Kumpulan Artikel Menarik , Tips Bermanfaat Serta Bacaan Yang Menghibur

ENTRI POPULER

Kriteria dan Sosok Wanita Yang Selalu Didambakan Oleh Pria

Memiliki pasangan hidup seorang yang kita dambakan dan sesuai dengan yang kita inginkan adalah merupakan kebahagiaan tersendiri. Baik wanita maupun pria pastinya mendambakan sosok orang terkasih, yang memenuhi kriteria seperti yang di inginkannya.



Khusus bagi kamu kaum wanita, pada Artikel Cinta kali ini kita akan membahas Beberapa Hal Yang Didambakan Seorang Pria Kepada Wanita.

Wanita yang stabil

Stabil maksudnya adalah wanita memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya, dan punya keinginan untuk mewujudkannya. Sosok wanita seperti ini mirip dengan seorang ibu yang membuat pria tergila-gila pada wanita yang stabil seperti ini.
Wanita yang memiliki minat sama
Pria sangat mendambakan wanita yang memiliki minat yang sama dengannya. Minat yang sama tidak berarti adalah hobi yang sama. Mungkin hobi wanita berbeda dengan pria. Tapi, wanita harus menunjukkan ketertarikan/supportnya kepada hobi yang dilakukan pria. Wanita yang seperti ini juga sangat di damba oleh pria.
Wanita yang suka memberi kejutan
Percaya atau tidak, sebagian besar pria suka dengan kejutan. Sebab kejutan berarti sebuah usaha spesial yang dipersiapkan dengan baik. Dari situ terlihat usaha si wanita untuk menyenangkan orang terkasih. Kejutan disini bukan berarti adalah yang terheboh atau besar. Mulailah dengan kejutan hal-hal kecil dengan intensitas yang besar.
Wanita yang mengesankan
Para pria mencari wanita yang tahu bagaimana memberi kesan khusus pada mereka. Setiap wanita juga punya cara yang berbeda-beda untuk membuat pria terkesan. Salah satu cara terbaik untuk membuat pria terkesan adalah dengan eksplorasi kemampuan khusus wanita yang jarang bisa ditemui di wanita lain.
Wanita yang percaya diri
Pria sadar bahwa wanita adalah makhluk sensitif dan terkadang merasa terancam tanpa sebab. Namun rasa percaya diri sangat penting untuk membuat pria tergila-gila pada wanita. Dengan memiliki wanita percaya diri setidaknya akan mengurangi rasa was-was pria terhadap wanita yang di cintainya.
Wanita yang memiliki selera humor
Hidup tidak selalu harus dianggap serius sepanjang waktu. Bahkan pria pun lebih menginginkan wanita yang punya selera humor bagus untuk dijadikan pasangan. Pria suka wanita lucu karena terkesan "ngegemesin". Tidak ada salahnya bagi wanita untuk mempelajari tips-tips humor untuk membuat pria tertawa dan senang.
Wanita yang bisa dipercaya
Pria tidak terlalu suka membeberkan rahasia atau detail kehidupannya pada orang lain. Namun sekali mereka melakukan hal itu, pria akan menceritakan kisah hidupnya pada wanita yang bisa dipercaya. Oleh karena itu, pria juga sangat mendambakan sosok wanita yang bisa

Beberapa Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah

Pernikahan merupakan suatu jalan untuk memulai suatu babak babak baru dalam kehidupan seseorang. Bagi seorang wanita, menikah merupakan tempat untuk mengabdi sebagai seorang istri, dan mempersembahkan semua tanggung jawabnya kepada suami. Selain itu, dengan menikah juga merupakan suatu jalan untuk melanjutkan keturunan.





Namun, terkadang setelah menikah, seorang wanita ternyata masih melakukan hal-hal yang seharusnya tidak lagi di lakukan ketika menjadi seorang istri atau telah menikah. Kesalahan dan kekeliruan ini biasanya terbawa ke pernikahan karena sudah menjadi kebiasaan sebelum menikah. Dimana semua tanggung jawab masih di pegang oleh kedua orang tua. Apa saja Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah atau setelah menjadi istri?

Berikut ini adalah Beberapa Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah, dan biasanya tanpa mereka sadari.

Meninggalkan Kehidupan Sosial

Setelah menikah, wanita merasa sibuk dan bertanggung jawab untuk mengurus rumah tangganya. Alhasil, para wanita mulai meninggalkan kehidupan sosial mereka sebelum menikah.
Terlibat Konflik Dengan Ibu Mertua
Cekcok urusan rumah tangga bukan hal yang aneh. Apalagi kalau menyangkut masalah mertua. Itu sih biasa! Jadi, sebaiknya hadapi masalah bersama pasangan dan jangan bersikap keras, khususnya pada ibu mertua.
Overprotektif Terhadap Suami
Wanita kok jadi overprotektif setelah menikah? Hal ini memang sering terjadi dalam rumah tangga. Mereka selalu ingin tahu kemana suami pergi. Apa yang dia lakukan? Pergi dengan siapa?
Mengadu Kepada Orang Tua
Jangan pernah memberitahu orang tua tentang perkelahian dalam rumah tangga! Mahligai pernikahan hanya mengikat sepasang hati yang saling mencinta. Jadi, apakah kamu akan selalu melibatkan orang tua dalam urusan rumah tangga.
Jika kamu termasuk salah seorang wanita menikah atau seorang istri yang selalu melakukan Kekeliruan dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Wanita Setelah Menikah diatas, tentunya ini saat yang tepat untuk merubahnya. Jangan korbankan pernikahanmu hanya karena kekeliruanmu dalam bersikap.

Cara Membuat Pria Tergila-gila dan Jatuh Cinta Kepadamu

Bagi wanita, mungkin sudah terlalu banyak eksperimen dan referensi tentang banyak hal yang membuat pria tergila-gila dan jatuh cinta kepadamu. Karena menjadi wanita yang di cintai adalah suatu kebanggan dan keindahan tersendiri bagi seorang wanita. Lalu, apa yang paling disukai pria dari wanita?




