Kumpulan Artikel Menarik , Tips Bermanfaat Serta Bacaan Yang Menghibur

ENTRI POPULER

Bersamamu



“Untung kamu sudah datang, pembukaan lomba bentar lagi mulai tuh.” Pak Sartono – guru agama di SMP 2 Mataram tempat aku sekolah – mengomeliku yang datang tergopoh-gopoh berlari kecil dari gerbang sekolah.
“Maaf pak telat, yang lain sudah datang?”
“Sudah ada Imam sama…”
“Eh kak Fer udah dateng.” Suara Imam memecah ucapan Pak sartono, aku tak mendengar nama siapa tadi yang disebutnya. “ah Imam, ayo dah dimana tempat pembukaannya? Langsung saja kita kesana?.” Aku menarik tangan Imam mengajaknya ke tempat pembukaan. “tunggu Anggun dulu kak.” Imam melepaskan tangannya dari genggaman. “eehh, siapa Anggun?” aku heran.
“Kakak ini tau tim kita gak sih? Kan cerdas cermat dimana-mana bertiga kak.” Imam menunjuk ke arah anak yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Anggun cepet!” Imam melambaikan tangan kepada anak itu.
“Iya kak tunggu.” Anak itu berdiri dan berlari ke arah kami.
Namanya Anggun, Anggun Aprillia Sani. Ini awal cerita aku mengenalnya. Seorang anak kecil yang cantik, lucu, imut – pipinya tembem kayak bakpao – anak yang ceria dan manis. Kami saat itu mengikuti lomba MFQ – Musabaqoh Fahmil Qur’an, lomba cerdas cermat dalam bidang agama Islam. Kami satu tim. Imam dari kelas 8A: aku, Ferry, Firyal Dhiyaul Haqqi – tak ada unsur kata ‘Ferry’ dalam nama lengkapku, semua bertanya begitu, aku tak tau – dari kelas 9H: dan dia, Anggun dari kelas 7A.
“Maaf kak lama.” Wajah ceria itu tersenyum manis padaku. “oh iya gak apa-apa kok.” Aku balik tersenyum padanya. “ayo kak.” Imam balik menarik tanganku sekarang.
Lomba itu diadakan di SMP 1, lokasinya di sebelah SMP kami. Saat itu kami mendapatkan juara 1. Dan lolos ke tingkat kota.
“Selamat nak.” Pak sartono menyambut kami di luar ruangan.
“Alhamdulillah tadi dapet soal yang gampang karena Anggun yang milih soalnya.” Imam terlihat sumringah setelah keluar dari ruangan lomba.
“Iya tadi sistemnya kita dikasih pilihan soal dalam amplop. Tiap regu ngambil 1 soal. Terus yang ngambil Anggun. Waaahhh memang beruntung banget.” Aku menjelaskannya pada Pak Sartono yang tersenyum melihat kami mendapatkan juara. “Iya bapak sudah tau kok Fer, gak perlu kamu jelasin.” Pak sartono menepuk-nepuk bahuku. Anggun hanya tersenyum. Rupanya dia masih malu dengan kakak-kakak kelasnya. Maklum lah, dia kan masih anak kelas 7. Padahal baru saja kita berada dalam satu tim.
Di tingkat kota, kami mendapatkan juara 3, walaupun Anggun kembali mengambil soal yang gampang, tapi lawannya pintar-pintar semua. Maklum lah mereka dari sekolah Madrasah. Mendapatkan juara 3 membuat Imam sedikit sedih, mungkin dia merasa bersalah karena dia yang menjadi juru bicara tim kami, dia merasa bertanggung jawab, tapi ini kan perlombaan tim, jadi tak ada yang bisa disalahkan, kemenangan adalah kemenangan tim, dan kekalahan juga adalah kekalahan tim. Aku mengungatkan Imam. Anggun juga terlihat masam. Lomba itu selesai sore hari. Kami berfoto-foto dengan tim finalis untuk dimuat di koran Lombok Post. Hari itu terasa panjang. Walau kecewa, kami setidaknya telah melakukan yang terbaik, bagi tim kami, dan bagi sekolah kami.
Setelah hari itu, kehidupan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Lomba telah usai, dan kebiasaan sekolah kami adalah mengumumkan hasil lomba-lomba yang diikuti murid-murid setelah upacara hari senin selesai. Kami bertiga maju. Aku bertemu Anggun lagi saat itu. Dia tersenyum manis menyapaku, “Hai kak, lama gak ketemu, hehe.” Pagi itu cerah, dan sapaannya tadi menambah keceriaan di pagi itu.
“Kak Fer!” Imam datang dari arah barisan sebelah selatan.
“Anggun, Imam.” Aku tersenyum pada mereka yang menyapa dengan hangat.
Hari itu kami terlihat hebat di sekolah kami, maju ke depan, disaksikan semua warga sekolah untuk diberikan piala sebagai simbolisasi, karena piala itu akan dipajang di lemari piala sekolah.
Setelah Senin yang membanggakan itu, aku jarang bertemu mereka. Aku juga sibuk persiapan ujian nasional. Aku sudah kelas 9. Saatnya fokus untuk bisa masuk ke SMA impianku, SMA Negeri 1 Mataram. Siapa yang tak mengidam-idamkan SMA itu? Berisi anak-anak terbaik se-pulau Lombok. Anak-anak pilihan. Betapa bangganya mengenakan seragam khas SMA itu. Juga karena kakakku yang sudah lebih dahulu berada disana menjadi lecutan semangatku. Karena selama ini aku selalu mengikuti jejaknya. SD sama, SMP juga, dan SMA harus bisa sama dengannya.
Sebulan berlalu, kembali ke kehidupan normal. Bersama teman-teman sekelas yang gila-gila. Teman sebangkuku yang bernama Adit – dia playboy, sangat playboy, muka sih biasa-biasa aja, standar lah, gantengan juga aku – bercerita-cerita di waktu jam istirahat. Dia cerita kalau dia baru aja mutusin pacar barunya – mutusin pacar baru? Gila ni anak – yang anak kelas 7D, namanya Rina, aku kenal dia. Selama dia pacaran sama si Playboy Adit ini, dia sering curhat sama aku. Secara gitu dia tau kalau aku teman sebangkunya Adit.
Apalagi setelah dia diputusin sama si Adit, Rina jadi temen sms-anku tiap malam. Dia curhat, galau katanya, maklum anak SMP rentan galau. Putusnya dia sama Adit buat saya sama Rina jadi deket – hubungan kakak-adik apa lah namanya – karena aku sudah nganggap dia sebagai adik sendiri. Kasian anak itu, rupanya terlalu cinta sama yang namanya Adit. Dasar playboy.
Aku sering main-main ke kelasnya Rina. Entah kenapa, setelah dekat dengan dia, sepertinya rasa suka’ muncul. Setelah dari kelas 7 sampai kelas 9 semester 1 aku jatuh cinta dengan seorang anak blasteran arab bernama Ismi, sekarang move ke anak kelas 7D ini. Tapi Rina ternyata suka’ sama temenku, temen aku SD, namanya Hadi. Galau, itu tema aku setiap malam – sekali lagi, anak SMP rentan galau.
Hingga suatu hari, aku sama Hadi main-main ke kelasnya Rina. Itu jam istirahat. Melihat Spendu – nama singkat SMP 2 – dari atas lantai 2.
“Hei dek!” itu Anggun, aku menyapanya setelah melihat dia jalan bersama temannya menuju ke arahku.
“Iya kak?” dia tersenyum manis seperti biasa.
“Nnnggg… Boleh minta nomer HP gak?” aku gak tau apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba bisa ngomong to the point gitu. Aku sendiri bingung. Itu kan pertemuan pertama setelah lama gak bertemu dia.
“Boleh kak.” Anggun mengangguk tersenyum malu.
“Di, tulisin dong nomer HP-nya Anggun nih.” Hadi yang memegang Handphone-ku langsung mencatatnya.
“Makasi ya dek.” Aku tersenyum padanya. “iya kak.” Anggun balas senyum. Lalu pergi bersama temannya.
Semenjak aku dan Anggun bertemu kurang lebih sebulan yang lalu di acara MFQ, aku tak tahu nomer HP Anggun, tak pernah terlintas untuk memintanya saat itu. Entah kenapa tadi begitu tiba-tiba, terjadi begitu saja. Perasaan di Rina masih ada, tapi di Anggun ini apa namanya? Lagi-lagi, SMP masa yang rentan galau.
Rupanya si Adit itu telah menemukan pengganti si Rina, langsung, dia kan playboy. Aduh, tak kepikiran aku jadi orang yang kayak dia, kok bisa? Aku juga harus berenti suka’ sama Rina. Harus belajar dari Adit. Di sini banyak kok cewek yang manis, berjilbab, solehah. Jadi sebenarnya gampang lah buat move on. Toh ada Anggun. Aku juga sebenarnya lagi deket sama cewek anak kelas 9F, namanya Ayu. Dia cantik, baik, dan yang paling penting, dia juga suka’ sama aku. Aku curhat sama Ayu tentang Rina, tak tau lah apa yang dia rasain waktu aku curhat ke dia tentang Rina. Tapi Ayu adalah pendengar yang baik. Mungkin hatinya sakit, aku tak tau.
Ada juga cewek yang buat aku tertarik waktu itu, namanya Aini. Anak kelas 9I. Dia awalnya kelas 9G, waktu ada program perluasan kelas, dia dipindah. Tapi perasaan itu hanya rasa suka yang biasa. Karena dia manis, cantik, putih, tembem, berjilbab. Jadi suka’ aja ngeliatnya. Ya, itu tipe cewek aku. Tapi aku tak kenal dengannya. Malu aku berkenalan. Jadi lupakan.
Malam hari terasa sepi. Yang awalnya selalu ditemani Rina, sekarang dia sudah bersama Hadi. Aku teringat dengan Anggun. Kuambil HP. “Assalamu’alaikum. Anggun, gimana kabarnya?” ini sms pertama aku ke Anggun. Maaf, walaupun masa SMP masa yang dibilang Alaayy, tapi aku tak se-alay yang kalian kira. Aku nulis sms biasa aja kok.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya?” tak lama Anggun menjawab sms itu.
“Ini kak Ferry, masi inget kan?”
“Ooohhh, kak Feeerrryyy, apa kabar kak? Anggun baik-baik aja! :D ” terlihat Anggun begitu senang menerima sms dariku. Bukannya kePD-an. Tapi keliatan kok dari caranya membalas sms. Ceria sekali.
Aku juga cerita semua tentang Rina ke Anggun. Dan dia mengatakan, “Aku ada disini kak, sama kakak, akan aku buat kakak ngelupain Rina.” Jawaban itu buat aku tenang. Senang bisa kenal dengan Anggun. Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kedekatan kami. Aku jadi bisa melupakan Rina, total bisa melupakannya. Aku suka sama Anggun. Aku gak mau kehilangan dia. Aku sudah menganggap seperti adik sendiri. Dia juga demikian, menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri.
“Kak kita buat janji yuk?” Anggun mendengarkan sebuah lagu kepadaku. “Ini lagu kita kak.” Anggun tersenyum. Aku terdiam. Mendengarkan lagu itu. “Kakak janji ya bakalan selalu ada, ngejaga Anggun, janji ya” Anggun mengulurkan jari kelingkingnya tanda kesepakatan. “iya kakak janji dek.” Dia tersenyum lebar mendengarnya.
Janji itu masi teringat sampai saat ini. Setiap mendengar lagu itu, aku mengingat Anggun. Mengingat uluran jari kelingkingnya yang meminta kesepakatan.
Aku mendapatkan impianku, mendapatkan SMA 1 Mataram. Yang artinya aku harus pisah dengan Anggun. Tiga bulan masa kedekatan di bangku SMP dengan Anggun. Dan kini aku memulai dunia baru. Dunia SMA. Walaupun sudah berada di bangku SMA, hubungan aku dengannya lancar-lancar saja, komunikasi tak pernah putus. Bahkan kami sesekali pergi jalan-jalan berdua.
Dua bulan berlalu terjadi lost contact di antara kami. Entah kenapa aku berpikir ada yang berubah dari Anggun. Aku tak tahu apa penyebabnya. Hingga saat itu.
“Kak, Anggun capek, sakit hati sama seorang cowok.” Sms itu masuk ke HP-ku.
“Kenapa dek? Siapa?”
“Anggun mau pindah sekolah aja, Anggun mau ke Jakarta. Pindah ke sana.” Aku terkejut membaca sms itu. Tanpa menjawab sms itu aku menuju rumah Anggun untuk mencari kejelasannya langsung.
“Assalamu’alaikum, Anggun.” Lama menunggu pintu itu terbuka. “wa’alaikumsalam” itu bukan Anggun, itu Faras, kakaknya. Aku tau Faras tak setuju aku dekat dengan Anggun. Karena dia sahabatnya Ayu – kelas 9F juga, jadi dia menganggap aku akan mempermainkan adeknya. Raut wajahnya tak bersahabat, tapi dia berbaik hati memanggilkan Anggun untukku. “Anggun, ada Ferry tuh!”
Malam itu aku mendapatkan kejelasan yang membuatku terkejut. “Kak, Anggun capek nunggu.” Aku heran. “Anggun pengen denger kalimat itu dari kakak.” Tunggu dulu, aku semakin bertanya-tanya. Ini ada apa sebenarnya? “Ada apa dek?”, “Anggun suka sama kakak, Anggun mau jadi pacar kakak, Anggun mau denger kakak bilang cinta ke Anggun.” Aku terperanjat. Bagaimana tidak, seumur-umur baru Anggun yang mengungkapkan perasaannya langsung ke aku. Aku terdiam. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Alisnya mengkerut. “Terus jadi mau pindah ke Jakarta? Cuma gara-gara itu?” aku berusaha tersenyum seolah mengajaknya ikut tersenyum juga. Kepalanya tertunduk dalam diam. “Dek, kakak gak mau pacaran sama Anggun, Anggun sudah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri. Iya kakak suka juga sama Anggun, kakak akui itu, tapi kakak gak mau pacaran sama Anggun. Gak bisa dek. Maaf.” Anggun semakin terdiam. Dia mengangkat wajahnya. Dia tersenyum, meski air mata jatuh di pipinya. Itu senyum terakhir yang aku lihat. “Kakak pamit dek. Maaf ya.” Aku tak tau bagaimana perasaan Anggun waktu itu, yang jelas pasti sakit.
“Dek jangan nangis.” Aku berusaha tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Ya Allah apa yang aku perbuat malam ini. Malam terlihat gelap – meski umumnya malam memang gelap – tapi malam itu terasa lebih gelap dibanding biasanya. Aku pamit ke Anggun. Di tengah jalan terbayang terus senyum manisnya tadi. Apa aku menyesal? Sepertinya tidak. Jalanan itu terasa panjang dan lenggang.
Setelah kejadian itu, aku kembali lost contact dengannya. Sebulan berlalu dan aku mendengar kabar bahwa dia kini berpacaran, dengan seorang yang non-muslim. Saat itu aku benar-benar menyesal. Aku merasa tak sanggup menjaga adik sendiri, tak sanggup menjaganya. Kemana janji itu? Apa aku melanggarnya? Atau Anggun yang membuatku untuk melanggar janji itu?
Satu semester sudah berlalu. “Fer, ada kabar bagus.” Naufal – sahabat baikku – memanggil sambil menunjukkan sms yang ada di HP-nya. Aku cerita semua tentang Anggun padanya. Dia sahabat yang baik. Dari keluarga seorang hakim dan dokter. Tanpa semua sadari – termasuk dia – aku dan Naufal jatuh cinta dengan perempuan yang sama saat itu, teman sekelas kami. Perempuan yang familiar, tak asing bagiku. Tapi aku tak mau membahasnya disini. “Ada apa fal?” aku penasaran. “Anggun mau balik ke kamu katanya!” Balik? Aku heran. “Iya dia mau minta maaf ke kamu. Katanya dia ngerasa kehilangan kakaknya. Berita bagus bro!” tak kepalang tanggung senangnya aku saat itu. Itu adalah titik balik hubungan aku dengannya nyambung lagi.
“Kak, maaf ya, Anggun kehilangan kakak. Kakak masi inget kan sama janji kita? Terus terang Anggun sakit hati malam itu, mangkanya berpikir pendek dan mau pergi dari kakak. Anggun bohong bilang mau pindah ke jakarta, karena emang gak tahan.” Panjang lebar sms Anggun itu. Aku senang dia akhirnya mengerti. “Iya dek, gak apa-apa kok, kakak juga minta maaf ya.”
Sudah 3 tahun kedekatanku dengan Anggun tanpa ada perselisihan apapun. Hubungan yang adem-ayem. Kini aku berada di bangku kuliah. Masuk di Unram Fakultas MIPA jurusan Fisika. Anggun yang berusaha ingin masuk ke SMA 1 harus gagal dengan usahanya. Dia memang sedih. Tapi bukan Anggun namanya kalau larut dalam kesedihan. Dia sekarang di SMA 2 – Smanda, duduk di kelas 11. Sudah lama hubungan kakak-adik ini berjalan. Teman, hubungan adik-kakak ini cuma ada di Indonesia, tak tau lah seperti apa itu hubungan kakak-adik, tapi seperti inilah yang aku jalani dengan Anggun. Kalian yang ada di Indonesia pasti pernah mengalaminya juga.
Kemarin malam aku menelepon Anggun. Dia berceloteh, bercerita tentang masa SMA-nya di Smanda. Aku kangen mendengar suaranya, mendengar keceriaannya. Senang sekali bisa mendengar suara ribut itu. Ahahaha.. Tak terasa hidup ini berjalan begitu cepat. Anggun sudah memiliki dunianya bersama sahabat-sahabatnya. Janji itu tetap ada, dan tetap kami ingat. Malam itu terasa panjang, curhat-curhatan, ketawa bareng, saling olok-olokan. Walaupun hanya lewat telepon, tapi hangatnya terasa. Keceriaan Anggun yang dulu aku kenal sangat terlihat.
“Dek, tunggu dulu, coba denger deh.” Samar terdengar sebuah lagu terputar di radio yang berdiri di atas meja belajar krem di samping kasur. “Ini lagu kita.”
Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia
Tentu saja kita pernah
Mengalami perbedaan
Kita lalui
Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam
Cintamu…
Ku tak akan berubah
Ku tak ingi kau pergi
Slamanya
ku kan setia menjagamu
bersama dirimu,dirimu
sampai nanti akan slalu
bersama dirimu
Saat bersamamu kasih
Ku merasa bahagia
Dalam pelukmu
Ku tak akan berubah
Ku tak ingin kau pergi
Slamanya…
seperti yang kau katakan
kau akan slalu ada
menjaga, memeluk diriku
dengan cintamu
Teringat kembali janji itu, saat-saat itu, masa-masa kedekatan aku dengan Anggun di SMP dulu. Anggun, justru karena aku suka sama kamu mangkanya aku gak ingin berpacaran denganmu. Karena aku tak ingin berpisah denganmu mangkanya aku menolak malam itu. Kita masih SMP saat itu, masa paling labil di dunia. Masa yang rentan galau dan belum dewasa. Anak-anak SMP itu berpikiran pendek. Tak kan ada hubungan pacaran yang akan bertahan lama. Tak ada. Pasangan yang berpacaran, jika sudah putus, pasti ujung-ujungnya bermusuhan, gak saling sapaan, terus pisah deh. Tak ada kelanjutannya. Karena itu aku gak mau pacaran sama Anggun. Karena aku gak mau kehilangan dia.
Jika kamu menyukai seseorang, tak mesti mengaplikasikannya dengan sebuah hubungan pacaran. Simpanlah jika itu memang yang terbaik bagimu, kelak ungkapkan perasaan itu melalui janji suci jika sudah datang waktu yang tepat.


