. Dan lebih-lebih lelaki itu ikut menikmati persembahan Rara. Mata mereka seakan bertemu, tapi ketika benar-benar saling bertemu, keduanya seolah tidak saling melihat. Rara menjadi malu dengan keberadaannya di depan mereka. Rasanya ingin cepat-cepat mengakhiri aksinya. Mukanya merah dan pandangannya menjadi tidak fokus. Mic yang digenggamnya serasa jadi berat. Tenggorokannya tiba-tiba serak. Duuuh… kenapa nih?
Rara bukannya baru pertama merasa cinta, tapi baru merasakan cinta pada pandangan pertama. Aiiihhh.. Bisa juga disebut sebagai Cinta Lokasi atau Cinlok.
Setelah acara hampir selesai, Hani menyediakan Papan Tulis/Whiteboard berukuran sedang yang ditempel di tengah-tengah tembok ruangan pesta. Seluruh para hadirin diwajibkan, menulis ucapan selamat, tidak lupa di beri nama pengucap serta tanda tangan. Saat itu Rara sengaja mengundur-undur dirinya agar tidak cepat-cepat menulis. Ada saja alasan untuk menundanya. Tahukan kalian maksudnya apa? Yaa! Tidak lain tidak bukan. Rara ingin tahu siapa nama lelaki itu. Tapi sayangnya lelaki itu bukan menuliskan nama asli, melainkan nama seperti nama samara atau nama ketenaran atau apalah. Whatever!
Layaknya situasi normal yang terjadi di setiap kelas kosong tanpa guru, suasana sangat ricuh. Ini adalah implementasi bersosialisi bagi kami. Saling bercanda, bercerita, dan tertawa. Dalam kondisi ini Rara memberanikan diri untuk menanyakan lelaki dalam pesta itu. Hanya sekedar bertanya nama.
“Han! Kemarin itu.. Siapa namanya?” Tanyanya ragu-ragu.
“Yang mana?” Dia berbalik tanya kebingungan.
“Ih.. Itu loh. Dari bet seragamnya. Dia anak SMAN 1.” Rara memperjelas orangnya.
“Ya kan banyak. Yang mana dulu??”
“Ah payah nih si Hani. Mesti gue terangin dulu aja baru ngeuh!” Rara membalas pertanyaan Hani dalam hati.
“Jangan-jangan yang di maksud si Fadli lagi? Eeeh busset daah cinlok mereka?” katanya dalam hati.
Hani sempat terheran-heran. Pantas saja Fadli sms gue minta nomer telepon cewek yang rambut cepak. Tapi dia ga ngeuh siapa yang cewek yang rambutnya cepak, saking banyak orang yang dateng kali ya? Otaknya mulai berputar-putar, menyangka-nyangka dan bertanya-tanya. Pasalnya tidak ada kejadian yang menarik di antara meraka sepanjang acara tersebut berlangsung.
Hari demi hari berlalu. Sejak itu tidak ada yang mengetahui kabar tentang lanjutan cinta pada pandangan pertama. Yang tahu hanya mereka berdua, alam dan Tuhan.
“Aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Rasa yang aku rasakan di mulai saat mata kita saling bertemu untuk pertama kalinya. Aku menyukai keceriaanmu. Dan aku ingin kamu menularkannya untukku.” Fadli tidak melepaskan pandangannya pada mata Rara yang sudah kaku sejak tadi. Mungkin otaknya belum bisa menterjemahkan kalimatnya.
Kriiingg… Kriiingg….
Bell alarm berdering dengan kencang. Dan Rara segera terbagun. Segera meraih Alarm.
“Astaga! Cuma mimpi!” kening Rara langsung mengkerut.
“Tau Cuma mimpi gue langsung aja bilang Iya Aku Mau Nularin Keceriaanku Untukmu. Uuuhh!”
Oke guys. Itu memang hanya sebuah mimpi yang hampir berujung indah. Sayangnya tidak benar-benar terjadi. Well! Rara tetap havefun dengan semuanya. Jadian atau enggak yang penting deketnya itu.



Cerpen Karangan: Kinanti Tiara Dewi

Menjadi Yang Kuinginkan





“Siapa aku?” aku berucap tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerak di bibir.
Yang kutahu aku adalah seorang perempuan. Kuliah di universitas dan jurusan yang kuinginkan. Memiliki nilai di tiap semester seperti yang kuinginkan; ya, selalu IPK di atas 3,00 karena aku ingin pintar, lulus dengan nilai yang memuaskan, lantas berkarier menjadi apa yang kuinginkan. Aku memiliki banyak teman, baik perempuan dan lelaki di kampus, di rumah, di sekolahku dulu, dan di beberapa komunitas di mana aku aktif di dalamnya. Dan aku menyukai berdandan. Aku merawat rambutku yang bergelombang panjang, merawat kulitku dengan beragam perlengkapan, memulas wajahku yang tampak ceria dengan warna, dan memakai baju yang aku padankan dengan segala gaya yang aku suka. Menabur parfum vanila yang kugunakan sejak aku kelas 1 SMA.
Tetapi itu dulu. Kini yang kusadari di dalam kursi belakang taksi yang hanya ada aku dan seorang supir taksi yang diam itu, aku tidak lagi mengenal siapa diriku. Tidak ada bau yang mengingatkanku akan keberadaan diriku sendiri.
Lelaki itu kuakui sungguh tampan. Umurnya beberapa tahun lebih tua dariku. Seorang teman mengenalkannya padaku. Pandangan pertama, aku tertegun melihat sosok tegapnya dengan wajah rupawan. Aku mendekatinya. Ia tertarik padaku. Hingga beberapa kali berkencan, kami menjadi sepasang kekasih.
Sekarang sudah hampir satu tahun kami berpacaran. Ia masih tetap lelaki berbadan kokoh yang tampan. Sedangkan aku, aku tidak pernah sama lagi. Aku mulai sering tidak masuk kelas untuk mata kuliah tertentu. Bahkan aku mendapat nilai E untuk lebih dari dua mata kuliah. IPK-ku turun drastis di bawah tiga. Itu semua kulakukan atas apa yang dikatakan lelaki tampanku sebagai cinta. Ia selalu saja mengajak bertemu di jam-jam aku seharusnya kuliah, siang hari di sela-sela ia istirahat di kantornya. Namun, ketika aku menolak, ia selalu marah dan mengancam untuk memutuskan hubungan. Aku menurutinya dengan resiko yang kudapat saat ini, yaitu kehilangan keinginanku di tempat yang kuinginkan.
Kemudian ia bertindak lebih dari yang kuduga. Saat kami bersama, ia mulai curiga dengan semua teman lelaki yang kumiliki. Matanya memicing tajam, dan bertanya kasar, “Barusan siapa, Sayang?” Setelah aku menyudahi telepon dari temanku. Aku menjawab nama teman yang menelponku secara lantang tanpa ada prasangka. Tersebutlah sejumlah nama lelaki ketika memang teman-teman lelakiku yang menelpon. Ia marah-marah di depanku seolah aku perempuan yang berselingkuh di hadapannya. Sejak itu, aku menerima kehilanganku yang kedua: teman-temanku. Rasanya bagai tidak memiliki apa pun di dunia ini, kecuali hanya ia, lelakiku yang diharapkannya memang hanya ia seorang yang kumiliki.
Ia menyuruhku meluruskan rambut panjangku. Katanya lagi, “Kenapa dandanan kamu se-menor itu? Kamu ingin bertemu aku atau bertemu laki-laki lain?” teriaknya sewaktu kami bertemu dengan aku yang berdandan seperti biasanya. Tentu aku menjawab tidak dan menjelaskan padanya bahwa aku senang berdandan jika bertemu orang lain, terutama bertemu pacarku sendiri. Ia tambah marah-marah dan mengelap paksa mukaku dengan tisu basah. Melarangku mengenakan make-up karena takut setiap lelaki yang berpapasan denganku akan melirik lalu mengajakku menjadi pacarnya. Sungguh aku tidak mengerti. Yang kumengerti, aku kehilangan diriku yang selalu senang ketika aku berdandan.
Di taksi ini, aku dalam perjalanan menemui dirinya di sebuah kafe di dekat kantornya. Rambutku lurus, wajahku tampak pucat karena tanpa make-up apa pun, pakaianku seadanya, dan merasa benar-benar kesepian. Aku rindu mengobrol dengan Anton di komunitas komik. Aku rindu bercanda dengan Miki di warung makan biasa aku dan teman-teman SMA-ku bertemu setiap akhir pekan dua minggu sekali. Aku rindu berada di tengah-tengah obrolan di kampusku dengan teman-teman lelaki maupun perempuan. Bahkan mungkin aku tidak lagi akrab dengan teman-teman perempuanku.
“Mau masuk ke dalam tempat parkir atau menepi di pinggir jalan saja, Mba?” supir taksi itu bertanya. Ternyata sebentar lagi aku akan sampai di tujuan.
“Masuk, Pak, kita menepi di lobi!”
Aku tahu ia pasti sudah menunggu di lobi. Menunggu untuk melihatku benar-benar sendiri menemuinya. Lantas, ia yang akan membayar taksinya. Meski aku memiliki cukup uang, ia selalu marah-marah kalau aku harus mengeluarkan uang di depan matanya. Sungguh aku tidak mengerti mengapa aku harus menggantungkan diriku padanya.
Taksi berbelok memasuki gedung. Menepi di lobi. Aku melihat ia berdiri sendirian di tangga lobi. Dari balik kaca taksi, kulihat mimik mukanya yang kesal seolah lama menunggu. Kulirik jam pada taksi sekaligus melihat argonya, lalu kutahu betul aku tidak telat sama sekali.
Supir taksi turun membukakan pintu untukku meski aku biasa membuka pintu untuk diriku sendiri. Ia menatap supir taksi itu dengan curiga. Membayarnya dengan dua lembar uang pecahan dua puluh ribu setelah bertanya pada supir biaya taksiku yang hanya tiga puluh ribu.
“Simpan saja kembaliannya!” katanya ketus pada si supir taksi.
Kami memasuki sebuah kafe di gedung itu. Ia memesan dua cangkir kopi untuknya dan untukku. Padahal aku tidak menyukai kopi. Tapi di depannya, ia memaksaku menikmati apa yang dinikmatinya. Katanya agar aku lebih bisa mengerti ia. Ia berbicara panjang lebar. Berkeluh kesah soal hari-harinya tanpa aku di kantor. Aku diam saja. Sebab tanggapanku, kutahu akan semakin membuatnya kesal. Ia hanya mau didengar.
Hari ini tepat satu tahun kami berpacaran. Ia mengajakku berkencan biarpun baru kemarin kami bertemu sambil makan nasi goreng di warung langganannya yang tidak kusuka dan berbelanja kemeja di toko favoritnya yang bernuansa kaku.
Sejenak aku bercermin di kamarku setelah mandi dan memakai baju.
Diriku di cermin itu begitu pucat. Begitu menyedihkan. Sepasang mata di cermin itu menatapku. Aku tertunduk. Sepasang mata itu masih menatapku tajam. Mengingatkanku pada diriku yang dulu.
“Apa yang kauinginkan?” Aku mendengar suara bisik itu ketika bercermin. Kutahu ini saatnya ada diriku yang lain yang berbicara.
Spontan aku menjawab: “Banyak hal yang kuinginkan, yang ingin kuraih, yang ingin kupertahankan. Aku ingin bahagia dengan menjadi apa yang kuinginkan.” Aku menteskan air mata. Aku teringat diriku yang rajin kuliah. Mendapat nilai A untuk hampir seluruh mata kuliah. Selalu menjadi mahasiswa dengan persentasi makalah terbaik. Menginginkan menjadi perempuan yang menggapai karier tertinggi dengan pendidikan yang kudapat. Menginginkan kembali memiliki banyak teman yang membuatku merasa senang.
Tiba-tiba saja aku terlonjak. Aku melepaskan baju yang kukenakan. Membuka lemari dan mencari-cari pakaian berwarna-warni yang dulu sering kupakai. Aku membuka laci di bawah cermin riasku. Melihat begitu banyak tumpukan make-up yang menunggu. Dan aku merubah wajahku berwarna pelangi. Lembut dan betul-betul tampak indah.
“Rick, mobil Kakak bawa!” Aku berkata pada adikku yang sedang menonton televisi. Tanpa menunggu adikku berucap, aku segera mengambil kunci mobilku di meja, yang lama tidak aku sentuh karena pacarku melarangku membawa mobilku sendiri.
Aku sampai duluan sebelum pacarku sampai di kafe biasa kami janji bertemu. Aku memesan teh hangat dan sepotong kue stroberi dengan krim yang menggiurkan, yang dibencinya karena bisa membuatku gemuk. Setelah menghabiskan kue itu, aku mengambil buku yang kubawa dari rumah di tasku, dan mulai membaca sambil menunggunya datang. Aku tidak menyalakan handphone untuk sejenak.
Di ujung pintu, aku melihatnya melangkah terburu-buru kemari dengan wajah cemberut dan kesal. Kuhapal betul tabiatnya setiap bertemu aku. Ada saja hal yang dikeluhkan dan perlu dikomentarinya dengan muka begitu.
“Sedang apa kamu di sini? Aku menelponmu dari tadi. Menunggumu di depan lobi sampai setengah jam lebih.” Nada bicaranya membuat beberapa orang menengok ke arah kami. “Apa-apaan ini? Tampilanmu seperti ingin mencari lelaki saja!” Ia masih mengomel sambil berdiri.
Aku beranjak dari dudukku untuk mensejajarkan tinggiku dengannya yang menolak duduk sebelum selesai memarahiku.
Aku mulai angkat bicara, “Sayang, apa kau tahu siapa aku?”
“Kau adalah pacarku.”
“Aku adalah perempuan dengan nilai tertinggi di kelasku. Aku adalah seorang dengan banyak teman. Aku menyukai berdandan. Dan aku tidak suka memiliki rambut seperti yang kauinginkan.” Aku menarik ikat rambutku. Menyembullah rambut panjangku yang bergelombang indah seperti aslinya.
“Aku menyukai menjadi diriku karena dengan begitu aku tahu siapa aku.”
“Apa-apaan kau ini? Bicaramu ngelantur!” Semakin banyak mata orang memandang kami.
Aku sama sekali tidak merasa malu. Entah dari mana keberanian ini muncul. “Dan kau harus tahu bahwa aku ingin menjadi siapa diriku yang sebenarnya. Aku bukan manekin yang bisa kaulekatkan beragam benda yang kauinginkan sekedar untuk memuaskan hasratmu.”
Ia meracau tak karuan. Aku tidak peduli.
Kuambil bukuku. Kukeluarkan uang untuk membayar teh dan sepotong kue stroberi yang kupesan. Kutaruh uang itu di meja.
“Kita sudah berakhir. Carilah boneka sebagai temanmu. Sekedar untuk kaudandani dan mendengar keluh kesahmu tanpa berkata apa-apa.” Aku melangkah pergi menjauhinya keluar kafe.
Ia meneriaki namaku. Semakin jauh suaranya. Semakin aku tersadar bahwa ia bukanlah seseorang yang kuinginkan.
Aku berjalan keluar. Tak kupedulikan dirinya lagi. Untuk pertama kalinya aku merasa menjadi diriku yang sesungguhnya: seorang perempuan dengan banyak keinginan yang menunggu untuk diraih. Aku tetap merasa tenang karena kucium wangi vanila pada diriku.