Banyak sekali jawaban dari pertanyaan diatas. Kecantikan, bentuk tubuh, sensualitas, status sosial, kepribadian, dan banyak lagi, semua menjadi alasan mengapa pria tergila-gila dan jatuh cinta kepada seorang wanita. yang jadi permasalahan sekarang, mampukah kamu menjadi semua yang di inginkan oleh pria tersebut? Pastinya tidak, dan kamu tidak perlu repot mengejar semua kriteria yang memang tidak bisa kamu penuhi.

Pada Artikel Tips Cinta berikut ini, kami mencoba memberikan sedikit Tips dan Cara Membuat Pria Tergila-gila dan Jatuh Cinta Kepadamu, tanpa perlu menjadi "sesuatu" yang tidak bisa kamu capai, seperti berikut ini.

Cobalah untuk selalu bersemangat
Spirit atau semangat seorang wanita adalah sesuatu yang sangat menarik bagi pria. Mengontrol dan memiliki seorang wanita yang memiliki semangat besar dalam kesehariannya adalah mimpi yang tak bisa ditolak oleh pria. Pria yang berkualitas selalu terobsesi untuk memiliki wanita aktif dan bersemangat di sisinya.
Jangan menjadi wanita dominator
Pria membenci wanita yang selalu menunjukkan dominasinya. Pria adalah salah satu makhluk yang di beri ego tinggi sebagai "dominator". Oleh karenanya, berusahalah untuk menjadi makhluk "lemah" yang butuh perlindungannya. Walau kamu tahu, kamu lebih berkuasa darinya dan tidak akan bisa di kuasai oleh dominasinya. Mungkin kamu bisa sesekali melakukannya, namun tidak berlebihan.
Melek teknologi alias tidak gaptek
Pria terkadang menyepelekan pengetahuan wanita tentang teknologi. Inilah jalan terbaik untuk membuatnya terkesan padamu. Jadilah wanita yang melek teknologi alias tidak gaptek. Sesekali, beri ia kejutan tentang teknologi terkini, yang dia sendiri terlambat mengetahuinya.
Menyibukkan diri sebagai wanita aktif
Yupzz..Hampir sama dengan poin sebelumnya, bahwa pria sangat menyukai wanita yang memiliki semangat. Dan wanita seperti ini dimiliki oleh para wanita aktif. Wanita yang aktif memiliki daya tarik lebih besar dibanding mereka yang pasif. Maka, lakukan aktivitas ekstra yang membuatmu selalu aktif di hadapannya.
Tantang dia dengan hal yang bisa kamu lakukan
Cara paling sederhana untuk menantang pria adalah dengan bertaruh dengannya. Tantanglah dia untuk melakukan hal-hal yang kamu bisa. Pria berkualitas akan sangat terobsesi dan jatuh cinta dengan wanita yang menantangnya. Kalah ataupun menang dirimu, tidak akan mengurangi kekagumannya terhadapmu. Ingatlah, pria suka wanita yang membuatnya merasa tertantang. Ketika dia tidak merasakan tantangan darimu, hubungan itu akan membuatnya cepat bosan.
Itulah beberapa Tips dan Cara Membuat Pria Tergila-gila dan Jatuh Cinta Kepadamu pada kesempatan kali ini. Tips diatas akan lebih mumpuni manakala kamu memang wanita seperti itu. Namun jika tidak, dan kamu memang tidak bisa menjadi seperti poin-poin pada tips diatas, maka menjadi wanita seperti aslinya dirimu jauh lebih baik daripada memaksakan diri. Ingat, pria yang baik dengan cintanya pasti akan datang kepadamu suatu saat nanti.

Selain Rokok, Jadi Pengangguran Juga Bisa Perpendek Usia Wanita



Berkurangnya angka harapan hidup seseorang biasanya disebabkan oleh gangguan kesehatan yang dialaminya. Namun ternyata angka harapan hidup menurun bukan semata karena kondisi fisik tapi juga kondisi psikis. Sebuah studi baru pun menemukan wanita yang tidak berpendidikan memiliki angka harapan hidup yang rendah.

"Tingkat kematian pada wanita (terutama wanita berkulit putih di Amerika) yang berpendidikan tinggi menurun, tapi justru meningkat pada wanita berpendidikan rendah," ungkap salah satu peneliti, Jennifer Karas Montez dari Harvard Center for Population and Development Studies.

Lain halnya dengan pria Amerika karena apapun pendidikan terakhirnya angka harapan hidup mereka tetap tinggi. Yang unik, kesenjangan angka kematian justru semakin melebar pada wanita kulit putih yang tidak menyelesaikan bangku SMA. Bahkan menurut peneliti, antara tahun 2002-2006 tercatat peluang kematian bagi wanita yang tidak lulus sekolah menengah 66 persen lebih tinggi daripada wanita yang menyelesaikan bangku SMA.

Dari mana peneliti menemukan kesimpulan tersebut? Dalam studi ini, Montez dan rekan kerjanya mengumpulkan data dari 46.000 wanita kulit putih berusia antara 45-84 tahun yang ambil bagian dalam sebuah survei kesehatan nasional pada tahun 1997-2006. Kemudian partisipan dibagi menjadi dua kelompok: partisipan yang tidak menyelesaikan sekolah menengahnya dan partisipan yang lulus SMA.

Dari situ diketahui bahwa antara tahun 1997-2001 tingkat kematian wanita yang tidak lulus SMA 37 persen lebih tinggi daripada wanita yang menyelesaikan bangku SMA. Tapi antara tahun 2002-2006, angka itu justru meningkat menjadi 66 persen.

Untuk menjelaskan temuan ini, peneliti mengamati faktor ekonomi, termasuk kepemilikan pekerjaan, tingkat kemiskinan, kepemilikan rumah, kepemilikan asuransi kesehatan serta faktor-faktor kesehatan pada partisipan seperti kebiasaan merokok, obesitas, dan konsumsi alkohol.

