Kumpulan Artikel Menarik , Tips Bermanfaat Serta Bacaan Yang Menghibur

ENTRI POPULER

Cerita Gokil

Cerita Gokil

Orang pintar di pintari

Suatu hari Aco mau mengetes seorang dukun yg terkenal pinter di desanya
Aco: Kalo anda emang pinter, coba tebak, burung di tangan gue masih idup apa sudah mati???
Dukun : halllahhh.... kamu masih bocah sudah mau ngejebak saya, saya tahu kalau saya bilang hidup, kamu akan meremas burung itu sampai mati, kalau saya bilang mati, kamu akan melepaskan burung itu agar terbang
Aco: Hahahaha.... ternyata desas-desus kalau anda orang paling pintar di desa ini salah besar
Dukun: lha!!!! knapa??? bukankah jawaban saya masuk akal???
Aco: jawaban anda masuk akal, tetapi anda tetap salah karena ditangan saya bukan burung, tapi ayam :P



SANTA CLAUSE 

suatu hari di malam natal....

seorang anak semata wayang yang kesepian menulis surat kepada santa clause n dimasukkin ke dalem kaos kaki...

surat nya berbunyi gini:
"SANTA... AKU SANGAT KESEPIAN....
AKU KEPENGEN PUNYA ADEK.... BIAR BISA KU AJAK MAEN..
THX SANTA"

nah keesokan pagi nya si anak memeriksa kaos kaik dan mendapati surat balasan dari santa

tulisan nya singkat padat jelas dan penuh arti..

SEND ME YOUR MOM


Pemakan Rumput                         

Seorang pria sedang duduk di dalam mobilnya ketika dia melihat seorang pria sedang memakan rumput di tepi jalan. Dia menyuruh sopirnya untuk berhenti dan dia turun untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Mengapa kamu memakan rumput?" tanyanya kepada orang itu.
"Saya tidak punya uang untuk membeli makanan,"jawab pria miskin itu.
"Oh,kalau begitu datanglah ke rumahku!"
"Tapi Tuan, saya masih ada seorang istri dan empat orang anak..."
"Bawa mereka bersamamu!" jawab pria kaya itu.
Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil itu. Di tengah perjalanan, pria miskin itu berkata, "Tuan, Anda sungguh baik hati. Terima kasih telah menampung keluarga kami..."
Pria kaya itu kemudian menjawab, "Tidak, kamu tidak mengerti. Rumput di rumahku sudah tumbuh lebih dari 10 meter tingginya!"

Cerita gokil


---KAKATUA---
Di sebuah toko penjual burung, mempunyai 2 burung kakak tua. Kedua burung itu berbeda, yang satu suka bernyayi dan yang satunya lagi hanya diam saja, datang seseorang ingin membeli burung kakak tua. Ia berkata kepada si penjual burung:
Pembeli: Berapa harga burung kaka tua ini mas...??
Penjual: Kalau yang suka nyayi itu 500.000 rupiah, sedangkan yang diam itu 1.000.000 rupiah.
Pembeli: Lho kok yang suka nyayi harganya lebih murah dari yang hanya diam saja.
Penjual: yah.... jelas beda wong yang harganya 1.000.000 itu pencipta lagunya kok.

---TANGISAN SEORANG IBU---
Sebuah keluarga yang malang itu, akhirnya tahu bahwa salah satu anak gadisnya bekerja sebagai pelacur di kota Surabaya. Si Ibu pun menangis tersedu-sedu.
"Kenapa anda menangis?" tanya tetangga, "Yang sudah terjadi biarlah terjadi, yang penting kita selalu berdo'a semoga ia segera sadar."
Sambil mengusap air matanya, Si ibu menjawab dengan terbata-bata
"Saya menangis bukan karena itu, tetapi saya menangis terharu karena Dia adalah anak satu-satunya dari enam bersaudara yang akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan."

---Senjata Makan Tuan---
Seorang wartawan sedang meliput peristiwa kecelakaan. Karena banyak orang yg mengerumuni lokasi kecelakaan, wartawan tsb tdk dpt menerobos untuk melihat korban dari dekat. Setelah berpikir keras, wartawan tsb dpt ide.
"Minggir-minggir semua, saya ayah korban!" ia berseru. "Saya minta jalan.
" Benar saja.....kerumunan itu membiarkan dia lewat. Semua mata terarah kepada wartawan tsb. (wartawan GR, dalam hati: "Berhasil juga!!!) Ketika sampai di tengah kerumunan, ia terpana melihat... SEEKOR ANAK MONYET tergeletak tak berdaya!

---SALAH MASUK---
Dengan tergesa-gesa seorang nyonya masuk ke sebuah ruangan yang ia kira itu ruangan dokter.
Nyonya : "Dokter, apa yang salah ditubuh saya?"
Laki" : "Nyonya, anda terlalu gemuk, pupur anda terlalu tebal, lipstick anda terlalu merah, rambut anda perlu dicat, anda terlalu banyak merokok, dan satu lagi... anda masuk keruangan yang salah. Dokter ada di ruangan sebelah. Saya hanya pengantar koran."

---Teka-teki Kocak---
A: Kenapa badak kukunya warna merah?
B: Mmm... apa ya... 'gak tau...
A: Biar bisa sembunyi di balik pohon apel...
B: Ah bohong... mana ada badak sembunyi di balik pohon apel?
A: Gak pernah lihat 'kan?... berarti dia berhasil sembunyi...

---TIDAK MELIHAT---
Pada suatu hari ada seorang pengendara yang melanggar lalu lintas, dan terihat oleh seorang polisi yang berjaga dan memberhentikannya...
"Apakah sodara tidak melihat lampu merah?"( tanya seorang polisi kepada seorang pengendara sepeda motor).
"Saya lihat, Pak."
"Lalu kenapa sodara tidak berhenti?"
"saya tidak melihat bapak."

---Ibu-ibu MENYUSUI---
"Mas... mas... maaf kalo mau merokok di ruang merokok dong... ini sikecil terganggu dan jadi bangun..." ujar si ibu muda yg lagi menyusui bayinya.
"Ya mbak... maaf juga... mbak kalo mau nyusuin di ruang menyusui juga dong... ini si kecil saya juga terganggu dan ikut bangun..."

---OBAT ANEH---
Pasien : Dok, tolonglah sembuhkan penyakit saya. Saya sering berjalan di waktu tidur.
Dokter : Ini kotak yang bisa menyelesaikan persoalanmu. Setiap malam, ketika Anda sudah bersiap untuk tidur keluarkan isi kotak itu dan taburkan di lantai sekeliling tempat tidurmu.
Pasien : Kotak apa ini, Dok? apakah sejenis serbuk penenang?
Dokter : Bukan. Ini kotak paku payung.

---Gagal KB---
Seorang ibu menemui dokter untuk periksa kehamilan Dokter: Loh ibu ini kan yg tempo hari periksa, emang ibu hamil lagi ya?
Ibu: iya dok?
Dokter: apa obat KB yang saya beri tempo hari ibu tidak minum?.
Ibu: minum dok ! Dokter: lantas kenapa ibu bisa hamil??
Ibu: ya, gimana tidak mau hamil dok, obat baru nyampe leher, celana dalam udah nyampe lutut.

 ---Cerai---
Hakim: Kenapa mau bercerai?
Udin: Sudah tidak cocok lagi,
Pak Hakim. Hakim: Kok bisa gak cocok lagi?
Emangnya ukurannya siapa yang merubah?

Kata mutiara cinta terbaru

Kata mutiara cinta terbaru

Kata cinta memang dapat kita jadikan sebagai ungkapan rasa sayang kita pada sang kekasih . . . .
Berikut beberapa
Kata mutiara cinta terbaru ,silahkan di baca . . .
Sayang engkau bukanlah yang terbaik untuku, begitu pula denganku aku bukan yang terbaik untukmu
Engkau adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingiku menjadi yang terbaik.
Kita harus sedikit menyerupai satu sama lain
untuk mengerti satu sama lain
Tetapi kita harus sedikit berbeda
Untuk mencintai satu sama lain
Cinta yang belum matang berkata:
"Aku cinta kamu karena aku butuh kamu"
Cinta yang sudah matang berkata:
"Aku butuh kamu karena aku cinta kamu"
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Setetes kebencian di dalam hati
Pasti akan membuahkan penderitaan
Tapi setetes cinta di dalam relung hati
akan membuahkan kebahagiaan sejati
Kalahkan Kemarahan dengan Cinta Kasih
Kalahkan Kejahatan dengan Kebajikan
Kalahkan kekikiran dengan Kemurahan Hati
Kalahkan Kesombongan dengan Kejujuran - Disukai.Com
Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat
tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan
kebahagiaan selamanya
Luruhnya hati bukanlah suatu dosa, Maka Jangan Pernah
Takut untuk Jatuh Cinta
Cinta Tak Harus Saling Memiliki
Kadang Kala Mereka Harus Melepaskan Cinta Tersebut
Karena Cinta yang Sejati Selalu Ingin Membahagiakan
Orang Yang dicintai
Cinta itu seperti art yg indah dan agung,
berbahagialah yg pernah mendapatkannya meskipun tidak abadi
Cinta tidak membuat dunia berputar
Cinta inilah yang membuat perjalanan tersebut berharga
Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya. Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah hati seorang wanita.
Setetes kebencian di dalam hati
Pasti akan membuahkan penderitaan
Tapi setetes cinta di dalam relung hati
akan membuahkan kebahagiaan sejati
Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.
Kalahkan Kemarahan dengan Cinta Kasih
Kalahkan Kejahatan dengan Kebajikan
Kalahkan kekikiran dengan Kemurahan Hati
Kalahkan Kesombongan dengan Kejujuran
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama. - Disukai.Com
Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat
tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan
kebahagiaan selamanya
Jika kita mencintai seseorang
Berusahalan untuk tampil apa adanya
karena Cinta sejati selalu dapat
Menerima Kelebihan dan Kekurangan
Bagi seorang muslim dan beriman, cnta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah. Bentuk cinta dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan kita kepada Allah dan karena menggapai ridha-Nya.
Bahagialah bagi orang yang mengerti akan arti cinta,
Karena Cinta itu akan memberikan warna bagi kehidupannya
Cinta yang teramat besar kadang dapat membuat kita
tak bisa mencintai lagi
Perempuan diciptakan dari tulang rusuk Laki – laki
Bukan dari kepalanya untuk menjadi peneduhnya
Bukan dari kakinya untuk menjadi tumpuannya
Tapi dari sisinya untuk menjadi sama
Dekat dengan lengannya untuk dilindungi
Dan dekat dengan hatinya untuk dicintai
Cinta Tak Harus Saling Memiliki
Kadang Kala Mereka Harus Melepaskan Cinta Tersebut
Karena Cinta yang Sejati Selalu Ingin Membahagiakan
Orang Yang dicintai
Bel bukanlah bel sebelum engkau membunyikannya
Lagu bukanlah lagu sebelum engkau menyanyikannya
Cinta di dalam hatimu tidak diletakkan untuk tinggal di sana
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu, berdoalah pada waktu ashar hingga matahari terbit, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan”

Ketika Bintang Jatuh Cinta pada Hujan

Ketika Bintang Jatuh Cinta pada Hujan

Siang ini rintik hujan menyapa tepat begitu sepasang sepatu kets kesayanganku hendak melangkah keluar rumah. Semilir angin berhembus dan membuat setiap tengkuk yang dilewatinya bergidik kedinginan. Dua lapis baju hangat dan shawl yang aku gunakan nyatanya tak juga membuat rasa dingin enyah menyelimuti tubuhku. Seharusnya hujan gerimis di padu dengan suara merdu yang berasal dari iPod-ku ini membuat suasana semakin romantis. Aku suka hujan. Biasanya pun aku selalu menikmatinya dengan secangkir kopi atau cokelat panas, tapi kini aku acuh karena sedang terburu-buru. Ah semoga hujan tidak membesar, jangan dulu sekarang. Setidaknya tunggu hingga aku sampai di kampus, harapku dalam hati.
“Hhhhhh,” desahku panjang. Dingin.

Ini hari pertama kumpulnya para volunteer sebuah kegiatan sosial untuk mengkampanyekan suatu gerakan hemat energi. Aku turut serta di dalamnya dan aku tidak ingin terlambat. Kupacu sepeda motorku diiringi hujan kecil yang tak henti menggodaku dengan rintiknya.

Sesampainya di kampus aku melihat taman siang hari itu riuh ramai kedatangan sekelompok orang yang kebanyakan berstatus mahasiswa dari berbagai jurusan. Aku bertemu banyak teman di sini, baik yang sebelumnya sudah ku kenal atau bahkan baru kali pertama bertemu. Setahun belakangan ini aku memang lebih suka menyibukkan diri dengan melakukan berbagai hal yang menurutku sangat menyenangkan. Mencoba melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi diriku, terutama untuk orang disekitarku, mengikuti aktivitas sosial, mengajar anak-anak di rumah singgah dan beberapa aktivitas lainnya.