Cerpen Karangan: Nurdiyansah

Dariku Untukmu


Bagaimana perasaanmu ketika sahabatmu telah menemukan seseorang yang dicintainya? Akankah kau takut ditinggalkan olehnya? Tetapi, sebagai sahabat yang baik kau akan tetap ada untuknya seperti apa pun dia bukan? Bahkan jika dia sering membuatmu berurai air mata sepanjang malam. Kau akan tetap ada untuk menerimanya.
Kehadiran sahabat duniaku begitu indah. Sudah cukup lama aku mengenal mereka, sekitar 3 tahun yang lalu. Namun, aku tak pernah tahu sejak kapan tepatnya menyebut Dira dan Putra sebagai sahabatku. Bagiku mereka sahabat terbaik yang pernah aku miliki hingga saat ini. Walau kini aku tak lagi dapat melihat senyum mereka seperti dahulu. Aku tak bisa membunuh waktu bersama mereka lagi
Bias sinar mentari menyusup di antara celah pepohonan di dekat kelasku, menembus jendela kaca. Menyilaukan. Aku yang baru saja datang disambut dengan senyum hangat seseorang yang selalu duduk di belakangku. Senyumnya yang masih lekat dalam ingatanku.
Kami terdiam hingga bel masuk berdering. Sesaat kemudian Ibu wali kelas memasuki ruang kelasku. Seorang gadis berambut panjang dengan bola mata cokelat terang yang tak pernah kulihat sebelumnya berjalan perlahan mengikuti langkah beliau.
Gadis itu berdiri di depan kelas dan memperkenalkan dirinya, sebagaimana seorang murid baru. Ia menyebut dirinya ‘Dira’. Seusai ia memperkenalkan dirinya pada seisi kelas, kemudian ia duduk di kursi yang masih kosong, di sebelahku. Ia meletakkan tasnya. Aku terus memperhatikannya hingga ia melihat ke arahku seraya tersenyum manis dan menjabat tanganku.
“Dinda.” Kataku sembari membalas senyumnya dengan senyumku.
Tak hanya denganku. Dira juga melakukannya pada beberapa teman yang duduk di dekatnya tanpa kecuali sahabatku, Putra.
Tampaknya Dira sosok gadis pendiam dan sedikit misterius. Setiap kali aku mengajaknya bicara panjang lebar atau menanyakan sesuatu, ia hanya menjawab seperlunya. Bahkan tak jarang ia hanya menjawabnya dengan senyum.
“Dinda!!”
Seseorang memanggilku dan membuat langkahku terhenti. Aku pun menoleh. Kudapati Dira berlari dari kejauhan.
“Kau tinggal di asrama juga?”
“Menurutmu?”
Ia terdiam. Menunduk lalu tersenyum padaku.
“Iya. Apa kau murid yang akan menempati kamar itu bersamaku?” tanyaku lagi.
Dira mengangguk dan kembali tersenyum.
Tidak hanya di kelas namun kini aku benar-benar menghabiskan banyak waktuku bersama Dira. Meski kadang ia begitu menyebalkan.
Ketika mentari sudah berjalan kembali menuju peraduannya, semburat merah yang mewarnai langit yang semakin gelap. Aku dan Dira yang hendak kembali menuju asrama setelah cukup lama menghibur diri di luaran sana mendapat kejutan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Ada sesuatu yang membuat dadaku begitu sesak. Aku tak dapat lagi berkata-kata. Seseorang yang begitu dekat denganku dan beberapa bulan belakangan ini tepat bersama kehadiran Dira, ia menjauhiku.
“Dinda, kau kenapa?” tanyanya padaku yang tiba-tiba terhenti dan pandanganku tertuju pada sosok di seberang sana yang tampaknya begitu bahagia.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menghempaskannya. Dira menyadarkanku. Kemudian kutebar senyum padanya sebagai tanda aku baik-baik saja.
Sepanjang langkah kakiku menuju asrama aku hanya bisa terdiam. Memang aku pernah ditolaknya. Menyakitkan. Kemudian kutahu ia bersama gadis lain. Ia yang pernah memberiku harapan. Ia yang pernah memberiku semangat. Namun, kini ia juga yang menjatuhkan aku dan membiarkanku dalam keterpurukan.
“Dinda, aku bantu membereskan barang-barangmu, ya?”
Sesampainya di kamar, aku dibantu Dira membereskan semua barangku yang harus aku bawa esok hari.
Hari ini terakhir kali aku menginjakkan kaki di tempat ini, di kota ini. Orang tuaku memintaku kembali ke Jogja. Kupikir di saat seperti ini, aku dapat menghabiskan waktu bersama Putra, sahabatku sekaligus orang yang aku cintai. Meski ia sempat berkata padaku ~ Aku memang menyayangimu, tapi maaf. Aku tidak mencintaimu. Namun, apapun yang terjadi kita akan tetap menjadi sahabat ~
Kini ia telah bahagia bersama sosok lain yang menempati hatinya. Mungkin aku juga telah dilupakannya.
Mataku masih terjaga hingga tengah malam.
“Din, belum tidur?”
Aku menggelengkan kepala pada Dira. Ia terus memandangiku lekat. Kami saling beradu pandang.
“Aku sudah tahu semuanya. Maaf, jika aku lancang. Namun aku tidak bermaksud begitu. Aku telah membaca seisi diarymu.”
Aku tak berreaksi apa-apa. Hatiku bersorak gembira. Lega rasanya. Rahasia itu tak lagi kupendam sendiri.
Dira terus menenangkanku hingga kita terlelap. Mentari telah menunggu.
Kusambut pagi ini dengan keceriaan. Aku tak ingin meninggalkan kesan bahwa jiwaku terluka.
Dira, teman-teman sekelasku, juga Putra mengantar keberangkatanku. Aku yang tak pernah berani menangkap cahaya matanya, Putra. Kini kudapati matanya yang sedikit sayu.
“Din, aku bahagia dapat mengenalmu. Tak ada gunanya lagi aku minta maaf sekarang. Aku yakin sakit hatimu tak akan pernah reda sebanyak apapun aku memohon untuk kau maafkan. Aku memang bodoh. Terlalu sering membuatmu terluka. Kau yang seharusnya kujaga…”
“Sstt, diamlah! Jangan kau ungkit lagi. Biarkan aku. Hanya aku yang kau sakiti. Cukup aku. Jika kau tak dapat menjagaku. Semoga kau dapat menjaga ini dengan baik.” Kataku seraya memberikan sebuah kalung kesayanganku yang selalu aku simpan sedari kecil, meski aku tak pernah memakainya. Itu satu-satunya barang yang selalu aku jaga hingga kini. Karena itu berharga untukku.
Aku pun perlahan melangkahkan kaki, menjauh dari mereka yang mengantarku dan menuju bus yang telah menungguku.


Cerpen Karangan: Fatma Roisatin Nadhiroh

Kriteria dan Sosok Wanita Yang Selalu Didambakan Oleh Pria

Memiliki pasangan hidup seorang yang kita dambakan dan sesuai dengan yang kita inginkan adalah merupakan kebahagiaan tersendiri. Baik wanita maupun pria pastinya mendambakan sosok orang terkasih, yang memenuhi kriteria seperti yang di inginkannya.



Khusus bagi kamu kaum wanita, pada Artikel Cinta kali ini kita akan membahas Beberapa Hal Yang Didambakan Seorang Pria Kepada Wanita.