Ternyata peneliti menemukan bahwa dua faktor yang paling menonjol di balik penurunan angka harapan hidup pada wanita adalah kepemilikan pekerjaan dan kebiasaan merokok.

"Studi kami menemukan bahwa kepemilikan pekerjaan dan perilaku merokok merupakan penjelasan paling penting di balik peningkatan risiko kematian pada wanita berkulit putih. Kami justru menemukan sedikit penjelasan dari faktor lain seperti obesitas, pernikahan dan kesehatan mental," kata Montez seperti dikutip dari Health24, Sabtu (1/6/2013).

Untuk itu, menurut Montez, kebijakan-kebijakan yang ditujukan dalam rangka meningkatkan kondisi kesehatan wanita di Amerika perlu difokuskan pada perbaikan kondisi sosial dan ekonomi wanita, mengingat wanita yang berpendidikan rendah cenderung memperoleh pekerjaan dengan gaji yang rendah dan jadwal kerja yang tidak fleksibel.

Padahal kepemilikan pekerjaan memberikan banyak keuntungan, misalnya perluasan jejaring sosial dan memberi tujuan hidup bagi seseorang. Belum lagi dapat meningkatkan harga diri serta memberikan manfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental seseorang.

"Akan jauh lebih efektif jika kita meningkatkan kesempatan kerja bagi para wanita daripada sekedar menaikkan pajak rokok. Daripada hanya memperhatikan perilaku tak sehat itu sendiri, lebih baik kita menanggulangi akar permasalahan di balik perilaku tak sehat itu dan pemberian pekerjaan merupakan sarana penting untuk mencapai target tersebut," pungkas Montez.

Turunkan Fungsi Otak



Tekanan darah tinggi alias hipertensi identik dengan penyakit jantung. Tapi sebuah studi baru mengungkapkan bahwa hipertensi, terutama pada arteri yang menyuplai darah ke kepala dan leher dapat dikaitkan dengan penurunan kemampuan kognitif otak.

Tim peneliti dari Australia mengatakan bahwa penderita tekanan darah tinggi di arteri atau pembuluh darah sentral, termasuk aorta dan arteri karotis (pembuluh yang memasok darah ke bagian leher dan kepala) mempunyai skor tes pemrosesan visual yang lebih rendah, termasuk kecepatan berpikir lebih lambat alias lelet dan kemampuan rekognisi (mengenali sesuatu) yang lebih buruk.

"Biasanya pengukuran tekanan darah diambil dari arteri brachial di lengan, tapi ternyata mengamati kondisi arteri sentral bisa jadi cara yang lebih sensitif untuk menilai kemampuan kognitif seseorang. Sebab arteri sentral mengendalikan aliran darah ke otak secara langsung," tandas peneliti Matthew Pase dari Center for Human Psychopharmacology, Swinburne University, Melbourne.

"Jadi jika kita dapat memperkirakan tekanan darah di arteri sentral, maka kita dapat memprediksi fungsi kognitif dan penurunan kognitif yang mungkin saja terjadi pada seseorang," tambahnya.

Dalam studi tersebut, Pase dan rekan-rekannya mengamati yang manakah dari pengukuran tekanan darah yang dilakukan dari lengan dengan arteri sentral yang memiliki keterkaitan kuat dengan kemampuan kognitif seseorang.

Dalam hal ini peneliti melibatkan 493 partisipan asal Australia berusia 20-82 tahun. Sebagian besar peneliti merupakan ras Kaukasia dan bukan perokok yang tidak memiliki riwayat stroke ataupun demensia.

Kemudian partisipan diminta melakukan sejumlah tugas untuk mengukur berbagai jenis kemampuan kognitif seperti pemrosesan visual, daya ingat, kemampuan rekognisi (mengenali sesuatu) dan kecepatan memproses informasi. Tak lupa peneliti juga mengukur tekanan darah partisipan baik dari lengan maupun arteri sentral.

Hasilnya, tekanan darah tinggi pada arteri brachial dikaitkan dengan performa dalam tes pemrosesan visual yang lebih buruk. Namun tekanan darah tinggi pada arteri sentral dikaitkan dengan buruknya perfoma pada tes-tes kognitif lainnya, termasuk pemrosesan visual, rekognisi dan kecepatan memproses informasi.

"Hal ini menunjukkan bahwa tekanan darah sentral merupakan alat prediksi yang lebih sensitif terkait penuaan kognitif," simpul Pase seperti dilansir Foxnews, Minggu (2/6/2013).

Pase menduga seiring dengan bertambahnya usia seseorang maka arteri utamanya mengencang dan dengan elastisitas yang semakin berkurang, otak menerima lebih banyak darah yang tekanannya tinggi, yang pada akhirnya dapat merusak kemampuan kognitif otak.

Studi ini akan dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science.