“Selamat datang. Selamat bergabung dengan kami,” kata itu pertama kali diucapkan. “Perkenalkan nama saya Rian, dari Jurusan Teknik Sipil. Saya koordinator organisasi untuk wilayah regional I Bandung. Sekarang silakan perkenalkan diri kalian masing-masing.”
Deg.
Dibalik kacamata aku bisa melihat matanya yang berwarna coklat. Cahaya matahari menerpa matanya setelah awan hitam beringsut di sapu angin. Matanya benar-benar berwarna coklat. Coklat tua. Bukan coklat yang disukai kebanyakan orang. Bukan coklat yang kemudian menghasilkan semburat agak kekuningan ketika di bias cahaya matahari. Ini sungguh coklat. Mata ini membuat aku terpana, sungguh menawan. Mata ini terlihat sangat tajam, bahkan cenderung terlalu sinis menurutku. Juga ia menyiratkan suatu ciri keangkuhan yang tak bisa aku jelaskan. Aku lihat di sana tersimpan banyak tanda tanya, entahlah tapi aku tetap suka coklat matanya. Namun tiba-tiba pandangan mata coklat itu bertabrakan dengan pandanganku. Aku gelagapan seperti pencuri yang ketauan mencuri jemuran, ternyata giliranku untuk memperkenalkan diri.
“Eh, nama.. Aku Reyna. Mmm, mahasiswa, Ekonomi semester 4 mmm..” ucapku memperkenalkan diri terbata.
Matanya berwarna coklat. Mata itu bergeser kesebelahku, lalu kembali lagi menatapku dengan nada yang berbeda. Mata itu berwarna coklat.
Aku jatuh cinta pada mata? Ah, yang benar saja.

Acara hari itu ditutup dengan pembagian divisi, dan aku tepat berada langsung di bawah kepemimpinan Rian, Si Mata Coklat. Hari menjelang petang. Hujan menari-nari dengan kasar di antara rindangnya dedaunan pohon yang berdiri tegap menahan angin pasang. Deras rintik hujan yang menyerang tanah dengan membabi buta menghasilkan wangi khas tanah basah. Aku suka..
“Ah, hujan lagi,” ucapnya tiba-tiba dari belakangku yang sedang menikmati aroma tanah basah.
Aku terlonjak sejenak, Si Mata Coklat. Kemudian dahiku mengeryit, “Kenapa? Kamu nggak suka hujan?”
“Hujan membuat bintang tak pernah muncul setelah ia datang bukan?”
“Kamu suka melihat bintang?” tuduhku.
“Kamu tahu nggak kalau bintang-bintang itu sudah menjadi bagian dari setiap kebudayaan?”
Aku menggeleng.
“Bintang digunakan dalam praktik keagamaan, dalam navigasi dan bahkan panduan dalam bercocok tanam. Kalender Gregorian, yang digunakan hampir di semua bagian dunia adalah kalender matahari dengan mendasarkan diri pada posisi bumi relatif terhadap bintang terdekat, Matahari,” Rian menjelaskan.
“Bukankah setelah hujan kelak bintang akan muncul satu persatu? Lantas kenapa kamu nggak suka hujan?” tanyaku.
“Entahlah. Hujan selalu berhasil membawa kita masuk kedalam bias memori yang telah memburam. Terkadang aku selalu merasa heran dengan hujan.. Kenapa setiap kali bulir yang berjatuhan seringkali membuat kita merindukan sesuatu yang sesungguhnya tak ingin atau bahkan tak boleh lagi dirindukan,” jawabnya yang membuat pikiranku penuh tanda tanya.

Pikiranku mengawang ke satu tahun silam, saat itu aku juga sempat membenci hujan. ‘Aku hanya ingin kita saling berpikir dan merenung. Aku ingin fokus belajar untuk bekerja dan menyelesaikan skripsi untuk saat ini lalu meneruskan S2-ku. Aku harap kamu mengerti, aku butuh jarak’, ucap Pandu sore itu. Aku mengangguk, mencoba mengerti. Baginya, aku hanya seorang gadis manja yang akan menghambat ia meraih mimpi-mimpinya, cita-citanya. Lalu, aku terisak, membiarkan hujan mengguncangi sekujur badan, hingga perlahan suara isak itu menjauh, melirih, membuat jarak dan mengantarkan kami pada waktu bernama jeda.

Pandu adalah cinta pertamaku. Dia tampan, tubuhnya tinggi menjulang, putih dan hidungnya mancung. Mungkin itu yang membuatnya disukai banyak gadis. Setiap kali pergi dengannya aku kerap kali melihat mata-mata iri dan sinis para wanita yang menatapku seolah berkata ‘Bagaimana bisa gadis ini mendapatkan pangeran tampan dari khayangan?’. Ah, tapi apa peduliku, sekarang dia milikku. Setahun lalu kami bertemu lagi. Sayangnya, seiring berjalannya waktu ia berubah, ia bukan Pandu yang dulu ku kenal. Sekarang dia telah menjelma menjadi seorang pekerja keras yang cuek dengan lingkungan sekitarnya, bahkan denganku. Hampir setiap akhir pekan ia habiskan untuk bekerja dan bekerja. Selama perpisahan kami yang pertama aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Namun sekarang dia ingin kami mengakhiri semuanya lagi dalam jarak yang dinamakan jeda.

Dalam jeda itu, nampaknya aku kelabakan memperlakukan rindu. Tak lama, rindu itu sungguh semakin kian mejadi rasanya dan akhirnya memaksaku mengakhiri jeda secara sepihak. Keinginanku untuk bertemu Pandu malam itu juga tak bisa di cegah. Namun setiba di rumahnya, buram, kulihat ada dua orang sedang bercengkrama mesra di ruang tengah, di tempat biasa aku dan Pandu bertukar canda. Tapi aku meyakini, itu Pandu dengan seorang wanita. Aku dikhianati orang yang paling aku sayangi. Aku kecewa.
Pada musim kemarau setelah itu aku pertama kali merindukan hujan, bukan rindu karena hujan. Hujan yang menyadarkanku bahwa di balik tangisku saat berjalan dengannya, aku bisa tersenyum bahkan tertawa tanpa ada yang tahu bahwa ada tetes luka yang keluar dari pelupuk mataku. Hujan tak hanya meneteskan duka ataupun meretas luka, ia juga bisa memulihkan luka bahkan menciptakan suka.
Lalu aku belajar melupakan semuanya, dengan mencintai hujan..

Mulutku tiba-tiba saja meracau, mengatakan hal yang seharusnya tak perlu dikatakan, “Kadangkala semua kenangan itu berkelebat secepat angin. Kadang masa lalu bisa menjadi keping terindah dari masa depan yang kita punya. Masa lalu memang tempat yang seringkali menyenangkan, tapi kita tahu kalau di sana tak ada masa depan. Hanya kenangan. Perlahan kita akan belajar untuk memahami kalau orang-orang di sana memang ada, untuk memberi kita sebuah pelajaran. Mau pahit atau manis, nikmati saja.”
“Maksud kamu?” tanya Si Mata Coklat itu antusias.
“Eh by the way, kamu anak Astrologi?” tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Giliran dia yang menggeleng.
Aku tak suka hujanku di hina orang. Aku masih tak habis pikir dan sedikit tak menerima semua alasan dia untuk membenci hujan.
“Kamu harus menyukai hujan..” ucapku.
Dia tersenyum sinis, “Kamu bilang kamu pecinta hujan?” tanyanya dengan nada satu oktaf lebih tinggi. “Aku tak habis pikir. Kamu bilang kamu cinta hujan, tapi saat hujan seperti sekarang ini kamu meneduh, menghindar, enggan bermain dengannya.”
Memang benar apa yang ia katakan, aku berkoar bahwa aku sang pecinta hujan tapi aku selalu mencari perlindungan dari derainya. Aku terdiam. Tak bisa mengelak, apalagi membela diri. Hujan ini tidak biasanya, langit sepertinya sedang berduka, seperti sedang kehilangan orang paling terkasih. Dia mengamuk hebat dengan halilintar dan kilat yang mengerikan. Aku tak mampu berbuat apa-apa selain menatap hujan.
Lima menit..
Sepuluh menit..
Hujan tak juga memberi tanda akan segera reda..
Aku melirik lelaki sebelahku ini, sadar dirinya diperhatikan lalu mata itu menatapku tajam dan tersenyum sinis penuh makna. Hanya ada dua pilihan, aku diam menunggu hujan berdiam dan semakin membuat mata itu menatapku dengan tatapan menghujam. Atau.. aku menerobos hujan lalu membuatnya meng-iya-kan kalau aku memang menyukai hujan.

Tiba-tiba, aku berlari, menerobos riuh ramai yang diciptakan oleh dawai hujan. Aku sempat melihat dia tergaket, tapi aku tak perduli. Aku terus berlari. Sekujur tubuhku sudah basah bahkan sampai bagian pakaian yang paling dalam. Aku menerobos hujan dan keramaian. Tiba-tiba tanganku dicengkram begitu keras lalu dia menarikku..
“Kamu ini apa-apaan sih! Jangan kayak anak kecil dong,” Si Mata Coklat berteriak di antara hujan. Dia menyusulku.
“Apa? Anak kecil?” bentakku sambil berusaha melepas genggaman tangannya yang keras.
“Iya! Kamu itu kayak anak kecil! Kenapa? Kamu tersinggung sama yang aku bilang soal hujan tadi?” dia menarik tanganku untuk mencari tempat berteduh.
“Lepas!” bentakku. “Apa pedulimu? Tau apa kamu soal aku dan hujan? Hah?”
Dia mendengus, “Jadi kamu mau hujan-hujanan? Oh! Silakan sana. Bilang pada hujanmu kamu habis di hina olehku. Dasar anak kecil!”
Aku menarik tanganku dari genggamannya dan kembali berlari. Aku mencari motorku dan segera memacunya pulang.
“Dasar keras kepala!” ucapnya kesal sambil menendang tong sampah. Kemudian dia berlari menuju tempat di mana dia menaruh sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan aku menangis. Aku mengutuk Si Mata Coklat yang memaksaku untuk bercumbu dengan hujan badai. Ada rasa sesak saat dia membentakku, ada rasa sesak ketika aku melihat mata coklatnya.

Sesampainya di rumah aku segera memasukan motor ke garasi dan bergegas ke kamar mandi. Udara saat itu sedang tidak bersahabat, seusai mandi bersin tak henti menyerangku. Ah sial, gerutuku.
“Kak, ada temanmu tuh menunggu di luar. Kehujanan. Kenapa kamu nggak bilang pulang di antar teman?” tanya Ibu. “Ibu sudah beri dia handuk, baju dan cokelat panas. Untukmu juga Ibu simpan di sana. Ayo sana temui dulu, kasihan dia kebasahan,” lanjutnya.
Teman? Siapa? Aku kan sendirian, pikirku dalam hati. Setelah menggunakan empat lapis baju hangat aku beranjak untuk ke ruang tamu, melihat siapa yang datang.
Deg.

Si Mata Coklat.

“Ngapain kamu kemari? Kamu ngikutin aku?” tanyaku sewot masih terkaget.
Mata itu sendu, seperti menyesali sesuatu, “Aku minta maaf, aku nggak bermaksud menantangmu untuk hujan-hujanan tadi. A.. aku nggak bermaksud membentak kamu tadi,” ucapnya tulus. Lagi-lagi mata itu seolah berbicara, ada binar penyesalan di sana.
“Maafkan aku..” pintanya lagi. Aku mendesah dan pasrah.
Setelah memberinya baju kakak sepupuku, kami mengobrol di teras rumah sambil menunggu hujan ditemani secangkir cokelat yang sudah menghangat buatan Ibu. Aku tak mau orang ini sakit lantaran kebasahan sekujur badan.

Si Mata Coklat ini orang yang cukup menyenangkan ternyata. Dia berasal dari kota di ujung Indonesia, Sabang, dam dia kuliah di sini atas hasil beasiswa pemerintah dari prestasinya. Sekarang dia menjadi ketua di beberapa organisasi sosial di Bandung. Hebatnya lagi dia juga menjadi seorang asisten dosen di kampus. Sepanjang pembicangan Si Mata Coklat bercerita dan seringkali membuat aku terbang melayang. Ah tuhan, bisik hatiku.

Malam itu kami berbincang seperti dua kawan lama yang lama tak berjumpa, padahal ini hari pertama pertemuan kami. Memperbincangkan segala hal, mulai dari obrolan warung kopi sampai politik kelas dunia sambil menunggu redanya hujan. Kami tertawa lepas di balik derasnya suara hujan. Tapi di sana juga ada duka, saat dia menceritakan kenapa dia membenci hujan. Kami sama-sama dikhianati. Dibohongi orang-orang yang kami sayangi.