Wanita yang stabil

Stabil maksudnya adalah wanita memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya, dan punya keinginan untuk mewujudkannya. Sosok wanita seperti ini mirip dengan seorang ibu yang membuat pria tergila-gila pada wanita yang stabil seperti ini.
Wanita yang memiliki minat sama
Pria sangat mendambakan wanita yang memiliki minat yang sama dengannya. Minat yang sama tidak berarti adalah hobi yang sama. Mungkin hobi wanita berbeda dengan pria. Tapi, wanita harus menunjukkan ketertarikan/supportnya kepada hobi yang dilakukan pria. Wanita yang seperti ini juga sangat di damba oleh pria.
Wanita yang suka memberi kejutan
Percaya atau tidak, sebagian besar pria suka dengan kejutan. Sebab kejutan berarti sebuah usaha spesial yang dipersiapkan dengan baik. Dari situ terlihat usaha si wanita untuk menyenangkan orang terkasih. Kejutan disini bukan berarti adalah yang terheboh atau besar. Mulailah dengan kejutan hal-hal kecil dengan intensitas yang besar.
Wanita yang mengesankan
Para pria mencari wanita yang tahu bagaimana memberi kesan khusus pada mereka. Setiap wanita juga punya cara yang berbeda-beda untuk membuat pria terkesan. Salah satu cara terbaik untuk membuat pria terkesan adalah dengan eksplorasi kemampuan khusus wanita yang jarang bisa ditemui di wanita lain.
Wanita yang percaya diri
Pria sadar bahwa wanita adalah makhluk sensitif dan terkadang merasa terancam tanpa sebab. Namun rasa percaya diri sangat penting untuk membuat pria tergila-gila pada wanita. Dengan memiliki wanita percaya diri setidaknya akan mengurangi rasa was-was pria terhadap wanita yang di cintainya.
Wanita yang memiliki selera humor
Hidup tidak selalu harus dianggap serius sepanjang waktu. Bahkan pria pun lebih menginginkan wanita yang punya selera humor bagus untuk dijadikan pasangan. Pria suka wanita lucu karena terkesan "ngegemesin". Tidak ada salahnya bagi wanita untuk mempelajari tips-tips humor untuk membuat pria tertawa dan senang.
Wanita yang bisa dipercaya
Pria tidak terlalu suka membeberkan rahasia atau detail kehidupannya pada orang lain. Namun sekali mereka melakukan hal itu, pria akan menceritakan kisah hidupnya pada wanita yang bisa dipercaya. Oleh karena itu, pria juga sangat mendambakan sosok wanita yang bisa

Beberapa Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah

Pernikahan merupakan suatu jalan untuk memulai suatu babak babak baru dalam kehidupan seseorang. Bagi seorang wanita, menikah merupakan tempat untuk mengabdi sebagai seorang istri, dan mempersembahkan semua tanggung jawabnya kepada suami. Selain itu, dengan menikah juga merupakan suatu jalan untuk melanjutkan keturunan.





Namun, terkadang setelah menikah, seorang wanita ternyata masih melakukan hal-hal yang seharusnya tidak lagi di lakukan ketika menjadi seorang istri atau telah menikah. Kesalahan dan kekeliruan ini biasanya terbawa ke pernikahan karena sudah menjadi kebiasaan sebelum menikah. Dimana semua tanggung jawab masih di pegang oleh kedua orang tua. Apa saja Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah atau setelah menjadi istri?

Berikut ini adalah Beberapa Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah, dan biasanya tanpa mereka sadari.

Meninggalkan Kehidupan Sosial

Setelah menikah, wanita merasa sibuk dan bertanggung jawab untuk mengurus rumah tangganya. Alhasil, para wanita mulai meninggalkan kehidupan sosial mereka sebelum menikah.
Terlibat Konflik Dengan Ibu Mertua
Cekcok urusan rumah tangga bukan hal yang aneh. Apalagi kalau menyangkut masalah mertua. Itu sih biasa! Jadi, sebaiknya hadapi masalah bersama pasangan dan jangan bersikap keras, khususnya pada ibu mertua.
Overprotektif Terhadap Suami
Wanita kok jadi overprotektif setelah menikah? Hal ini memang sering terjadi dalam rumah tangga. Mereka selalu ingin tahu kemana suami pergi. Apa yang dia lakukan? Pergi dengan siapa?
Mengadu Kepada Orang Tua
Jangan pernah memberitahu orang tua tentang perkelahian dalam rumah tangga! Mahligai pernikahan hanya mengikat sepasang hati yang saling mencinta. Jadi, apakah kamu akan selalu melibatkan orang tua dalam urusan rumah tangga.
Jika kamu termasuk salah seorang wanita menikah atau seorang istri yang selalu melakukan Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah diatas, tentunya ini saat yang tepat untuk merubahnya. Jangan korbankan pernikahanmu hanya karena kekeliruanmu dalam bersikap.

Cara Membuat Pria Tergila-gila dan Jatuh Cinta Kepadamu

Bagi wanita, mungkin sudah terlalu banyak eksperimen dan referensi tentang banyak hal yang membuat pria tergila-gila dan jatuh cinta kepadamu. Karena menjadi wanita yang di cintai adalah suatu kebanggan dan keindahan tersendiri bagi seorang wanita. Lalu, apa yang paling disukai pria dari wanita?




Banyak sekali jawaban dari pertanyaan diatas. Kecantikan, bentuk tubuh, sensualitas, status sosial, kepribadian, dan banyak lagi, semua menjadi alasan mengapa pria tergila-gila dan jatuh cinta kepada seorang wanita. yang jadi permasalahan sekarang, mampukah kamu menjadi semua yang di inginkan oleh pria tersebut? Pastinya tidak, dan kamu tidak perlu repot mengejar semua kriteria yang memang tidak bisa kamu penuhi.

Pada Artikel Tips Cinta berikut ini, kami mencoba memberikan sedikit Tips dan Cara Membuat Pria Tergila-gila dan Jatuh Cinta Kepadamu, tanpa perlu menjadi "sesuatu" yang tidak bisa kamu capai, seperti berikut ini.

Cobalah untuk selalu bersemangat
Spirit atau semangat seorang wanita adalah sesuatu yang sangat menarik bagi pria. Mengontrol dan memiliki seorang wanita yang memiliki semangat besar dalam kesehariannya adalah mimpi yang tak bisa ditolak oleh pria. Pria yang berkualitas selalu terobsesi untuk memiliki wanita aktif dan bersemangat di sisinya.
Jangan menjadi wanita dominator
Pria membenci wanita yang selalu menunjukkan dominasinya. Pria adalah salah satu makhluk yang di beri ego tinggi sebagai "dominator". Oleh karenanya, berusahalah untuk menjadi makhluk "lemah" yang butuh perlindungannya. Walau kamu tahu, kamu lebih berkuasa darinya dan tidak akan bisa di kuasai oleh dominasinya. Mungkin kamu bisa sesekali melakukannya, namun tidak berlebihan.
Melek teknologi alias tidak gaptek
Pria terkadang menyepelekan pengetahuan wanita tentang teknologi. Inilah jalan terbaik untuk membuatnya terkesan padamu. Jadilah wanita yang melek teknologi alias tidak gaptek. Sesekali, beri ia kejutan tentang teknologi terkini, yang dia sendiri terlambat mengetahuinya.
Menyibukkan diri sebagai wanita aktif
Yupzz..Hampir sama dengan poin sebelumnya, bahwa pria sangat menyukai wanita yang memiliki semangat. Dan wanita seperti ini dimiliki oleh para wanita aktif. Wanita yang aktif memiliki daya tarik lebih besar dibanding mereka yang pasif. Maka, lakukan aktivitas ekstra yang membuatmu selalu aktif di hadapannya.
Tantang dia dengan hal yang bisa kamu lakukan
Cara paling sederhana untuk menantang pria adalah dengan bertaruh dengannya. Tantanglah dia untuk melakukan hal-hal yang kamu bisa. Pria berkualitas akan sangat terobsesi dan jatuh cinta dengan wanita yang menantangnya. Kalah ataupun menang dirimu, tidak akan mengurangi kekagumannya terhadapmu. Ingatlah, pria suka wanita yang membuatnya merasa tertantang. Ketika dia tidak merasakan tantangan darimu, hubungan itu akan membuatnya cepat bosan.
Itulah beberapa Tips dan Cara Membuat Pria Tergila-gila dan Jatuh Cinta Kepadamu pada kesempatan kali ini. Tips diatas akan lebih mumpuni manakala kamu memang wanita seperti itu. Namun jika tidak, dan kamu memang tidak bisa menjadi seperti poin-poin pada tips diatas, maka menjadi wanita seperti aslinya dirimu jauh lebih baik daripada memaksakan diri. Ingat, pria yang baik dengan cintanya pasti akan datang kepadamu suatu saat nanti.

Kata mutiara cinta terbaru

Kata mutiara cinta terbaru

Kata cinta memang dapat kita jadikan sebagai ungkapan rasa sayang kita pada sang kekasih . . . .
Berikut beberapa
Kata mutiara cinta terbaru ,silahkan di baca . . .
Sayang engkau bukanlah yang terbaik untuku, begitu pula denganku aku bukan yang terbaik untukmu
Engkau adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingiku menjadi yang terbaik.
Kita harus sedikit menyerupai satu sama lain
untuk mengerti satu sama lain
Tetapi kita harus sedikit berbeda
Untuk mencintai satu sama lain
Cinta yang belum matang berkata:
"Aku cinta kamu karena aku butuh kamu"
Cinta yang sudah matang berkata:
"Aku butuh kamu karena aku cinta kamu"
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Setetes kebencian di dalam hati
Pasti akan membuahkan penderitaan
Tapi setetes cinta di dalam relung hati
akan membuahkan kebahagiaan sejati
Kalahkan Kemarahan dengan Cinta Kasih
Kalahkan Kejahatan dengan Kebajikan
Kalahkan kekikiran dengan Kemurahan Hati
Kalahkan Kesombongan dengan Kejujuran - Disukai.Com
Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat
tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan
kebahagiaan selamanya
Luruhnya hati bukanlah suatu dosa, Maka Jangan Pernah
Takut untuk Jatuh Cinta
Cinta Tak Harus Saling Memiliki
Kadang Kala Mereka Harus Melepaskan Cinta Tersebut
Karena Cinta yang Sejati Selalu Ingin Membahagiakan
Orang Yang dicintai
Cinta itu seperti art yg indah dan agung,
berbahagialah yg pernah mendapatkannya meskipun tidak abadi
Cinta tidak membuat dunia berputar
Cinta inilah yang membuat perjalanan tersebut berharga
Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya. Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah hati seorang wanita.
Setetes kebencian di dalam hati
Pasti akan membuahkan penderitaan
Tapi setetes cinta di dalam relung hati
akan membuahkan kebahagiaan sejati
Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.
Kalahkan Kemarahan dengan Cinta Kasih
Kalahkan Kejahatan dengan Kebajikan
Kalahkan kekikiran dengan Kemurahan Hati
Kalahkan Kesombongan dengan Kejujuran
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama. - Disukai.Com
Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat
tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan
kebahagiaan selamanya
Jika kita mencintai seseorang
Berusahalan untuk tampil apa adanya
karena Cinta sejati selalu dapat
Menerima Kelebihan dan Kekurangan
Bagi seorang muslim dan beriman, cnta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah. Bentuk cinta dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan kita kepada Allah dan karena menggapai ridha-Nya.
Bahagialah bagi orang yang mengerti akan arti cinta,
Karena Cinta itu akan memberikan warna bagi kehidupannya
Cinta yang teramat besar kadang dapat membuat kita
tak bisa mencintai lagi
Perempuan diciptakan dari tulang rusuk Laki – laki
Bukan dari kepalanya untuk menjadi peneduhnya
Bukan dari kakinya untuk menjadi tumpuannya
Tapi dari sisinya untuk menjadi sama
Dekat dengan lengannya untuk dilindungi
Dan dekat dengan hatinya untuk dicintai
Cinta Tak Harus Saling Memiliki
Kadang Kala Mereka Harus Melepaskan Cinta Tersebut
Karena Cinta yang Sejati Selalu Ingin Membahagiakan
Orang Yang dicintai
Bel bukanlah bel sebelum engkau membunyikannya
Lagu bukanlah lagu sebelum engkau menyanyikannya
Cinta di dalam hatimu tidak diletakkan untuk tinggal di sana
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu, berdoalah pada waktu ashar hingga matahari terbit, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan”

Bagaimanakah jika jatuh cinta kepada sahabat?


Bagaimanakah jika jatuh cinta kepada sahabat?