Sepotong Cinta Dalam Musik



Alunan-alunan nada terdengar semakin menghanyutkan hati ini. Melodi-melodi kerinduan hati yang gunda di hari-hari sepi ini semakin membuat lincah jemari ini, bagaikan seorang profesional. Entah apa yang membuat hidup ini kurang berarti. Ah itu gurauwan ku semata, sudah lama hati ini memendam sepi. Bukannya tak ada yang mau dengan ku tapi terlalu canggung aku memikirkan hal ini, sebenarnya ada seorang bidadari cantik yang terus ku bayangkan sampai saat ini. Rindu bercampur haus di kalah hati ini ingin bercumbu cinta dengan si dia, Ya! Ia adalah bidadari mimpi yang memang hanya sekedar iming-iming ku untuk mendapatkannya. Oh setiap ending nada yang di hasilkan organ ini membuat lepas emosi yang telah lama penuh, dan tertuang saat ini. Gelora badai samudra emosi terus bergulung ganas di setiap bulir not ini. Toh seraya akupun bernyanyi untuk sang bidadari hati:
“Wahai rindu ku, Oh wahai cinta terpendam ku.
Dengarlah kerinduan hati ini.
Nyanyian ini bukan sekedar nyanyian desiran bunyi bui-bui ombak semata.
Juga bukan sekedar luapan emosi, tak usah kau dengarkan dengan telinga, cukup dengan hati saja.
Jadi mau kah kamu menjadi sang pengobat perdu kehampaan hati ini.
Karena kaulah sang bidadariku, terimalah cinta ku ini.”
Deras terasa pekat di hati, nyanyian ini membuat harapan ini bertunas dalam setiap bait lagu yang ku nyanyikan. Sekumpulan kursi-kursi di sana hanya memandang bisu seakan ikut bernyanyi. Ku pejamkan mata lalu kembali kunyanyikan bait akhir lagu dengan lembut:
“Karna kaulah sang bidadari ku, terimalah cinta ku ini”
Saat ku buka mata kembali, Oh astaga! Sang gadis yang ku bayangkan ada di salah satu kursi penonton di sebelah sana. (Ku terhenti sejenak)
“Dinda sejak kapan kamu di sana?”
“Nyanyikan saja lagu merdu itu, hiraukan saja aku”
“Oh andai kau tau, lagu ini ku nyanyikan untuk mu”
Pikir ku terdiam sejenak menatapnya.
Ia tersenyum dan membalas manis tatapan ku.
Ku palingkan muka karena malu. Lalu sejenak jemari ku kembali berhentak kagum. Ia hanya duduk termanggu di sana, membuat ku tak tenang. Sejenak suara organ ini seakan berbicara pada ku: “katakan saja semua isi hati mu padanya!” tentu saja aku hanya menggeleng seirama mengikuti irama musik. Lalu kembali suara organ ini berkata lagi kepada ku, “bukankah ini adalah kesempatan bagus bagimu, ayo katakan saja” aku kembali menggelengkan kepala.
Nada dari organ ini kembali menasehatiku, tapi bukan dengan nada halus lagi ia berkata, “dasar pengecut! katakan saja padanya. karena ini juga adalah peringatan ku yang terkhir pada mu cepat ungkapkan!” Perlahan jemari ku berhenti, ku pandang si dia yang sedang duduk di sana. Ku dekati dengan wajah yang mulai memerah, sekuntum bunga di kantung ku raih, lalu kaki ku setengah berlutut di lantai.
Ia kelihatan sangat bingung, ku pandang wajahnya yang berbinar itu, ia hanya mengangkat setengah keningnya seakan menunggu sesuatu dari ku. Kunyanyikan kembali akhir bait lagu tadi, “karna kaulah sang bidadari ku, terimalah cinta ku ini” Lalu ku berikan ia setangkai bunga di tanganku. Seketika sentuhan halus tangannya menyentuh tangan ku dan mengambil bunga di tangan ku. Ia sedikit berpikir, mungkin belum mengerti apa yang baru terjadi. Kemudian sepatah lontaran kata keluar dari bibir indahnya itu.
“Aku mengerti apa yang berusaha kau tunjukan, aku juga merasakan hati mu, tapi aku tak bisa menerima cinta mu! karena ada yang lebih penting dari cinta, yaitu impian ku di masa muda ini”
“Bukan! Bukan itu yang iiinginn ku.. Ku.?”
kata-kata ku terhenti. aku berpaling dari hadapannya, raut wajah ku berubah murung, gugupun hilang seketika, yang tersisa hanyalah rasa kecewa dan malu yang tidak menentu. Ku bergegas beranjak, namun ku tak keluar gedung teater, melainkan kembali bermain organ. Hentakan hening jemari ku hanya membawa lagu kecewa, seakan membuka kembali kesendirian hati ini, dan siap kembali pada pelukan sang dewi kesepian yang terus menimang hingga, ku terhanyut dalam tangisan yang keluar dengan sendirinya di mata ini, sekedar menghiasi pipi.
Musik ini terasa lebih pekat emosi sakit hati dari pada rasa kesepian. Saat jemari ku berhenti! hanya terdengar tepukan tangan yang sangat banyak. Ah mungkin itu hanyalah suara tepukan tangan kursi-kursi penonton. Saat mata ku buka, pertama ku lihat adalah sang pujaan yang hati terdiam murung, dengan setitik embun di pipinya. Ah mengapa banyak sekali orang? Oh tentu saja ini pasti sudah waktunya mereka berlatih teater musikal untuk beberapa hari ke depan. Dan tentu saja sang pujaan hati ku juga adalah salah satu dari mereka.
“Jonathan kamu hebat dalam musik, dan akting! Maukah kamu bergabung dalam drama musical kami” Tawar seorang pria berkumis yang adalah manejer mereka, yang datang kearah ku. Aku hanya tersenyum sambil menghapus air mata, lalu pergi melewati pria itu, menuju sang pujaan hati ku. tapi terus saja ku lewati gadis itu dan segera keluar dari tempat itu.
Meninggalkan sang pujaan hati yang tampak murung di sana.