Yuna, dia memanggilnya. Dia itu bagaikan bulan, cantik benderang. Bulan memang selalu terlihat paling terang di antara ribuan bintang dan Rian memujanya. Rian dan wanita itu menjalin hubungan cukup lama, 4 tahun. Dia bahagia mendapatkan seorang wanita yang cantik juga menawan. Hidupnya sempurna, dia juga mempunyai seorang kawan dekat, Prio. Hampir tak ada satu weekend pun mereka lewati bersama. Namun, seiring kesibukan Rian mengejar prestasi akademis, ia seringkali melewatkan waktu bersama keduanya. Tanpa sepengetahuan Rian, Yuna dan Prio sering bertemu, bertukar cerita, bertukar canda sampai ternyata benih cinta itu ada.

Suatu malam, saat Rian ingin memperlihatkan piagam yang dibawanya dari Negara Tetangga dalam sebuah kompetisi debat kelas dunia kepada sahabat dan wanita yang dia cintai.. Mereka berdua bergenggaman tangan dengan erat. Wanita itu meminta maaf, dia bilang kalau dia mencintai sahabatnya sendiri. Sedangkan Prio tak berkata apapun, dia hanya menunduk. Seketika itu juga semua terasa sakit, seperti di hunus seribu jarum kecil, dikhianati.. Dua orang yang selama ini memberikan semangat agar dia bisa terus berprestasi. Dua orang yang selalu menjadi pemacunya saat mulai goyah dan putus asa. Dua orang yang paling dia sayangi.. Dia berbalik dengan rasa sakit yang mungkin tak ada obatnya.

Malam itu pertama kalinya dia ingin melihat bintang tanpa ada bulan. Tapi hujan menutup cahaya bintang dan setelahnya hanya bulan yang muncul, bintang tetap tertutup awan hitam. Semenjak malam itu pula mereka tak pernah lagi bertemu. Rian mendapatkan beasiswa dan pindah ke kota ini.

Satu jam, dua jam, tiga jam..
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, sungguh tak terasa. Sesungguhnya hujan sudah mereda dari pukul 11 tapi aku dan dia sama-sama terlarut dalam kata serta tawa, seolah tak peduli, tak ingin mengakhiri hari ini..
Tiba-tiba dia melirik jam.
“Na..” panggilnya. “Sudah malam, aku harus pulang. Nggak enak sama Ibumu juga.”
“Oh iya,” aku tak bisa menyembunyikan kecewaku.
“Sekali lagi aku minta maaf ya,” ucapnya tulus.
“Eh, kamu pernah ke Observatorium Bosscha?”
Dia menggeleng.
“Kamu bisa melihat bintang di sana.” Aku melanjutkan, “Aku mau maafin kamu asalkan kamu temani aku kesana. Besok aku jemput kamu di taman kampus tepat jam 3 sore ya. Jangan telat” perintahku.
Dia mengangguk. Pasrah.

***

Yang kutahu langit di luar sana sudah terlewat kelam. Entah sudah berapa kali aku mengintip jendela hanya untuk melirik warna di luar sana. Malam terasa dua kali lebih lama dari biasanya. Hari ini aku di landa insomnia. Jarum jam di tanganku sudah mengarah ke angka 3, tapi aku sama sekali belum mengantuk.
Massa kelopak mataku serasa bertambah berat, tapi anehnya ia tak kunjung ingin terpejam. Saat seperti ini, menghitung domba pun tak ada guna rasanya. Apa mungkin ini karena dingin yang masih saja memelukku erat, seolah menembus setiap celah pori-poriku atau mungkin karena aku tak sabar menunggu untuk lagi menatap Si Mata Coklat.
Biasanya kopi menjadi teman setia yang menemaniku saat tetap terjaga, tapi tidak kali ini, perbincangan itu, mata itu, aku ingin menikmati semuanya.

***

Diam mengiringi perjalanan kami menuju Lembang sore itu. Observatorium Bosscha adalah lembaga penelitian astronomi modern yang pertama di Indonesia. Observatorium ini di kelola oleh Institut Teknologi Bandung dan mengemban tugas sebagai fasilitator dari penelitian serta pengembangan astronomi di Indonesia. Dalam program pengabdian masyarakat, melalui ceramah, diskusi dan kunjungan terpandu ke fasilitas teropong untuk melihat objek-objek langit, masyarakat diperkenalkan pada keindahan sekaligus deskripsi ilmiah alam raya. Dengan ini Observatorium Bosscha berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga merupakan tempat bagi masyarakat umum untuk mengenal dan menghargai sains.

Pukul 5 sore itu kami sampai di depan gerbang Observatorium Bosscha yang tertutup. Aku menyuruhnya turun untuk bertanya pada satpam.
“Hari Minggu tempat ini tutup,” ujarnya jengkel seperti habis berdebat dengan satpam.
Aku hanya tersenyum, “Aku tahu.” Beberapa kali aku kemari sejak menduduki bangku sekolah dasar dan aku tahu pasti kalau setiap Hari Minggu, senin ataupun hari libur nasional tempat ini tutup.
“Lalu untuk apa kamu bawa aku kemari?” tanyanya. Nada mukanya menyiratkan nada kesal.
Aku turun dari mobil, tersenyum dan mengacuhkan pertanyaannya dengan berjalan menuju satpam. Aku meminta ijin kepada satpam hanya untuk sekedar melihat-lihat lokasi teropong bintang dari luar, sebentar saja, dengan alasan bahwa temanku yang satu itu jauh-jauh kemari dari pulau seberang.

“Itu gedung kubah di Observatorium Bosscha ini. Di dalam ada teleskop ganda Zeiss 60 cm yang merupakan teleskop terbesar dan tertua di Observatorium ini. Katanya teleskop itu bisa mengamati bintang-bintang yang jauh lebih lemah, kurang lebih 100.000 kali lebih lemah dari bintang yang dapat di lihat oleh mata telanjang,” ucapku bangga masih mengingat penjelasan sang pemandu kala aku berkunjung kemari dalam rangka acara sekolah dulu.
“Kalau cuaca cerah, kubah biasanya di buka jadi kita bisa melihat benda di angkasa dari teropong di dalam itu,” tambahku. Nada mukanya menyiratkan kekesalan di tambah kecewa karena tidak bisa melihat apa yang aku ceritakan soal teropong bintang di Observatorium Bosscha ini. Tapi aku punya kejutan lain untuknya, sesuatu yang juga berkilau layaknya bintang.

Langit mulai menghitam, pertanda petang segera datang. Aku mengajaknya masuk ke mobil untuk pergi menikmati sajian ketan bakar dan bandrek hangat khas Lembang sebelum ke tempat dimana aku akan membawa bintang untuk mata coklatnya.
“Kita mau kemana?” tanyanya heran.
Aku tersenyum penuh makna, membuat mata itu mendelik penuh tanda tanya.
Selamat datang di kawasan Dago Resort..
Kami turun dari mobil. “Orang Bandung bilang ini bukit bintang,” ujarku menatap gemerlap lampu kota dari atas bukit di kawasan Dago Resort.
Dia menghela nafas panjang, masih takjub dengan pemandangan di hadapannya ini. “Indah..”
“Jangan membenci hujan.. Di sini, kamu akan tetap bisa melihat bintang walaupun hujan datang,” ucapku.
Kami berdua terdiam.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
“Susu panas atau kopi?” aku mencoba melunturkan diam. Hawa dingin memaksaku untuk segera bergerak mengambil jaket dalam mobil.
“Cokelat panas sepertinya menyenangkan,” pintanya sambil memamerkan senyum terindah dari matanya. Ah, lagi-lagi mata itu membuat aku melayang. Apa aku jatuh cinta? Ah, yang benar saja, bisik hatiku.

Tak lama berselang, aku menghampirinya dengan secangkir cokelat panas, “Kamu sudah siap pergi?”
“Maksud kamu?” setengah kaget, dia menoleh. “Kita kan baru saja datang kemari.”
“Iya, aku tahu. Maksudku, apa kamu sudah siap untuk pergi dari masa lalu?”
Dia kaget dan lagi mata itu menyiratkan suatu tanda yang aku tak paham, “Entahlah. Sebegitu terlihatnya kah kesedihanku? Padahal aku sudah berusaha keras menutupinya,” ucapnya sambil mencoba tertawa kecil yang terlihat dipaksakan.
“Entahlah, dari ceritamu kemarin itu yang aku simpulkan.”
Dia terdiam.
“Ada yang bilang kalau mata adalah cerminan hati.” Sambil memalingkan muka dengan lirih aku berkata, “Dan aku melihat rona duka yang terpancar di mata kamu.” Di mata coklat indah milikmu, aku membatin.
Aku duduk di atas kap mobil, dia mengikuti gerakanku. Semilir angin berhembus diiringi hawa yang dingin pertanda hujan akan segera datang.

“Ada sesuatu di kepalaku. Sesuatu yang membuatku belum bisa beranjak dari masa lalu,” katanya lagi.
“Kamu masih cinta dia?”
Dia tersenyum, “Iya. Dialah yang memberiku bahagia selama ini.”
“Lalu, apakah dia bahagia dengan pilihannya sekarang?”
“Harusnya. Setelah dia lebih memilih pria itu dan meninggalkanku, aku pikir dia pasti lebih bahagia sekarang.”
“Kalau dia bisa bahagia, mengapa kamu masih bersedih?”
Mata itu menatapku tajam, “Lantas bagaimana denganmu? Apa kamu juga sudah sepenuhnya pergi dari masa lalu?”
Aku terdiam. Lama.
“Jangan mendikteku untuk meninggalkan masa lalu. Jangan mengajariku untuk belajar menyembuhkan luka dan menghapuskan duka. Kamu nggak tau apa-apa soal masa laluku! Kamu nggak tau apa rasanya sakit di khianati dua orang yang paling kamu sayangi!” ucapnya dengan nada sedikit meninggi.
Aku terhenyak, sedikit kaget dengan jawaban dan nada suaranya yang meninggi. “Nggak.. aku sama sekali nggak bermaksud mendikte apalagi mengajari kamu. Aku juga punya kenangan yang kelam dengan masa lalu.. kamu juga nggak tau seberapa keras aku berperang dengan bayang-bayang. Kamu juga nggak tau apa-apa! Kamu nggak tau seberapa keras aku mencoba berdamai dengannya, dengan perasaanku, dengan diriku sendiri. Aku kan hanya bertanya..” ucapku diiringi air mata yang turun tanpa permisi.
Rian terkaget. Dia tiba-tiba menarik tubuhku, memelukku erat..
“Aku minta maaf, lagi-lagi aku membentakmu. Aku minta maaf..” ucapnya. “Jangan menangis. Maafkan aku..” Pelukan Si Mata Coklat semakin erat. Aku terus menangis, mengeluarkan apa yang selama ini aku pendam. Rasa sakit dan kecewa. Dalam pelukan itu aku mendengar degup jantungnya yang begitu kencang, seperti hentakan kuda dalam pacuan.

Aku melepas pelukkannya, berpaling, enggan menjawab. Sejenak aku memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Aku tak mendengar apa-apa. Bahkan, desah nafas Si Mata Coklat sama sekali tak sampai ditelingaku. Sepi sekali. Tapi, lamat-lamat ada suara hujan mendekat ke arahku. Dia mengikutiku, memejamkan mata.
“Apa kau mendengar sesuatu?” tanyaku dalam pejam.
“Ya, aku mendengarnya. Itu suara hujan. Lalu ada apa dengan suara itu?”
“Apa kau tak pernah merindukan hujan?”
“Beberapa waktu yang lalu, hujan membikinkanku rindu. Tapi hari ini, pertama kalinya aku merindukan hujan.”
Dalam pejam aku tersenyum, aku selalu merindukan hujan. Dan sepertinya Si Mata Coklat ini mengerti perihal rindu yang kumaksudkan. Ya, rindu pada hujan, bukan rindu karena hujan. Lalu, suatu yang hangat menyentuh bibirku, ia memaksaku membuka mata pelan-pelan dengan sedikit terhenyak, sejenak waktu melenyap, kosong, benar-benar kosong.
“Terima kasih,” ucapnya.
“Untuk?” tanyaku heran masih bercampur kaget. Dia hanya tersenyum sambil menatap bintang dan menikmati rintik yang menghujani kami.
Hujan menghadirkan aroma-aroma menyegarkan. Ini hujan kedua kami, namun hujan ini adalah hujan pertama di mana dia bisa melihat bintang tetap bersinar terang. Hujan kali ini sangat rupawan. Bagai berlian-berlian kecil yang berjatuhan. Tapi, begini lebih menyenangkan. Kami berjalan beriringan, bercerita sepanjang jalan. Hujan pun menjadi segan, ia berhenti untuk meninggalkan genangan yang nanti akan kami sebut kenangan.
Akhirnya kami sampai di depan rumah kostnya. Mata itu menatapku tajam seolah enggan untuk pulang.
“Terima kasih,” katanya lagi. “Aku mau belajar menyukai hujan.”
Aku tersenyum dan mengangguk.
Dia turun dari mobil. Aku membuka kaca mobil bagian kiri, “Oh iya, aku sudah jadi pengagum bintang sejak kemarin siang.” Ucapku sambil menatap bintang. Bintang di matanya…
Mata itu tersenyum. Beradu pandang.
“Sampai jumpa esok,” seru Si Mata Coklat.