Cerpen Karangan: Firyal D. Haqqi

Cinlok



Rara masih serius menatap dirinya di cermin. Lirik kiri! Lirik kanan! Manyun! Menyeringai! Terbahak! Pasang raut wajah MELAS! NGOOOK! Nampaknya dia masih kurang PD dengan rambut barunya. Suruh siapa dia pangkas rambutnya sependek itu? Ina bilang sih mestinya di botakin tuh rambut, kalo pengen jadi indah. Liat aja noh! Rambut kaya ijuk gitu aja masih dipertahanin. Seenggaknya 2 cm dari akar rambutlah. Hampir gundul dong? Tapi kenyataannya enggak kok. Cuma jadi cepak aja.
Dia masih ragu, mau datang ke acara Birthday Party si Hani apa enggak. Hani itu teman satu kelas kita di SMA. Masalah Cuma satu kok. Ga ada yang lain. Rambutnya itu loooh!
“Heh! Lu mau ikut kaga? Yang lain udah pada siap, lo masih ngaca aja.” Wuuuzzz kayanya Rani langsung darah tinggi lihat kelakuan si Rara.
“Bentar-bentar. Gue pasang nie jepit rambut dulu. Biar rada manis lah.” Jawabnya ketar-ketir.
“Ih sumpah ya sejak kapan lo jadi ganjen gini?”
“Sejak Nene Lampir bondingan.” Tukas Rara jutek.
Rani langsung menarik tangan Rara dan menyeretnya keluar rumah menuju teman-teman yang lain. Rara yang merasa tidak terima dengan seretan Rani, ia langsung melepas tangannya dengan kasar dan berjalan cepat serta sangar TAK TOK TAK TOK suara sepatunya.
Dalam pesta Rara mulai terbawa suasana. Ke-tidak-mood-an dia hilang seketika. Dia sangat menikmat pestanya dan sangat menjadi diri sendiri. Kata teman-temannya, terkadang dia menjadi badut kelas. Artinya selalu bisa menghibur apapun situasinya. Entah dengan tingkah lakunya maupun dengan ucapan yang terkesan.. maaf “Bodoh”. Rara memang masih kekanak-kanakan, dia selalu tampil ceria dan dinamis. Pintar bergaul dan senang menjalin perteman dengan siapapun. Tidak heran banyak orang yang langsung merasa PAS sama dia. Tapi kelemahan Rara yang paling menonjol adalah, gampang di Bodoh-bodohin. Kasihan ya? Untung ada Rani teman paling setia. Teman yang jelas lebih pintar dari Rara.
Di tengah acara, ada sebuah game yang dipandu oleh Hani sendiri, dia itu yang punya hajat. Permainannya adalah oper korek api. Jadi akan di putar sebuah lagu sambil mengoper-oper korek api tersebut, jika lagu mendadak berhenti dan korek api terhenti pada seseorang maka dia yang akan menjadi bulan-bulan yang punya hajat juga seluruh manusia yang hadir di situ. Kesepakatan kami adalah.. Bila sudah mendapatkan korban, korban tersebut harus memilih dari kedua pilihan yang ada sebenernya enak ga enak sih. Pertama Dia Harus Nyanyi sambil Joget. Ke dua Dia harus bawain piring-piring kotor ke dapur sambil jalan jongkok.
Sesuai hobi dan bakat yang dimiliki Rara, tentu dia memilih pilihan pertama. Lagu yang dibawakan dia berjudul “Terajana” lagu bergenre Dangdut ini di buat asik dengan aransement yang rada koplo dan menjadi lebih anak muda bangeeet.
Banyaknya para hadirin tidak menggoyahkan ke-PD-an Rara. Ia begitu antusias bernyanyi dan berjoget sehingga yang lain menjadi bertambah semangat. Matanya lagi-lagi melihat ke arah teman-temannya. Mereka ikut berjoget dihiasi tawa bersama. Rara menjadi ikut tertawa saat bernyanyi. Dalam larutnya kecerian yang ada, tiba-tiba ada sesosok laki-laki yang nampak, ia mencuri perhatian Rara. Dia memiliki lesung pipi di pipi kanannya, itu menambah senyum lelaki itu semakin menawan. Tubuhnya tinggi sehingga terlihat lebih keren. Dan lebih-lebih lelaki itu ikut menikmati persembahan Rara. Mata mereka seakan bertemu, tapi ketika benar-benar saling bertemu, keduanya seolah tidak saling melihat. Rara menjadi malu dengan keberadaannya di depan mereka. Rasanya ingin cepat-cepat mengakhiri aksinya. Mukanya merah dan pandangannya menjadi tidak fokus. Mic yang digenggamnya serasa jadi berat. Tenggorokannya tiba-tiba serak. Duuuh… kenapa nih?
Rara bukannya baru pertama merasa cinta, tapi baru merasakan cinta pada pandangan pertama. Aiiihhh.. Bisa juga disebut sebagai Cinta Lokasi atau Cinlok.
Setelah acara hampir selesai, Hani menyediakan Papan Tulis/Whiteboard berukuran sedang yang ditempel di tengah-tengah tembok ruangan pesta. Seluruh para hadirin diwajibkan, menulis ucapan selamat, tidak lupa di beri nama pengucap serta tanda tangan. Saat itu Rara sengaja mengundur-undur dirinya agar tidak cepat-cepat menulis. Ada saja alasan untuk menundanya. Tahukan kalian maksudnya apa? Yaa! Tidak lain tidak bukan. Rara ingin tahu siapa nama lelaki itu. Tapi sayangnya lelaki itu bukan menuliskan nama asli, melainkan nama seperti nama samara atau nama ketenaran atau apalah. Whatever!
Layaknya situasi normal yang terjadi di setiap kelas kosong tanpa guru, suasana sangat ricuh. Ini adalah implementasi bersosialisi bagi kami. Saling bercanda, bercerita, dan tertawa. Dalam kondisi ini Rara memberanikan diri untuk menanyakan lelaki dalam pesta itu. Hanya sekedar bertanya nama.
“Han! Kemarin itu.. Siapa namanya?” Tanyanya ragu-ragu.
“Yang mana?” Dia berbalik tanya kebingungan.
“Ih.. Itu loh. Dari bet seragamnya. Dia anak SMAN 1.” Rara memperjelas orangnya.
“Ya kan banyak. Yang mana dulu??”
“Ah payah nih si Hani. Mesti gue terangin dulu aja baru ngeuh!” Rara membalas pertanyaan Hani dalam hati.
“Jangan-jangan yang di maksud si Fadli lagi? Eeeh busset daah cinlok mereka?” katanya dalam hati.
Hani sempat terheran-heran. Pantas saja Fadli sms gue minta nomer telepon cewek yang rambut cepak. Tapi dia ga ngeuh siapa yang cewek yang rambutnya cepak, saking banyak orang yang dateng kali ya? Otaknya mulai berputar-putar, menyangka-nyangka dan bertanya-tanya. Pasalnya tidak ada kejadian yang menarik di antara meraka sepanjang acara tersebut berlangsung.
Hari demi hari berlalu. Sejak itu tidak ada yang mengetahui kabar tentang lanjutan cinta pada pandangan pertama. Yang tahu hanya mereka berdua, alam dan Tuhan.
“Aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Rasa yang aku rasakan di mulai saat mata kita saling bertemu untuk pertama kalinya. Aku menyukai keceriaanmu. Dan aku ingin kamu menularkannya untukku.” Fadli tidak melepaskan pandangannya pada mata Rara yang sudah kaku sejak tadi. Mungkin otaknya belum bisa menterjemahkan kalimatnya.
Kriiingg… Kriiingg….
Bell alarm berdering dengan kencang. Dan Rara segera terbagun. Segera meraih Alarm.
“Astaga! Cuma mimpi!” kening Rara langsung mengkerut.
“Tau Cuma mimpi gue langsung aja bilang Iya Aku Mau Nularin Keceriaanku Untukmu. Uuuhh!”
Oke guys. Itu memang hanya sebuah mimpi yang hampir berujung indah. Sayangnya tidak benar-benar terjadi. Well! Rara tetap havefun dengan semuanya. Jadian atau enggak yang penting deketnya itu.