Teman yang selama ini anda kenal setelah bertahun-tahun lamanya tiba-tiba membuat hati anda berdebar-debar. Berdebar-debar bukan karena penyakit jantung atau takut, namun karena jatuh cinta. Ya, anda jatuh cinta dengan teman anda sendiri. Memang terkadang cinta datang tanpa permisi, tanpa melihat siapa-siapa, asal nyelonong saja dalam kehidupan kita. Padahal sebelumnya, anda menganggap bahwa teman anda hanyalah seorang sahabat sejati, mau bekerjasama dalam suka dan duka serta menjadi teman setia yang mau mendengarkan apa yang anda keluhkan dan masalah yang mendera anda. Namun kini situasinya sudah lain. Dalam hati anda tiba-tiba ada deburan ombak cinta yang perlahan-lahan mengikis rasa sayang sebagai sahabat dan menggantikannya dengan rasa cinta romantisme. Teman yang selama ini digadang sebagai sahabat sejati telah berubah menjadi orang terkasih secara romantisme di pikiran anda.
Pertanyaan yang sering ada di kepala setiap insan yang mengalami hal ini adalah apakah hubungan dapat berjalan lancar dengan mencintai sahabat sendiri? Dilema besar dalam perkara ini selalu melanda para pelakunya. Kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan lainnya, dimana pertanyaan itu sebenarnya tidak bisa dijawab sendiri karena memang melibatkan pihak lain, seperti apakah teman anda itu merasakan hal yang sama dan apakah anda harus mengungkapkan perasaan anda pada teman anda itu atau tidak. Setidaknya seperti itulah yang ada di pikiran orang yang sedang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri, terutama setelah menjalin pertemanan selama bertahun-tahun.
Apabila dilanda cinta dengan teman sendiri, perlu diteliti semua aspek pribadinya, sebelum hubungan itu bertambah dekat. Yang ditakutkan adalah nantinya semua justru berantakan, seperti kata pepatah “yang dikejar tak dapat, yang digendong berceceran”, intinya bisa jadi malah anda tidak mendapatkan pasangan, hubungan pertemanan pun bisa goyah bahkan putus. Banyak orang mengatakan bahwa menjalin cinta dengan sahabat sendiri bisa menimbulkan kekangan dalam sebuah hubungan. Yang perlu dikhawatirkan adalah persahabatan ini bisa berakhir dengan saling membenci satu sama lain, oleh karena itu anda harus mempertimbangkan masalah baik dan buruknya.
Hal yang baik dalam menjalin hubungan dengan teman sendiri adalah sebagai berikut:
  • Kamu telah mengetahui pribadi sahabat kamu itu, tentang bagaimana perubahan hatinya, dan bagiamana caranya menjalin cinta, sehingga kamu tahu apa yang harus dilakukan dan dihindari ketika berhubungan dengannya.
  • Lebih mudah bekerjasama dalam suka dan duka. Kenapa? Karena dulu selagi masih berteman, anda bisa melakukannya, pasti sekarang juga bisa.
  • Mengenali orang tuanya dan diterima baik oleh mereka. Tentu saja hal ini menjadi mudah karena anda sudah dikenal lama oleh mereka.
Hal yang kurang baik dalam menjalin hubungan dengan teman sendiri antara lain:
  • Anda bisa saja cepat bosan karena sudah mengenal perilaku masing-masing sehingga tidak perlu ada banyak percakapan dan pertukaran pikiran. Justru mungkin anda akan merindukan saat-saat dimana anda menjadi teman biasa saja.
  • Karakter dia sebagai sahabat mungkin saja berbeda ketika sudah menjadi kekasih. Hal ini sangat dimungkinkan karena adanya perbedaan rasa dan status di dalamnya. Seperti misalnya wanita bisa lebih terbuka pada temannya daripada pasangannya.
  • Sebagai sahabat, dia menjadi orang yang obyektif dalam memberikan solusi kepada anda. Namun ketika sudah menjadi kekasih, bisa saja obyektifitas tersebut berubah karena ketakutan akan ketidaksetujuan anda berdampak pada hubungan romantisme yang sedang berjalan.
Oleh karena itu lebih baik duduk dengan tenang, pertimbangkan segala resiko yang ada. Jika anda siap menerima resiko yang mungkin timbul pra atau pasca hubungan anda dengan sahabat anda, maka berjalanlah. Jika tidak, lupakanlah rasa itu, kubur dalam-dalam dan mulailah hidup baru namun tetap bersahabat dengan teman baik anda.

Sumber         :        RidwanAZ.com

Masalah Asmara Yang Timbul Gara-Gara Facebook


Punya akun Facebook itu ada plusnya dan ada minusnya dalam hal asmara. Plusnya, bagi yang masih single, bisa berkenalan dan memperluas relasi lewat Facebook. Ada saja sosok manis yang mampir ke akun Anda dan akhirnya mengajak berkenalan.
Sayangnya, Facebook juga membawa beberapa hal minus dalam hubungan asmara, seperti berikut ini:

Memicu pertengkaran

Ada saja hal-hal yang bikin Anda dan kekasih akhirnya bertengkar gara-gara Facebook. Biasanya, yang memicu pertengkaran ini adalah:
  • Tidak men-tag foto
  • Jarang memberi komentar padahal ia sering menulis komentar di wall lain
  • Si dia memberi komentar di wall mantan kekasihnya
  • Ada request friend dari sosok lain yang manis (langsung deh cemburu nggak karuan)
  • Komentar tidak dijawab dan tidak dianggap (padahal di dunia nyata dia romantis dan manis, so what?)
  • Tidak segera mengganti status, padahal sudah jadian atau menikah (siapa yang pernah mengalami kejadian ini?)
Memicu putus
Dan berikut adalah hal-hal yang memicu seseorang putus dengan pasangannya:
  • Ketahuan chat dengan seseorang via message
  • Ada message dari seseorang yang tidak Anda kenal dan setelah dibaca, agak mesra
  • Dia mengaccept friend request atau meng-add friend wanita-wanita cantik di Facebooknya
Memicu dilema
Ada beberapa pilihan status di dalam Facebook, in relationship, in open relationship, single, dan lain sebagainya. Nah, saat ada kejadian yang kurang menyenangkan di dalam hubungan, semisal si dia mengajak vacuum, Anda tentu dilema hendak mengganti status di Facebook atau membiarkan saja.
Yang jelas, soal status ini bikin stress dan pusing saja.

Memicu perselingkuhan

Pasangan jarang online, dan ia juga tidak pernah mau tahu soal akun Facebook Anda.
Di akun Anda, tidak tertera status relationship dan Anda memilih menyembunyikannya saja. Tiba-tiba, suatu hari ada yang mengajak Anda berkenalan. Dan, tada! Seketika Anda diam-diam menikmati chatting tengah malam atau saling mengirim pesan rindu.
Anda telah terjebak dalam perselingkuhan lho, ladies.

Memicu cemburu

Melihat dia posting foto bersama teman atau memberi komentar di wall teman wanitanya kerap bikin sebagian orang cemburu. Apalagi kalau Anda stalking dan melihat-lihat profil si teman wanitanya begitu menimbulkan decak wah dan wow. Anda tentu langsung panas dan terpacu untuk posesif.
Di antara masalah yang disebutkan tadi, mana yang paling sering Anda alami dengan pasangan?
Ouch! Sebaiknya memang Facebook bukan dijadikan patokan bagaimana perasaan kekasih pada Anda. Facebook toh hanya sebuah akun social media yang utamanya membantu agar pertemanan tetap terjaga sekalipun jarak berjauhan.


sumber      :        Vemale.com

Cara Menghadapi Kekasih Yang Curigaan

Cara Menghadapi Kekasih Yang Curigaan

Seringkali mengecek ke mana Anda pergi dan dengan siapa Anda pergi adalah sebuah wujud kecurigaan yang menyebalkan. Terutama jika kemudian ia semakin menunjukkan keposesifannya dan melarang Anda ini itu.
Pada akhirnya, sikap tersebut akan membuat hubungan jadi rapuh dan sebentar-sebentar bertengkar karena alasan sepele. Menghadapi hal ini, sebenarnya Anda tak perlu khawatir.
Wanita selalu punya cara menghadapi pasangan yang insecure dan doyan curigaan. Beginilah yang harus Anda lakukan:

Introspeksi diri

Iya benar. Anda harus mengalah dan mengintrospeksi diri sendiri. Apa sih yang sebenarnya membuat kekasih Anda jadi super posesif dan curigaan seperti itu.
Seringkali memang ulah kita sendiri yang memancing sisi posesifnya. Misalnya seperti masih berhubungan dengan mantan, bersikap terlalu akrab dengan teman pria lainnya, kurang perhatian dan cuek terhadap pasangan.
Nah, hal-hal seperti itu memang dapat menimbulkan rasa insecure yang berujung dengan kecurigaan setiap kali Anda melakukan sesuatu.

Memutuskan hubungan dengan mantan

Hentikan hubungan Anda dengan mantan. Atau kalau perlu batasi semua komunikasi Anda dengannya. Hal ini akan membuat si dia sedikit lebih lega, karena tak ada kemungkinan mantan akan kembali dekat dengan Anda.
Sekalipun Anda tak merasa bahwa mantan itu spesial, tetapi Anda tak akan bisa menghilangkan rasa khawatir dan curiga kekasih. Untuk menyelamatkan hubungan Anda, lebih baik pilih kehilangan kontak dengan mantan saja.

Berikan pujian

Wanita doyan dipuji, demikian juga dengan pria. Saat ia merasa sedang di titik terendah dan kehilangan percaya diri, pria kerapkali menjadi insecure. Untuk itu, kembalikan kepercayaan dirinya dengan sesekali menimpalinya pujian.
Gandeng dan buat ia menjadi pria yang bangga bisa memiliki Anda di depan semua orang.

Kenalkan pada teman-teman Anda

Jangan hanya diam saja. Kenalkan dan seret dia masuk ke dalam lingkup sosial Anda. Hal ini akan membuatnya lebih tenang karena bisa mengenal siapa saja yang selama ini berteman dengan Anda.
Selain itu, dengan masuk ke dalam lingkungan sosial, ia bisa memahami sebenarnya tak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi olehnya.

Komunikasikan dengannya

Pastikan Anda berkomunikasi dengan efektif. Bicarakan soal sisi posesif yang kadang mengganggu Anda. Dan tanyakan pula hal apa yang bisa dilakukan agar ia dapat mengurangi sisi posesif tersebut.
Pria pada awalnya akan tertutup dan cenderung tidak mengaku bahwa ia sedang insecure. Namun, dengan kepiawaian Anda, ia dapat mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Anda sehingga Anda bisa mengembalikan kepercayaannya lagi.

Cerpen Sedih : CINTA


ak bosan. Tak akan pernah bosan aku menatap sesosok gadis di hadapanku. Tetap cantik, meski kini ia tengah terbaring lemah dengan wajahnya yang pucat pasi. Entah mengapa, dalam tak kesadarannya aku seakan melihatnya tengah tersenyum kepadaku. Senyum yang tak asing buatku. Senyum yang akrab menyapaku di setiap hari-hariku….. dulu,,,,

“Aku merindukanmu”

Ucapku terisak bukan untuk yang pertama kalinya. Aku yakin ia akan mendengar apa yang ku katakan, walau tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Hanya suara dari mesin pendeteksi detak jantung yang ramaikan suasana yang ada kini. Aku merindukannya. Benar-benar merindukannya.