***

Ada satu bintang, tidak terlalu terang tapi tetap indah lagi mempesona. Bintang yang bersinar di bawah termaram hujan. Mungkin tidak seterang bulan.. tapi aku harap ia akan lebih baik dari bulan yang ternyata gerhana, bisik hati Rian.

***

Biarlah seribu bintang tertutup awan. Cahayanya ternyata berpindah pada sepasang mata yang menawan. Ya, kamu, aku bicara padamu, pria bermata tampan, bisik hatiku.
Lalu, alunan musik Efek Rumah Kaca berjudul Desember mengiringi perjalananku pulang.

“Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember~”



Cerpen Karangan: Anggi Agistia

Bintang Kekasih

Bintang Kekasih

Begitu banyak bintang dilangit. Tapi mengapa kita tak bisa memiliki satu bintangpun diantara persekian triliun bintang itu? -Inez

Tentang Fadil

Sudah selarut ini aku belum tidur. Tak seperti biasanya aku begini. Aku benar-benar merasa tak enak pada Inez. Kemarin aku baru saja memutuskannya. Itu semua gara-gara aku melihatnya berjalan berdua bersama pria lain. Apakah selama hubunganku dengannya dia menyembunyikan semua ini?
Tapi aku benar-benar mencintai gadis ini. Aku cemas padanya kini. Salahku mengatakan kata-kata itu.

***

“Jadi selama ini kau..”

“Tidak, ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku bisa menjelaskan semuanya” Pinta Inez padaku.

“Aku tak perlu penjelasan darimu semuanya sudah jelas! Mulai saat ini kita putus!” Bentakku padanya, aku berbalik tak ingin menatapnya. Aku benar mendengar langkahnya berlari pergi, dia berlari menjauh. Sementara pria itu memegang pundakku.

“Ini semua tak seperti yang kau lihat”

“Diamlah!” Aku menepisnya.

“Bahagialah bersamanya” Lanjutku.

“Brukk” Tiba-tiba ku dengar suara hantaman keras, aku langsung berbalik, pria itupun sama. Seketika aku tak percaya apa yang terjadi

“I.. nez”



Peristiwa itu, masih tergambar jelas tiap detik malam itu. Satu kenangan yang sangat ingin aku lupakan. Kenangan yang terlalu pahit untuk ku ingat. Namun aku benar-benar tak bisa menolak apa yang telah terhampar disini. Yang paling ku sesali adalah ketika mengetahui pria tersebut adalah kakaknya sendiri.

***

“Inez” Lirihku menggenggam tangan dingin kecilnya. Kini dia hanya bisa berbaring diranjang dengan bantuan alat pernafasan dan selang infusan ditangannya untuk menambah umurnya walau dalam keadaan tak sadar. Apakah dia akan koma selamanya?

Aku benar-benar dapat melihatnya kini. Melihat wajah ayunya yang lugu, mata bulat kecilnya yang tertutup, hidung mancungnya yang mungil, bibir tipisnya yang manis. Aku benar-benar masih ingat kenangan-kenangan indah yang mungkin terlalu manis untuk dilupakan.


“Mengapa bintang dilangit sangat banyak ya?” Ucapku padanya. Dia hanya tersenyum kecil mendengarnya.

“Begitu banyak bintang dilangit. Tapi mengapa kita tak bisa memiliki satu bintangpun diantara persekian triliun bintang itu?” Desahnya.

“Mengapa ada bintang dilangit?”

“Orang bilang, setiap orang meninggal akan diangkat jiwanya dan akan menjadi bintang dilangit. Dan bintang yang paling bersinar menandakan bahwa orang itu telah hidup bahagia disana” Jelasnya. Aku tersenyum mendengar dia. Diapun menyandarkan kepalanya dibahuku. Aku mendekapnya.
“Bintang dilangit memang tak bisa dimiliki. Tapi bintang yang ada disisiku bisa dimilki tidak ya?” Desisku padanya.
“Menurutmu?”

“Inez maafkan aku, sampai kapan kamu akan begini? Aku tahu aku adalah lelaki bodoh, aku bodoh, aku seharusnya tak memutuskanmu Inez” Isakku padanya. Aku sungguh tak kuasa menahan air mataku melihat keadaannya kini. Aku menyesal telah membuatnya seperti ini. Jika aku tak mengucapkan hal itu tak mungkinlah dia begini.

“Sudahlah ini hanya kecelakaan, jangan salahkan dirimu” Bella menyemangatiku. Aku hanya diam saja. Dan tetap melihat Inez. Aku menatapnya dalam-dalam, masih terlukis jelas dibenakku seuntai senyumnya. Senyum yang paling manis yang aku lihat.



“Kau tahu disekitar sini banyak ruh berkeliaran” Ucapnya menakut-nakutiku.

“Aku tak percaya” Kelakarku.

“Kau masih tak percaya? Ruh orang-orang yang sedang koma atau tak sadar sedang berada disini. Mereka mengintaimu Fadil, mereka ingin bermain denganmu” Ucapnya ditelingaku.

“Merekapun ingin bermain denganmu”

“Ish” Desahnya. Aku tertawa-tawa melihatnya.
 


Saat itu, dia bilang ruh orang yang koma atau tak sadar sedang berkeliaran disini. Tunggu. Berkeliaran. Apakah dia ada disini juga?

Ahh mustahil. Dia hanya bermain-main saja, aku tahu benar sifatnya.

“Aku disini” Seseorang mendesah.

“Apa siapa itu? Inez, Inez” Aku mencari-cari asal suara itu, namun aku tak kunjung menemukan siapa itu. Disini hanya ada aku dan Inez.

***

Tentang Inez

“Aku disini Dil, disini. Apakah kau tak melihatku? Kau harus percaya Fadil, percaya apa yang aku ucapkan” Aku terus mendesah padanya. Berbagai cara telah ku lakukan agar dia bisa melihatku, namun selalu menghasilkan yang sama. Gagal.

“Fadil” Aku meraih sedikit bahunya. Ku lihat jelas raut wajahnya yang lusuh. Dia pasti mencemaskanku. Maafkan aku Fadil.

“Mengapa kau tak bangun Inez?” Keluhnya sendiri.

“Aku disini, lihat aku Fadil”

“Tega kau melakukan ini padaku Inez” Desahnya lagi.

“Aku tak pernah bermaksud menyakitimu” Aku terduduk didepannya. Menatap mata dan wajahnya. Benar-benar penuh dengan kesedihan. Maafkan aku.

“Sadarlah, dan katakan bahwa kau bisa hidup lagi. Bisa menemaniku disini lagi Inez. Bisa terus bersamamu” Kini dia makin menangis. Aku menyentuh pipinya yang penuh air mata. Aku tahu dia tak dapat melihat dan mendengarku, tapi aku yakin dia merasakanku.

“Aku bisa menemanimu Fadil, terus bersamamu. Dihatimu Fadil, namun aku tak pasti akan kehidupanku lagi. Tak pasti” Aku menyeka air matanya walau aku tahu aku tak bisa. Tiba-tiba dia berdiri, aku benar-benar kaget. Diapun pergi meninggalkan tubuhku. Seketika aku mengikutinya.

“Jadi dia tak akan bangun lagi?” Tanya Fadil serius. Aku sedikit mendengar pembicaraan Fadil dan Bella.

“Dokter bilang, sudah tak ada harapan lagi, dan dia akan koma selamanya, dia bisa bangun jika terjadi keajaiban” Bella terisak, aku kaget mendengar semua ini, Fadil terduduk di ruang tunggu sambil menangis dan menunjukan wajah bingung juga resah. Aku terduduk disampingnya sambil terisak. Aku memeluknya walau aku tahu pelukanku tak nyata.

“Tuhan, jika kau izinkan saja sekali aku untuk bisa menyampaikan kata terakhir padanya” Isakku. Seketika cahaya putih menyilaukan mataku.

 ***

Tentang Fadil

“Kau tahu saat matahari terbenam dia pergi kemana?” Tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng pelan.

“Memangnya kemana?”

“Dia sedang bersembunyi” Ucapnya lagi.

“Hahah, leluconmu tak lucu” Ejekku. Dia hanya memonyongkan sedikit bibirnya.

“Aku serius.” Ucapnya lagi.

“Kau tahu. Bumi ini berputar mengelilingi matahari. Akibatnya sebagian bumi yang sebelah barat tak tercahayai oleh matahari. Karena itu dia berada di timur. Ketika sore, bumi yang tadinya tak tercahayai matahari tercahayai karena bumi terus berputar. Akibatnya matahari tenggelam” Jelasku padanya.

“Kau salah”

“Kau keras kepala.”

 “Kau tahu kenapa matahari bersembunyi?” Tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng.

“Karena dia sedang mengintip kita dan pura-pura tak melihat kita. Dia malu jika dia harus memperpanjang waktunya. Akibatnya dia bersembunyi dibalik bulan. Dan kau tahu mengapa bulan berubah bentuk?”

“Aku tak ingin menjawabnya, pasti selalu salah” Ucapku kesal.

“Haha, begitu banyak benda di dunia ini yang tak kita mengerti” Desahnya. Diapun merangkul tanganku yang kebetulan saat itu kami sedang tiduran di taman sambil menatap bulan. Dengan posisi yang berbalik antara aku dan dia, itu adalah saat yang romantis untukku.

“Bisakah kita mengulangnya lagi Inez” Seruku sambil memanggil namanya.

“Aku harap kita bisa melakukannya” Seru seseorang yang mungkin tak asing kedengarannya. Aku sangat kaget saat itu juga. Aku berbalik dan kulihat

“Inez. . Kau?” Aku sedikit tergagap melihatnya kini ada di depanku.

“Tidak-tidak, dia tak nyata itu hanya halusinasi” Akupun mulai berbalik dan hendak pergi meninggalkan
rumahku dan menuju rumah sakit.

“Aku nyata” Ucapnya lagi. Aku yang saat itu sedang berjalan, terhenti seketika.


“Aku nyata. Apakah itu masih kurang untuk membuatmu percaya padaku?” Desahnya lagi. Aku berbalik lalu aku mulai menatap matanya. Persis ku lihat pandangan itu, pandangan yang selalu ku rindukan. Persis ku lihat seulas senyum menyinari wajahnya.

“Kemarilah, aku tahu kau tak akan percaya ini”

“Apakah aku tak bermimpi Inez?” Tanyaku padanya. Dia tersenyum padaku walau aku tahu ada raut sedih dimatanya.

“Maafkan aku Inez” Akupun langsung berlari menghampirinya lalu memeluk erat-erat tubuhnya.

“Inez maafkan aku”

 “Tidak, aku yang harusnya minta maaf padamu. Aku membuatmu terpuruk seperti ini, aku mengaku salah” Sesal Inez padaku.

“Tidak nez, jujur saja. Jika aku tak memutuskanmu semuanya akan baik-baik saja. “Aku terisak sambil melepaskan pelukanku.

“Sudah sekarang kita tak perlu saling menyalahkan. Ini semua sudah takdir yang dijanjikan Tuhan” Tenangnya padaku.

“Inez, aku menyesal telah memutuskanmu. Mari kita mulai lagi cinta kita” Pintaku padanya. Dia terdiam.

“Tidak kita tak bisa melakukannya lagi. Kita sudah berbeda dunia” Jelasnya padaku.

“Apa maksudmu?”

“Aku tak bisa kembali lagi padamu” Desahnya sambil menahan air matanya.

“Mengapa tidak jelas sekali sekarang kita ada disini, kita bisa bersama” Ucapku

“Tidak, kita tak bisa” Dia terus meyakinkanku.

“Mengapa begitu? Ayolah buat lelucon dan kata-kata lucu untukku lagi. Buatlah pertanyaan yang selalu aku salah menjawabnya. Buatlah. Aku rindu itu sangat.” Desahku sambil menangis.

“Jangan menangis, akupun merindukanmu. Kau bisa mengingat kata-kataku. Bintang tak mungkin bisa dimiliki, namun ada saatnya kau bisa melihat bintang yang ingin kau miliki bersinar padamu.”

“Maksudmu?” Aku benar-benar tak mengerti apa yang dia ucapkan.

“Kau akan mengerti suatu saat nanti. Mungkin ini adalah saat yang sempurna untuk mengatakan selamat tinggal padamu.” Dia mencoba tegar sepertinya walau ku tahu apa yang diinginkan kata hatinya.

“Apa? Secepat itukah? Mengapa kau harus pergi sekarang?” Aku terus menarik tangannya, namun dia hanya terdiam.

“Banyak urusan yang belum ku lakukan disini. Namun aku tahu takdir mengatakan aku harus berpisah secepat ini, berjanjilah untuk tetap saling menyayangi.” Ucapnya, aku semakin menggenggam erat tangannya namun perlahan tangan itu terlepas.

“Inez, Inez, jangan lakukan ini” Ucapku padanya tapi dia hanya terdiam seketika bayangan putih membawanya dan dia hilang.