Cerpen Karangan: Kinanti Tiara Dewi

Menjadi Yang Kuinginkan





“Siapa aku?” aku berucap tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerak di bibir.
Yang kutahu aku adalah seorang perempuan. Kuliah di universitas dan jurusan yang kuinginkan. Memiliki nilai di tiap semester seperti yang kuinginkan; ya, selalu IPK di atas 3,00 karena aku ingin pintar, lulus dengan nilai yang memuaskan, lantas berkarier menjadi apa yang kuinginkan. Aku memiliki banyak teman, baik perempuan dan lelaki di kampus, di rumah, di sekolahku dulu, dan di beberapa komunitas di mana aku aktif di dalamnya. Dan aku menyukai berdandan. Aku merawat rambutku yang bergelombang panjang, merawat kulitku dengan beragam perlengkapan, memulas wajahku yang tampak ceria dengan warna, dan memakai baju yang aku padankan dengan segala gaya yang aku suka. Menabur parfum vanila yang kugunakan sejak aku kelas 1 SMA.
Tetapi itu dulu. Kini yang kusadari di dalam kursi belakang taksi yang hanya ada aku dan seorang supir taksi yang diam itu, aku tidak lagi mengenal siapa diriku. Tidak ada bau yang mengingatkanku akan keberadaan diriku sendiri.
Lelaki itu kuakui sungguh tampan. Umurnya beberapa tahun lebih tua dariku. Seorang teman mengenalkannya padaku. Pandangan pertama, aku tertegun melihat sosok tegapnya dengan wajah rupawan. Aku mendekatinya. Ia tertarik padaku. Hingga beberapa kali berkencan, kami menjadi sepasang kekasih.
Sekarang sudah hampir satu tahun kami berpacaran. Ia masih tetap lelaki berbadan kokoh yang tampan. Sedangkan aku, aku tidak pernah sama lagi. Aku mulai sering tidak masuk kelas untuk mata kuliah tertentu. Bahkan aku mendapat nilai E untuk lebih dari dua mata kuliah. IPK-ku turun drastis di bawah tiga. Itu semua kulakukan atas apa yang dikatakan lelaki tampanku sebagai cinta. Ia selalu saja mengajak bertemu di jam-jam aku seharusnya kuliah, siang hari di sela-sela ia istirahat di kantornya. Namun, ketika aku menolak, ia selalu marah dan mengancam untuk memutuskan hubungan. Aku menurutinya dengan resiko yang kudapat saat ini, yaitu kehilangan keinginanku di tempat yang kuinginkan.
Kemudian ia bertindak lebih dari yang kuduga. Saat kami bersama, ia mulai curiga dengan semua teman lelaki yang kumiliki. Matanya memicing tajam, dan bertanya kasar, “Barusan siapa, Sayang?” Setelah aku menyudahi telepon dari temanku. Aku menjawab nama teman yang menelponku secara lantang tanpa ada prasangka. Tersebutlah sejumlah nama lelaki ketika memang teman-teman lelakiku yang menelpon. Ia marah-marah di depanku seolah aku perempuan yang berselingkuh di hadapannya. Sejak itu, aku menerima kehilanganku yang kedua: teman-temanku. Rasanya bagai tidak memiliki apa pun di dunia ini, kecuali hanya ia, lelakiku yang diharapkannya memang hanya ia seorang yang kumiliki.
Ia menyuruhku meluruskan rambut panjangku. Katanya lagi, “Kenapa dandanan kamu se-menor itu? Kamu ingin bertemu aku atau bertemu laki-laki lain?” teriaknya sewaktu kami bertemu dengan aku yang berdandan seperti biasanya. Tentu aku menjawab tidak dan menjelaskan padanya bahwa aku senang berdandan jika bertemu orang lain, terutama bertemu pacarku sendiri. Ia tambah marah-marah dan mengelap paksa mukaku dengan tisu basah. Melarangku mengenakan make-up karena takut setiap lelaki yang berpapasan denganku akan melirik lalu mengajakku menjadi pacarnya. Sungguh aku tidak mengerti. Yang kumengerti, aku kehilangan diriku yang selalu senang ketika aku berdandan.
Di taksi ini, aku dalam perjalanan menemui dirinya di sebuah kafe di dekat kantornya. Rambutku lurus, wajahku tampak pucat karena tanpa make-up apa pun, pakaianku seadanya, dan merasa benar-benar kesepian. Aku rindu mengobrol dengan Anton di komunitas komik. Aku rindu bercanda dengan Miki di warung makan biasa aku dan teman-teman SMA-ku bertemu setiap akhir pekan dua minggu sekali. Aku rindu berada di tengah-tengah obrolan di kampusku dengan teman-teman lelaki maupun perempuan. Bahkan mungkin aku tidak lagi akrab dengan teman-teman perempuanku.
“Mau masuk ke dalam tempat parkir atau menepi di pinggir jalan saja, Mba?” supir taksi itu bertanya. Ternyata sebentar lagi aku akan sampai di tujuan.
“Masuk, Pak, kita menepi di lobi!”
Aku tahu ia pasti sudah menunggu di lobi. Menunggu untuk melihatku benar-benar sendiri menemuinya. Lantas, ia yang akan membayar taksinya. Meski aku memiliki cukup uang, ia selalu marah-marah kalau aku harus mengeluarkan uang di depan matanya. Sungguh aku tidak mengerti mengapa aku harus menggantungkan diriku padanya.
Taksi berbelok memasuki gedung. Menepi di lobi. Aku melihat ia berdiri sendirian di tangga lobi. Dari balik kaca taksi, kulihat mimik mukanya yang kesal seolah lama menunggu. Kulirik jam pada taksi sekaligus melihat argonya, lalu kutahu betul aku tidak telat sama sekali.
Supir taksi turun membukakan pintu untukku meski aku biasa membuka pintu untuk diriku sendiri. Ia menatap supir taksi itu dengan curiga. Membayarnya dengan dua lembar uang pecahan dua puluh ribu setelah bertanya pada supir biaya taksiku yang hanya tiga puluh ribu.
“Simpan saja kembaliannya!” katanya ketus pada si supir taksi.
Kami memasuki sebuah kafe di gedung itu. Ia memesan dua cangkir kopi untuknya dan untukku. Padahal aku tidak menyukai kopi. Tapi di depannya, ia memaksaku menikmati apa yang dinikmatinya. Katanya agar aku lebih bisa mengerti ia. Ia berbicara panjang lebar. Berkeluh kesah soal hari-harinya tanpa aku di kantor. Aku diam saja. Sebab tanggapanku, kutahu akan semakin membuatnya kesal. Ia hanya mau didengar.
Hari ini tepat satu tahun kami berpacaran. Ia mengajakku berkencan biarpun baru kemarin kami bertemu sambil makan nasi goreng di warung langganannya yang tidak kusuka dan berbelanja kemeja di toko favoritnya yang bernuansa kaku.
Sejenak aku bercermin di kamarku setelah mandi dan memakai baju.
Diriku di cermin itu begitu pucat. Begitu menyedihkan. Sepasang mata di cermin itu menatapku. Aku tertunduk. Sepasang mata itu masih menatapku tajam. Mengingatkanku pada diriku yang dulu.
“Apa yang kauinginkan?” Aku mendengar suara bisik itu ketika bercermin. Kutahu ini saatnya ada diriku yang lain yang berbicara.
Spontan aku menjawab: “Banyak hal yang kuinginkan, yang ingin kuraih, yang ingin kupertahankan. Aku ingin bahagia dengan menjadi apa yang kuinginkan.” Aku menteskan air mata. Aku teringat diriku yang rajin kuliah. Mendapat nilai A untuk hampir seluruh mata kuliah. Selalu menjadi mahasiswa dengan persentasi makalah terbaik. Menginginkan menjadi perempuan yang menggapai karier tertinggi dengan pendidikan yang kudapat. Menginginkan kembali memiliki banyak teman yang membuatku merasa senang.
Tiba-tiba saja aku terlonjak. Aku melepaskan baju yang kukenakan. Membuka lemari dan mencari-cari pakaian berwarna-warni yang dulu sering kupakai. Aku membuka laci di bawah cermin riasku. Melihat begitu banyak tumpukan make-up yang menunggu. Dan aku merubah wajahku berwarna pelangi. Lembut dan betul-betul tampak indah.
“Rick, mobil Kakak bawa!” Aku berkata pada adikku yang sedang menonton televisi. Tanpa menunggu adikku berucap, aku segera mengambil kunci mobilku di meja, yang lama tidak aku sentuh karena pacarku melarangku membawa mobilku sendiri.
Aku sampai duluan sebelum pacarku sampai di kafe biasa kami janji bertemu. Aku memesan teh hangat dan sepotong kue stroberi dengan krim yang menggiurkan, yang dibencinya karena bisa membuatku gemuk. Setelah menghabiskan kue itu, aku mengambil buku yang kubawa dari rumah di tasku, dan mulai membaca sambil menunggunya datang. Aku tidak menyalakan handphone untuk sejenak.
Di ujung pintu, aku melihatnya melangkah terburu-buru kemari dengan wajah cemberut dan kesal. Kuhapal betul tabiatnya setiap bertemu aku. Ada saja hal yang dikeluhkan dan perlu dikomentarinya dengan muka begitu.
“Sedang apa kamu di sini? Aku menelponmu dari tadi. Menunggumu di depan lobi sampai setengah jam lebih.” Nada bicaranya membuat beberapa orang menengok ke arah kami. “Apa-apaan ini? Tampilanmu seperti ingin mencari lelaki saja!” Ia masih mengomel sambil berdiri.
Aku beranjak dari dudukku untuk mensejajarkan tinggiku dengannya yang menolak duduk sebelum selesai memarahiku.
Aku mulai angkat bicara, “Sayang, apa kau tahu siapa aku?”
“Kau adalah pacarku.”
“Aku adalah perempuan dengan nilai tertinggi di kelasku. Aku adalah seorang dengan banyak teman. Aku menyukai berdandan. Dan aku tidak suka memiliki rambut seperti yang kauinginkan.” Aku menarik ikat rambutku. Menyembullah rambut panjangku yang bergelombang indah seperti aslinya.
“Aku menyukai menjadi diriku karena dengan begitu aku tahu siapa aku.”
“Apa-apaan kau ini? Bicaramu ngelantur!” Semakin banyak mata orang memandang kami.
Aku sama sekali tidak merasa malu. Entah dari mana keberanian ini muncul. “Dan kau harus tahu bahwa aku ingin menjadi siapa diriku yang sebenarnya. Aku bukan manekin yang bisa kaulekatkan beragam benda yang kauinginkan sekedar untuk memuaskan hasratmu.”
Ia meracau tak karuan. Aku tidak peduli.
Kuambil bukuku. Kukeluarkan uang untuk membayar teh dan sepotong kue stroberi yang kupesan. Kutaruh uang itu di meja.
“Kita sudah berakhir. Carilah boneka sebagai temanmu. Sekedar untuk kaudandani dan mendengar keluh kesahmu tanpa berkata apa-apa.” Aku melangkah pergi menjauhinya keluar kafe.
Ia meneriaki namaku. Semakin jauh suaranya. Semakin aku tersadar bahwa ia bukanlah seseorang yang kuinginkan.
Aku berjalan keluar. Tak kupedulikan dirinya lagi. Untuk pertama kalinya aku merasa menjadi diriku yang sesungguhnya: seorang perempuan dengan banyak keinginan yang menunggu untuk diraih. Aku tetap merasa tenang karena kucium wangi vanila pada diriku.


Cerpen Karangan: Nurdiyansah

Dariku Untukmu


Bagaimana perasaanmu ketika sahabatmu telah menemukan seseorang yang dicintainya? Akankah kau takut ditinggalkan olehnya? Tetapi, sebagai sahabat yang baik kau akan tetap ada untuknya seperti apa pun dia bukan? Bahkan jika dia sering membuatmu berurai air mata sepanjang malam. Kau akan tetap ada untuk menerimanya.
Kehadiran sahabat duniaku begitu indah. Sudah cukup lama aku mengenal mereka, sekitar 3 tahun yang lalu. Namun, aku tak pernah tahu sejak kapan tepatnya menyebut Dira dan Putra sebagai sahabatku. Bagiku mereka sahabat terbaik yang pernah aku miliki hingga saat ini. Walau kini aku tak lagi dapat melihat senyum mereka seperti dahulu. Aku tak bisa membunuh waktu bersama mereka lagi
Bias sinar mentari menyusup di antara celah pepohonan di dekat kelasku, menembus jendela kaca. Menyilaukan. Aku yang baru saja datang disambut dengan senyum hangat seseorang yang selalu duduk di belakangku. Senyumnya yang masih lekat dalam ingatanku.
Kami terdiam hingga bel masuk berdering. Sesaat kemudian Ibu wali kelas memasuki ruang kelasku. Seorang gadis berambut panjang dengan bola mata cokelat terang yang tak pernah kulihat sebelumnya berjalan perlahan mengikuti langkah beliau.
Gadis itu berdiri di depan kelas dan memperkenalkan dirinya, sebagaimana seorang murid baru. Ia menyebut dirinya ‘Dira’. Seusai ia memperkenalkan dirinya pada seisi kelas, kemudian ia duduk di kursi yang masih kosong, di sebelahku. Ia meletakkan tasnya. Aku terus memperhatikannya hingga ia melihat ke arahku seraya tersenyum manis dan menjabat tanganku.
“Dinda.” Kataku sembari membalas senyumnya dengan senyumku.
Tak hanya denganku. Dira juga melakukannya pada beberapa teman yang duduk di dekatnya tanpa kecuali sahabatku, Putra.
Tampaknya Dira sosok gadis pendiam dan sedikit misterius. Setiap kali aku mengajaknya bicara panjang lebar atau menanyakan sesuatu, ia hanya menjawab seperlunya. Bahkan tak jarang ia hanya menjawabnya dengan senyum.
“Dinda!!”
Seseorang memanggilku dan membuat langkahku terhenti. Aku pun menoleh. Kudapati Dira berlari dari kejauhan.
“Kau tinggal di asrama juga?”
“Menurutmu?”
Ia terdiam. Menunduk lalu tersenyum padaku.
“Iya. Apa kau murid yang akan menempati kamar itu bersamaku?” tanyaku lagi.
Dira mengangguk dan kembali tersenyum.
Tidak hanya di kelas namun kini aku benar-benar menghabiskan banyak waktuku bersama Dira. Meski kadang ia begitu menyebalkan.
Ketika mentari sudah berjalan kembali menuju peraduannya, semburat merah yang mewarnai langit yang semakin gelap. Aku dan Dira yang hendak kembali menuju asrama setelah cukup lama menghibur diri di luaran sana mendapat kejutan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Ada sesuatu yang membuat dadaku begitu sesak. Aku tak dapat lagi berkata-kata. Seseorang yang begitu dekat denganku dan beberapa bulan belakangan ini tepat bersama kehadiran Dira, ia menjauhiku.
“Dinda, kau kenapa?” tanyanya padaku yang tiba-tiba terhenti dan pandanganku tertuju pada sosok di seberang sana yang tampaknya begitu bahagia.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menghempaskannya. Dira menyadarkanku. Kemudian kutebar senyum padanya sebagai tanda aku baik-baik saja.
Sepanjang langkah kakiku menuju asrama aku hanya bisa terdiam. Memang aku pernah ditolaknya. Menyakitkan. Kemudian kutahu ia bersama gadis lain. Ia yang pernah memberiku harapan. Ia yang pernah memberiku semangat. Namun, kini ia juga yang menjatuhkan aku dan membiarkanku dalam keterpurukan.
“Dinda, aku bantu membereskan barang-barangmu, ya?”
Sesampainya di kamar, aku dibantu Dira membereskan semua barangku yang harus aku bawa esok hari.
Hari ini terakhir kali aku menginjakkan kaki di tempat ini, di kota ini. Orang tuaku memintaku kembali ke Jogja. Kupikir di saat seperti ini, aku dapat menghabiskan waktu bersama Putra, sahabatku sekaligus orang yang aku cintai. Meski ia sempat berkata padaku ~ Aku memang menyayangimu, tapi maaf. Aku tidak mencintaimu. Namun, apapun yang terjadi kita akan tetap menjadi sahabat ~
Kini ia telah bahagia bersama sosok lain yang menempati hatinya. Mungkin aku juga telah dilupakannya.
Mataku masih terjaga hingga tengah malam.
“Din, belum tidur?”
Aku menggelengkan kepala pada Dira. Ia terus memandangiku lekat. Kami saling beradu pandang.
“Aku sudah tahu semuanya. Maaf, jika aku lancang. Namun aku tidak bermaksud begitu. Aku telah membaca seisi diarymu.”
Aku tak berreaksi apa-apa. Hatiku bersorak gembira. Lega rasanya. Rahasia itu tak lagi kupendam sendiri.
Dira terus menenangkanku hingga kita terlelap. Mentari telah menunggu.
Kusambut pagi ini dengan keceriaan. Aku tak ingin meninggalkan kesan bahwa jiwaku terluka.
Dira, teman-teman sekelasku, juga Putra mengantar keberangkatanku. Aku yang tak pernah berani menangkap cahaya matanya, Putra. Kini kudapati matanya yang sedikit sayu.
“Din, aku bahagia dapat mengenalmu. Tak ada gunanya lagi aku minta maaf sekarang. Aku yakin sakit hatimu tak akan pernah reda sebanyak apapun aku memohon untuk kau maafkan. Aku memang bodoh. Terlalu sering membuatmu terluka. Kau yang seharusnya kujaga…”
“Sstt, diamlah! Jangan kau ungkit lagi. Biarkan aku. Hanya aku yang kau sakiti. Cukup aku. Jika kau tak dapat menjagaku. Semoga kau dapat menjaga ini dengan baik.” Kataku seraya memberikan sebuah kalung kesayanganku yang selalu aku simpan sedari kecil, meski aku tak pernah memakainya. Itu satu-satunya barang yang selalu aku jaga hingga kini. Karena itu berharga untukku.
Aku pun perlahan melangkahkan kaki, menjauh dari mereka yang mengantarku dan menuju bus yang telah menungguku.