*****


28 Desember 2010

“Pritha, ada bintang jatuh!!!”
“Lalu?”
“Kata orang sih, kalau ada bintang jatuh… segala keinginan kita akan terwujud”.
“Apa kamu percaya sama hal itu? Kamu kan cowo?”
“Emang cowo nggak boleh percaya begituan?! Udah deh, mending kita coba dulu ajah!!”
Langit malam bersolek indah malam ini. Gemintang anggun hiasi kepekatan malamnya. Dan di bawah dekapan malamnya, ku habiskan waktu bersama Pritha, sahabatku. Seorang gadis cengeng yang periang, menyenangkan sekaligus menyebalkan. Gadis kecil keras kepala yang terus mengajakku untuk main boneka bersamanya, meski ia tahu bahwa aku seorang bocah laki-laki. Gadis cilik yang super cerewet dan mau menang sendiri. selalu memaksa aku untuk terus memboncengnya mengelilingi kompleks perumahan kami, meski kami sudah mengitarinya lebih dari 5 kali.
“Udah berapa lama ya kita saling kenal?” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.
“Nggak tau!! Emang kenapa? Toh, pada awalnya aku terpaksa kan mau main dan kenal sama kamu!”
“Bawel amat sih, aku serius,Pram!!”
“Emang siapa yang nggak serius sih?!”
“Jadi udah berapa lama ya kita jadi sahabat?”
“Enam tahun”.
“Sok tahu! Emang kamu beneran yakin?”
“. . . .”
“Prithaaaaaa!!!!” tiba-tiba suara tante Vivi hadir memecah sunyi yang ada di antara kami.
“Dipanggil noh, Non.”
“iya iya,..aku duluan ya Pram. Sampai besok…:)”
“Aku yakin banget,Tha. Kita udah deket selama enam tahun. Aku nggak bakal lupa. Nggak akan pernah lupa, Tha. Besok adalah genap enam tahun pershabatan kita. Semoga kamu juga nggak lupa”, ucapku dalam hati setelah sosok Pritha melangkah menjauh dariku.
*****

29 Desember 2010
“‘dddrrrrt….dddrrrttt…ddrrrttt’
From : Pritha
+628133xxxxxxx
Pram, jangan lupa ya. Hari ini kita janjian di taman biasa. Jam 9. Oke? Aku tunggu.
. . .
Sekali lagi ku lirik jam tanganku. Pukul 9.05. Sampai saat ini aku belum menemukan sosok Pritha. Tak biasanya ia terlambat. Dia selalu tepat waktu. Padahal, tadi aku sudah benar-benar terburu waktu, berusaha untuk tak terlambat walau hanya untuk kali ini saja. Kekesalanku mulai muncul. Apa Pritha sengaja datang terlambat untuk mengerjai aku? Awas saja dia.
Sembari menunggu, ku pandangi tulisan yang terukir di pohon Mahoni yang rindang ini. Kami menulisnya tepat enam tahun yang lalu. Dan sejak itulah, kami tetapkan hari itu sebagai hari jadi kami sebagai seorang sahabat. Sahabat yang akan selalu hadir disaat salah satu di antara kami jatuh ataupun sebaliknya. Sahabat yang selalu menjadi pendengar paling baik bahkan terkadang melebihi orangtua kami sendiri. Selalu ada. Selalu bersama. Sekarang. Dan selamanya. Amiin J
9.15. Pritha masih belum menampakkan sosoknya. Apa dia baik-baik saja? Tak seperti biasanya ia terlmbat. Apalagi dia yang membuat janji. Tak ada jawaban dari panggilan ku ke ponselnya. Semua pesanku juga tak mendapat respon.
To : Pritha
08133xxxxxxx
Tha, kamu dimana? Uda jam beapa ini, Sayang? Inget ya, aku sibuk. Nggak bisa nunggu lama-lama aku. Kalau bisa bales sms ini. Harus!!!. Still waiting for you, Tha.
Tiga puluh menit.
Empat puluh lima menit.
Dan sekarang, hampir satu jam aku menunggunya. Pritha masih belum hadir di sini. Aku ingin marah. Aku benar-benar merasa dihianati. Tapi, sepertinya aku tak bisa. Ingin aku segera angkat kaki dari tempat ini. Hilang harap sudah untuk yakin bahwa Pritha akan menginjakkan kakinya di taman ini. Baiklah lima menit lagi. Ku beri kesempatan lima menit lagi. Tak lebih. Pritha, ku mohon…
----Lima menit kemudian….----
“Pramana!!!”
Sebuah suara menghentikan langkahku. Suara yang tak asing, begitu akrab di telingaku, namun terdengar lemah. Suara Pritha. Aku berbalik. Dapat ku lihat seutas senyum tersimpul di wajah Pritha. Ia tampak pucat. Lemas. Apa dia sakit? Tapi,….
“Maafin aku yah, Pram….” Dia berhamburan ke pelukanku. Ia menangis sejadi-jadinya. “Kamu marah kan sama aku? Maaf banget, Maaf”.
Ku rasakan bulir-bulir bening hangat basahi bajuku. Aku tak mampu berkata-kata. Aku sendiri bingung dengan perasaan yang berkecamuk di dadaku. Apa ku harus marah pada sahabatku? Atau apa? Aku harus bagaimana? Aku tak tahu.
“Nggak, Tha… nggak,….” Ku tarik tubuhnya dari dekapanku.
“Pramana,…??” ujarnya pelan. Meluncur lagi bulir-bulir bening dari kedua pelupuk matanya.
“Nggak, Tha…. Nggak ada yang perlu dimaafin. J” ku rasakan dingin pipinya saat ku usap air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. “Emang tadi kamu kemana?”
“Emm,… anu… ee… er… tt..taadi…”
“Tadi kenapa?” potongku sambil menariknya untuk duduk di rumah pohon kami.
“Tha, tadi kenapa?” ku ulang pertanyaanku sesampainya kami di atas (di rumah pohon)
“Tadi,….. jam di rumahku mati. Ya, jamnya mati. Jadi aku nggak tau kalau uda jam 9 lewat. Sori yah,…”
“kenapa nggak bales sms ku? Toh kamu juga bisa lihat jam yang ada di hape kamu kan?”
“Em, hapeku mati. Batrey.nya habis. Sori…”
“Trus, jam di rumah kamu kan nggak cuma satu kan, Tha?”
“Iya sih, Cuma nggak tahu tuh… pada rusak berjamaah. Tadi papa juga telat pergi ke kantor. Trus mama juga—“
“iya iya. Aku ngerti kok. Nggak usahpanjang-panjang ceritanya. Bawel!!”
“Dasar kamu!! Masih aja ya nyebelin.”
“Emang kamu ngapain ngajak ketemuan? Mau traktir nih?”
“Iih, nih orang. Doyan banget ama yang gratisan. Emang kamu lupa ya?”
“lupa?”
“hari ini kan genap enam tahun kita sahabatan. Pikun banget sih kamu!!”
“O.” jawabku sekenanya.
“Sumpah ya, kamu itu,….. awas kamu, Pram…!!!” protesnya sambil memukul ku gemas.
“Tentu aku nggak lupa, Tha. Dan aku seneng kamu juga nggak lupa”, batinku.
. . . . .
Kami habiskan seharian untuk mengulang segala cerita akan kenangan yang telah kami jalani bersama. Segala protes ia ajukan atas keisenganku selama ini. Dengan riang ia bercerita dan tentunya dengan senyumnya yang tak pernah hilang. Selalu hadir seperti biasanya. Senyumnya indah, meski harus hadir di wajahnya yang selalu pucat. Sejak awal kami bertemu, memang ia tampak pucat. Awalnya aku mengira dia mayat hidup, tapi…. Aku ragu akan ada mayat hidup yang bawel dan super cerewet seperti dia. Dia tergolong anak tertutup. Jarang keluar rumah. Orangtuanya super protektif terhadapnya,meski kini ia sudah duduk di kelas XII SMA. Tapi, aku tahu Pritha bukan anak manja. Aku juga yakin, orangtua Pritha pasti punya alasan kuat untuk bertindak protektif terhadapnya hingga detik ini. Mungkin, karena dia anak perempuan satu-satunya,….
“Tha,…”
“Apa?”
“Kamu janji nggak bakal kaya tadi ya?”
“Maksud lo? ” jawabnya terheran-heran akan sikapku.
“Dasar oneng ya!! Gue tuh coba bersikap perhatian dan romantis sama lo!! Respon yang agak bagus dikit kek!!” protesku.
Dia hanya nyengir dan kembangkan sebuah senyuman di wajahnya kemudian. “Pram, kamu mau janji sesuatu sama aku?”
“Apa’an?”
Dia menatapku lekat-lekat. Tampak sebuah rahasia tersimpan dalam dirinya. Sesuatu yang sengaja disembunyikan dariku olehnya. Ditariknya napas panjang, dihembuskannya perlahan kemudian.
“Kalau nanti aku nggak bisa lama-lama ada sama kamu, ataupun nggak bisa lagi main bareng kamu, kamu jangan marah sama aku yah, kamu—“
“Kamu ngomong apa sih?” potongku cepat. Kata- katanya sangat tak ku mengerti. Bahkan aku merasa aku membenci untuk mengerti kata-kata yang baru saja ia ucapkan.
“Dengerin dulu…., Pram”
“Bodo amat!!” jawabku sekenanya.
“Pramana,…” rengeknya.
“Udah sore, yuk pulang. Aku anter”
“Tapi,…”
“Udah, Aku nggak mau Tante Vivi entar ngomel-ngomel ama aku…”
“Pram,…”
“Udah. Ayo!!..” paksaku sambil menarik tangannya yang makin terasa dingin.
*****

26 Desember 2011

“Nak, Pramana….” Suara tante Vivi lembut menyapaku. Membangunkanku akan lelap.
“Udah malem, Sayang. Kamu pulang gih. Besok kamu harus kuliah kan? Bidang kedokteran bukan hal mudah, Sayang”
“Iya sih, Tan. Tapi… Pritha kan….”
“Kan ada tante disini. Besok masih ada hari, kamu kan bisa ke sini lagi?”
“Ya udah tante, Pramana pulang dulu. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya, Sayang”
Suasana kota Bandung makin ramai. Kerlap-kerlip lampu kota beradu indah di pinggiran jalan protocol utama. Suasana berbeda sungguh terasa saat aku melangkah keluar dari gedung rumah sakit yang serba putih. Ku teruskan langkahku ke gerbang utama rumah sakit. Ku hentikan sebuah taksi. Ku komando sang sopir untuk bergegas menuju ke rumah karena hari makin larut, aku tak ingin membuat mama khawatir akan aku. Dalam taksi teralun lagu “Seven Years Of Love” . Sebuah lagu yang kembali membangkitkan ingatanku akan kenangan bersama Pritha dulu. Saat dimana aku bisa melihat senyumnya yang menenangkan. Teringat olehku, bahwa tepat 3 hari lagi pada setahun lalu adalah hari dimana aku dan Pritha sempat kembali mengukir janji. Pritha, aku yakin kamu tak akan pernah melupakan janji kita itu.
*****

29 Desember 2010
“Kak, ini lagu apa?” tanya Pritha sesampainya kami dalam mobil.
“Pak Maman jalan yah. Udah sore nih, kasian Pritha”
“Iya, Den” jawab Pak Maman,sopir pribadi keluargaku, patuh.
“Ih, Pramana. Jawab dong. Ini lagu apa?”
“Iya. Iya. Nyantai aja kali”
“Jadi?”
“. . .” K
“Dasar!! Mending tanya Pak Maman aja. Pak, ini lagu judulnya apa’an yah?”
“Maaf, Non. Pak Maman nggak tahu lagu bule kaya beginian.” Jawab Pak Maman terlalu jujur.
“Emang kenapa sih, Tha?”
“Aku suka ajah. Nggak boleh?”
“Suka lagunya atau penyanyinya?”
“Yee,… “
“Ini lagu judulnya, Seven Years of Love” jelasku
“Kok tahu?”
“Ya tahu lah. Ini lagu kesukaannya Findha. Dulu dia suka banget ama penyayinya. Jadi dia ngoleksi album plus posternya. Dan ini salah satu lagunya”.
“Oh. Maaf kalau aku jadi harus ngungkit-ngungkit masalah Findha. Aku..—“
“Nggak apa. Nyantai aja. :)” potongku kemudian.
“Tahun depan, aku harap kita bisa main-main lagi kaya tadi. Tahun ketujuh persahabatan kita. Dan pastinya terus berlanjut sampe tahun-tahun persahabatan kita berikutnya.”
“Kamu kenapa sih? Pastinya lah kita bisa terus temenan. Kita masih punya banyak waktu, Tha. Kamu kenapa sih?”
Ia hanya diam. Keheningannya semakin membuatku penasaran akan apa yang terjadi pada diri Pritha. Sebenarnya apa yang disembunyikan olehnya? Oh, Pritha. . . .
“Janji?” ucap Pritha sambil mengangkat kelingkingnya.
“Untuk?” tanya ku keheranan.
“Tetaplah menjadi sahabatku dan tetaplah berada di samping dan—“
“Janji” ucapku memotong perkataanya. Ku kaitlan kelingkingku pada kelingkingnya kemudian.
*****