“Inezzzz”

“Fadil” Tiba-tiba Bella datang dengan penuh isak tangis, aku memandangnya heran.

“Ada apa Bel?”

“Inez, Inez, dia dia dia sudah tak ada” Desahnya sambil mengeluarkan buliran itu. Dia terlemas dipangkuanku, aku mengelus-elus kepalanya tak percaya apa yang terjadi.

***

Aku terduduk ditaman biasa aku bersama Inez, taman ini menyimpan berjuta kenangan bersama Inez, semuanya indah tak ada yang tak indah. Malam ini seakan-akan aku akan mengingat kata-kata Inez.
Ku ambil buku dan ku tulis sesuatu disana,

“Inez kau tahu, aku disini melihat banyak bintang, dan kau bilang aku bisa melihat bintang yang ingin ku miliki bersinar. Kau juga bilang, jiwa orang yang telah meninggal diangkat dan akan menjadi bintang, akankah kau bersinar untukku?”

Seketika ku lihat langit dan ku lihat satu bintang memancarkan sinarnya dan kembali ke sinar semula.
“Inez”



SELESAI




Cerpen Karangan: Selmi Fiqhi

Selembar Kertas Kesedihan

Di sebuah sekolah dasar terdapat banyak siswa yang mempunyai banyak bakat, salah satunya adalah B’tari Calista Febrianty yang sering disapa dengan sebutan Calista ini anak kelas VI yang mempunyai banyak bakat, seperti salah satunya adalah melukis ia juga selalu aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler dan Calista juga aktif di kelas.

Tetapi semua itu berakhir ketika Calista melemah karna menderita tumor ganas. Semua teman-temannya rindu akan Calista yang dulu, sekarang ia jarang berangkat ke sekolah, semua itu terjadi dengan tiba-tiba.
Di ruang kelas Calista yang semuanya terdiri dari perempuan ini terlihat sangatlah sepi tanpa kehadiran Calista. “aku kasihan melihat Calista yang sangatlah melemah, aku rindu akan semangatnya” ucap teman sebangkunya bernama Dewi “gimana kalau nanti sepulang sekolah kita kerumah Calista” saran Windy “aku setuju banget win, aku kangen banget sama Calista, ia sudah hampir 2 minggu ini tak pernah berangkat sekolah” jawab dinda. Seorang gurupun masuk ke kelas mereka “selamat pagi anak-anak” sapanya “pagi miss” jawab para murid serempak “ibu perhatikan Calista jarang berangkat minggu-minggu ini, mengapa?” tanya guru tersebut “katanya keadaan Calista saat ini semakin parah miss, makanya kita sepulang sekolah kita akan kerumah Calista untuk melihat keadaan Calista miss” jawab windy “memangnya Calista sakit apa win? Kok sampai 2 minggu ini ga berangkat” “akupun tak tau, gimana kalau miss riri ikut kita kerumahnya Calista agar tau keadaannya” saran windy “iya miss riri akan ikut” jawab guru tersebut.
Jam pulang sekolahpun sudah tiba. Windy, dewi, dinda dan miss riri segera pergi kerumah Calista. Setibanya di sana, “assalamu’alaikum” miss riri mengetuk pintu rumah Calista dan seorang perempuan setengah baya membukakan pintu “maaf anda siapa ya?” tanya ibu setengah baya itu “saya riri bu, saya guru kelasnya Calista” jawab miss riri “oh mau bertemu Calista” “iya bu” jawab miss riri menganggukkan kepala “ayo masuk” ajak ibu itu. Merekapun masuk dan ibu itupun mempersilahkan kita duduk di sofa “saya panggilkan dulu calistanya bu” “iya bu” ibu itupun pergi memanggil calista yang sedang tertidur di kamarnya.
Sudah lama kemudian ibu itupun menghampiri kita kembali tanpa membawa Calista. “loh bu, Calista mana?” tanya miss riri “maaf bu, calista sedang tidur saya ga tega membangunkannya” “tidak apa-apa bu, trus bagaimana sekarang keadaan calista bu?” “calista sekarang ini, hari-hari ini semakin melemah bu semenjak ia menderita tumor di kepalanya” jawab ibu itu dengan wajah memerah “sabar ya bu, memangnya apa kata dokter bu?” tanya miss riri “saya belum membawanya ke dokter minggu ini bu, karena biaya yang cukup mahal kita habiskan untuk sekali memeriksa calista bu” ibu itu meneteskan air mata “apa tumor di kepala calista itu tumor ganas bu?” “saya tak tau bu” “sabar ya bu. Kita pasti bantu kok”.

Setelah lama kita berdialog calistapun bangun “ibuuuuuuuuu” suara itu yang kami dengar dari kamar calista “maaf bu, saya ke anak saya dulu” ibu itupun menghampiri calista yang terbangun dari tidurnya. Miss riripun ikut menghampiri calista. Ibu calista dan miss riri masuk ke kamar calista “calista” sapa miss riri “miss” sapa calista kembali, miss riri memegang tangan calista “calista sabar yaa” “iya miss” “ibu gimana kalau kita bawa calista ke rumah sakit, saya kasihan bu melihat calista” saran miss riri “tapi bu. Biaya dari mana, untuk makan saja kita susah bu” “iya bu saya tahu, biaya sekarang biarkan dari saya bu, saya sangat kasihan melihat calista seperti ini” “tapi bu, nanti kita dapat uang dari mana untuk membayarnya ke ibu” “tenang bu. Saya iklas membantu, jadi ibu ga usah membayarnya” “trimakasih buu”

Kami, calista dan ibunya pergi ke rumah sakit menaiki mobil miss riri. “calista cepat sembuh yaa. Kita kangen banget semangat kamu cal” kata dewi “iya cal. Kelas sepi tanpa kamu” lanjut dinda “makasih teman-teman” jawab calista dengan suara pelan. Setalah lama berbincang-bincang kamipun tertidur tetapi calista masih terbangun dan terus menatap keluar jendela. Dan tiba-tiba ada yang terjatuh dikaki dewi dan dewipun terbangun “windy, dinda bangun-bangun” dewi membangunkan dinda dan aku (windy) kaget melihat calista terjatuh di kaki dewi “calista?” katanya “dewi itu wi calista jatuh di kaki kamu wi” lanjutku “hah calista” dewipun ikut kaget “ada apa anak-anak” tanya miss riri, ibunya calista menoleh ke belakang dan melihat anaknya terjatuh “calista?” “ibu tolong bu” kata dinda panik. Miss riripun langsung menghentikan mobilnya dan langsung ke belakang “calista?” “ayo angkat anak-anak” kata miss riri, kitapun mengangkatnya ke tempat duduknya semula “ya allah calista?” ibu calistapun menangis melihat anaknya sangat pucat “calista sadar cal” kataku membangunkan calista.

Miss riri segera kedepan dan melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. “calista bangun calista” kata-kata itu selalu terdengar di sepanjang perjalanan semua yang ada kita semua panik dengan keadaan calista yang belum tersadar selama ini ibu calista tak berhenti melinangkan air matanya sedangkan ibu riri panik sambil kebut-kebutan di jalan.
Selembar Kertas Kesedihan


Setibanya di rumah sakit. Miss riri berlari menggendong calista memasuki rumah sakit kami mengikutinya di belakang. Tiba-tiba ada seorang perawat yang membawa ranjang beroda itu menghampiri kami “ada apa bu?” tanya seorang perawat perempuan “sus tolong suster anak saya sus” jawab ibunya calista, miss riri membaringkan calista di ranjang itu para perawat segera membawa calista ke ruang UGD dengan terburu-buru.

Sesampainya di pintu ruang UGD “percayakan pada kami” kata seorang perawat dan menutup pintu tersebut. Kami semua panik akan keadaan calista ibu calista dan miss riri banjir air mata. Setelah lama kita menunggu kabar calista seorang dokterpun keluar dari pintu UGD “dok bagaimana anak saya dok” tanya ibu calista panik “sabar ya bu sabar” kata miss riri “bagaimana bu keadaannya?” lanjut miss riri pada dokter “sekarang keadaan anak ibu sangatlah kritis dan kami minta anak ibu segera kami lakukan operasi pengangkatan tumor karna tumor yang ada di kepalanya sangatlah besar, tangisan ibu feby (ibunya calista) semakin menjadi “baik dok, lakukan sekarang” jawab miss riri santai “bu dari mana biaya operasi itu bu, jangan bu saya tidak akan bisa menggantinya” kata ibu feby “bu selama saya masih mampu akan saya usahakan sampai calista sembuh bu, walaupun dana yang saya harus keluarkan begitu banyak saya iklas bu, karna calista itu anak yang baik bu” kata miss riri dan ibu feby pun langsung memeluk erat miss riri “trimakasih banyak bu” kata itu terucap ibu feby dengan penuh senyuman diwajahnya “sama-sama bu” merekapun saling memisahkan pelukannya “bagaimana sekarang bu?” tanya dokter tersebut “kami siap untuk operasa calista dok” jawab miss riri “baiklah” dokter itupun kembali memasuki ruang UGD.
Tidak lama kemudian calista di bawa keruang inap untuk besok tim dokter melakukan operasi pengangkatan tumor di kepalanya dan sudah hampir malam ini calista belum tersadar juga. Kitapun bergegas pulang untuk besok kembali bersekolah.

Keesokan hari kami berangkat kesekolah “kita sepulang sekolah ke calista kan?” tanyaku “tentu saja win” jawab dinda & dewi bersamaan “aku ga nyangka ternyata calista punya penyakit yang membahayakan hidupnya dan selama ini ia terus semangat” kata dewi “aku juga ga nyangka semua itu terjadi pada calista” jawab dinda.

Bell pulang sekolahpun sudah terdengar saatnya kita pergi ke rumah sakit. Dan setibanya di sana ternyata calista sudah terbangun “calista apa kabar” tanyaku sambil berjabat tangan “baik win” “semangat ya calista, kamu pasti bisa habiskan penderitaan ini dan kitapun dapat bersenang-senang kembali” kata dewi “makasih wi” “teman-teman doakan aku yaa semoga operasi ini berjalan lancar” lanjut calista “kita akan selalu doakan kamu yang terbaik cal” jawab dinda “makasih din”.

Tiba-tiba calista mengambil selembar kertas di meja dan menggambar sesuatu di kertas tersebut “kamu menggambar apa cal?” tanya dinda “aku menggambar kita semua yang sedang menunggu detik-detik operasi aku” sebuah gambar yang sangat indahpun jadi “coba kalian lihat deh” kami semua melihat gambar karya calista “bagus bukan?” lanjutnya “iya cal bagus banget, kamu memang jago menggambar cal” jawabku “yang ini siapa cal, kok dia cemberut?” tanya miss riri “itu dewi miss” “kok gambar aku cemberut sih?” tanya dewi “abis dari tadi kamu cemberut aja” “haha iya aku khawatir sama calista” “kenapa kamu khawatirkan aku?” “karena kamu sahabat terbaik aku calista” dewipun memeluk calista “good luck ya calista Allah good bless to you terus berdo’a ya cal” dewi mengatakan itu hingga meneteskan air mata, calistapun menghapus air mata dewi “kita pasti bisa seperti dulu lagi wi” kita semua terharu. “calista kok Cuma dewi sendiri yang dibuatnya cemberut?” tanyaku “ya karna aku lihat cuma dewi yang cemberut” “kalian coba lihat” lanjutnya “bagus banget calista menggambarnya” kata miss riri “makasih miss, kalau aku udah sembuh nanti boleh ya gambar ini calista pasang di mading?” “boleh kok sayang”.

Detik-detik operasipun sudah dekat “ibu akan selalu ada disampingku kan bu?” tanya calista “iya cal, ibu slalu ada di dekat kamu” jawab ibunya “berarti ibu akan ada disaat aku masuk ruang operasi?” “iya calista ibu akan selalu ada apapun yang terjadi” jawab ibu feby meneteskan air mata “calista ga takut kan?” tanyanya “ga bu. kan ada ibu di samping calista”.

Jam demi jam kami lalui, menit demi menit kami lewati dan detik demi detik kini menanti. Para perawat datang untuk membawa calista ke ruang operasi.

Setibanya pintu ruang operasi “calista berani kan?” tanya ibunya “ibu ikut calista ke dalam kan?” “iya sayang, ibu akan ikut kamu kedalam” calista yang di bawa oleh para perawatpun memasuki ruang operasi dan diikuti oleh ibu feby.

Tim dokter segera berbuat sesuatu pada calista sehingga calistapun tidak sadarkan diri dan ibu feby segera keluar dari ruang tersebut karna selama operasi berlangsung hanya tim dokter dan perawat yang ada di dalam.