Cerpen Karangan: Fatma Roisatin Nadhiroh

Kriteria dan Sosok Wanita Yang Selalu Didambakan Oleh Pria

Memiliki pasangan hidup seorang yang kita dambakan dan sesuai dengan yang kita inginkan adalah merupakan kebahagiaan tersendiri. Baik wanita maupun pria pastinya mendambakan sosok orang terkasih, yang memenuhi kriteria seperti yang di inginkannya.



Khusus bagi kamu kaum wanita, pada Artikel Cinta kali ini kita akan membahas Beberapa Hal Yang Didambakan Seorang Pria Kepada Wanita.

Wanita yang stabil

Stabil maksudnya adalah wanita memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya, dan punya keinginan untuk mewujudkannya. Sosok wanita seperti ini mirip dengan seorang ibu yang membuat pria tergila-gila pada wanita yang stabil seperti ini.
Wanita yang memiliki minat sama
Pria sangat mendambakan wanita yang memiliki minat yang sama dengannya. Minat yang sama tidak berarti adalah hobi yang sama. Mungkin hobi wanita berbeda dengan pria. Tapi, wanita harus menunjukkan ketertarikan/supportnya kepada hobi yang dilakukan pria. Wanita yang seperti ini juga sangat di damba oleh pria.
Wanita yang suka memberi kejutan
Percaya atau tidak, sebagian besar pria suka dengan kejutan. Sebab kejutan berarti sebuah usaha spesial yang dipersiapkan dengan baik. Dari situ terlihat usaha si wanita untuk menyenangkan orang terkasih. Kejutan disini bukan berarti adalah yang terheboh atau besar. Mulailah dengan kejutan hal-hal kecil dengan intensitas yang besar.
Wanita yang mengesankan
Para pria mencari wanita yang tahu bagaimana memberi kesan khusus pada mereka. Setiap wanita juga punya cara yang berbeda-beda untuk membuat pria terkesan. Salah satu cara terbaik untuk membuat pria terkesan adalah dengan eksplorasi kemampuan khusus wanita yang jarang bisa ditemui di wanita lain.
Wanita yang percaya diri
Pria sadar bahwa wanita adalah makhluk sensitif dan terkadang merasa terancam tanpa sebab. Namun rasa percaya diri sangat penting untuk membuat pria tergila-gila pada wanita. Dengan memiliki wanita percaya diri setidaknya akan mengurangi rasa was-was pria terhadap wanita yang di cintainya.
Wanita yang memiliki selera humor
Hidup tidak selalu harus dianggap serius sepanjang waktu. Bahkan pria pun lebih menginginkan wanita yang punya selera humor bagus untuk dijadikan pasangan. Pria suka wanita lucu karena terkesan "ngegemesin". Tidak ada salahnya bagi wanita untuk mempelajari tips-tips humor untuk membuat pria tertawa dan senang.
Wanita yang bisa dipercaya
Pria tidak terlalu suka membeberkan rahasia atau detail kehidupannya pada orang lain. Namun sekali mereka melakukan hal itu, pria akan menceritakan kisah hidupnya pada wanita yang bisa dipercaya. Oleh karena itu, pria juga sangat mendambakan sosok wanita yang bisa

Beberapa Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah

Pernikahan merupakan suatu jalan untuk memulai suatu babak babak baru dalam kehidupan seseorang. Bagi seorang wanita, menikah merupakan tempat untuk mengabdi sebagai seorang istri, dan mempersembahkan semua tanggung jawabnya kepada suami. Selain itu, dengan menikah juga merupakan suatu jalan untuk melanjutkan keturunan.





Namun, terkadang setelah menikah, seorang wanita ternyata masih melakukan hal-hal yang seharusnya tidak lagi di lakukan ketika menjadi seorang istri atau telah menikah. Kesalahan dan kekeliruan ini biasanya terbawa ke pernikahan karena sudah menjadi kebiasaan sebelum menikah. Dimana semua tanggung jawab masih di pegang oleh kedua orang tua. Apa saja Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah atau setelah menjadi istri?

Berikut ini adalah Beberapa Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah, dan biasanya tanpa mereka sadari.

Meninggalkan Kehidupan Sosial

Setelah menikah, wanita merasa sibuk dan bertanggung jawab untuk mengurus rumah tangganya. Alhasil, para wanita mulai meninggalkan kehidupan sosial mereka sebelum menikah.
Terlibat Konflik Dengan Ibu Mertua
Cekcok urusan rumah tangga bukan hal yang aneh. Apalagi kalau menyangkut masalah mertua. Itu sih biasa! Jadi, sebaiknya hadapi masalah bersama pasangan dan jangan bersikap keras, khususnya pada ibu mertua.
Overprotektif Terhadap Suami
Wanita kok jadi overprotektif setelah menikah? Hal ini memang sering terjadi dalam rumah tangga. Mereka selalu ingin tahu kemana suami pergi. Apa yang dia lakukan? Pergi dengan siapa?
Mengadu Kepada Orang Tua
Jangan pernah memberitahu orang tua tentang perkelahian dalam rumah tangga! Mahligai pernikahan hanya mengikat sepasang hati yang saling mencinta. Jadi, apakah kamu akan selalu melibatkan orang tua dalam urusan rumah tangga.
Jika kamu termasuk salah seorang wanita menikah atau seorang istri yang selalu melakukan Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah diatas, tentunya ini saat yang tepat untuk merubahnya. Jangan korbankan pernikahanmu hanya karena kekeliruanmu dalam bersikap.

Cara Membuat Pria Tergila-gila dan Jatuh Cinta Kepadamu

Bagi wanita, mungkin sudah terlalu banyak eksperimen dan referensi tentang banyak hal yang membuat pria tergila-gila dan jatuh cinta kepadamu. Karena menjadi wanita yang di cintai adalah suatu kebanggan dan keindahan tersendiri bagi seorang wanita. Lalu, apa yang paling disukai pria dari wanita?




Banyak sekali jawaban dari pertanyaan diatas. Kecantikan, bentuk tubuh, sensualitas, status sosial, kepribadian, dan banyak lagi, semua menjadi alasan mengapa pria tergila-gila dan jatuh cinta kepada seorang wanita. yang jadi permasalahan sekarang, mampukah kamu menjadi semua yang di inginkan oleh pria tersebut? Pastinya tidak, dan kamu tidak perlu repot mengejar semua kriteria yang memang tidak bisa kamu penuhi.

Pada Artikel Tips Cinta berikut ini, kami mencoba memberikan sedikit Tips dan Cara Membuat Pria Tergila-gila dan Jatuh Cinta Kepadamu, tanpa perlu menjadi "sesuatu" yang tidak bisa kamu capai, seperti berikut ini.

Cobalah untuk selalu bersemangat
Spirit atau semangat seorang wanita adalah sesuatu yang sangat menarik bagi pria. Mengontrol dan memiliki seorang wanita yang memiliki semangat besar dalam kesehariannya adalah mimpi yang tak bisa ditolak oleh pria. Pria yang berkualitas selalu terobsesi untuk memiliki wanita aktif dan bersemangat di sisinya.
Jangan menjadi wanita dominator
Pria membenci wanita yang selalu menunjukkan dominasinya. Pria adalah salah satu makhluk yang di beri ego tinggi sebagai "dominator". Oleh karenanya, berusahalah untuk menjadi makhluk "lemah" yang butuh perlindungannya. Walau kamu tahu, kamu lebih berkuasa darinya dan tidak akan bisa di kuasai oleh dominasinya. Mungkin kamu bisa sesekali melakukannya, namun tidak berlebihan.
Melek teknologi alias tidak gaptek
Pria terkadang menyepelekan pengetahuan wanita tentang teknologi. Inilah jalan terbaik untuk membuatnya terkesan padamu. Jadilah wanita yang melek teknologi alias tidak gaptek. Sesekali, beri ia kejutan tentang teknologi terkini, yang dia sendiri terlambat mengetahuinya.
Menyibukkan diri sebagai wanita aktif
Yupzz..Hampir sama dengan poin sebelumnya, bahwa pria sangat menyukai wanita yang memiliki semangat. Dan wanita seperti ini dimiliki oleh para wanita aktif. Wanita yang aktif memiliki daya tarik lebih besar dibanding mereka yang pasif. Maka, lakukan aktivitas ekstra yang membuatmu selalu aktif di hadapannya.
Tantang dia dengan hal yang bisa kamu lakukan
Cara paling sederhana untuk menantang pria adalah dengan bertaruh dengannya. Tantanglah dia untuk melakukan hal-hal yang kamu bisa. Pria berkualitas akan sangat terobsesi dan jatuh cinta dengan wanita yang menantangnya. Kalah ataupun menang dirimu, tidak akan mengurangi kekagumannya terhadapmu. Ingatlah, pria suka wanita yang membuatnya merasa tertantang. Ketika dia tidak merasakan tantangan darimu, hubungan itu akan membuatnya cepat bosan.
Itulah beberapa Tips dan Cara Membuat Pria Tergila-gila dan Jatuh Cinta Kepadamu pada kesempatan kali ini. Tips diatas akan lebih mumpuni manakala kamu memang wanita seperti itu. Namun jika tidak, dan kamu memang tidak bisa menjadi seperti poin-poin pada tips diatas, maka menjadi wanita seperti aslinya dirimu jauh lebih baik daripada memaksakan diri. Ingat, pria yang baik dengan cintanya pasti akan datang kepadamu suatu saat nanti.

Selain Rokok, Jadi Pengangguran Juga Bisa Perpendek Usia Wanita



Berkurangnya angka harapan hidup seseorang biasanya disebabkan oleh gangguan kesehatan yang dialaminya. Namun ternyata angka harapan hidup menurun bukan semata karena kondisi fisik tapi juga kondisi psikis. Sebuah studi baru pun menemukan wanita yang tidak berpendidikan memiliki angka harapan hidup yang rendah.

"Tingkat kematian pada wanita (terutama wanita berkulit putih di Amerika) yang berpendidikan tinggi menurun, tapi justru meningkat pada wanita berpendidikan rendah," ungkap salah satu peneliti, Jennifer Karas Montez dari Harvard Center for Population and Development Studies.

Lain halnya dengan pria Amerika karena apapun pendidikan terakhirnya angka harapan hidup mereka tetap tinggi. Yang unik, kesenjangan angka kematian justru semakin melebar pada wanita kulit putih yang tidak menyelesaikan bangku SMA. Bahkan menurut peneliti, antara tahun 2002-2006 tercatat peluang kematian bagi wanita yang tidak lulus sekolah menengah 66 persen lebih tinggi daripada wanita yang menyelesaikan bangku SMA.

Dari mana peneliti menemukan kesimpulan tersebut? Dalam studi ini, Montez dan rekan kerjanya mengumpulkan data dari 46.000 wanita kulit putih berusia antara 45-84 tahun yang ambil bagian dalam sebuah survei kesehatan nasional pada tahun 1997-2006. Kemudian partisipan dibagi menjadi dua kelompok: partisipan yang tidak menyelesaikan sekolah menengahnya dan partisipan yang lulus SMA.

Dari situ diketahui bahwa antara tahun 1997-2001 tingkat kematian wanita yang tidak lulus SMA 37 persen lebih tinggi daripada wanita yang menyelesaikan bangku SMA. Tapi antara tahun 2002-2006, angka itu justru meningkat menjadi 66 persen.

Untuk menjelaskan temuan ini, peneliti mengamati faktor ekonomi, termasuk kepemilikan pekerjaan, tingkat kemiskinan, kepemilikan rumah, kepemilikan asuransi kesehatan serta faktor-faktor kesehatan pada partisipan seperti kebiasaan merokok, obesitas, dan konsumsi alkohol.

Ternyata peneliti menemukan bahwa dua faktor yang paling menonjol di balik penurunan angka harapan hidup pada wanita adalah kepemilikan pekerjaan dan kebiasaan merokok.

"Studi kami menemukan bahwa kepemilikan pekerjaan dan perilaku merokok merupakan penjelasan paling penting di balik peningkatan risiko kematian pada wanita berkulit putih. Kami justru menemukan sedikit penjelasan dari faktor lain seperti obesitas, pernikahan dan kesehatan mental," kata Montez seperti dikutip dari Health24, Sabtu (1/6/2013).

Untuk itu, menurut Montez, kebijakan-kebijakan yang ditujukan dalam rangka meningkatkan kondisi kesehatan wanita di Amerika perlu difokuskan pada perbaikan kondisi sosial dan ekonomi wanita, mengingat wanita yang berpendidikan rendah cenderung memperoleh pekerjaan dengan gaji yang rendah dan jadwal kerja yang tidak fleksibel.

Padahal kepemilikan pekerjaan memberikan banyak keuntungan, misalnya perluasan jejaring sosial dan memberi tujuan hidup bagi seseorang. Belum lagi dapat meningkatkan harga diri serta memberikan manfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental seseorang.

"Akan jauh lebih efektif jika kita meningkatkan kesempatan kerja bagi para wanita daripada sekedar menaikkan pajak rokok. Daripada hanya memperhatikan perilaku tak sehat itu sendiri, lebih baik kita menanggulangi akar permasalahan di balik perilaku tak sehat itu dan pemberian pekerjaan merupakan sarana penting untuk mencapai target tersebut," pungkas Montez.

Turunkan Fungsi Otak



Tekanan darah tinggi alias hipertensi identik dengan penyakit jantung. Tapi sebuah studi baru mengungkapkan bahwa hipertensi, terutama pada arteri yang menyuplai darah ke kepala dan leher dapat dikaitkan dengan penurunan kemampuan kognitif otak.

Tim peneliti dari Australia mengatakan bahwa penderita tekanan darah tinggi di arteri atau pembuluh darah sentral, termasuk aorta dan arteri karotis (pembuluh yang memasok darah ke bagian leher dan kepala) mempunyai skor tes pemrosesan visual yang lebih rendah, termasuk kecepatan berpikir lebih lambat alias lelet dan kemampuan rekognisi (mengenali sesuatu) yang lebih buruk.

"Biasanya pengukuran tekanan darah diambil dari arteri brachial di lengan, tapi ternyata mengamati kondisi arteri sentral bisa jadi cara yang lebih sensitif untuk menilai kemampuan kognitif seseorang. Sebab arteri sentral mengendalikan aliran darah ke otak secara langsung," tandas peneliti Matthew Pase dari Center for Human Psychopharmacology, Swinburne University, Melbourne.