Mei 2011
Ujian sekolah telah usai. Namun, aku beserta kawan-kawan lainnya masih belum benar-benar merasa merdeka. Kami masih harus berjuang dan bersaing untuk dapat masuk perguruan tinggi yang kami inginkan. Dan kurang seminggu ke depan merupakan hari dimana hajat akbar di sekolah kami akan dilaksanakan, Hari Perpisahan. Hampir semua siswa antusias dalam hal ini. Berharap ini merupakan sebuah momen yang tepat untuk mengukir sebuah kenangan terindah yang ada. Namun harapan itu seakan jauh berbeda akan keadaan yang terjadi belakangan ini. Pritha tiba-tiba menghilang. Tiada sedikitpun kabar darinya. Ia seakan hilang ditelan sang bumi.
Tak hanya sekali aku menghubungi ponselnya, namun tetap tiada jawaban. Tak hanya satu dua pesan yang ku kirim padanya, namun tak satupun yang dibalas. Aku coba mengirim pesan padanya melalui dunia maya, tetap tak ada respon. Hingga hari ini, sepulang sekolah, ku putuskan untuk mendatangi rumah Pritha.
Ting tong
Ting tong
Tak ada jawaban. Kali ini adalah panggilan terakhir dariku. Sebagaimana adab yang ada, jika sang pemilik rumah sudah dipanggil 3 kali dan ia tak kunjung menyambut. Maka sebaiknya kita pulang, karena mungkin sang tuan rumah sedang sibuk atau ada suatu kepentingan, atau saja ia sedang tidak mau diganggu.
Ting tong. . .
Bel terakhir telah aku bunyikan. Berharap kali ini benar-benar mendapat jawaban.
Satu menit…. Dua menit…
“Maaf, Den. Cari siapa?” seorang wanita paruh baya berpakaian sederhana menyambutku. Beliau Bi Imah, pembantu di rumah Pritha.
“Pritha ada, Bi?”
“Em… anu, Den… Emm—“
“Kenapa, Bi? Pritha baik-baik aja kan?” sergapku kemudian.
“Aden ndak tahu toh?”
“Tahu apa. Bi?”
“Non Pritha kan lagi keluar kota sama Tuan dan Nyonya”
“Apa? Kok Pritha nggak pamit ama aku, Bi? Pritha baik-baik aja kan?”
“Em,,, anu, Den.. Bibi… ndak tahu” jawab Bi Imah ragu-ragu.
“Bibi nggak bohong kan?”sergapku pada Bi Imah. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal akan kepergian Pritha dan keluarganya
“Nn…nndak kok, Den. Bener” jawab Bi Imah dengan suara pelan.
“Yaudahlah, Bi. Pramana pulang dulu. Nanti kalau mereka udah pulang, bilang yah aku kesini nyari Pritha” ucapku pasrah kemudian. “Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…”
****

Hening masih ada. Berputar-putar di antara kami. Aku, Pak Arif, guru Biologiku, dan Pak Sucipto, Kepala Sekolah. Aku masih terus bertanya-tanya akan alasan mengapa aku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Hal penting apa yang akan dibicarakan beliau denganku? Kabar baik atau kabar buruk? Dua menit sudah pertanyaan itu berputar-putar di otakku. Dan dalam waktu dua menit pula, aku serasa akan mati tercekik rasa penasaran.
“Ehem.. ehem…” Pak Kepala sekolah berdehem, tanda beliau akan memulai pembicaraan.
Pak Arief tampak menggut-manggut, tanda beliau siap untuk mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari Pak Sucipto.
‘Dag.. dig… dug.. dyar!!’ detak jantungku berdetak kencang, tanda aku siap untuk menerima segala kabar baik yang ada, juga sebagai tanda bahwa aku tidak siap menerima kabar buruk yang ada.
“Begini, Nak Pramana……” beliau memulai pembicaraan. “apa kamu sudah mendaftar untuk jenjang berikutnya di salah satu universitas?”
“I..ii..iya, Pak”
Pak Sucipto hanya manggut-manggut. Perlahan aku mulai berani mengangkat kepalaku. Ku tatap lekat-lekat kepala botak beliau yang terlihat berkilau di bawah sinar lampu TL.
“Selamat ya, Nak…” Pak Arief tiba-tiba angkat bicara. “Kamu mendapat tawaran program beasiswa di alah satu universitas terkemuka, dan—“
“Beneran, Pak!!” sambungku cepat, tak perduli Pak Arief sudah menyelesaikan kalimatnya atau belum. Yang penting hepi ajalah J. “Wah makasih nih, Pak…” ku raih tangan Pak Sucipto dan Pak Arief, dan ku cium punggung tangan beliau berdua bergantian.
“Iya ya , Nak…. Selamat untuk kamu” ucap Pak Sucipto penih wibawa.
“Ada masalah, Pak?”
“Begini, Nak… pihak universitas te;ah melihat hasil belajar kamu selama bersekolah di SMA ini…”
“Dan?”sahutku tak sabar.
“Mereka menawarimu untuk masuk dalam bidang kedokteran. Apa kamu berminat untuk masuk dalam bidang itu? Asal kamu tahu, Nak. Bapak sangat mendukung jika kamu masuk dalam bidang itu”
“Begitu pula dengan Bapak, Pramana. Bapak sangat mendukung tawaran itu. Ini kesempatan emas buatmu, Nak…” tambah Pak Sucipto.
“Biar saya pikirkan dahulu, Pak” jawabku sekenanya.
“Baik baik… bapak beri kamu waktu sampai awal bulan depan”
“Terimaksih, Pak”
“Sekarang kamu bisa kembali, Nak”
“Permisi, Pak..”
*****

30 Mei 2011
Kedokteran? Aku benar-benar tak yakin akan tawaran itu. Aku sama sekali tak tertarik dalam bidang itu. Namun Pak Arif benar juga, ini kesempatan besar buatku. Aku harus bagaimana?
Masih dibawah pengaruh rasa bingung yang tak karuan, ku buka laptopku. Ingin ku hilangkan semua penatku. Ku gerakan jemariku merangakai sebuah URL yang sedang digandrungi remaja sebagian besar, www.facebook.com. Setelah melaluiproses log in, aku telah sampai pada beranda dunia mayaku. Betapa terkejutnya aku saat kulihat akan adanya puluhan pesan dan pemberitahuan pada akun facebook-ku. Dan…. Itu semua dari Pritha.
Dia kembali… pantaskah aku mengatakan kata ‘kembali’ untuk munculnya kabar dari Pritha? Huh, aku tak tahu.
“Pramanaaaaaa… toktoktok” suara Ibu buyarkan lamunan ku yang tak karuan. “Ada Nak Pritha di depan…. Temuin gih,,,”
“Apa? Pritha?” batinku. “Iya, Bu… bentar…” sahutku kemudian. “Pritha muncul setelah sebulan lebih menghilang…sebenarnya apa yang dia inginkan?” batinku masih tak percaya.
. . . . . .
“Hai, Pram….” Sapa Pritha saat aku baru muncul dari balik tembok. Aku masih tak tahu apa yang harus ku katakan padanya. Haruskah rasa marah dan kecewa atas hilangnya kabar darinya secara tiba-tiba, yang ku tunjukan? Atau, haruskah ku tumpahkan segala rasa rinduku padanya dan mengenyampingkan semua kecewaku?
“Ngapain lo kesini?” tanyaku begitu saja.
“Sory Pram,… aku…”
“. . . .”
“Aku ada keperluan ama keluargaku di luar kota. Dan itu mendadak banget. Dan aku—“
“Nggak bisa pamit atau ngasih kabar kek?!” potongku, kesal.
“Em… Aku…”
“Kenapa? Apa susahnya sih, Tha?? Gue kecewa ama lo!!”
“Pram,… aku,,,” dia hanya menangis. Air matanya mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Huh, aku membenci pemandangan ini, melihat Pritha menangis.
“Udah lah, Tha! Kalo Lo uda nggak mau kita sahabatan lagi, bilang aja. Nggak usah kaya gitu, ngilang nggak ada kabar. Sms, e-mail, telpon nggak ada yang lo respon.” Ucapku mencak-mencak.
“Pram,…” suaranya melemah. Wajahnya yang sedari tadi pucat, makin memucat kini. Air matanya terus mengalir.
Dia menangis.
Aku kian terbakar api emosi.
“keluar dari sini!” ucapku padanya dengan nada lebih rendah dari sebelumnya.
“Pram,… aku—“
“PERGI!!!” bentakku kemudian.
Aku berbalik. Berharap Pritha tak mengetahui akan air mataku yang mulai meluncur mulus di pipiku. Berharap Pritha segera menghilang dari rumahku. Masih ku dengar isaknya untuk beberapa lama. Kemudian, ku dengarkan langkah kaki yang gontai menjauh dariku. Pritha pergi…. Entah dia akan kembali atau tidak,… aku tak tahu…
Aku masih berdiri terpaku di sini. Di tempat, dimana aku telah mengusir Pritha, sahabatku. Potongan-potongan episode saat aku bersama dia bermain dalam memoriku. Bagai film yang tengah di putar pada layar besar, begitu cepat. Gambaran akan kebersamaanku dengan Pritha teramat jelas terlihat dalam anganku. Haruskah semua kenangan iindah itu berakhir sampai disini?
“Prithaaaaaaaa” ku teriakkan namanya sekeras mungkin, berharap dia akan berhenti menjauh dari rumahku. Ku balikan tubuhku, segera aku berlari menyusulnya.
“Tha…” ku tangkap sosoknya yang kian menjauh dari pintu utama rumahku. “Prithaaaaaaaa” kali ini ku teriakkan namanya lebih keras lagi.
Dia berhenti.
Aku pun berhenti berlari.
Dia berbalik.
Aku melangkah mendekatinya.
Dia menatapku.
Aku pun menatapnya.
“Tha…” ucapku dengan napas tersengal.
“Pram,…. Aku—“
“Maafin aku ya, Tha..” ku raih tubuhnya dan menariknya dalam dekapan tubuhku.
“Maaf,…Maaf Pram…” ucapnya sambil terisak dalam dekapanku.
“sssst…..” ku letakkan telunjukku pada bibirnya yang pucat. “Udah,.. udah…semua udah berlalu. Aku yakin kamu punya alasan yang kuat untuk kepergian kamu. Em,,,,,aku ada kabar baik nih,,,”
“Oh ya… apa?” ucap Pritha sambil mengusap garis air mata di pipinya.
“Aku dapet beasiswa, Tha….”
“Oh ya? Waw, selamat yaa…” ucapnya girang sambil memelukku. “Hebat kamu…jurusan apa?”
“Itu masalahnya… aku bingung. Mereka nawarin aku di bidang kedokteran.. kamu tahu kan, aku kurang ada minat dalam bidang itu—“
“keputusan kamu gimana?”
“. . . “ aku hanya dapat mengangkat bahu.
“Kamu tanya sama hati kamu” ucapnya sambil menunjuk dadaku, menunjuk dimana hati kecil berada
“ :) makasii, Tha. Lo emang yang terbaik…”
“:)”
“Ntar malem aku mau traktir kamu makan. Oke? Buat ngerayain ini. Ntar aku jemput deh. Gimana?”
“Nggak usah jemput lah. Nanti aku usahain ya, Pram…. Aku pulang dulu, tadi aku bilang ke Mama nggak bakal lama-lama soalnya.. Assalamu’alaikum”
“okeh. See you later, girl!! Jam 7 yah… Ati ati. Wa’alaikumsalam”
*****