Kami di luar hanyalah dapat membantu dengan do’a agar calista dapat kembali seperti dulu. Dewi menangis terseda-seda sambil membawa kertas yang bergambarkan sedangkan miss riri dan ibu feby menangis tiada henti sedari tadi, aku dan dindapun ikut sedih.
Setelah lama kemudian seorang perawat datang menghampiri kami “gimana operasinya sus” tanya miss riri “alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar” mendengar kata-kata itu kami semua tersenyum bahagia “alhamdulillah trimakasih ya Allah” kata ibu feby

Calista yang belum tersadar di bawa keruang ICU untuk menjalani masa koma nya “anak ibu akan terbangun 2 sampai 3 jam lagi” kata dokter yang ikut melakukan operasi pengangkatan tumor dikepala calista “trimakasih dok” kata ibu feby “sama-sama, permisi bu” dokter itupun keluar dari ruangan calista dirawat.
Sudah 6 jam kami menunggu calista terbangun tetapi calista tidak terbangun juga hingga melebihi jam yang diperkirakan “kanapa calista tidak bangun juga bu” tanya ibu feby pada miss riri “sabar bu” seorang dokter masuk diikuti oleh 2 orang perawat “kok bisa sudah 6 jam belum sadar juga, biasanya 2 jam atau 3 jam sudah sadar?” “coba sus ada apa?” “maaf dek silahkan keluar dulu” kata salah satu perawat. Kamipun keluar dan para perawat itupun mencoba mencari apa yang terjadi pada calista sampai jam segini belum sadar juga.

Malam sudah tiba, kitapun pulang ke rumah masing-masing untuk besok kembali ke rumah sakit menengok keadaan calista.

Keesokan harinya kami kembali ke rumah sakit tersebut tatapi calista belum sadarkan diri juga. Dan hingga 1 minggu berlalu calista masih belum sadarkan diri. “calista bangun cal” kata-kata itu sering kami ucapkan jika kita berkunjung untuk mengnengok calista dan tetesan air matapun mengalir setiap kita menjenguk calista.
2 minggu sudah calista koma, dan tentu banyak biaya yang mereka keluarkan untuk kesembuhan calista. Kamipun meminta izin sekolah untuk membuat bakti sosial untuk calista yang isinya acara pensi, pertunjukan ekstrakulikuler dan menjual barang bekas yang masih layak pakai yang uangnya akan kita pakai untuk sumbangan biaya rumah sakit calista.

Acara itu berlangsung dengan sangat sukses dan banyak sumbangan yang kita kumpulkan untuk biaya rumah sakit calista. “trimakasih teman-teman sudah iklas menyumbangkan uang kalian untuk teman kia B’tari Calista Febrianty yang sedang menjalani masa coma nya di rumah sakit, kita mohon kalian semua juga membantu do’a untuk calista agar ia dapat kembali berkumpul di sini bersama kita” pidato dinda saat acara pembukaan

Setelah acara itu berlangsung kami mengadakan do’a bersama. Di acara tersebut semua guru dan semua orang yang kenal dengan calista meneteskan air mata, sungguh sudah banyak yang calista beri untuk kami dan untuk sekolah. Calista memang orang yang sangat aktif tetapi karna semua ini sekolah tak ada yang di banggakan kembali.
Keesokan harinya kami kembali ke rumah sakit untuk memberi uang sumbangan dari anak-anak dan dari sekolah “bu, ini ada uang sumbangan dari anak-anak dan dari sekolah, semoga bermanfaat ya bu” kata dinda memberikan uang tersebut “trimakasih dek” ibu feby kembali meneteskan air mata.
3 minggu kita jalani hidup tanda calista yang selalu membuat kami semangat dan calista 3 minggu menjalani masa comanya.

Dihari ke-24 ia menjalani masa koma. Ia pun tersadar “calista sayang” kata ibu feby “ibu?” kata yang calista beri untuk ibunya “calista akhirnya kamu sadar juga cal” kataku memberi senyuman dan calistapun membalas senyuman kami. Calista ingin berbicara tetapi ia masih sangat lemas sehingga masih susah untuk berbicara “ibu ga dengar kata kamu cal, coba kamu ulang pelan-pelan ya calista” dewi memberikan selembar kertas yang dibaliknya ada gambar yang calista gambar saat detik-detik operasinya. Miss riri memegangkan kertasnya dan calista memulai menulis sedikit-demi sedikit. Huruf awal yang ia tulis adalah M dan selanjtunya A A dan F “maaf” kami semua setelah membacanya meneteskan air mata calistapun tertidur kembali “calistaaaaaaaaaaaaaa” jerit ibu feby “dokter-dokter toloooongg” teriak miss riri.
Seorang dokter dan 3 orang perawat mendatanginya, dokter dan ke-3 asistennya mencoba mencari denyut nadi dan detak jantung calista dan tidak lama kemudian dokter mencabut semua selang-selang yang menempel dan manutupi calista dengan kain putih. “calisssstaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” jeritan histeris dari ibu feby, kami semua menghampiri calista dan memeluk calista mungkin untuk yang keterakhir kalinya.

Deraian air mata berjatuhan dari mata kita. Calista pergi untuk selamanya.

Seorang yang sangat beharga bagi kami telah pergi kembali kepadanya dan menempati tempat terindah di atas sana. Selamat tinggal kawan kami akan selalu mengenang semua dari kamu dan akan kami jadikan pelajaran apa yang telah engkau beri pada kami sahabatmu. Semoga kamu di terima olehnya semoga kamu bahagian di sana karna perbuatan yang baik telah engkau beri pada kami semua.

Selembar kertas kesedihan ini sangatlah berarti bagi kami untuk belajar semangat sperti kamu sobat. Dan sekarang kertas itu terpampang di musium seni sekolah bersama lukisan-lukisan mu yang lain tetapi lukisan yang kau buat saat detik-detik operasi kamu itu lukisan paling beharga karena semua semangatmu dan harapanmu untuk hidup semua tertuang dilukisanmu itu.

Selembar kertas kesedihan itu kini telah berakhir menjadi selembar kertas kehidupan. selamat jalan kawan 

Saat musim kelulusan tiba kita teringat pada semangat seorang sahabat yaitu B’tari calista Febrianty yang semangatnya tak ujung putus hingga kami lulus dengan lulusan terbaik tahun ini karna kita mencoba belajar dari semangat seorang sahabat.



Cerpen Karangan: Firda E. Ramadhanty

Inikah Pengorbanan Cinta

Inikah Pengorbanan Cinta


Langit malam begitu indah. Di sebuah lubang persegi di atas jendelaku terlihat bintang bertaburan di langit gelap itu. Sungguh indah cahaya bintang itu. Terpikir di benakku, Ibuku mungkin ada di antara cahaya bintang itu, tersenyum indah dengan senyumannya membuat kami bahagia. Di temani oleh para malaikat dan bidadari disana.

Tiba-tiba handphoneku berdering, tanda sms masuk. Sebuah nama yang tak asing lagi, yaitu Farhan. Dia sms aku lagi dan mengatakan hal yang sama “Aku sayang kamu, Shila. Kamu mau gak jadi pacar aku?” Aku pun membalas smsnya itu. “Kalau kamu memang benar sayang sama aku, kamu telepon aku sekarang dan katakan hal yang tadi kamu katakan di smsmu itu.”

Aku menunggu telepon dari dia. Aku pengen buktikan, apakah memang dia benar sayang sama aku. Mungkin hanya itu yang bisa aku syaratkan buat dia, karena tidak mungkin juga dia datang ke rumahku saat itu juga untuk mengatakan hal itu, sedangkan rumahnya berada di Kalimantan. Beberapa menit kemudian, dia meneleponku. Aku pun terima telepon dari dia. Awalnya tak ada suara sedikitpun, akan tetapi telepon itu tetap terhubung ke nomornya.

“Assalamualaikum… Selamat malam, Shila!” ucap Farhan.

“Wa’alaikum salam, Selamat malam juga.” jawabku.

“Kamu lagi ngapain sekarang?” katanya lagi.

“Hmm, aku lagi baring-baring nih. Kalau kamu lagi ngapain?” balasku.

“Sama, aku juga lagi baring-baring nih. Aduh, sudah nih basa-basinya. Shila… sebenarnya begini aku pengen curhat. A. aaku suka sama seorang cewek. Dia tinggal di Sulawesi Selatan. Tepatnya di Pekkae. Dia keponakan dari Tante Ani. Tapi, dia akan nerima aku ngga yah, jika aku ngungkapin perasaanku ke dia?” ucapnya dengan suara yang gugup.

“Tapi? Itu kan…..” ucapku tak meneruskan.

“Ii..yah, Itu kamu. Shila aa..ku sayang kamu! Sudah lama aku pendam perasaan ini. Kamu mau ngga jadi pacar aku?” kata Farhan dengan nada suara yang terus gugup.

“Hmm, begini kamu sekarang ada di Kalimantan, sedangkan aku ada di Sulawesi. Apakah kamu sanggup ngejalanin hubungan jarak jauh?” ucapku.

“Iyah, aku sanggup. Aku sayang sama kamu. Rasa sayang itu ngga akan jadi penghalang cuma karena jarak dan waktu. Aku pasti bisa ngejalaninnya. Untuk itu, apakah kamu mau jadi pacar aku?” kata Farhan.

“Hmm, baiklah. Aku harap perkataan kamu itu bisa kamu pertahankan.” kataku.

“Jadi, kamu terima! Horeee… Aku seneng banget. Aku lega dengarnya. Aku pasti bisa pertahankan itu.” ucapnya.

Tepat pada tanggal 29 Mei 2012. Aku jadian dengan Farhan. Aku dan dia ngobrol-ngobrol cukup lama malam itu.

Seminggu berlalu, hubunganku dengan dia berjalan dengan baik. Komunikasi pun tetap berjalan lancar. Dia selalu membuat aku senang. Bercanda dan tertawa bersama. Dia mengingatkanku dengan masa kecil kami dulu. Di saat aku menangis, dia menyanyikan aku sebuah lagu, sehingga aku tersenyum kembali dan berhenti dari tangisanku. Walaupun kenangan itu udah aku lupa, tapi dia tetap mengingatkanku.

Farhan suka sekali dengan tayangan reality show ‘Opera Van Java’. Hampir setiap hari dia utarakan gombalan pada tayangan kesukaannya itu kepadaku. Dengan kreativitasnya, dia juga menciptakan gombalan-gomabalan baru hanya untuk membuat aku tersenyum. Aku juga ngga mau kalah, hehehe.. Aku balas gombalannya itu. Yang membuat kami tertawa bersama lagi.

Tak terasa, hubunganku dengan dia berjalan dua bulan. Saat itu, yang membuat aku senang karena dia merencanakan untuk datang ke Makassar sebelum ramadhan tiba. Dia juga berkata ingin datang ke rumahku untuk menemuiku. Karena rasa rindunya kepadaku. Sebelum kedatangannya itu berbagai persiapan pun aku lakukan agar disaat dia datang nanti merupakan hari yang paling spesial buatnya. Alhamdulillah juga, saat itu aku punya uang lebih karena Bapakku mengirimkanku uang.

Pagi hari di hari liburku, aku pun pergi ke pasar bersama tanteku. Tanteku udah lama tahu bahwa aku pacaran dengan Farhan. Aku pun belanja berbagai jenis makanan dan minuman di pasar itu hanya untuk dia. Aku hanya bisa membelinya karena aku tak ingin nenek aku tahu. Apalagi jika aku yang membuatnya sendiri, pasti nenekku akan curiga.

Sebuah gelang cantik berwarna coklat kuning membuatku ingin memilikinya, sungguh cantik gelang ini. Perpaduan antara warna kesukaanku dan warna kesukaan Farhan. Coklat adalah warna kesukaanku dan kuning adalah warna kesukaan Farhan. Aku harap dia suka gelang ini. Di siang hari yang panas, di mana matahari bersinar dengan teriknya. Aku pun pulang bersama tanteku dari pasar.

***

Saat yang aku tunggu-tunggu, dimana Farhan akan tiba di pelabuhan Pare-Pare dan akan datang menemuiku. Aku perkirakan dia akan datang sore hari itu. Semuanya sudah siap termasuk hadiah spesial itu untuknya. Di saat detik berganti menit, menit berganti jam, sore hari itu berlalu. Tak ada dia, dia tidak datang, handphoneku tak berdering. Teleponnya juga tidak ada, kemana dia? Ku mencoba meneleponnya. Tapi, “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.” Kecewa yang aku rasakan saat itu.

Tiga hari kemudian, Farhan meneleponku…

“Sayang, aku tidak sempat singgah ke rumah kamu. Karena mobil yang aku tumpangi lewat Soppeng.
 Maafin aku yah! Insyaallah jika aku pulang nanti aku akan singgah di rumah kamu.”

“Iyah, tapi kamu janji kan akan singgah?” ucapku.

“Iyah, Insyaallah.” ucap Farhan.

Ketika dia meneleponku saat itu, seakan dia tidak bersemangat lagi. Ada apa gerangan dengan dia? Dia hanya berikan telepon itu kepada temannya. Aku hanya bicara dengan temannya itu. Tak ada suara yang aku dengar darinya. “Tolong berikan handphone ini pada Farhan, aku ingin bicara dengannya.” Aku pun bicara dengan Farhan malam itu, tapi dia hanya berkata, “Ada apa sayang?”.