"Jadi jika kita dapat memperkirakan tekanan darah di arteri sentral, maka kita dapat memprediksi fungsi kognitif dan penurunan kognitif yang mungkin saja terjadi pada seseorang," tambahnya.

Dalam studi tersebut, Pase dan rekan-rekannya mengamati yang manakah dari pengukuran tekanan darah yang dilakukan dari lengan dengan arteri sentral yang memiliki keterkaitan kuat dengan kemampuan kognitif seseorang.

Dalam hal ini peneliti melibatkan 493 partisipan asal Australia berusia 20-82 tahun. Sebagian besar peneliti merupakan ras Kaukasia dan bukan perokok yang tidak memiliki riwayat stroke ataupun demensia.

Kemudian partisipan diminta melakukan sejumlah tugas untuk mengukur berbagai jenis kemampuan kognitif seperti pemrosesan visual, daya ingat, kemampuan rekognisi (mengenali sesuatu) dan kecepatan memproses informasi. Tak lupa peneliti juga mengukur tekanan darah partisipan baik dari lengan maupun arteri sentral.

Hasilnya, tekanan darah tinggi pada arteri brachial dikaitkan dengan performa dalam tes pemrosesan visual yang lebih buruk. Namun tekanan darah tinggi pada arteri sentral dikaitkan dengan buruknya perfoma pada tes-tes kognitif lainnya, termasuk pemrosesan visual, rekognisi dan kecepatan memproses informasi.

"Hal ini menunjukkan bahwa tekanan darah sentral merupakan alat prediksi yang lebih sensitif terkait penuaan kognitif," simpul Pase seperti dilansir Foxnews, Minggu (2/6/2013).

Pase menduga seiring dengan bertambahnya usia seseorang maka arteri utamanya mengencang dan dengan elastisitas yang semakin berkurang, otak menerima lebih banyak darah yang tekanannya tinggi, yang pada akhirnya dapat merusak kemampuan kognitif otak.

Studi ini akan dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science.

Sepotong Cinta Dalam Musik



Alunan-alunan nada terdengar semakin menghanyutkan hati ini. Melodi-melodi kerinduan hati yang gunda di hari-hari sepi ini semakin membuat lincah jemari ini, bagaikan seorang profesional. Entah apa yang membuat hidup ini kurang berarti. Ah itu gurauwan ku semata, sudah lama hati ini memendam sepi. Bukannya tak ada yang mau dengan ku tapi terlalu canggung aku memikirkan hal ini, sebenarnya ada seorang bidadari cantik yang terus ku bayangkan sampai saat ini. Rindu bercampur haus di kalah hati ini ingin bercumbu cinta dengan si dia, Ya! Ia adalah bidadari mimpi yang memang hanya sekedar iming-iming ku untuk mendapatkannya. Oh setiap ending nada yang di hasilkan organ ini membuat lepas emosi yang telah lama penuh, dan tertuang saat ini. Gelora badai samudra emosi terus bergulung ganas di setiap bulir not ini. Toh seraya akupun bernyanyi untuk sang bidadari hati:
“Wahai rindu ku, Oh wahai cinta terpendam ku.
Dengarlah kerinduan hati ini.
Nyanyian ini bukan sekedar nyanyian desiran bunyi bui-bui ombak semata.
Juga bukan sekedar luapan emosi, tak usah kau dengarkan dengan telinga, cukup dengan hati saja.
Jadi mau kah kamu menjadi sang pengobat perdu kehampaan hati ini.
Karena kaulah sang bidadariku, terimalah cinta ku ini.”
Deras terasa pekat di hati, nyanyian ini membuat harapan ini bertunas dalam setiap bait lagu yang ku nyanyikan. Sekumpulan kursi-kursi di sana hanya memandang bisu seakan ikut bernyanyi. Ku pejamkan mata lalu kembali kunyanyikan bait akhir lagu dengan lembut:
“Karna kaulah sang bidadari ku, terimalah cinta ku ini”
Saat ku buka mata kembali, Oh astaga! Sang gadis yang ku bayangkan ada di salah satu kursi penonton di sebelah sana. (Ku terhenti sejenak)
“Dinda sejak kapan kamu di sana?”
“Nyanyikan saja lagu merdu itu, hiraukan saja aku”
“Oh andai kau tau, lagu ini ku nyanyikan untuk mu”
Pikir ku terdiam sejenak menatapnya.
Ia tersenyum dan membalas manis tatapan ku.
Ku palingkan muka karena malu. Lalu sejenak jemari ku kembali berhentak kagum. Ia hanya duduk termanggu di sana, membuat ku tak tenang. Sejenak suara organ ini seakan berbicara pada ku: “katakan saja semua isi hati mu padanya!” tentu saja aku hanya menggeleng seirama mengikuti irama musik. Lalu kembali suara organ ini berkata lagi kepada ku, “bukankah ini adalah kesempatan bagus bagimu, ayo katakan saja” aku kembali menggelengkan kepala.
Nada dari organ ini kembali menasehatiku, tapi bukan dengan nada halus lagi ia berkata, “dasar pengecut! katakan saja padanya. karena ini juga adalah peringatan ku yang terkhir pada mu cepat ungkapkan!” Perlahan jemari ku berhenti, ku pandang si dia yang sedang duduk di sana. Ku dekati dengan wajah yang mulai memerah, sekuntum bunga di kantung ku raih, lalu kaki ku setengah berlutut di lantai.
Ia kelihatan sangat bingung, ku pandang wajahnya yang berbinar itu, ia hanya mengangkat setengah keningnya seakan menunggu sesuatu dari ku. Kunyanyikan kembali akhir bait lagu tadi, “karna kaulah sang bidadari ku, terimalah cinta ku ini” Lalu ku berikan ia setangkai bunga di tanganku. Seketika sentuhan halus tangannya menyentuh tangan ku dan mengambil bunga di tangan ku. Ia sedikit berpikir, mungkin belum mengerti apa yang baru terjadi. Kemudian sepatah lontaran kata keluar dari bibir indahnya itu.
“Aku mengerti apa yang berusaha kau tunjukan, aku juga merasakan hati mu, tapi aku tak bisa menerima cinta mu! karena ada yang lebih penting dari cinta, yaitu impian ku di masa muda ini”
“Bukan! Bukan itu yang iiinginn ku.. Ku.?”
kata-kata ku terhenti. aku berpaling dari hadapannya, raut wajah ku berubah murung, gugupun hilang seketika, yang tersisa hanyalah rasa kecewa dan malu yang tidak menentu. Ku bergegas beranjak, namun ku tak keluar gedung teater, melainkan kembali bermain organ. Hentakan hening jemari ku hanya membawa lagu kecewa, seakan membuka kembali kesendirian hati ini, dan siap kembali pada pelukan sang dewi kesepian yang terus menimang hingga, ku terhanyut dalam tangisan yang keluar dengan sendirinya di mata ini, sekedar menghiasi pipi.
Musik ini terasa lebih pekat emosi sakit hati dari pada rasa kesepian. Saat jemari ku berhenti! hanya terdengar tepukan tangan yang sangat banyak. Ah mungkin itu hanyalah suara tepukan tangan kursi-kursi penonton. Saat mata ku buka, pertama ku lihat adalah sang pujaan yang hati terdiam murung, dengan setitik embun di pipinya. Ah mengapa banyak sekali orang? Oh tentu saja ini pasti sudah waktunya mereka berlatih teater musikal untuk beberapa hari ke depan. Dan tentu saja sang pujaan hati ku juga adalah salah satu dari mereka.
“Jonathan kamu hebat dalam musik, dan akting! Maukah kamu bergabung dalam drama musical kami” Tawar seorang pria berkumis yang adalah manejer mereka, yang datang kearah ku. Aku hanya tersenyum sambil menghapus air mata, lalu pergi melewati pria itu, menuju sang pujaan hati ku. tapi terus saja ku lewati gadis itu dan segera keluar dari tempat itu.
Meninggalkan sang pujaan hati yang tampak murung di sana.


Cerpen Karangan: Daniel Satria Sutrisno

Cinta Akhir Sekolah



Cinta, aku mau menunggu
Apakah kamu masih mencintai pria yang sudah bertahun-tahun tak meresponmu itu?
Ya, aku tidak pernah merasa bosan menunggunya, aku benar-benar terpikat olehnya.
Terkadang aku terlalu egois untuk tidak dekat dengan yang lain hanya karena menunggu dia. Bukannya sok sempurna, hati yang kumiliki untuk dia sempurnakan, aku ingin memperjuangkannya.
“fir, kamu ada buku paket kimia?”, tanya dimas.
“eh ada nih, sebentar ya aku ambil dulu”.
Aku yang dari tadi memakai headset hampir tidak sadar ada yang mengajakku berbicara.
“ini bukunya dim”.
“oke pinjam ya, nanti habis mata pelajarannya aku kembalikan kok”
Sambil mencubit pipi kanan ku dia langsung pergi membawa buku kimia ku. Tak lupa pula sebelum aku meminjamkannya aku sempat memeriksa apakah ada catatan-catatan aneh di dalam buku itu.
Dimas cowo tinggi yang memiliki kharisma, cerdas, berambut cepak, ramah, lucu, dan dia sangat memiliki jiwa kepemimpinan. hal itu yang membuat adik kelas tergila-gila padanya saat dia memimpin suatu kegiatan organisasi di sekolah. Dia sosok kakak kelas yang tegas untuk urusan kepemimpinan, bahkan dia banyak mengajarkan hal untukku.
Tak terasa sudah hampir 3 tahun penuh aku menimba ilmu di sekolah ini, tempat yang mengajarkan aku berbagai hal termasuk cinta.
Hanya tinggal hitungan bulan aku tidak akan menikmati masa-masa belajar di sekolah ini, semua akan kutinggalkan demi melanjut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah.
Berbagai kenangan akan kutinggalkan, menghilang dengan jejak yang masih bisa ku lihat. aku pasti selalu ingat tentang sekolah ini dan aku pasti selalu ingat dia.
Tak terasa tinggal hitungan hari lagi kami akan menghadapi UAS setelah UTS berlalu 2 bulan yang lalu.
Proses belajar mengajar pun tidak lagi rutin untuk dilakukan terhadap kelas 12 karena guru-guru cukup mengerti sehingga memberikan kami sedikit waktu santai.
Aku duduk di depan kelas sambil menjalankan playlist ku, tiba-tiba pandanganku berhenti pada satu cowo tinggi berjaket hitam itu, ya itu dimas dan… sedang apa dia dengan andini? sepertinya mereka sedang bicara serius. tadi memang aku melihat pacar nya andini adu mulut dengan dimas. Ya mungkin mereka menyelesaikan masalah itu.
“woy! ngeliatin siapa sih kamu?”, tiba-tiba shinta mengejutkanku.
“dih bikin kaget aja, itu si dimas ada masalah apa?”
“oh itu… sedikit masalah sama pacarnya karena dia bikin pacar nya andini cemburu padahal gak bermaksud seperti itu, salah paham saja”
“oh gitu… besok ada tanding futsal sekolah kita lawan methodist mau ikutan nonton gak?”
“oke, ketemu di sekolah ya pergi ke lapangan futsal nya bareng ajak yang lain juga”
“oke. sekarang yuk temenin aku ke kantin”
Sembari meninggalkan tempat berbincang tadi, ternyata pandanganku tak lepas dari sosok pria berjaket hitam itu. Ya aku terlalu penasaran dengan apa saja yang mereka bicarakan.

Ku lihat sosok itu, di tengah-tengah lapangan futsal pria tinggi berbadan ideal dengan nomor punggung 15, iya itu dimas.
“ayo bibi bibi bibi!!! glory-glory bibi!!!”, teriak shinta menyemangati salah satu pemain yang juga merupakan teman dekatnya.
Ketiga temannya dari pertama kali datang selalu ribut dan heboh, sedangkan aku? dari pertama kali memasuki lapangan futsal hal utama yang aku lakukan hanya mencari sosok tinggi itu.
Entah apa yang membuat pandanganku tak lepas dari sosoknya.
Dia memang sudah sering aku lihat tapi kali ini aku sadar ternyata aku bukan sekedar kagum ataupun rasa simpati terhadap teman seoraganisasi.
“horeeee menang!!!”, seru anak-anak. Ya akhirnya pertandingan selesai dan sekolah ku memasuki babak final, masih ada satu pertandingan lagi untuk menentukan ke tiga besar.
“dari tadi kamu kenapa diam aja? dari tadi ngeliatin siapa sih?”, tiba-tiba dinda mengajakku berbicara.
“eh.. enggak kok, aku bukan ngeliatin siapa-siapa. cowo kalau main futsal ternyata keren juga ya nda”
“ya memang iya, selama ini kamu ke mana aja?”, ledek dinda.
Pertandingan selesai, alhasil semakin ramai. Bahkan untuk jumpa sama pemain dari sekolah kami pun susah, akhirnya kita kumpul lagi di sekolah.
Entah apa yang membuatku sering memperhatikan dimas akhir-akhir ini, aku tak tahu aku hanya sekedar kagum atau lebih dari kagum padahal hampir setiap hari kita ketemu.
“makasih ya udah nonton kita tadi, kalian kocak teriak-teriak seperti itu ha ha ha”, kata dimas sambil menahan tawanya.
“eh aku engga ada teriak, shinta, tari, dinda tuh yang meneriaki kamu terus” sambungnya sambil ikut tertawa juga.
“iya deh yang penting makasih banyak ya, lusa kita ada tanding lagi untuk masuk ke final jangan lupa ya. aku menjumpai mereka dulu ya”, katanya sambil bergegas meninggalkan kami.
Dimas keringatan, mungkin dia butuh istirahat dan mungkin dia terlalu bosan bicara dengan aku yang hampir tiap hari selama 2 tahun lebih ini dia ajak ngobrol.
Terkadang ngobrol sama dia itu nyaman, walaupun terkadang dia lebih banyak mengejek dari pada bicara serius, tapi tetap aja itu tidak menjadi penghalangku untuk berhenti mengaguminya.
Baru terasa ketika mau tamat begini aku baru menyadarinya kalau dia memang pria yang selama ini ada di hatiku tetapi aku tidak pernah memastikannya.
Berawal dari kegiatan organisasi sekolah yang kebetulan ketua pelaksana nya adalah dimas, pada saat itu dia sering menitipkan handphone nya padaku, kemudian waktu acara makan bersama sanking laparnya aku makan di luar terus dia kesal gitu, terus aku juga merasa bersalah aku minta maaf dia maafin terus dia pergi gitu aja padahal handphone nya masih sama aku.
Ya bukan hanya itu aja sih, banyak lagi hal lain yang benar-benar membuat aku jatuh cinta terhadap pria berbadan tinggi ideal itu.
Kadang, aku sulit membedakan mana ketertarikan saat dan cinta beneran. Dua hal itu seakan tak punya perbedaan.