20.00
Satu jam lebih aku mematung di sini. Ku lirik jam tanganku, berharap waktu berhenti detik ini juga. Ingin ku berikan kesempatan pada Pritha untuk dapat hadir di sini tepat waktu. Tapi….. lagi lagi ia tak tepat waktu. Lagi lagi ia tak memberikan kabar padaku. Ada apa lagi dengannya? Akankah dia menghilang lagi?
Jarum jam menunnukan pukul 20.45. Seharusnya kami telah berkumpul, menghabiskan waktu bersama dengan senda gurau, dengan tawa, dengan kegembiraan. Tapi…. Yang ada hanya aku yang sendiri, dalam hening, dalam sepi.
21.00
Ku putuskan untuk kembali ke rumah seorang diri. Seharusnya aku melangkah pergi dari tempat ini berdua. Mengantar Pritha pulang, karena hari telah larut. Semua tinggal rencana….. lagi lagi Pritha mengingkari janjinya. Janji untuk datang pada malam ini. Janji untuk selalu memberi kabar akan suatu halangan yang terjadi padanya. Lagi lagi Pritha telah membuatku kecewa.
****

Juni 2011
“Pram,… ada yang nyari tuh!!” seru Rendra kawanku dalam satu tim basket.
“Siapa?”
“Tuh” ucapnya sambil menunjuk seorang gadis bermbut panjang dan berwajah pucat.
“Pritha?”
“. . .”Rendra hanya mengankat bahu. “Cantik loh, tapi sayang wajahnya pucet banget. Temuin sono”
. . . .
“Ngapain lo di sini?” ucapku kesal saat sampai di hadapannya.
“Aku tau hari ini kamu ada jadwal latihan basket. Jadi aku langsung ke sini aja. Dan ternyata tebakan aku bener, kamu ada di sini”
“Pulang sana! Aku sibuk!”
“Kamu marah?” dia bertanya dengan wajah polosnya. “Pram, ….aku--”
“Peduli apa Lo!! Pulang sana, gue nggak butuh temen kaya Lo!! Muna!”
“Aku bisa jelasin, Pram… malam itu aku—“
“Kenapa? Lo nggak bisa dateng karena jam di rumah lo mati lagi? Hape lo low batt, jadi lo nggal bisa sms buat ngasih kabar ke gue?!” omelku panjang lebar padanya. “Udah deh…. Gue capek!! Nggak sekali lo kaya gini”
“Pram..aku—“
“Dan lo juga tahu kan, gue paling nggak bisa toleran ama orang muna kaya Lo!!!!”
“Tapi, aku punya alasan untuk ini, Pram!!! Dengerin dulu penjelasanku—“
“Udah jelas semua!!!” potongku dengan nada suara yang kian naik. “PERGI LO!!! Enek gue ngeliat lo di sini!!” kata-kata jahat itu keluar tak terkendali dari mulutku. “PERGI!!!”
Aku berbalik dan segera melangkah pergi menjauh dari Pritha. Berharap kali ini aku tak akan berbalik dan mengejarnya seperti dulu. Hatiku terlanjur luka dan bernanah. Aku benar-benar kecewa.
. . . . .
---beberapa menit kemudian---
“Pram… pram praaam…..” Dudi tergopoh gopoh ke arahku yang sedang asyik berkeluh kesah dengan bola basket.
“Ngapain?” jawabku malas.
“Cewe tadi... cewe yang barusan lo temuin—“
“Kenapa lagi?” potongku cepat. “dia balik lagi? Maksa pengen ketemu gue lagi? Usir aja! Bilang gue lagi sibuk. Repot amat!”
“Eh…. Bukan!!! Denger dulu!!” bantahnya. “Dia pingsan!!”
“hah..” sahutku dengan mata melotot dan hati yang kaget bukan main. “Dimana?”
“Di gerbang depan. Anak-anak lagi ngerubungin dia tuh”.
Segera ku berlari menuju TKP.
Tubuh gadis itu terbujur lemah. Wajahnya kian pucat. Mengalir darah segar dari kedua lubang hidungnya. Orang-orang di sekitarnya hanya terdiam, asyik menonton penderitaanya. Segera ku raih tubuhnya. Ku periksa denyut nadinya. Kian melemah. Pun kulitnya kian terasa dingin.
“Apa yang kalian lihat hah? Panggil ambulans!!! CEPAAAAT!!!!” ucapku mencak mencak tak karuan.
“Pritha……… bertahanlah…..” bisikku padanya lemah.
*****

“Apa? Kanker otak?” aku tercengang. Pritha tidak mungkin mengidap penyakit itu. Aku tahu dia orang yang kuat. Tuhan….. “Kenapa dia nggak cerita? Kenapa…. Aku nggak pernah tahu tentang ini?”
“Maafkan tante, Sayang. Pritha sangat sayang sama kamu. Dia melarang tante dan om untuk cerita penyakit ini ke kamu. Dia nggak pengen kamu khawatir, Nak” jelas Tante Vivi dengan nada yang sengaja dibuat tenang.
“Separah apa kankernya?”
“Sudah stadium akhir. Sebulan yang lalu kami mencoba untuk menjalani terapi diluar negeri. Namun, pihak kesehatan di sana sudah menyerah, Nak. Terlambat bagi kami untuk melawan kanker di tubuh Pritha. Sesampainya kami di rumah, Pritha langsung merengek memaksa untuk datang ke rumahmu, Nak. Alhasil, beberepa malam lalu tubuhnya kembali melemah. Kondisinya drop. Tadi pagi, saat dia sadar dan agak membaik, dia memaksa agar diantar ke tempat latihan basket tempat kamu biasa latihan. Dia bilang, dia ada janji sama kamu. Tante nggak yakin untuk ngijinin dia ketemu kamu, tapi dia memaksa. Dan sekarang………” tante Vivi terisak. Kalimatnya terhenti. Airmuka yang tadi Nampak tegar, kini berubah menjadi sesal.
Satu demi satu kejadian yang ada di ceritakan Tante Vivi dengan rinci meski diselai dengan isak tangis yang kunjung henti dari beliau. Semua seakan terputar kembali, bagai sebuah film kelam yang sama sekali tak ingin ku saksikan namun terus ku bayangkan.
“Sabar ya, Te. Pritha itu orang yang kuat. Tante tahu itu kan?” hiburku pada tante Vivi seadanya.
“Semoga saja, Nak. Dia sudah cukup lama menderita karena kanker ini. Sudah hampir 9 tahun yang lalu. Dulu sempat pulih, dan dokter sudah menyatakan dia sembuh. Tapi…… kanker itu muncul lagi…… :(” Tante Vivi tenggelam dalam isakan tangisnya yang pilu.

Papa Pritha terdiam.
Aku pun tertdiam, terduduk lesu penuh sesal. Mengalir air mataku yang seakan percuma. Karena aku telah gagal melindungi Pritha. Gagal menjaga Pritha.

Kini aku tak tahu harus berbuat apa. Inginku putar kenbali waktu. Ingin ku cabut semua kata-kata kasarku pada Pritha. Ingin ku hapus semua prasangka burukku akan dia. Aku hanya bisa berlari. Membawa diri ini untuk menjauh dari badan Pritha yang masih dalam kondisi kritis. Aku ingin terus berlari, berharap menemukan sebuah jawaban atas segala segala rasa yang kini berkecamuk dalam dada.

Tiba-tiba langit mendung. Tetes-tetes air langit turun basahi tanah bumi. Gemuruh bergelegar, saling bersautan seakan alam sedang marah. Apakah sang alam marah padaku atas Pritha? Terkutukkah aku sudah?
. . .
“Tuhan….. kenapa Engkau gariskan ini terjadi padaku??????” teriakku tak jelas, sesampainya aku pada suatu tempat yang dahulu sering ku kunjungi..
“Kenapa Engkau biarkan ini terjadi dalam hidupku untuk yang kedua kalinya, Tuhan? Belum cukup Engkau hancurkan hati ini dengan kepergian Findha??!!! Kenapa sekarang Pritha juga harus mengalami hal yang sama dengan halnya Findha?? Apa aku tak boleh bahagia, Tuhan? Apa aku memang tak pantas untuk mencintai dan dicintai oleh orang-orang istimewa seperti mereka?”
Aku tahu ini salah. Tak seharusnya aku menyalahkan kuasaNya yang Mahaagung. Tapi, harus dengan siapa lagi aku mengadu kini?
“Findha, lo tahu kan gimana hancurnya hati gue saat lo emang harus ninggalin gue untuk selamanya?” tanyaku pada pusara yang ada di hadapanku. “Sekarang, gue harus ngalamin lagi yang namanya kehilangan orang yang gue sayang, Dek…”
Aku hanya dapat terus terisak. Terus tenggelam dalam banjiran airmata di bawah guyuran hujan. Terus berkeluh kesah akan semua sakit yang ku rasa, pada pusara di hadapanku. Pusara yang bernisankan “Findha”. Sosok teristimewa dalam hidupku. Adikku…..
*****

29 Desember 2011
“Kamu pinter banget menyembunyikan semua ini dari aku. Dasar anak nakal!” ucapku pada sosok yang masih enggan membuka kedua matanya. Ia masih lelap dalam tidurnya yang panjang. Meski demikian, aku beserta keluarga Pritha yakin, Pritha pasti akan bangun dari lelapnya. Bangun untuk kembali tersenyum. Senyum yang mampu untuk membuat sang mentari malu dan selalu ingin bersembunyi di balik awan.
“Kamu tahu kan hari ini adalah hari yang kamu tunggu setahun yang lalu. Tujuh tahun persahabatan kita. Kamu juga tahukan, sekarang aku uda kuliah di bidang kedokteran. Apa kamu nggak pengen tau ceritaku waktu di kampus? Seru banget, Tha!” aku terus mngoceh sendiri. Entah, orang-orang di sekitarku telah menganggapku gila atau tidak. Tak peduli, yang terpenting Pritha segera sadar dan dapat kembali tersenyum. Walau matanya terpejam, aku yakin mata hati Pritha mampu merasakan semuanya.
Ku letakkan tangannya di atas kepalaku. Ke genggam erat tangnnya yang dingin. Ku cium punggung tangannya dengan penuh rindu, penuh sesal.
“Selamat hari persahabatan, Tha. Seven years of our love” bisikku sambil kembali mencium punggung tangannya.
Ku benamkan tubuhku dalam lipatan tanganku. Inginku pejamkan mata, dan menemuinya dalam alam bawah sadar. Mencari bayangannya dalam tiap kenangan yang terus mengaduk-aduk otakku.
. . . .
---pukul 21.00---