“Kenapa kamu lemas begini bicaranya? Ada apa sih?” ucapku kepadanya.

“Tidak apa-apa kok. Nih teman aku mau bicara.” Farhan memberikan telepon itu lagi kepada temannya.

“Hmm, sudah dulu yah teleponannya. Ada yang ingin aku kerjakan. Assalamualaikum..” ucapku kepada teman Farhan itu.

Waktu libur ramadhan telah usai, waktunya untuk sekolah dan melanjutkan sekolahku di masa SMA. Hmm.. Tapi, tak ada telepon dari dia. Sepulang sekolah, tanteku memanggilku dan berkata,

“Mamanya Farhan tadi nelpon tante, katanya dia gak sempat untuk singgah kesini. Farhan tidak ingin menelepon kamu, dia takut kalau kamu kecewa jika dia yang mengatakan hal itu. Karena mobil yang dia tumpangi itu harus lewat soppeng lagi.”

“Hmm, percuma juga tante. Aku bosan dengar alasan dia itu. Mobilnya harus lewat soppenglah. Apalah.

Andaikan dia usaha’in untuk bisa ketemu dengan aku. Kata dia juga rindu sama aku. Tapi apa buktinya, tidak ada, kan! Ahh, percuma. Lebih baik hubunganku dengan dia berakhir sekarang.” ucapku dengan perasaan kesal dan kecewa.

Hari itu juga hubunganku dengan dia berakhir. Aku hanya berharap suatu saat nanti akan ada orang yang benar-benar sayang sama aku. Benar-benar cinta sama aku. Terima aku apa adanya. Terutama tidak akan mengutarakan janji saja, tapi dengan bukti. Bukti yang PASTI.


Cerpen Karangan: Nur Aeni Fadilla

Tentang Aku dan Sahabatku


Tentang Aku dan Sahabatku

Hari Minggu 3 Maret 2013 di Jakarta, aku bangun pagi pagi sekali karena ada janji dengan para sahabat2ku yang menamai diri sebagai “3 Angel (Melli, Diah, Fisha)” hahaha… kocak bagiku nama itu. Kusiapkan diri membawa bekal untuk perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Ku pamit dengan kedua orang tuaku agar perjalanan kami lancar. Ku tancap gas motor kesayanganku yang ku beri nama “Epo” untuk menuju ke rumah Melli.

Jam 7.45 Diah sudah berada di pom bensin Galur menungguku. Diah berangkat dari rumahnya di Papango, Jakarta Utara menggunakan angkot, maklum dari kita bertiga si Diah ini ga bisa bawa motor, makanya kami menjulukinya dengan sebutan “Ratu Angkot” hihihi. Aku dan Diah pun menuju ke rumah Melli bersama. Sesampai disana masih menunggu si Melli yang baru kelar mandi, memang anak ini kalo hari minggu susah banget buat bangun pagi kalo ga di bangunin.

Jam 8.00 kami bertiga siap berangkat, kami berangkat menggunakan taksi dari depan rumah Melli menuju ke Stasiun Manggarai. Kami memang berniat untuk naik kereta menuju ke Bogor.

Sepanjang perjalanan namanya sekumpulan anak anak bawel terutama aku sama Melli kalau udah becanda suara dua orang seperti suara sekumpulan orang. Sampai di Stasiun kereta tugas si Diah membeli tiket kereta untuk kami bertiga. Dimanapun berada selalu kamera yang kami keluarkan untuk jeprat jepret di Stasiun itu.
Kereta yang akan kami tumpangi pun tiba, Kami bergegas masuk ke kereta tersebut supaya dapat kursi. Perjalanan lumayan lama sampai salah seorang dari kami yang tidur selalu jadi keisengan paparazzi kami. Dan kebetulan aku yang tidur, aku pula yang kena iseng Diah dan Melli, di pasang pula photo aku tidur di profil bbm mereka berdua. Tapi itu adalah sebuah cirri khas dari kami anak anak jail.

Jam 10.00 kami sampai di stasiun Bogor, awalnya kami ingin ke Taman Topi tapi menurutku ga asik jauh jauh ke Bogor Cuma ke Taman Topi. Akhirnya kami pun menuju ke Kebun Raya Bogor beharap di sana ketemu dengan bunga terbesar yang sangat terkenal, apa lagi kalo bukan “Bunga Raflesia” tapi aku senang menyebutnya “Bunga Bangkai”. Karena kami bukan penduduk Bogor kami bingung naik angkot apa untuk menuju ke Bogor. Diah pun bertanya kepada tukang Ojek.

“Maaf pak, numpang Tanya kalo mau ke Kebun Raya Bogor naik angkutan nomor berapa ya?” Tanya si Diah

“Naek 03 Neng, ntar bilang saja turun di kebun raya bogor” Jawab tukang ojek.

“Terima kasih Pak” Ucap kami serempak

Kami pun bergegas naik Angkutan 03 Merah menuju ke Kebun Raya, beruntung sopirnya baik menurunkan kami tepat di depan kebun raya bogor. Dan kami pun sampai di Kebun raya bogor, tak lupa sebelum masuk beli tiket dulu. Tak jauh dari pintu masuk kami di sambut pohon bambu raksasa, karena ukuranya yang sangat besar jadi kami menyebutnya pohom bambu raksasa. Kami pun melanjutkan perjalanan mengelilingi isi kebun raya bogor. Kami menemukan pohon yang sangat besar sekali namanya “Kenari Babi” di situ sepi, dan lanjutkan deh aksi kami untuk pemotretan di pohon tersebut. Lumayan lama pohon besar itu sepi sampai kami bisa puas untuk berpose sesuka kami. Tak lama kemudian banyak juga wisatawan yang datang ke
Pohon kenari babi tersebut, kami pun berjalan kembali menyusuri jalan jalan di kebun raya. Kami mememutuskan untuk istirahat dan membuka bekal yang kami bawa. Kami gelas tikar untuk kami istirahat dan duduk. Lumayan lama kami istirahat, dan kelelahan kami sudah lumayan hilang.

Kami melanjutkan kembali perjalananya, yang kami tuju jembatan cinta, begitu orang orang sekitar menyebutnya. Jembatanya warna merah menyala, konon katanya jika sepasang kekasih melewati jembatan itu akan putus. Mitosnya begitu, kami pun langsung mengambil gambar di jembatan cinta tersebut. Sudah puas pemotretan kembali kami mengelilingi kebun raya bogor lagi. Tapi sayangnya yang kami cari bunga bangkai nya sedang tak berbunga. Kelelahan kami mengelilingi kebun raya bogor tersebut. Sampai kami malas untuk melangkahkan kaki, dari jauh kami melihat padang rumput yang sangat luas, hijau dan sejuk di pandang. Kami bertiga pun langsung berlarian sambil menyiapkan kamera untuk berpose di padang rumput tersebut. Rasanya lelahnya tiba tiba hilang setelah kami melihat padang rumput seluas itu.

Dan Hujan pun mengguyur padang rumput, awalnya kami menghiraukan hujan tersebut namun lama kelamaan hujanya deras sekali, kami pun berlari menuju tempat berteduh yang disana sudah banyak wisatawan lain juga yang berteduh. Karena kami kelelahan akhirnya setelah hujan berhenti kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

Jam 15.00 kami sampai di stasiun Bogor untuk kembali ke Jakarta, karena perut kami terasa kelaparan kami berhenti di sebuah warung makan baso yang ada di pasar di samping stasiun. Kami pun makan dengan lahap. Tak lupa kami membeli Asinan sayur dan buah untuk di bawa pulang ke rumah. Selesai makan kami langsung membeli tiket pulang ke Jakarta. Seperti biasa keisengan kami kembali muncul ketika salah satu dari kami tertidur, dan kali ini yang kena ulah iseng dari 3 Angel itu Diah, pules banget Diah tidur, aku dan Melli puas puasin memotret pose tidurnya dan langsung memasang di profil bbm kami. Itu lucu menurut kami, karena sebelum orangnya sadar kalau muka dia di pasang di profil bbm maka belum kami ganti pula photonya.

Kelelahan mungkin bukan di stasiun Manggarai kami turun melainkan sampai ke stasiun Sudirman, tapi disana sudah ada yang jemput kami. Tante Nia namanya, kami keluar stasiun tante Nia belum sampai, piker kami mungkin tante Nia menunggu di bawah fly over. Kami pun menuruni fly over, berjalan di trotoar. Aku dan Diah di depan berdua dan si Melli di belakang kami sendiri. Sedang asik aku dan Diah mengobrol, tanpa tersadar dari arah berlawanan ada orang yang melewati trotoar itu. Kami pun tak ber negative thingking dengan pejalan kaki itu. Setelah kami berpapasan dengan pejalan kaki itu, si pejalan kaki mengagetkan kami dengan tereak “Bhhhaaaaaaarrgg”. Spontan saja tanpa memperdulikan siapa dia, aku tereak dan lari terbirit birit di ikutin melli sama Diah. Aku dan Melli sudah sampai bawah, aku pun berhenti dan bertanya kepada Melli.

“Mel, Si Gembul (Diah) mana?” tanyaku dengan nafas terengah engah

“Gak tau” Jawap Melli

Aku dan Melli pun menengok ke belakang, dan ternyata Diah masih diatas, tanpa sadar kami menertwakanya. Padahal tadi aku dan Diah jalan paling depan. Ya karna badan Diah gendut jadi dia paling belakang. Aku dan Melli pun menyusul Diah dan berucap maaf ke Diah udah ninggalin dia. Tapi masih saja kami ketawa.

Ponsel ku pun berdering, nampak di layar ponsel tertulis “Tante Nia memanggil”.

“Hallo, tante dimana?” tanyaku

“Tante di depan stasiun sudirman, kalian dimana?” jawap tante

“Jiaaah… kami sudah turun dari fly over tan, ya sudah kami naik lagi ke atas deh” Jawabku dengan nafas yang tak beraturan.

“Ya udah, jangan lama ya” Ucap tante

“Iya, tungguin ya tan, kami meluncur…hehehe” jawabku.
Aku pun menyampaikan ke Melli dan Diah kalau tante ada di depan stasiun. Dengan kelelahan mereka kompak berkata “Jiaaah… udah capek capek turun”

“Yawda si, dari pada kita naik angkutan lagi dari sini” Ucapku.

Walaupun kelelahan kami pun naik fly over kembali menuju depan stasiun sudirman. Di perjalanan kami masih ketawa mengingat kejadian tadi Diah lari paling belakang. Dari kejauhan sudah nampak mobil Honda Jazz White, yah itu mobil om Uda dan tante Nia. Kami bergegas masuk ke Mobil.
Didalam mobil tante Nia bertanya apa saja yang dilakukan di Kebun Raya Bogor, kami pun bercerita apa yang kami lakukan termasuk saat menunggu tante di fly over tadi. Karena kami selalu kompak dan lucu makanya orang terdekat kami selalu ingin tau apa yang kami lakukan saat kami jalan jalan.
Sesampai di rumah Melli kami pun melanjutkan untuk merancang perjalanan kembali liburan nanti. “Jogja” itu kota yang akan kami tuju. Ku mabil motorku si “ Epo” yang slalu setia menemaniku kemanapun kami pergi. Aku dan Diah pamit untuk pulang, aku pun mengantarkan Diah lebih dulu ke rumahnya di papango sebelum aku pulang ke rumah.

Sampai di rumahku di Kemayoran jam 19.00, aku pun langsung bergegas untuk mandi agar tak keluar malasnya jika berlama lama tiduran.
Tunggu cerita kami untuk berlibur ke Jogja ya…
Sedikit tentang kami yang hobby jalan jalan (Backpaker)



Cerpen Karangan: Nafisa

Indahnya Hidup ini


Indahnya Hidup ini

“Waktu” ya itu sebutan yang pas untuk salah satu hal yang kejam di dunia. Begitu cepatnya waktu berlalu tanpa memikirkan bagaimana seseorang seharusnya bertindak. Hai namaku Niken Amanda Putri aku biasa dipanggil Manda, umurku 15 tahun kini aku duduk di bangku kelas X di salah satu SMA negeri didaerahku. Ini hari sabtu semua remaja keluar rumah menghabiskan sisa malam bersama pacar mereka masing–masing tidak seperti aku ini yang menjomblo yang hanya diam dikamar menonton film–film romantis yang penuh drama. Jujur terkadang itu sangat membosankan aku juga ingin keluar bersama teman–teman ku ahh tapi aku dilarang keluar malam oleh orang tua ku kecuali kalau aku ada tugas kelompok yang harus aku kerjakan.
“Ndaa, Manda, ayo anterin mama ke Ramayana sebentaaarr!” ahh suara Ibu ku mengganguku saja. Aku bingung dengan orang-orang rumah ini disaat aku sangat ingin keluar rumah tak satupun dari mereka yang mengajakku untuk keluar rumah ya walaupun hanya sekedar mencari angin segar, tapi disaat aku sedang asyik berpacaran dengan laptop yang berisi drama film romantis aku malah diajak pergi. Argghh memang
menyebalkan.