Ujian akhir sekolah pun berlalu dan ujian nasional di depan mata. Semakin hari aku semakin tidak bisa menahan perasaanku untuk tetap berpura-pura dan menjaga sikapku didepannya. aku tidak berbakat untuk tidak berpura-pura suka kamu.
Siang itu ketika jam istirahat aku sedang duduk-duduk di depan kelas dengan cewe yang kabarnya pernah dia sukain, selain mereka memang dekat layaknya kakak adik mereka juga sekelas dan dia juga merupakan kawan dekatku sendiri.
Entah mengapa, tiba-tiba dia lewat terus nyamperin tuh cewek terus dia ngelus-ngelus kepala tuh cewek. Aku yang diam-diam cemburu gini bisa apa? Terus berusaha menyembunyikan pandanganku untuk gak ngeliatin mereka alhasil aku ketangkap basah lagi ngeliat dia sinis, kemudian dia juga melihat aku dengan pandangan kosong.
Kemudian dia tidak bicara apa-apa dengan ku, ini beda, tak biasanya seperti ini.
Aku mencoba membiasakan diri sebagaimana biasanya. tapi alhasil aku tak bisa menahan perasaanku lagi, aku semakin canggung aku semakin yakin kalau dia itu udah tau yang sebenarnya.
Seperti pepatah “sejauh-jauhnya tupai melompat pasti jatuh juga” nah kalo ini, sepandai-pandai nya menyembunyikan perasaan pasti terungkap juga.
Waktu adalah uang, semakin aku tak punya waktu untuk bercerita tentang perasaanku semakin aku akan menyesal di kemudian hari.
Dia tak pernah tahu sejauh apa perasaanku terhadapnya, dia juga tak pernah tahu apa yang ku pendam selama 2 tahun ini berawal pertama kali menjadi kakak kelas di kelas sebelas semua terasa menakjubkan bila di ungkapkan, aku yang selama ini hanya teman biasa nya, teman celotehnya tiba-tiba angin membawakan hembusan cinta mungkin dia akan merasa risih denganku. Padahal cinta tak pernah salah.
“shin, bagaimana menurutmu jika aku mengungkapkan rasa sama orang yang selama ini tak pernah ku duga?”
“wajar-wajar saja asal ada kode etik nya ha ha ha memangnya siapa orang itu?”
“orang terdekat kita”
“siapa? apakah kamu yakin dia orangnya selama ini?”
“iya, dan bodohnya setelah hampir tamat begini aku baru menyadarnya”
“aku jadi semakin penasaran, siapa sih?”
“dimas”, tukasku dengan cepat dan singkat kemudian langsung tak kutatap lagi pandangan shinta yang penasaran itu karena malu.
“kenapa kamu bisa suka sama dia? jadi selama ini dia orang yang selalu membuatmu menunggu?”
“aku juga tak pernah menyadarinya, bahkan aku tak pernah cerita soal ini kan.”
Shinta hanya terdiam seperti ada sesuatu yang tak ingin di ungkapkannya padaku, aku tak memaksa, aku terus bercerita tentang apa yang terjadi selama dua tahun ini.
Semuanya terasa cepat berlalu, dan terlalu cepat untuk diungkapkan, selain dia tak pernah membuat respon positif terhadap sikapku tapi entahlah mungkin dia terlalu risih dengan teman yang menjadi cinta atau dia memiliki pujaan hati lain.
Hari semakin berlalu, hari semakin tak menjadi milikku. Yang biasa nya biasa aja tapi sekarang malah menjadi tak biasa.
Duduk-duduk di halaman depan sekolah itu memang menjadi hobby sepulang sekolah.
Aku menelentangkan kaki ku sambil mendengarkan lagu mengikuti alunan musik yang melow, masih kurasakan sapaan hangatnya, masih kurasakan cubitan nya di pipiku dan masih dapat kuterjemahkan tawa khas nya. tiba-tiba dimas yang baru datang langsung duduk dihadapanku dan melakukan hal yang serupa dengan ku, menelentangkan kedua kakinya.
Dan akhirnya kami saling berhadapan dan kedua telapak kaki kami saling bertemu, suatu kejanggalan tiba-tiba aku tak bernyali untuk mengajaknya berbicara dan dia pun mengalami hal yang sama padaku. Sorot mata nya tak lagi biasa terhadapku, kamu berdua saling curi pandang dan aku semakin tak berani untuk memulai bicara.
Ini seperti keegoisan, tak ada yang ingin memulai. Semuanya menjadi terasa aneh. Diam, senyap, tak ada suara antara aku dengan dia. Yang ada hanya dia dengan teman-teman ku.
Semakin hari aku semakin gelisah apa yang harus kulakukan dihadapannya, aku juga semakin merasa bersalah karena telah merusak hubungan pertemanan ini. Dia yang tak tahu seberapa lama aku memendamnya dan dia yang tak pernah inginkan aku. Mungkin Aku harus segera mengungkapkannya.
Hari ini adalah hari perpisahan kelas 12 tahun ajaran 2011/2013 acara ini dilaksanakan tepatnya 3 hari sebelum pelaksanaan Ujian Nasional.
“selamat pagi fira, cantik sekali hari ini tampil feminim” tiba-tiba shinta mengejutkanku dari belakang.
“kamu baru sekali ini memuji aku, kamu juga lebih cantik dari aku loh”
Fira asifha seorang gadis yang bukan tomboy namun juga bukan feminim baru sekali ini dirinya disebut feminim karena tidak pernah memakai short dress.
“dimas udah datang belum shin?”
“udah, dia ganteng sekali hari ini, aku saja hampir terpikat olehnya”
Sambil tersenyum menatapku shinta juga menyinggul siku tanganku.
Tak lama sebelum acara di mulai, semua kelas 12 baris berpasang-pasangan untuk memasuki gedung acara. Tanpa ku duga, semuanya terasa menyakitkan ketika dimas lewat hadapanku bergandengan tangan dengan cewe yang waktu itu kepala nya di elus-elus dihadapanku, Arista dewi.
Semakin suasana nya hening, semakin tetes air mata ingin membasahi pipiku, tetapi hati menguatkanku untuk tetap tegar pada saat itu, berusaha tersenyum mengabaikan kesedihan, berusaha menjaga pandangan agar tak terlihat, walaupun tak semudah yang dibayangkan tetapi tak sesulit yang terlihat.
Ku lihat sosok tinggi itu di sudut panggung, aku ingin sekali berbicara dengannya, akhirnya dengan sekuat hatiku kuberanikan diri.
“kamu liat shinta gak dim?”
“aku gak tau, tadi dia sama aku tapi setelah itu dia menghilang. ”
“hem ya udah deh, kamu mau ke mana?”
“aku nyari arista, aku mau menyatakan cinta kepadanya” bisiknya sambil tersenyum.
“kamu yakin? wah semoga lancar ya” aku berusaha menutupi segalanya, aku berusaha menutupi rasa yang ada.
“yakin dong, makasih banyak ya” sambil melontarkan senyumnya kemudian dia tinggalkanku yang sedang menangis di dalam hati.
Semua sibuk dengan urusan masing-masing, tatapan ku dan tatapannya yang selalu bertemu ternyata tidak berguna, aku selalu menyangka bahwa itu petanda kalau dia merasakan hal yang sama padaku.
Untuk saat-saat yang seperti ini sangat di sayangkan kalau tidak ada pengabadian, foto bareng dimas misalnya. Tapi dia mengesalkan, dia memanggilku tak ingin mengajak berfoto melainkan menyuruhku untuk mengambil gambarnya.
Aku terdiam di penghujung acara, saat doa dia berada disampingku sempat ku sentuh jemarinya secara tidak sengaja, namun kamu hanya tertawa kecil dan pergi tanpa tau betapa senangnya aku dapat menyentuh jemarimu.
Secara keadaan, jarak aku ke kamu tidak jauh tetapi jarak hati aku ke kamu yang membuat jauh, ada perbedaan yang aku rasakan namun kamu tak merasakan dan susahnya jadi aku yang tak bisa menahan perasaanku membuat semuanya berubah, kamu tak seperti dulu lagi yang suka bercanda.
Sungguh, di situasi seperti ini ingin kuteteskan air mataku tapi itu tidak menjadi kemungkinan bagiku karena ini bukan tempat yang tepat untuk melakukannya.
Ku tanya diriku sendiri, bolehkah anak gadis umur 17 tahun ini takut kehilangan kesempatannya untuk mengungkapkan perasaannya? Terkadang aku aku terlalu memaksakan kehendakku untuk tetap berdiri kokoh dan menjadi seorang gadis yang optimis untuk mendapatkan cintanya.
Sore yang mendung tetapi tak kunjung hujan ini membawaku ke dalam kegalauan, aku semakin tak kuasa menahan rasa cemburu ku. Bagaimana mungkin aku tak merasakan hebatnya gencaran jantungku saat mendengar bahwa dia akan menyatakan cinta kepada wanita yang sama sekali tak pernah ku duga? Haruskah aku menjadi seseorang yang egois untuk melarangnya menyatakan cinta kepada gadis pujaan hatinya?
Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan di kursi pojok ini, dengan dia yang bercinta dan dengan aku yang sedang menahan emosiku melihat mereka bersendu gurau, tertawa seolah tak ada yang tersakiti, dan bercanda seolah tak ada yang tak senang. Langit semakin tak acuh, sesuai dengan isi hatiku. Kurasakan langkah-langkahnya kearahku, kurasakan sapaan hangatnya kearahku, tanpa kusadari, dia sedang berada disampingku sekarang.
“gambar kita berdua belum ada” Dia menatapku sambil tersenyum kemudian dipanggilnya seseorang untuk mengambil gambar aku dan dia. Ku lihat temannya menyembunyikan senyumannya melihat kami berdua berfoto.
Mungkin sesuatu yang aku anggap suatu kesenangan merupakan suatu keterbiasaan untuknya, itu karena dia tak mengerti arti sikap yang telah berubah, yang benar saja aku benar-benar mencintainya.
“dim, aku boleh bicara sesuatu?”
“kamu mau bicara apa? Ya bolehlah”
“tapi kamu jangan kaget ya?”
Dia semakin bingung dan sedikit canggung spertinya dia tahu apa yang akan kukatakan. Kuberanikan diriku, ku tarik nafas ku sejenak untuk memulainya.
“apakah kamu tidak merasakan perubahan sikapku terhadapmu belakangan ini?”
“rasakan”
“aku minta maaf ya kalau sudah membuatmu tak nyaman”
“apa yang salah? kenapa kamu minta maaf?”
“kamu ingat? Saat pertama kali kita menjadi teman?”
“ya aku ingat, saat pertemuan kita di suatu organisasi kan. Lalu mengapa dengan pertemuan itu?”
aku bagaikan kaktus yang memeluk dirinya sendiri, merasakan cinta sendiri, merasakan sakitnya sendiri.
“dari situ aku mulai mengagumimu semenjak itu, kurasa itu hal yang biasa tetapi semakin lama aku sadar itu tak hanya sekedar kagum. Jadi selama 2 tahun ini menyimpan perasaan yang tak pernah kamu tahu, aku minta maaf sudah membuatmu tak nyaman dengan sikapku… ”
“hah? kamu… serius?”
Dia hanya terdiam menatapku yang tak berani menatapnya. Perlahan mataku mulai berkaca-kaca.
“kamu tidak usah menjawab aku, kamu hanya perlu mendengar semua pengakuanku yang selama ini berpura-pura. Aku tak perlu jawaban, aku hanya perlu pengertian kalau kamu sudah tahu tolong jaga perasaannku.”
Dia hanya terus diam, diam, dan diam. Hujan pun akhirnya turun membasahi jalanan di depan gedung. Sepanjang waktu kami hanya diam dan aku sendiri semakin tak bisa menahan perasaanku bahkan aku berusaha menyembunyikan air mata yang tertahan ini, ternyata aku tidak berbakat untuk pura-pura tidak menahan air mataku.
Waktu terus berjalan, angin terus berhembus, aku semakin gelisah apa yang terjadi setelah aku mengungkapkan perasaanku. Apakah dia akan mengejarku dan berkata dia memiliki perasaan yang sama denganku atau dia mengejarku untuk berkata “maaf aku suka arista, bukan kamu” kalimat itu terlalu tajam untuk masuk ke hatiku.
Seiring berjalannya waktu, aku tak pernah lagi berbicara dengannya setelah kejadian “aku mencintainya” kemarin. Aku mulai melupakan kamu yang jauh, dan kita mulai terpisah jauh karena demi pencapaian masing-masing. Seharusnya yang permanen “kita” bukan “aku” dan “kamu” yang terpisah.
Sesuatu yang sudah terungkapkan walaupun hasilnya tak seperti yang diharapkan akan lega jika seseorang itu punya niat untuk tidak membohongi perasaannya lagi.

Hawa di kawasan ini yang membawa cinta, suatu angin yang menyampaikan perasaan, dan sesuatu jejak yang meningglkan kenangan. Ya aku ingat tentang 7 tahun yang lalu saat pertama kali kita kenal, dekat sebagai teman dan kita bertemu lagi di masa depan kita masing-masing dan di tempat ini lagi, tempat pertama kali aku mengagumimu yang ku anggap hanya sekedar kagum.
Aku memakai kemeja putihku dengan berstatus sebagai penulis dan kamu memakai seragam mu dengan berstatus polisi. masa depan kita mempertemukan kita kembali, di tempat yang sederhana ini namun ini merupakan awal yang luar biasa untukku.
“hai fir, kamu apa kabar?”
“hai juga dim, alhamdulillah kabar aku baik. kamu?”
“sama seperti kamu. Apa yang kamu rasakan stelah 5 tahun kita tak bertemu?
“haruskah aku menjawabnya?”
“tidak perlu, aku sudah tahu ha ha ha”
“ya kamu ga berubah dari dulu. Sudah sejauh apa hubunganmu dengan arista?”
“tidak sejauh apa-apa, kamu kira waktu itu aku nembak dia di terima gitu?”
Aku terdiam dan mentapnya dengan bingung, tanpa memikirkan apa-apa lagi aku terus berusaha meyakinkan apa maksudnya.
“aku di tolak, aku suka sama dia tetapi ku pikir dia memiliki hal yang sama ternyata tidak”
“hah…”
“kamu, sejauh apa sekarang perasaanmu dengan pria beberapa tahun yang lalu itu apakah masih dia yang ada dihatimu? apakah masih dia yang kamu perjuangkan?”
ucapnya sambil tertawa kecil. Aku tak menjawab, aku hanya tersenyum kecil dan langsung tak menatapnya. Apakah aku salah jika masih memperjuangkanmu, meskipun aku tak bilang?
Di awan-awan aku kembali dibawanya terbang, menerawang segala yang di langit aku kembali dibawakan terbang oleh cintanya. Aku kembali, kembali seperti saat pertama kali jatuh cinta, jelas aku sedang menikmati senyumnya saat ini. Kami di peretemukan kembali di tempat ini dengan sukses.