“Pram…..”
Suara itu terdengar lemah. Suara yang hampir hilang dari pendengaranku 7 bulan lalu. Suara dari sosok yang ku rindu, . . . . . . . .Pritha.
“Kamu udah sadar?” responku spontan. “Biar aku panggil dokter yah, kamu tunggu bentar disini”
“Pram,…” ucap Pritha sambil memegang pergelangan tanganku, menghentikan langkahku.
“Nggak usah. Aku baik kok. Aku lagi nggak pengen dapet ceramah dari dokter. Aku mohon..” ucapnya masih dengan lemah.
“Oke”. Ucapku patuh. “Aku akan kabarin Mama dan Papa kamu-“
“Pram…” kembali Pritha menatapku dalam. Ia menggeleng. “Aku nggak mau ngerepotin mereka”
“ya ya ya” jawabku setengah kesal.
“Makasi :)” ucapnya sambil nyengir.
“Lo tidurnya lama amat, kaya kebo—“ ucapku membuka perbincangan pertama kami setelah hampir 7 bulan kami mematung dalam perbincangan sunyi.
“Oh ya?”potongnya, berusaha memberi respon yang baik.
“Tapi…. Lo kebo paling cantik di dunia, Tha.”
“Gombal Lo!”
“Aku masuk kedokteran” bisikku.
“Selamat, Pram :)” senyumnya mengembang di bibirnya. Senyum yang selama ini aku rindukan. “Selamat hari persahabatn, Pram” lanjutnya lirih.
“Selamat juga buat kamu, Tha” dapat ku lihat senyumnya terus mengembang dalam wajah pucatnya. Senyumnya bagai bintang pagi yang indah.
“Sekarang tanggal berapa?” tiba-tiba dia bertanya demikian.
“29 Desember :)”
“Oh ya? Waktu berjalan cepet banget ya selama aku nggak sadar..”
“Kan aku uda bilang kamu tidur kaya kebo” godaku
“Aku pengen ke taman, Pram. Bukannya kita uda janji untuk pergi ke taman ditahun ke-tujuh persahabatan kita?”
“lo nggak lupa, Tha :). Makasii” batinku “Udah malem, Tha. Kamu juga baru sadar. Besok aja yah”
“Ayolah, Pram….. semua akan beda kalau besok. Bukannya kamu juga udah janji?” rengeknya manja
“Nggak, Tha!!”
“Pram,…. Please”
“Diluar hujan, Tha”
“Aku takut aku nggak punya waktu banyak untuk ini, aku—“
“Lo ngomong apa sih? Kesempatan kita masih panjang” potongku karena risih akan kalimat yang belum terselesaikan oleh Pritha.
“Pram,…” ku lihat mata beningnya mulai tergenangi air mata.
Ini adalah kelemahanku. Aku paling tak tega jika harus melihat seorang sahabatku seperti itu. “Oke, karena angka 7 merupakan angka bagus dan katanya sih membawa keberuntungan, aku anter kamu. Tapi inget, kamu juga harus sesuain sama kondisi kamu” jawabku kemudian.
“Oke, nanti kalau aku uda nggak kuat. Aku bakal ngelambai’in tangan kok :D”
“Snting lo! Aku percaya kamu :)”
“:)”
****
. . .
-pukul 23.45-

Hujan masih belum reda, makin deras malah. Aku dan Pritha masih mematung memandangi tiap tetes air langit yang turun, kemudian mengembun pada kaca mobil. Kami berhasil sampai di taman ini dengan usaha yang tak mudah. Malam ini aku telah melakukan satu tindak criminal. Menculik anak orang, sekaligus membawa kabur pasien rumahsakit yang baru sadar dari koma.
“Hujannya nggak kunjung reda. Mending kita balik aja yah. Besok kita ke sini lagi” ucapku pada Pritha yang sedang asyik melukis pada kaca mobil dengan embunan air yang ada.
Dia bebalik menatapku. Dia diam dalam beberapa saat. “15 menit lagi hari ini akan berakhir Pram”
“Justru itu, Tha. Mending kita pulang. Hari udah makin malem dan ini sama sekali nggak baik buat kondisi kamu, Tha”
“Karena hari tinggal 15 menit lagi, ayo kita turun dari mobil dan kita langsung menuju ke rumah pohon. Akan menyenangkan walau waktu kita nggak banyak” ucap Pritha seakan tak mendengar apa yang aku katakan sebelumnya.
“Tha,… lo dengerin gue ngggak sih?” protesku pada Pritha yang sedari tadi terus menerawang jauh dan terus berbicara tanpa melihat aku.
“Pram…. Waktu terus berjalan. Waktu kita nggak banyak” ucapannya seakan menandakan bahwa ia benar-benar tak memperdulikan setiap ucapanku. “Ayo, Pram…..” lanjutnya dengan nada memaksa. Setetes bulir bening meluncur mulus dari hulu pelupuk matanya.
“Tha,… came on…dengerin aku” paksaku sambli menarik tangannya.
“Please,…” ucapnya melemah. Tetes airmata berikutnya menyusul jatuh dari pelupuk matanya.
“Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa Tha. Cuma itu.”
“Aku akan baik-baik aja, Pram. Aku yang tahu seberapa kuat aku bisa bertahan dari semua ini”
Ku tarik napas panjang. Berusaha untuk dapat memutuskan yang terbaik, tadi aku sudah mengalah untuk nekat membawa kabur Pritha ke taman ini, dan sekarang…..
“Okelah, Ayo” kubukakan pintu mobil untuknya.
“:) thanks, boy”. Ucapnya senang, tentu dengan sebiah senyum yang sempat hilang selama beberapa bulan lalu.
Sesaat kemudian ia tampak bingung. Sepertinya ada masalah dengan kakinya. “Bisa bantu aku untuk sampai ke rumah pohon?” tanyanya ragu dan sungkan.
“Ow,.. withpleasure Princess,…:)” ku raih tubuhnya dan ku bopong dia. “Lo makin berat ya, harusnya tambah enteng!! Dasar kebo!!”
“Sialan lo!! Sini biar aku pegang payungnya” tawarnya padaku.
Angin bertiup makin kencang. Pun hujan tak lekas untuk sekejap menghentikan tiap tetes yang ada. Hal ini makin memberatkan langkahku dan Pritha untuk dapat sampai di rumah pohon kami.
“Aaahh,…” Pritha memekik kaget saat tiba-tiba payung yang dibawanya terbawa tiupan angin. ‘Pram,… maaf.. payungnya…” ucapnya dengan suara makin lemah yang beradu dengan derasnya suara hujan.
“tenang, Tha. Bentar lagi kita sampe” ucapku tergopoh-gopoh.
Ku percepat langkahku. Tubuhku sudah kuyup, begitu pula Pritha. Melihat wajahnya yang kian memucat, aku makin khawatir dan merasa serba salah.
. . .

“Kita udah sampe, Tha” ucapku pada Pritha yang tampak kian lemah di pangkuanku. Wajahnya kian memucat. Guyuran hujan makin membuatnya lemah.
“makasii, Pram…” ucapnya sambil meraba ukiran tulisan yang ada di pohon Mahoni milik kami. “Makasii kamu udah mau temenin aku, jaga aku—“
“Tha,… udah… :)” ku tatap matanya yang bulat nan penuh akan ketulusan cinta. Ia tetap menggigil walau sudah mengenakan jaket miliknya. Ku kenakan jaket ku untuk melapisi tubuhnya yang kuyup. “Aku seneng banget bisa kenal dan bersahabat ama orang kaya kamu”
“nggak kerasa ya, udah tujuh tahun kita sama-sama. Rasanya baru kemarin, tapi kenapa ya rasanya hari ini semuanya akan berakhir—“
“Sssstttt,…… ku letakkan telunjukku pada bibirnya yang pucat dan gemetar. “Waktu kita masih panjang” bisikku pilu.
“Aku harap, Pram” ucapnya lelah sambil menarik masuk tubuhnya dalam dekapanku. “Maaf kalau selama ini aku nyembunyiin masalah ini ke kamu. Aku udah nggak jujur ke kamu”
Ku peluk ia erat. Semakin lama semakin ku eratkan dekapanku padanya. Dan makin terasa pula tubuhnya yang kian melemah dan gemetar. “Tha, kita balik yah. Inget ama janji kamu buat jaga kondisi kamu”
“Nggak, Pram,….” Ia menggeleng di dadaku, dalam dekapanku. “Semenit lagi, Pram… hanya tinggal semenit hari ini akan berakhir.. tetaplah seperti ini. Jangan lepaskan semua ini, Pram.” Ucapnya makin lirih dan lelah dari sebelumnya.
Ku rasakan kulitnya yang kian dingin dalam genggaman tangannya. Ku eratkan pula dekapanku pada tubuhnya, hanya berharap agar ia masih bisa merasakan hangat. “Jangan tinggalin aku kaya Findha ya Tha”
“Nggak, Pram. Nggak akan.” Ucapnya pelan. “Dan asal kamu tahu, Findha nggak pernah ninggalin kamu, dia selalu ada di sisi kamu. Dia bener-bener adek yang istimewa, Pram. Seperti kata-kata kamu dulu”
“Iya,… dia istimewa” ucapku dengan linangan airmata yang mulai jatuh. “Sama istimewanya sama kamu, Tha :)” ucapku pahit. “Aku sayang sama kamu, Tha”
“J aku juga, Pram” ucapnya sambil menatap mataku dalam. “Aku sayaaaang banget sama kamu :)” ujarnya sambil beruaha tersenyum wajar. Meski tetap saja senyumnya makin menambah pahit luka hati ini.
“I love you” bisikku.
“really?”
“I do. You’re a special one in my life. My best friend. You never be changed in my heart” lanjutku padanya.
“I’m great to hear that :). I love you too, boy. You’re the best in my life. Kamu anugrah paling indah, Pram.”
Ku dekap tubuhnya. Aku tak kuasa lagi untuk menatap matanya lebih lama. Tak memiliki daya untuk mendengarkan setiap kata yang diucapnya lirih dan lelah. Ingin terus ke peluk ia. Tak ingin melepaskannya. Seakan, jika aku melepaskan dekapanku ini, maka aku akan kehilangan semuanya. Kehilangan untuk selamanya.
Ku lirik jam tanganku. Waktu telah menunjukan pukul 00.00 Tepat tengah hari. Jika sang jarum jam bergeser sepersekian detik saja, maka hari bahagia bagi kami ini berakhir sudah. Bersamaan dengan berjalannya sang waktu dan bergantinya hari, hujan pun mereda , berganti dengan rintik gerimis yang turun. Angin yang tadinya bertiup kencang, kini menjinak berganti dengan tiupannya yang sepoi menenangkan.
“Tha,… ayo balik ke rumah akit. Hari udah berganti. Inget kondisi kamu” ucapku memecah sunyi saat ku lihat sang waktu menunjukan pukul 00.01
“. . . “
“Tha,…????” ucapku diterjang berjuta tanya. Ku tarik ia dari dekapanku. “Tha….????”
Wajahnya tampak sangat pucat. Bibir merah mudanya, membiru. Kulit tubuhnya terasa dingin. Sangat dingin. Tubuhnya tak lagi gemetar seperti tadi. Terkesan tak kuasa bergerak malah.
“Tha…….” Ucapku sambil mengguncang ringan tubuhnya. “Kamu udah janji untuk nggak ninggalin aku, kan? Tha?”
Ku periksa denyut nadinya yang terasa amat lemah. Ku lakukan pertolongan pertama sederhana. Ku tekan dadanya perlahan, untuk memancing reaksi dari detak jantungnya.
Tak lama, ia membuka matanya.
Ia tersenyum.
“Pram,…..”
“Sssst,…. Udah. Sekarang aku bawa kamu ke rumah sakit.”

Ia mengangguk pelan. “Aku bahagia banget malam ini.” Ucapnya lelah terbata. “Pram,… maaf aku—“

Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dan pada detik itu pula, tarikan nafasnya memberat, denyut nadinya melemah, dan,………
“PRITHAAAAAAAAA!!!!!!!” aku tak mampu melakukan apapun. Ia pergi. Menyusul Findha di sana. “TUHAAAAAAANNNN,…..”
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun” ucapku pasrah. Ku kecup kenignya sebagai tanda kasih dan cintaku padanya. Mungkin adalah kesempatan terakhirku untuk dapat terus manatap mata bulatnya, mendekap erat tubuh kurusnya.
Angin sepoi-sepoi seakan tak mampu membawa duka ini pergi. Dinginnya Angin malam yang menusuk tulang, seakan tak mampu saingi kepedihan dan kepahitan hati ini. Pritha pergi. Separuh jiwa dan hatiku turut pergi bersamanya. Akankah semua cerita yang ada pun akan pergi bersamanya??
 
Flag Counter
Add URL Pro - Search Engine Submission and Optimization Services

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.