“Iya maa, aku siap-siap sekarang” sahut ku dari kamar.

Aku dan Ibu ku tiba di tempat yang dimaksud pukul 21.00 bisa dibayangkan ini jam berapa? tadi kami berangkat dari rumah pukul 20.00 padahal jarak dari rumah ke Tiara itu tidak terlalu jauh hanya karena macet dijalan yang menggangu perjalanan kami.

“Ma, aku ke tempat main ya.” Aku bosan hanya mengikuti kemana langkah Ibuku berjalan.

“Iya hati-hati. Nanti kalo udah selesai mama cari kesana ya.” Aku segera menuju arena bermain.

Tak sengaja aku sangat ingin bermain bom-bom car, aku segera membeli tiket nya. Tanpa tunggu panjang aku langsung memilih car yang aku ingin kan. “uuuuu, jedaaarrrr, jedeerrrr!” . Permainan yang seru itu cepat sekali berakhir, padahal aku masih ingin bermain itu tapi uang ku tidak cukup untuk membeli tiket nya lagi.
“kriuk.. kriuk..kriuk” terdengar suara cacing-cacing diperutku yang menginginkan sogokan makanan dari majikannya, akhirnya untuk mengganjal perut aku membeli pop corn. Sambil memakan pop corn aku melihat anak-anak kecil yang sangat lucu dengan kepolosan dan keluguan mereka bermain tanpa memikirkan beban apapun. Tiba-tiba aku teringat sesuatu hal, pada saat aku masih seumuran mereka aku sering diajak bermain kesini oleh bapakku. Aku bermain sangat senang riang gembira, pada saat itu aku paling senang bermain kereta api. Aku berkhayal menjadi seorang masinis. Bapak ku dengan setia dan penuh kasih sayang menjaga ku pada saat aku bermain, hampir tidak sedetikpun beliau meninggalkan ku. Aku ingin kembali ke masa kecil ku yang penuh kebahagian tanpa memikirkan masalah diotak ku. Pada saat itu yang aku tau hanya bermain dan kesenangan.

“Ahh apasih itu masa kecil sekarang kamu udah besar” gumamku dalam hati.

Jujur dalam hati aku sudah lama tidak bermain di arena bermain, semenjak aku kelas 4 SD aku hanya menghabiskan waktu ku untuk menonton TV dirumah atau bermain kerumah temanku atau tidak aku dan teman-teman bermain ke sawah milik temanku. Waktu hampir kurang lebih 2 tahunan itu aku habiskan tanpa merasakan dunia games elektronik di arena bermain. Waktu itu aku habiskan untuk mencari teman dan mengenal lingkungan. Bermain bersama teman itu sungguh mengasyikkan apalagi menginjak-injak tanah sawah usai panen. Itu sangat menyenangkan. Bermain secara tradisional seperti itu tidak kalah seru nya dengan bermain di arena bermain. Hal yang selalu aku ingat pada saat itu adalah Ibuku selalu memarahiku apabila aku pulang lewat jam 3 sore dan dalam keadaan celana basah, penuh cucuran keringat dan kulit menjadi hitam setelah itu beliau selalu berkata “kamu itu cewek, liat tuh kulit hitem, berminyak, bau keringat. Mandi dulu sana abis itu tidur siang” hahaha itu adalah pelengkap hariku. Rasanya kalau Ibu ku tidak mengomeli ku sehari saja hidup tidak lengkap. Aku sangat rindu masa-masa itu.

Pada saat aku SMP aku pindah rumah jauh dari dunia sawah dan teman-teman ku. Kini aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sekarang aku tinggal di suatu pedesaan yang tepat saat itu dibelakang rumahku ada pantai. Aku sering bermain kesana pada saat jam 5 sore, biasanya aku kesana bersama kakak ketiga ku. Sungguh menyenangkan jujur aku tidak pernah tau yang namanya pantai, keindahan pantai dengan pasir putih hanya dapat aku lihat dari film-film yang aku sering aku tonton. Tapi kali ini aku merasakannya ya walaupun pantainya tidak terlalu bersih dan berpasir hitam. Angin pantai sangat segar untuk menghilangkan stres, kejenuhan dan juga menghilangkan kegerahan. Hal yang paling aku suka pada saat berada dipantai itu adalah berfoto-foto dan jalan menyusuri garis pantai berdua bersama kakaku haha kami seperti dua sejoli yang sedang berpacaran.

Tak kurasa kini aku sudah besar dan berumur 15 tahun. Masa kecil hingga remaja ku penuh dengan keindahan, keceriaan rasanya aku sangat ingin kembali ke masa-masa indah itu tanpa masalah sedikit pun. Aku sangat meyadari betul semakin umur kita bertambah masalah yang datang menghampiri kita juga bertambah. Aku selalu mengahadapi masalah hidupku hanya senyuman, karena aku memiliki Bapak yang sangat menyayangi ku dengan sepenuh hatinya, dan aku memiliki Ibu yang selalu mengingatkan dan mengajariku tentang hal-hal yang baik, selain itu aku memiliki 3 kakak laki-laki yang sangat sayang kepadaku dan selalu menjaga ku. Aku sangat menyayangi mereka, walaupun terkadang mereka sedikit menjengkel kan ku tapi tanpa mereka aku bukan apa-apa. Aku akan terus berusaha dan tidak akan menyerah aku akan selalu memberikan senyuman ku untuk mereka orang-orang yang aku sayangi. Ini lah aku, Sukma dulu, sekarang dan selamanya akan terus bersemangat dan akan terus selalu tersenyum untuk mereka. Aku sayang kalian semua.


Cerpen Karangan: Ayu Sukmawathi

Tak Kunjung Datang

Tak Kunjung Datang

Cinta yang tlah lalu membuat ku terusik kembali. Terngiang-ngiang di telinga ku saat ia mengucapkan janjinya padaku itu. Dulu saat masih bersama. “aku janji, meskipun kita pisah tapi kita akan selalu bersama di suatu hari nanti. Dihari dimana aku akan menjadi suami mu” Ucapannya yang begitu indah, janji yang begitu mudah ia ucapkan 2 tahun silam. Aku tetap menunggu. Akan tetap diam disini menunggunya untuk kembali padaku dan menepati janjinya.

“woy la! kamu bakalan tetep nungguin Kejora yang jelas-jelas udah ninggalin kamu dan bikin kamu udah kaya orang gila nungguin dia disini?” ucap teman ku, Natasya.

“iya Nat, aku bakalan tetap nungguin dia sampe dia sampe dia datang dan nepatin janjinya sama aku”

“Tapi La, dia udah ngilang dan entah kemana. Dia tak pernah memberi mu kabar kan?”

“aku tau. Tapi hati aku bilang kalo dia bakalan balik lagi nemuin aku”

“kamu tuh ya, udah kaya orang bego yang nungguin angkutan umum tapi tuh angkot ga dateng-dateng” ucapnya menyinggungku

Orang bego. Sejak saat itu emang aku ngerasa udah kaya orang bego yang nungguin sesuatu tapi yang di tunggu ga mau dateng. Bener juga omongan Natasya. Mungkin dia bakalan pergi selamanya dan gak akan kembali lagi ke kehidupan ku. Apa aku hanya akan nungguin seseorang yang tak tlah pergi dan tak kembali?.

Hingga saat itu aku tetap menunggu.

“Aku menunggu Kejora yang telah meninggalkan ku. Aku akan tetap menunggunya. Entah sampai kapan” ucapku dihadapan Natasya yang sedang menatap layar monitor untuk melihat hasil kerjaku. Natasya adalah sahabat juga ‘boss’ ku di kantor.

“yakin kamu la?”

“yakin ko, kalo ga yakin ga mungkin lah aku nungguin dia sampe saat ini”

“tapi kan ga menunjukan hasil positif. Kalo dia bakalan dateng lagi buat nemuin kamu disini. Buktinya, dia aja ga ngasih kabar sama kamu”

“mungkin lain waktu. Sudahlah, aku cape! Tuh kerjaan ku kan sudah selesai. Aku mau pulang aja nat,

kondisi badan ku lagi kurang baik”

“yaudah, istirahat yang cukup. Hati-hati di jalan ya pulangnya”

Sesampainya di rumah. Aku rasa aku makin kacau. Muka ku semakin pucat, semakin lemah.

“kamu kenapa? sakit lagi ?” ucap kaka ku

“lemas ka, kurang istirahat mungkin”

“yaudah, nanti kaka buatkan kamu makanan dan minuman hangat, kamu belum makan kan?”

“iya ka, belum”

“yaudah, kalo gitu nanti kalo mateng kaka bangunin ya” ucap kaka ku yang langsung pergi meninggalkan ku dikamar

Langsung ku peluk guling dan tidur. Cukuplah untukku istirahat menghilangkan semua penat dan beban yang ada dalam fikiranku.

“nih, mudah-mudahan kamu suka masakan kaka. Meskipun ga se enak masakan mama. Tapi besok mama juga pulang ko”

“iya ka, ga apa-apa ko. Aku pasti suka masakan kaka”

Setelah membaca do’a langsung ku santap masakan kaka ku. Ditemani kaka ku yang sedang asyik browsing menggunakan komputer di kamarku. Lagi asyik chatting sama temen lamanya. Tapi tiba-tiba saja kaka menyinggung ku tentang Kejora.

“apa Kejora udah ngasih kabar?”

“belum ka”

“kamu masih nungguin dia?”

“masih dong ka”

Kaka ku menggeleng-gelengkan kepalanya, senyum-senyum mesem bahkan seperti yang jijik.


Memasuki tahun ke tiga ku menunggu. Menunggu Kejora yang tak kunjung datang. Tak pernah ku terima kabar darinya.

Di kantor pun aku tetap seperti dulu. Diam sambil menatap layar monitor, melihat kerjaanku yang banyak.

Ku coba mengerjakannya walaupun sulit.

Tiba-tiba saja Natasya datang menghampiri ku.

“nih minum dulu, biar ga cape banget” ucapnya sambil memberikan ku sebotol minuman isotonic

“thanks nat”

“masih ga ada kabar?”

“iya nat. apa dia Cuma ngasih janji palsu sama aku?”

“mungkin La, sabar ya”

Aku hanya mengangguk, tak menjawab dan menghiraukan ucapan natasya. Seperti biasa, aku mengerjakan tugasku dan setelah selesai ku kerjakan semua pekerjaan ku langsung pulang.

Setibanya di rumah aku terkejut. Aku melihat sosok Kejora datang dan dia sedang menunggu ku di luar rumah. Ku berlari menghampirinya, memeluknya dengan erat.

“kamu kemana? aku merindukan mu disini. Kenapa kamu tak memberiku kabar?”

“maaf la, aku membuatmu khawatir. Aku diam di Australia. aku kerja disana. Aku tak berniat membuatmu khawatir la”

“tapi kenapa kamu ga ngirim email ke aku? Apa kamu juga sibuk hingga kamu tak memberiku kabar?”

“iya la, aku sibuk. Tapi aku juga disini gak akan lama. Aku Cuma mau ngasih ini”

Kulihat sebuah kartu undangan yang dia pegang lalu memberikannya padaku. Tak pecaya! Sulit dipercaya! Ini undangan pernikahannya.

“maksudmu apa? Membuatku menunggu selama 3 tahun. Tapi apa? Kamu malah akan menikah dengan wanita lain? Sudah lupa kamu sama janji yang kamu ucapkan dulu? Lupa? Haaa!!!” ucapku sambil menangis, tak kuasa ku meredam emosi

“bukan maksudku menyakiti mu. Aku ingat semuanya, janji aku padamu. Tapi ini semua karna orang tua ku La”.

“alibiiiiiiiiiiii. Aku tak ingin mendengar semuanya. Aku tak ingin bertemu lagi dengan mu”

“benci saja aku La, jika itu membuat kamu sedikit lebih tenang”

“ah sudah! Cukup! Pergi kamu dari sini! Aku tak ingin melihat wajah mu lagi!”

“oke! Aku akan pergi, tapi izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir”

Kejora langsung memeluk ku dan berkata “aku mencintai mu La, aku sayang kamu!”
Tak kuasa aku menahan air mata. Air mata tangis kesedihan yang berderai di wajahku dan tak berhenti. Ku lepaskan pelukan yang tak ingin ku lepas itu. Kejora pergi meninggalkan ku.

“Kejora jahat! Aku benci dia! Aku tak ingin mengenalnya lagi”
Sekarang aku sadar. Bertahun-tahun ku menunggu Cinta yang tak kunjung datang. Meskipun ia datang, tapi ia hanya menyakiti hatiku, meninggalkan luka yang amat dalam. aku harus melupakannya. Dia bukan untukku!!!

Tak henti aku menangis. Menahan sakit hati ku itu. Luka hati yang mungkin akan sulit ku sembuhkan.



Cerpen Karangan: Mira Desiana
 

Total Tayangan Halaman

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.