Cerpen Karangan: Daniel Satria Sutrisno

Cinta Akhir Sekolah



Cinta, aku mau menunggu
Apakah kamu masih mencintai pria yang sudah bertahun-tahun tak meresponmu itu?
Ya, aku tidak pernah merasa bosan menunggunya, aku benar-benar terpikat olehnya.
Terkadang aku terlalu egois untuk tidak dekat dengan yang lain hanya karena menunggu dia. Bukannya sok sempurna, hati yang kumiliki untuk dia sempurnakan, aku ingin memperjuangkannya.
“fir, kamu ada buku paket kimia?”, tanya dimas.
“eh ada nih, sebentar ya aku ambil dulu”.
Aku yang dari tadi memakai headset hampir tidak sadar ada yang mengajakku berbicara.
“ini bukunya dim”.
“oke pinjam ya, nanti habis mata pelajarannya aku kembalikan kok”
Sambil mencubit pipi kanan ku dia langsung pergi membawa buku kimia ku. Tak lupa pula sebelum aku meminjamkannya aku sempat memeriksa apakah ada catatan-catatan aneh di dalam buku itu.
Dimas cowo tinggi yang memiliki kharisma, cerdas, berambut cepak, ramah, lucu, dan dia sangat memiliki jiwa kepemimpinan. hal itu yang membuat adik kelas tergila-gila padanya saat dia memimpin suatu kegiatan organisasi di sekolah. Dia sosok kakak kelas yang tegas untuk urusan kepemimpinan, bahkan dia banyak mengajarkan hal untukku.
Tak terasa sudah hampir 3 tahun penuh aku menimba ilmu di sekolah ini, tempat yang mengajarkan aku berbagai hal termasuk cinta.
Hanya tinggal hitungan bulan aku tidak akan menikmati masa-masa belajar di sekolah ini, semua akan kutinggalkan demi melanjut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah.
Berbagai kenangan akan kutinggalkan, menghilang dengan jejak yang masih bisa ku lihat. aku pasti selalu ingat tentang sekolah ini dan aku pasti selalu ingat dia.
Tak terasa tinggal hitungan hari lagi kami akan menghadapi UAS setelah UTS berlalu 2 bulan yang lalu.
Proses belajar mengajar pun tidak lagi rutin untuk dilakukan terhadap kelas 12 karena guru-guru cukup mengerti sehingga memberikan kami sedikit waktu santai.
Aku duduk di depan kelas sambil menjalankan playlist ku, tiba-tiba pandanganku berhenti pada satu cowo tinggi berjaket hitam itu, ya itu dimas dan… sedang apa dia dengan andini? sepertinya mereka sedang bicara serius. tadi memang aku melihat pacar nya andini adu mulut dengan dimas. Ya mungkin mereka menyelesaikan masalah itu.
“woy! ngeliatin siapa sih kamu?”, tiba-tiba shinta mengejutkanku.
“dih bikin kaget aja, itu si dimas ada masalah apa?”
“oh itu… sedikit masalah sama pacarnya karena dia bikin pacar nya andini cemburu padahal gak bermaksud seperti itu, salah paham saja”
“oh gitu… besok ada tanding futsal sekolah kita lawan methodist mau ikutan nonton gak?”
“oke, ketemu di sekolah ya pergi ke lapangan futsal nya bareng ajak yang lain juga”
“oke. sekarang yuk temenin aku ke kantin”
Sembari meninggalkan tempat berbincang tadi, ternyata pandanganku tak lepas dari sosok pria berjaket hitam itu. Ya aku terlalu penasaran dengan apa saja yang mereka bicarakan.

Ku lihat sosok itu, di tengah-tengah lapangan futsal pria tinggi berbadan ideal dengan nomor punggung 15, iya itu dimas.
“ayo bibi bibi bibi!!! glory-glory bibi!!!”, teriak shinta menyemangati salah satu pemain yang juga merupakan teman dekatnya.
Ketiga temannya dari pertama kali datang selalu ribut dan heboh, sedangkan aku? dari pertama kali memasuki lapangan futsal hal utama yang aku lakukan hanya mencari sosok tinggi itu.
Entah apa yang membuat pandanganku tak lepas dari sosoknya.
Dia memang sudah sering aku lihat tapi kali ini aku sadar ternyata aku bukan sekedar kagum ataupun rasa simpati terhadap teman seoraganisasi.
“horeeee menang!!!”, seru anak-anak. Ya akhirnya pertandingan selesai dan sekolah ku memasuki babak final, masih ada satu pertandingan lagi untuk menentukan ke tiga besar.
“dari tadi kamu kenapa diam aja? dari tadi ngeliatin siapa sih?”, tiba-tiba dinda mengajakku berbicara.
“eh.. enggak kok, aku bukan ngeliatin siapa-siapa. cowo kalau main futsal ternyata keren juga ya nda”
“ya memang iya, selama ini kamu ke mana aja?”, ledek dinda.
Pertandingan selesai, alhasil semakin ramai. Bahkan untuk jumpa sama pemain dari sekolah kami pun susah, akhirnya kita kumpul lagi di sekolah.
Entah apa yang membuatku sering memperhatikan dimas akhir-akhir ini, aku tak tahu aku hanya sekedar kagum atau lebih dari kagum padahal hampir setiap hari kita ketemu.
“makasih ya udah nonton kita tadi, kalian kocak teriak-teriak seperti itu ha ha ha”, kata dimas sambil menahan tawanya.
“eh aku engga ada teriak, shinta, tari, dinda tuh yang meneriaki kamu terus” sambungnya sambil ikut tertawa juga.
“iya deh yang penting makasih banyak ya, lusa kita ada tanding lagi untuk masuk ke final jangan lupa ya. aku menjumpai mereka dulu ya”, katanya sambil bergegas meninggalkan kami.
Dimas keringatan, mungkin dia butuh istirahat dan mungkin dia terlalu bosan bicara dengan aku yang hampir tiap hari selama 2 tahun lebih ini dia ajak ngobrol.
Terkadang ngobrol sama dia itu nyaman, walaupun terkadang dia lebih banyak mengejek dari pada bicara serius, tapi tetap aja itu tidak menjadi penghalangku untuk berhenti mengaguminya.
Baru terasa ketika mau tamat begini aku baru menyadarinya kalau dia memang pria yang selama ini ada di hatiku tetapi aku tidak pernah memastikannya.
Berawal dari kegiatan organisasi sekolah yang kebetulan ketua pelaksana nya adalah dimas, pada saat itu dia sering menitipkan handphone nya padaku, kemudian waktu acara makan bersama sanking laparnya aku makan di luar terus dia kesal gitu, terus aku juga merasa bersalah aku minta maaf dia maafin terus dia pergi gitu aja padahal handphone nya masih sama aku.
Ya bukan hanya itu aja sih, banyak lagi hal lain yang benar-benar membuat aku jatuh cinta terhadap pria berbadan tinggi ideal itu.
Kadang, aku sulit membedakan mana ketertarikan saat dan cinta beneran. Dua hal itu seakan tak punya perbedaan.