Cerpen Karangan: Dina agustina

Sebuah Penantian



Malam beranjak kian larut, seiring purnama yang tersenyum penuh rona keindahan yang menyusup di balik jiwaku yang dirambati resah, sang purnama bersinar memancarkan cahaya kuning keemasan, seolah memberi secercah sinar ke dalam hatiku, namun entah mengapa seolah hatiku tak bisa berdamai. begitupun dengan hatiku yang kian di landa resah. ya… resah karena menanti… telah satu jam aku menunggu namun dia tak kunjung menunjukkan tanda tanda kehadirannya, bahkan nomor hp nya pun tak bisa di hubungi. ku lihat jam tanganku, hmmm.. sudah jam 10 malam, dia telah terlambat satu jam lebih dari waktu yang dijanjikan…
Aku telah menghabiskan segelas cokelat panas yang merupakan minuman favoritku, telah enam batang r*kok yang kujadikan teman sembari menunggu kedatangannya, namun firasat akan kedatangannya entah mengapa tak terbersit sama sekali di hatiku, kupandangi tempat yang telah dijanjikannya untuk bertemu ini dengan perasaan yang tak menentu, lampu berkelap kelip menambah indah lukisan malam, angin yang semerbak membawa nyanyian sendu. telah beribu kenangan indah yang tercipta antara aku dan dirinya, kini lukisan kenangan itu menjelma menari nari di memori ingatanku. saat saat pertama bertemu dulu di sini… saat saat aku mulai merajut hari bersamanya, saat saat aku menghapus air mata lukanya, saat ceria mewarnai rindu yang menjerat kalbu. tak terasa aku telah dalam tenggelam di ceruk kenangan.
Ku lihat jam kini telah menunjukkan pukul 22.45. hatiku kian gelisah harap harap cemas, mengapa dia tidak mengabariku jika memang dia tak bisa datang, mengapa malah nomornya tidak aktif, mengapa… mengapa…? apa dia lupa? bukankah dia yang mengajak untuk bertemu malam ini, di tempat ini… ah.. mungkin benar dia lupa (sanggah hatiku untuk berbaik sangka padanya), tapi benarkah? bagaimana kalau… aku segera menepis persangkaan burukku padanya. terjadi peperangan batin di hatiku, aku semakin di landa gelisah.
Perlahan lagu mengusung rindu-nya spin band mengalir syahdu dari earphone ditelingaku: “sayu hati… sayu sekali.. melihat engkau berpimpin tangan dengan sidia… sakit hati, sakit sekali.. pabila cinta yang aku beri tak dihargai…”
Karena malam semakin larut, sedang purnama telah meninggi bertahta disinggasananya sambil memancarkan sinarnya yang kuning keemasan. alam yang indah ini kulalui dengan hati yang gundah tak tercegah, sungguh tersiksa aku dibuatnya. ku coba menghubungi no hp nya, masih tidak aktif. ku coba mengirim sms padanya, tertunda… ah…
ku lihat sekeliling keadaan mulai sepi, tinggal beberapa pasangan yang masih asik bercanda di bawah sinaran rembulan. entah apa yang ada di pikiran mereka (bahagia tentunya ya..?). beberapa pasangan yang lewat di depanku memandang dengan heran, mungkin aku di kira orang gila karena duduk sendirian hanya bertemankan asap r*kok… hemmm, entahlah, aku masa bodo dengan persepsi mereka terhadapku.
Ahirnya kuputuskan untuk pulang, karena aku menganggap penantianku sepertinya akan sia sia belaka. ku ayunkan langkah dengan gontai. sejenak ku pandang sang rembulan, dia masih saja memberikan senyumnya yang indah untukku. atau hanya senyum kasihan terhadapku.. entahlah…
Sebelum pulang ke rumah aku sengaja untuk jalan jalan malam, untuk sedikit untuk menenangkan hatiku yang berkecamuk dengan seribu prasangka. ku pacu kuda besiku dengan santai sambil menghayati suasana malam yang mulai lengang. tiba tiba sesosok yang ku kenal ku lihat duduk di sebuah taman, dia berdua, mereka kelihatan sangat mesra. entah mengapa tiba tiba semua kenangan itu berpacu di ingatanku, mendobrak segala penghalangnya meski aku mencoba untuk menghalaunya. tiba tiba aku merasa percuma dengan penantianku, semua seolah sia sia. ya semuanya sia sia…


Cerpen Karangan: M.Munif Fannani

Gelap Terang Senyuman



“Gapai semua jemariku, rangkul aku dalam bahagiamu, ku ingin bersama berdua selamanya. Jika ku buka mata ini ku ingin selalu ada dirimu dalam kelemahan hati ini bersamamu, aku tegar”

Aku masih termenung menatap senja taman kota ini, Jogjakarta. Masih sama seperti yang dulu, hatiku hancur mengingat semuanya, sesal memang hari ini yang kurasa, coba saja waktu itu aku mengikuti saran ayah, mungkin semua cerita ini tak akan terjadi.
Dan sore itu enam tahun yang lalu keluarga Mas Teguh datang untuk melamarku, aku masih berusaha ikhlas demi ayah, meski sebenarnya aku tak menginginkan untuk terjadi secepat ini. Episode yang begitu menyesakkan dada, bagiku semuanya akan berakhir, tentang angan dan pula mimpi mimpiku. Aku sangat ingin melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi untuk mendapat karir yang bagus, jika aku sudah menjadi istri maka aku harus tunduk dan taat padanya, aku diwajibkan fokus berbakti pada suami dan anak anak ku kelak. Lalu bagaimana dengan cita citaku untuk berkeliling dunia? pikiran-pikiran seperti ini yang terus saja memenuhi otakku.
“ahhhhhh, wahai angin segar, lewatlah sejenak lewati hatiku. Bosan, penat, sesak, penuh di dadaku. Tuhan, aku tak dapat menyebut ini tentang apa, hanya kurasa berat sekali. Tuhan, aku ini milikmu, maka aku ingin selalu ikhlas atas segalamu. Dan aku yakin engkau selalu memberiku yang terbaik.”
Teguh Iman Mahadi dialah lelaki pilihan ayah, dia sarjana ilmu telekomunikasi di salah satu universitas ternama di Indonesia, anak dari teman ayah semasa dulu tinggal di Jakarta, aku tak tahu banyak tentang dia, wajahnya saja aku tak pernah faham hanya lewat foto aku memandangnya, laki laki yang terlihat gagah dan tampan, tapi entahlah aslinya aku juga tak tau, tapi pada suatu sore dia pernah menelefonku, suaranya begitu menyejukkan hati, tutur katanya yang sopan dan lembut memaksaku untuk tidak mengecewakan ayah. Kata ayah dia adalah sosok lelaki yang tak mau main-main tentang apa itu yang namanya cinta, dan pula tak suka mempermainkan wanita, hingga akhirnya Mas Teguh menyetujui saran ayah terhadapnya untuk menjadikan ku sebagai pendamping hidupnya, bukan pacar atau sejenisnya. Padahal aku tau mungkin saja banyak wanita yang mendambanya di luar sana, tapi dia tetep teguh pendirian, persis seperti nama nya Teguh Iman Mahadi. Aku tak peduli itu semua, pikirku perjodohan ini adalah hal terkonyol dalam hidupku. Jujur sebenarnya hatiku berat untuk mendengar namanya dari mulut ayah, dan aku ingin sekali menggagalkan acara perjodohan ini.
Ayahku memang sedikit kolot, baginya hal terpenting bagi seorang wanita adalah bukan berilmu tinggi atau berkarir cemerlang, ia hanya ingin aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak anakku kelak, masalah financial itu hanya kewajiban seorang laki laki, ya memang ada benarnya juga agar aku menjadi sebaik baiknya wanita bagi keluargaku kelak, tapi di sisi lain pemikiran ini sangat kontras dengan ide ideku, simpel saja, toh aku ingin jadi wanita sukses untuk membahagiakan ayah, karena beliaulah satu satu nya yang kumiliki, tak ada ibu, tak ada pula saudara.
Sebelas tahun yang lalu ayah mendapat kabar dari saudara bahwa nenek sedang sakit, aku ingat sekali hari itu hari kamis dua puluh lima januari dua ribu tiga, dan di hari selanjutnya ayah benar benar tak bisa meninggalkan kantor Karena ada rapat dadakan dengan klien dari luar daerah, sehingga terpaksa hanya ibu dan kak farhan yang berangkat ke Blitar untuk menengok kedaan nenek, lalu ibu menyuruhku bersama ayah agar menyusul di keesokan harinya, waktu itu aku marah pada ibu kanapa aku harus berangkat dengan ayah tiri ku, aku memang tak mau mencoba akrab dengannya, ya aku memang selalu tak mau mencoba akrab dengannya, karena sejak ayah kandungku meninggal tepatnya saat aku duduk di bangku kelas dua SD, aku memang selalu kekeuh untuk tidak menerima ayah baru untuk menggantikan posisi ayah, aku sangat menyayanginya melebihi apapun, ayahku mengidap penyakit leukemia tiga tahun sebelum meninggal, aku selalu menungguinya di rumah sakit, ikut mengantarkan nya berobat kemana-mana, hingga suatu saat ada teman ibu yang menyarankan agar ayah di bawa ke tempat pengobatan tradisional milik H. Syamsul Bahri yang berada di kota Blitar, jauh memang dari Jogjakarta, namun demi ayah ibu tak pernah menyerah, ibu selalu bersemangat untuk membantu ayah menyembuhkan penyakitnya, nah di sana lah ibu dipertemukan dengan ayah tiriku. Om Mafatih Ali begitu dulu aku selalu memanggilnya, walaupun sudah punya anak tapi beliau masih muda plus masi kece gitu, dia adalah putra pertama dari H. Syamsul yaitu beliau yang rutin mengobati ayah.
Hingga pada saat itu tiba hari minggu empat belas agustus dua ribu satu di salah satu rumah sakit di Jogjakarta ayah menghembuskan nafas terakhirnya, aku tak kuat sungguh tak kuat melihat ayahku di detik detik terakhir sakarotul mautnya, terus saja ku peluk suster yang memang sedari tadi menemaniku dengan sangat erat sambil menangis sesenggukan di pelukannya. Entah apa yang ku rasa saat itu, yang aku tahu hanya tuhan sangat jahat kepada kami kerena telah mengambil ayah dengan secepat itu, aku masih ingin bermain dengan nya, aku masih ingin pergi ke pasar malam dengan nya, aku masih ingin dibacakan dongeng oleh ayah sebelumku tidur di pangkuan nya.
Beberapa tahun setelah itu memang ibu menikah dengan Om Mafatih seorang ayah tiri yang ternyata benar-benar mencintaiku dengan sangat tulus, Om mafatih punya satu anak lelaki dari istri pertamanya yang sudah meninggal sejak anak pertama mereka lahir. Dia itu adalah kak Farhan.
Aku sangat sadar kalau Om Mafatih itu sangat menyayangiku layaknya anak kandung sendiri, seperti dia menyanyangi kak Farhan anak kandungnya, tapi sekali lagi aku belum bisa menerimanya sepenuhku persis seperti aku menyayangi ayah kandungku.
Hingga selanjutnya datang hari dimana tuhan telah menggariskan aku harus kehilangan orang yang sangat aku sayangi untuk yang kedua kalinya, pagi itu jumat dua puluh enam januari dua ribu tiga ibu bersama kakak berangkat ke Blitar tanpa sepengetahuanku, saat itu memang masih sangat pagi dan aku pun jelas masih tidur, ibu hanya pamit pada ayah “yah, ibu berangkat dulu ke Blitar untuk menjenguk ibu ya, jaga nada ya yah, jangan lupa besok ajak dia menyusul ke Blitar bersamamu, aku tak mau dia banyak bolos sekolah seperti tahun kemarin, cukup izin untuk hari sabtu besok saja, toh hari minggunya dia libur.”
Tidak terlalu jelas memang pesan ibu, dan tak memberikan pertanda apapun bahwa akan terjadinya musibah besar di hari itu, setelah minta izin pada ayah, ibu dan kakak pun segera bergegas berangkat menuju ke stasiun.
Aku bangun, tak tau kenapa pagi itu terasa sangat aneh, tak ada teriakan ibu seperti biasanya, aku malah seperti mendengar suara ayah kandungku memanggil manggil nama ibu, aku menuju ke lemari pendingin untuk mengambil segelas air putih, aku terkejut melihat di depan pintu kulkas ada tulisan ibu, kira kira seperti ini tulisannya, “sayang, pasti baru bangun tidur yaa?, tuh kan dugaan ibu benar, hehehe. Nak ibu minta maaf ya ninggalin kamu di rumah sendirian sama ayah, nada gak boleh nakal ya sayang, harus nurut sama ayah gak boleh keras kepala kaya kemaren-kemaren ya nak, love you sayang, muach” aku cuman nyengir baca tulisan ibu, soalnya apa yang di tulis ibu itu semuanya benar.
Sekitar jam sepuluhan ayah masih sempat menelephon ibu “assalumualaykum, dekk” “waalaykum salam ayah sayang” “sudah sampai mana dek?” “emm, nyampe mana ya yah, kurang paham juga, kayanya nyampe hatinya ayah deh, hahaha” “adek ni bisa aja” “tapi intinya bentar lagi udah mau nyampe kok yah, kenapa? kangen ya?” “hwahaha GR abis deh, tapi emang bener sih kangen pengen cepet ketemu besok, atau secepatnya” “hehehe iya deh secepatnya bakal ketemu, nih farhan lagi tidur yah, capek katanya, dia bilang nanti kalo udah sampai dia mau langsung tidur” “haha farhan mah emang hobi tidur tuh, haha” “emang ayah nggak?” “hahaha sama, ya udah dek, ni abang mau jemput nada ke sekolahnya dulu ya! kasian dia nanti kalo lama nungguin nya.” “iya yah hati hati ya” “iya sayaaaang, kamu juga hati hati ya, ayah love ibu so much, assalamualykum” “hihi love you too ayah sayang, iya waalaykusalam.”, dan tiba tiba ibu menambahkan bicaranya “yah, jaga nada ya selama aku gak ada di rumah.” tut tut tut telepon pun terputus sebelum ayah menjawab perkataan ibu yang terakhir tadi.
Begitupun selanjutnya ayah langsung menuju ke sekolahku untuk menjemputku pulang, lalu mampir sebentar ke warung makan untuk makan siang bersama.
Di perjalanan pulang tiba tiba handphone ayah berbunyi, di lihatnya telephon itu, “siapa yah?” Tanya ku, “ini kok ibu tiba tiba telepon lagi ya nak, padahal ayah kan baru aja telepon dia” “ya udah sini nada aja yang angkat”. langsung aja aku teriak “ibuuuuuuuuuu, kanapa tinggalin nada?” tapi yang kudengar bukan suara ibu, hanya suara gemuruh tidak jelas, dan sesekali sepertiku mendengar teriakan, bahkan tangisan. “Yah, coba ayah aja yang bicara, berisik banget nada gak denger apa apa” “ya sini, hallo assalamualaykum, dek, assalmualaykum sayang, hallo dek kenapa nggak jawab, halloo”, terus saja ayah mengulanginya tapi tak ada suara jawaban. “mungkin handphone ibu tadi kepencet nak, kata ayah mencoba menenangkan ku, meski aku sangat tau mukanya berubah seketika jadi panik.
Sesampainya di rumah seperti biasanya sepulang dari kantor ayah pasti menyalakan televisi. Betapa sangat terkejutnya ayah ketika melihat siaran lansung di salah satu stasiun TV yang memberitakan kecelakaan kereta api jurusan blitar yang kemungkinan besar ada ibu dan kak farhan didalamnya, Ya memang benar, ibu dan kak farhan ada didalamnya, tapi pertanyaannya adalah apakah mereka selamat?, seketika itu ayah tanpa pikir panjang membawaku kemudian melaju dengan kecepatan yang tak seperti biasanya menuju ke tempat dimana kereta itu mengalami kecelakaan.
Sungguh nyata perkataan ibu kepada ayah, secepatnya mereka akan bertemu, bahkan selang beberapa jam mereka dipertemukan kembali, tapi dalam keadaan ibu yang telah tak bernyawa, kak farhan juga begitu, ia benar benar istirahat panjang setelah sampai, ternyata maksudnya adalah saat sampai ajalnya tiba, sedih tak terkira rasanya. Aku kehilangan separuh jiwaku, bahkan pada bulan bulan awal kepergian ibu aku seperti mayat hidup yang tak berdaya, aku enggan menjalani hidupku kembali, rasanya aku ingin mati juga bersama ibu. Tapi ayah dengan sabarnya selalu berusaha menenangkanku, menghiburku, hingga sampai saat ini aku menjadi sangat tegar dan menerima dengan ikhlas apa yang telas digariskan Allah kepada keluarga kami.
Kembali lagi ke mimpiku untuk berkeliling dunia, melanjutkan study ke jenjang lebih tinggi, dan akhirnya menjadi wanita sukses, ayah masih saja kekeuh dengan pendiriannya, menentang keras permintaanku yang satu ini, hingga pada suatu ketika keluarlah dari mulutku, “yah, tujuan hidup nada cuman satu, ingin membahagiakan ayah, membalas semua kebaikan ayah, aku tak punya siapa siapa kecuali ayah, kalau nada menikah sekarang pasti fokus nada akan terpecah kepada suami nada, anak-anak nada kelak, dan juga kepada keluarga besar suami nada, ibu mertua, ayah mertua dan masih banyak lagi yah pastinya, dan sebelum itu semua, nada benar benar ingin membahagiakan ayah, tolong yah dukung nada untuk yang satu ini, kemauan nada besar sekali yah dan satu lagi, Nada sangat percaya bahwa jodoh sudah di atur oleh tuhan, tolong ayah jangan paksa nada untuk perjodohan ini”, dengan air mata yang tiba tiba mengalir deras juga perasaan lega akhirnya kata-kata ini yang sejak dulu ingin aku ucapkan akhirnya keluar juga dari mulutku. Tiba tiba ayah diam tanpa sedikitpun jawaban dan memelukku dengan sangat erat, seketika suasana berubah menjadi haru biru, ku lihat ayah yang ternyata sedari tadi ikut menangis sambil memelukku. “maafkan ayah nak, ayah yang salah, seharusnya ayah mendukungmu untuk mencapai cita cita yang kau inginkan, bukan malah memaksamu seperti ini, ternyata berusaha menjodohkanmu dengan lelaki pilihan ayah itu adalah ambisi ayah sendiri, kemarin ayah takut kamu akan salah melangkah dalam memilih pasangan hidup, ayah cuman ingin kamu mendapatkan yang terbaik, sekarang ayah sadar kalau jodoh tak akan kemana, kalau kalian berjodoh pasti saatnya tiba kalian akan dipertemukan, jodoh ditangan Allah, terimakasih nak telah menyadarkan ayah.”
Hatiku lega selega leganya karena satu pintuku telah terbuka, dan ternyata Allah telah mengatur semunya dengan sangat indah pada waktunya, lamaran beasiswa yang aku ajukan lima bulan yang lalu ke salah satu perguruan tinggi di Australia terjawab sudah. Dan taukah engkau apa jawabnya? “Aku diterimaaaaaaaa”, puji syukur ini tak henti hentinya ku ucap, dari dua ribu pundaftar hanya di ambil sepuluh orang, dan akulah salah satuya. aku bukan orang yang pintar, hanya saja Allah adalah Sang Maha Pemurah kepada setiap hambanya. Allah sangat baik kepadaku hingga Beliau memberiku semua ini. sunguh beruntung, ya aku merasa menjadi orang yang sangat beruntung di dunia ini. “Ya robb terimakasih” ini sungguh di luar dugaanku, selainku bisa melanjutkan study, ini juga menjawab mimpiku yang kedua untuk berkeliling dunia.
Ku kabarkan pada ayah berita yang sangat menggembirakan ini, ayah lantas menghubungi Mas Teguh Iman Mahadi dan pula menceritakan semuanya, tentang rencanaku untuk melanjutkan belajarku di Australia, aku tercengang mendengar jawaban yang di lontarkan Mas Teguh pada ayah, “Alhamdulillah, demi Allah saya ikhlas om, saya justru sangat mendukung keputusan Dek Nada untuk melanjutkan belajar.” “lantas bagaimana rencanamu kedepan Nak Teguh? kamu boleh menikahi siapa saja, kamu bebas. Om telah ikhlaskan seandainya kamu menjadi menantu orang lain.” “he he he Om ini bisa saja, insyaallah saya akan bisa menunggu Dek Nada sampai ia menyelesaikan belajarnya, saya justru bangga padanya, dan semakin mantap hati ini terhadapnya Om.” “subhanallah memang kau anak yang baik, tak salah kalau Om kemarin ngotot untuk menjadikan mu sebagai menantu Om.” “aduh teguh jadi malu Om bilang seperti itu.” “lantas apa rencanamu kedepan nak?” “insyaallah teguh mau melanjutkan study ke jenjang selanjutnya Om.” “oh bagus sekali, Om dukung seratus persen nak,hehehe” “trimaksih Om atas dukungannya.”
Mendengar jawaban Mas Teguh yang mau menungguku sampai aku menyelesaikan belajarku di Australia. Bagiku ini aneh, tiba tiba saja perasaan ini muncul, aku tak tau kenapa hatiku bisa berubah dengan begitu cepatnya, sejak saat itu kuasa aku benar benar mencintainya, dan kini aku merasa tak mau kehilangan dia, sungguh aku sangat yakin bahwa dia adalah imam yang sangat pas untukku, bisa membimbingku menjadi lebih baik, ayah memang sangat pintar memilihkan nya untukku.
Sejak saat itu aku semakin sering berkomunikasi dengan Mas Teguh, semakin akrab dan sangat akrab, hingga pada hari itu aku harus berangkat ke Australia, ayah bersama Mas Teguh lah yang mengantarkanku sampai ke Bandara, rasa bahagia karena akhirnya apa yang aku dambakan bisa terwujud, bercampur dengan sedih karena harus meninggalkan tanah air dan ayah tercinta, pula harus meninggalkan dia sang pujaan hati. Tapi rasa semangatku ini mengalahkan semuanya, hasrat untuk merealisasikan citi-cita pun semakin menggebu, aku sangat yakin bahwa aku bisa!!!.
“Australiaaaaa indah sekali kau, terima kasih tuhan telah kau izinkan kau memijaki tanah asing ini”. Ya aku sampai di Australia. Pulau terbesar di dunia, tetapi merupakan benua terkecil dari semua benua-benua yang ada, dan taukah kamu dua puluh persen dari penemuan ilmiah di dunia berasal dari Australia. kata orang-orang gelar atau ijasah yang diperoleh dari Universitas di Australia telah diakui oleh seluruh dunia. Di sana tepatnya aku tinggal di Sidney, aku punya orang tua angkat, Mr. Bob yang sangat ramah dan Mom Greeta yang begitu cantik dan baik hati, juga Judith anak perempuan kecilnya yang lucu, aku di sambut hangat oleh keluarga ini, dengan cepat aku bisa menganggap mereka layaknya keluarga sendiri.
Aku juga senang dengan situasi belajar di sana, di dukung pula oleh teman teman yang semuanya well come kepadaku, seminggu sekali aku menghubungi ayah yang berada di Indonesia. Dan menceritakan semuanya. Juga mas teguhku, dia semakin sejuk di hati, bicaranya yang kalem dan santun membuatku tenang di buatnya. Tapi aku tak tahu kenapa tiba tiba di awal tahun ke tigaku ini dia berubah. “Apa aku punya salah? tapi tenang aja mas aku akan selalu mencintaimu, sampai kapanpun, meski di sini banyak bule bule cakep, masih hanya kamu yang ku damba”. Kira kira seperti inilah pesan yang kukirimkan untuknya melalui ponselku. “maaf ya dek!”, jawaban yang begitu singkat namun aku paham apa maksudnya, mungkin dia sedang sibuk atau mungkin kelelahan dengan aktivitasnya, sejak saat itu komunikasi dengannya mulai punya jeda yang panjang, dan tak terhitung sering lagi, aneh memang, tapi kupikir ini mungkin cara yang terbaik untuk menjaga dan menguatkan rasa sayang pula rindu di antara kita.
Empat tahun pun akhirnya telah terlewati dan Alhamdulillah aku telah lulus dari Universitas ini dengan nilai yang lumayan lah, cukup memuaskan pula tidak memalukan. senang sekali rasanya sebentar lagi akan pulang ke Negara halamanku Indonasia.
Pulang, akhirnya aku pulang juga ke Indonesia tercinta, pagi-pagi sekali aku sampai di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Ku lihat ayah dari jauh memanggilku dengan penuh suka cita, di situ kulihat ada ayah, kakek, nenek, dan beberapa saudara, ada juga tetangga samping rumah yang ikut pula menjemputku. Aku bahagia sekali melihat senyum mereka yang berbinar-binar sambil sesekali menunjuk ke arahku. aku melambaikan tangan lalu tersenyum membalas tatapan-tatapan merdu mereka. Degg, hatiku tiba-tiba berdesir, “tapi kenapa tak kulihat di antara mereka pujaan hatiku, mas Teguh Iman Mahadi?, ah mungkin saja dia sedang sibuk.”
Kusalami semua orang yang menjemputku, ku peluk ayah dengan erat, dan tangis terpecah di antara kita karena bahagia, bahagia sekali bisa berkumpul dengan sanak saudara. Sesampainya di rumah langsung kubuka tas besarku dan ku keluarkan semua jenis oleh-oleh yang kubawa dari Australia.
Pada malam harinya aku dan ayah duduk berdua di teras rumah, sambil memandang bintang bintang yang sangat indah berkerlip di langit, suasana tenang dan sunyi. “yah, kenapa tadi Mas Teguh tidak ikut bersama menjemput Nada?”, tiba tiba raut wajah ayah terlihat bereda, seperti ada yang ingin ia sampaikan, “nak, masihkah kau mencintai nak teguh?” “kenapa ayah bertanya seperti itu?, masih lah yah, bahkan sangat mencintainya.” “ayah mau cerita sama Nada, tapi janji ya gak boleh marah sama ayah atau siapapun setelah ayah cerita ini!” “cerita apa sih yah? Nada jadi panasaran, iya iya Nada gak bakalan marah ke siapapun, Nada janji!”
Dan tau kah kamu apa yang bakal di ceritakan ayah pada malam itu?, sungguh berita ini membuatku hancur sejadi jadinya, air mata nenetes begitu derasnya, tiada bencana yang menyedihkan, tiada luka yang menyakitkan tapi kecewa karena cinta. “Nak, sebenarnya nak Teguh sudah mengatakan ini tepatnya setahun yang lalu saat kau masih di Australia, bahwa dia minta maaf sebesar besarnya karena telah menghianatimu, nak teguh cerita banyak dengan ayah tentang kegundahannya ini, dia mencintai seorang gadis teman kuliahnya namanya Shofia, dia juga tak menyangka kenapa tiba tiba saja ia begitu jatuh cinta dengan Shofia ini, waktu itu dia juga bilang sama ayah untuk mau menceritakan apa yang sedang ia gundahkan kepadamu, tapi ayah menolaknya. Ayah tau kau begitu mencintainya, ayah takut ini akan sangat menyakitkanmu. Dan menjadikan konsentrasi belajarmu buyar oleh kekecewaan. Dia sudah menikah dengan shofia tiga bulan yang lalu.” “kenapa ayah membiarkannya?, padahal ayah tahu kalau Nada benar benar mencintainya.” “maafkan ayah nak, ayah ingat kata katamu waktu itu bahwa jodoh telah di atur oleh tuhan, dan tak bisa dipaksakan, bagitupun ayah tak mungkin melarang nak Teguh untuk mencintai wanita pilihannya itu.” “tapikan yah…” “Nada Kamila Fajrina anak ayah tersayang, tolong jangan egois nak, mencintai itu tidak harus memiliki, dan ayah yakin tuhan akan memberikan yang lebih baik untukmu. bahkan jauh lebih baik, kamu percaya itukan?. Aku mengangguk pelan sambil menangis sesenggukan di samping ayah, lalu aku masuk ke kamar meninggalkan ayah tanpa mempedulikan panggilannya. Tangis kutahan dihadapan para saudara yang memang sedari tadi sedang menonton TV di ruang tengah.
Hingga tak ada lagi celah hati yang kosong,
Semua telah terisi penuh tentang cinta untukmu,
Dan berapa banyak air mata yang menetes karenamu,
Harapan agar kau berada satu shof didepan ku, itu hanya mimpi,
Ternyata, ketulusan cintaku tiada pernah kau anggap ada,
Tuhan, beri aku petunjuk tuk memperoleh sirnanya,
Setelah berjam jam merenung, akhirnya hanya rasa tak pantas untuk bersanding dengannya lah yang bisa kujadikan sebagai penutup lara hati ini, mungkin dia terlalu baik jika untukku, berkali kali kupaksa hatiku untuk menerima kenyataan ini, Menegaskan dengan keras kepada diri sendiri bahwa aku memang bukan jodohnya.
Satu minggu setelah itu, ayah mendapatkan kabar bahwa istri mas Teguh sedang di rawat di rumah sakit karena penyakit demam berdarah. Ayah lantas mengajakku untuk ikut serta menjunguknya. Di rumah sakit itu adalah pertama kalinya ku menatap wajahnya setelah kepulanganku dari Australia, masih saja sejuk di mata, sejuk pula di hati, tutur katanya masih sama sopan dan halus. “dek nada?” dia seperti tak percaya akan kedatanganku siang itu, ku lihat ada sedikit rasa bersalah dari sorot matanya, “kapan kamu pulang dari Australia dek?”, Tanya nya gugup. “seminggu yang lalu mas.” Jawabku singkat. Ayah memegang tanganku erat, seakan akan ia berbisik, “tegarlah nak, ikhlaskan dengan keikhlasan yang seikhlas ikhlasnya bahwa dia bukan jodohmu”. Kupandangi istrinya yang sedang tidur dengan selang infus di tangannya, mangenakan jilbab hijau yang di urai ke bahu, parasnya cantik dan tak bosan di pandang. “Beruntung sekali Mas Teguh Iman Mahadi ini mandapatkan istri secantik kak shofia”, batinku semakin ikhlas melepasnya setelah memandangi wanita cantik di hadapanku itu…
 

Total Tayangan Halaman

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.