Ujian akhir sekolah pun berlalu dan ujian nasional di depan mata. Semakin hari aku semakin tidak bisa menahan perasaanku untuk tetap berpura-pura dan menjaga sikapku didepannya. aku tidak berbakat untuk tidak berpura-pura suka kamu.
Siang itu ketika jam istirahat aku sedang duduk-duduk di depan kelas dengan cewe yang kabarnya pernah dia sukain, selain mereka memang dekat layaknya kakak adik mereka juga sekelas dan dia juga merupakan kawan dekatku sendiri.
Entah mengapa, tiba-tiba dia lewat terus nyamperin tuh cewek terus dia ngelus-ngelus kepala tuh cewek. Aku yang diam-diam cemburu gini bisa apa? Terus berusaha menyembunyikan pandanganku untuk gak ngeliatin mereka alhasil aku ketangkap basah lagi ngeliat dia sinis, kemudian dia juga melihat aku dengan pandangan kosong.
Kemudian dia tidak bicara apa-apa dengan ku, ini beda, tak biasanya seperti ini.
Aku mencoba membiasakan diri sebagaimana biasanya. tapi alhasil aku tak bisa menahan perasaanku lagi, aku semakin canggung aku semakin yakin kalau dia itu udah tau yang sebenarnya.
Seperti pepatah “sejauh-jauhnya tupai melompat pasti jatuh juga” nah kalo ini, sepandai-pandai nya menyembunyikan perasaan pasti terungkap juga.
Waktu adalah uang, semakin aku tak punya waktu untuk bercerita tentang perasaanku semakin aku akan menyesal di kemudian hari.
Dia tak pernah tahu sejauh apa perasaanku terhadapnya, dia juga tak pernah tahu apa yang ku pendam selama 2 tahun ini berawal pertama kali menjadi kakak kelas di kelas sebelas semua terasa menakjubkan bila di ungkapkan, aku yang selama ini hanya teman biasa nya, teman celotehnya tiba-tiba angin membawakan hembusan cinta mungkin dia akan merasa risih denganku. Padahal cinta tak pernah salah.
“shin, bagaimana menurutmu jika aku mengungkapkan rasa sama orang yang selama ini tak pernah ku duga?”
“wajar-wajar saja asal ada kode etik nya ha ha ha memangnya siapa orang itu?”
“orang terdekat kita”
“siapa? apakah kamu yakin dia orangnya selama ini?”
“iya, dan bodohnya setelah hampir tamat begini aku baru menyadarnya”
“aku jadi semakin penasaran, siapa sih?”
“dimas”, tukasku dengan cepat dan singkat kemudian langsung tak kutatap lagi pandangan shinta yang penasaran itu karena malu.
“kenapa kamu bisa suka sama dia? jadi selama ini dia orang yang selalu membuatmu menunggu?”
“aku juga tak pernah menyadarinya, bahkan aku tak pernah cerita soal ini kan.”
Shinta hanya terdiam seperti ada sesuatu yang tak ingin di ungkapkannya padaku, aku tak memaksa, aku terus bercerita tentang apa yang terjadi selama dua tahun ini.
Semuanya terasa cepat berlalu, dan terlalu cepat untuk diungkapkan, selain dia tak pernah membuat respon positif terhadap sikapku tapi entahlah mungkin dia terlalu risih dengan teman yang menjadi cinta atau dia memiliki pujaan hati lain.
Hari semakin berlalu, hari semakin tak menjadi milikku. Yang biasa nya biasa aja tapi sekarang malah menjadi tak biasa.
Duduk-duduk di halaman depan sekolah itu memang menjadi hobby sepulang sekolah.
Aku menelentangkan kaki ku sambil mendengarkan lagu mengikuti alunan musik yang melow, masih kurasakan sapaan hangatnya, masih kurasakan cubitan nya di pipiku dan masih dapat kuterjemahkan tawa khas nya. tiba-tiba dimas yang baru datang langsung duduk dihadapanku dan melakukan hal yang serupa dengan ku, menelentangkan kedua kakinya.
Dan akhirnya kami saling berhadapan dan kedua telapak kaki kami saling bertemu, suatu kejanggalan tiba-tiba aku tak bernyali untuk mengajaknya berbicara dan dia pun mengalami hal yang sama padaku. Sorot mata nya tak lagi biasa terhadapku, kamu berdua saling curi pandang dan aku semakin tak berani untuk memulai bicara.
Ini seperti keegoisan, tak ada yang ingin memulai. Semuanya menjadi terasa aneh. Diam, senyap, tak ada suara antara aku dengan dia. Yang ada hanya dia dengan teman-teman ku.
Semakin hari aku semakin gelisah apa yang harus kulakukan dihadapannya, aku juga semakin merasa bersalah karena telah merusak hubungan pertemanan ini. Dia yang tak tahu seberapa lama aku memendamnya dan dia yang tak pernah inginkan aku. Mungkin Aku harus segera mengungkapkannya.
Hari ini adalah hari perpisahan kelas 12 tahun ajaran 2011/2013 acara ini dilaksanakan tepatnya 3 hari sebelum pelaksanaan Ujian Nasional.
“selamat pagi fira, cantik sekali hari ini tampil feminim” tiba-tiba shinta mengejutkanku dari belakang.
“kamu baru sekali ini memuji aku, kamu juga lebih cantik dari aku loh”
Fira asifha seorang gadis yang bukan tomboy namun juga bukan feminim baru sekali ini dirinya disebut feminim karena tidak pernah memakai short dress.
“dimas udah datang belum shin?”
“udah, dia ganteng sekali hari ini, aku saja hampir terpikat olehnya”
Sambil tersenyum menatapku shinta juga menyinggul siku tanganku.
Tak lama sebelum acara di mulai, semua kelas 12 baris berpasang-pasangan untuk memasuki gedung acara. Tanpa ku duga, semuanya terasa menyakitkan ketika dimas lewat hadapanku bergandengan tangan dengan cewe yang waktu itu kepala nya di elus-elus dihadapanku, Arista dewi.
Semakin suasana nya hening, semakin tetes air mata ingin membasahi pipiku, tetapi hati menguatkanku untuk tetap tegar pada saat itu, berusaha tersenyum mengabaikan kesedihan, berusaha menjaga pandangan agar tak terlihat, walaupun tak semudah yang dibayangkan tetapi tak sesulit yang terlihat.
Ku lihat sosok tinggi itu di sudut panggung, aku ingin sekali berbicara dengannya, akhirnya dengan sekuat hatiku kuberanikan diri.
“kamu liat shinta gak dim?”
“aku gak tau, tadi dia sama aku tapi setelah itu dia menghilang. ”
“hem ya udah deh, kamu mau ke mana?”
“aku nyari arista, aku mau menyatakan cinta kepadanya” bisiknya sambil tersenyum.
“kamu yakin? wah semoga lancar ya” aku berusaha menutupi segalanya, aku berusaha menutupi rasa yang ada.
“yakin dong, makasih banyak ya” sambil melontarkan senyumnya kemudian dia tinggalkanku yang sedang menangis di dalam hati.
Semua sibuk dengan urusan masing-masing, tatapan ku dan tatapannya yang selalu bertemu ternyata tidak berguna, aku selalu menyangka bahwa itu petanda kalau dia merasakan hal yang sama padaku.
Untuk saat-saat yang seperti ini sangat di sayangkan kalau tidak ada pengabadian, foto bareng dimas misalnya. Tapi dia mengesalkan, dia memanggilku tak ingin mengajak berfoto melainkan menyuruhku untuk mengambil gambarnya.
Aku terdiam di penghujung acara, saat doa dia berada disampingku sempat ku sentuh jemarinya secara tidak sengaja, namun kamu hanya tertawa kecil dan pergi tanpa tau betapa senangnya aku dapat menyentuh jemarimu.
Secara keadaan, jarak aku ke kamu tidak jauh tetapi jarak hati aku ke kamu yang membuat jauh, ada perbedaan yang aku rasakan namun kamu tak merasakan dan susahnya jadi aku yang tak bisa menahan perasaanku membuat semuanya berubah, kamu tak seperti dulu lagi yang suka bercanda.
Sungguh, di situasi seperti ini ingin kuteteskan air mataku tapi itu tidak menjadi kemungkinan bagiku karena ini bukan tempat yang tepat untuk melakukannya.
Ku tanya diriku sendiri, bolehkah anak gadis umur 17 tahun ini takut kehilangan kesempatannya untuk mengungkapkan perasaannya? Terkadang aku aku terlalu memaksakan kehendakku untuk tetap berdiri kokoh dan menjadi seorang gadis yang optimis untuk mendapatkan cintanya.
Sore yang mendung tetapi tak kunjung hujan ini membawaku ke dalam kegalauan, aku semakin tak kuasa menahan rasa cemburu ku. Bagaimana mungkin aku tak merasakan hebatnya gencaran jantungku saat mendengar bahwa dia akan menyatakan cinta kepada wanita yang sama sekali tak pernah ku duga? Haruskah aku menjadi seseorang yang egois untuk melarangnya menyatakan cinta kepada gadis pujaan hatinya?
Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan di kursi pojok ini, dengan dia yang bercinta dan dengan aku yang sedang menahan emosiku melihat mereka bersendu gurau, tertawa seolah tak ada yang tersakiti, dan bercanda seolah tak ada yang tak senang. Langit semakin tak acuh, sesuai dengan isi hatiku. Kurasakan langkah-langkahnya kearahku, kurasakan sapaan hangatnya kearahku, tanpa kusadari, dia sedang berada disampingku sekarang.
“gambar kita berdua belum ada” Dia menatapku sambil tersenyum kemudian dipanggilnya seseorang untuk mengambil gambar aku dan dia. Ku lihat temannya menyembunyikan senyumannya melihat kami berdua berfoto.
Mungkin sesuatu yang aku anggap suatu kesenangan merupakan suatu keterbiasaan untuknya, itu karena dia tak mengerti arti sikap yang telah berubah, yang benar saja aku benar-benar mencintainya.
“dim, aku boleh bicara sesuatu?”
“kamu mau bicara apa? Ya bolehlah”
“tapi kamu jangan kaget ya?”
Dia semakin bingung dan sedikit canggung spertinya dia tahu apa yang akan kukatakan. Kuberanikan diriku, ku tarik nafas ku sejenak untuk memulainya.
“apakah kamu tidak merasakan perubahan sikapku terhadapmu belakangan ini?”
“rasakan”
“aku minta maaf ya kalau sudah membuatmu tak nyaman”
“apa yang salah? kenapa kamu minta maaf?”
“kamu ingat? Saat pertama kali kita menjadi teman?”
“ya aku ingat, saat pertemuan kita di suatu organisasi kan. Lalu mengapa dengan pertemuan itu?”
aku bagaikan kaktus yang memeluk dirinya sendiri, merasakan cinta sendiri, merasakan sakitnya sendiri.
“dari situ aku mulai mengagumimu semenjak itu, kurasa itu hal yang biasa tetapi semakin lama aku sadar itu tak hanya sekedar kagum. Jadi selama 2 tahun ini menyimpan perasaan yang tak pernah kamu tahu, aku minta maaf sudah membuatmu tak nyaman dengan sikapku… ”
“hah? kamu… serius?”
Dia hanya terdiam menatapku yang tak berani menatapnya. Perlahan mataku mulai berkaca-kaca.
“kamu tidak usah menjawab aku, kamu hanya perlu mendengar semua pengakuanku yang selama ini berpura-pura. Aku tak perlu jawaban, aku hanya perlu pengertian kalau kamu sudah tahu tolong jaga perasaannku.”
Dia hanya terus diam, diam, dan diam. Hujan pun akhirnya turun membasahi jalanan di depan gedung. Sepanjang waktu kami hanya diam dan aku sendiri semakin tak bisa menahan perasaanku bahkan aku berusaha menyembunyikan air mata yang tertahan ini, ternyata aku tidak berbakat untuk pura-pura tidak menahan air mataku.
Waktu terus berjalan, angin terus berhembus, aku semakin gelisah apa yang terjadi setelah aku mengungkapkan perasaanku. Apakah dia akan mengejarku dan berkata dia memiliki perasaan yang sama denganku atau dia mengejarku untuk berkata “maaf aku suka arista, bukan kamu” kalimat itu terlalu tajam untuk masuk ke hatiku.
Seiring berjalannya waktu, aku tak pernah lagi berbicara dengannya setelah kejadian “aku mencintainya” kemarin. Aku mulai melupakan kamu yang jauh, dan kita mulai terpisah jauh karena demi pencapaian masing-masing. Seharusnya yang permanen “kita” bukan “aku” dan “kamu” yang terpisah.
Sesuatu yang sudah terungkapkan walaupun hasilnya tak seperti yang diharapkan akan lega jika seseorang itu punya niat untuk tidak membohongi perasaannya lagi.

Hawa di kawasan ini yang membawa cinta, suatu angin yang menyampaikan perasaan, dan sesuatu jejak yang meningglkan kenangan. Ya aku ingat tentang 7 tahun yang lalu saat pertama kali kita kenal, dekat sebagai teman dan kita bertemu lagi di masa depan kita masing-masing dan di tempat ini lagi, tempat pertama kali aku mengagumimu yang ku anggap hanya sekedar kagum.
Aku memakai kemeja putihku dengan berstatus sebagai penulis dan kamu memakai seragam mu dengan berstatus polisi. masa depan kita mempertemukan kita kembali, di tempat yang sederhana ini namun ini merupakan awal yang luar biasa untukku.
“hai fir, kamu apa kabar?”
“hai juga dim, alhamdulillah kabar aku baik. kamu?”
“sama seperti kamu. Apa yang kamu rasakan stelah 5 tahun kita tak bertemu?
“haruskah aku menjawabnya?”
“tidak perlu, aku sudah tahu ha ha ha”
“ya kamu ga berubah dari dulu. Sudah sejauh apa hubunganmu dengan arista?”
“tidak sejauh apa-apa, kamu kira waktu itu aku nembak dia di terima gitu?”
Aku terdiam dan mentapnya dengan bingung, tanpa memikirkan apa-apa lagi aku terus berusaha meyakinkan apa maksudnya.
“aku di tolak, aku suka sama dia tetapi ku pikir dia memiliki hal yang sama ternyata tidak”
“hah…”
“kamu, sejauh apa sekarang perasaanmu dengan pria beberapa tahun yang lalu itu apakah masih dia yang ada dihatimu? apakah masih dia yang kamu perjuangkan?”
ucapnya sambil tertawa kecil. Aku tak menjawab, aku hanya tersenyum kecil dan langsung tak menatapnya. Apakah aku salah jika masih memperjuangkanmu, meskipun aku tak bilang?
Di awan-awan aku kembali dibawanya terbang, menerawang segala yang di langit aku kembali dibawakan terbang oleh cintanya. Aku kembali, kembali seperti saat pertama kali jatuh cinta, jelas aku sedang menikmati senyumnya saat ini. Kami di peretemukan kembali di tempat ini dengan sukses.



Cerpen Karangan: Dina agustina

Sebuah Penantian



Malam beranjak kian larut, seiring purnama yang tersenyum penuh rona keindahan yang menyusup di balik jiwaku yang dirambati resah, sang purnama bersinar memancarkan cahaya kuning keemasan, seolah memberi secercah sinar ke dalam hatiku, namun entah mengapa seolah hatiku tak bisa berdamai. begitupun dengan hatiku yang kian di landa resah. ya… resah karena menanti… telah satu jam aku menunggu namun dia tak kunjung menunjukkan tanda tanda kehadirannya, bahkan nomor hp nya pun tak bisa di hubungi. ku lihat jam tanganku, hmmm.. sudah jam 10 malam, dia telah terlambat satu jam lebih dari waktu yang dijanjikan…
Aku telah menghabiskan segelas cokelat panas yang merupakan minuman favoritku, telah enam batang r*kok yang kujadikan teman sembari menunggu kedatangannya, namun firasat akan kedatangannya entah mengapa tak terbersit sama sekali di hatiku, kupandangi tempat yang telah dijanjikannya untuk bertemu ini dengan perasaan yang tak menentu, lampu berkelap kelip menambah indah lukisan malam, angin yang semerbak membawa nyanyian sendu. telah beribu kenangan indah yang tercipta antara aku dan dirinya, kini lukisan kenangan itu menjelma menari nari di memori ingatanku. saat saat pertama bertemu dulu di sini… saat saat aku mulai merajut hari bersamanya, saat saat aku menghapus air mata lukanya, saat ceria mewarnai rindu yang menjerat kalbu. tak terasa aku telah dalam tenggelam di ceruk kenangan.
Ku lihat jam kini telah menunjukkan pukul 22.45. hatiku kian gelisah harap harap cemas, mengapa dia tidak mengabariku jika memang dia tak bisa datang, mengapa malah nomornya tidak aktif, mengapa… mengapa…? apa dia lupa? bukankah dia yang mengajak untuk bertemu malam ini, di tempat ini… ah.. mungkin benar dia lupa (sanggah hatiku untuk berbaik sangka padanya), tapi benarkah? bagaimana kalau… aku segera menepis persangkaan burukku padanya. terjadi peperangan batin di hatiku, aku semakin di landa gelisah.
Perlahan lagu mengusung rindu-nya spin band mengalir syahdu dari earphone ditelingaku: “sayu hati… sayu sekali.. melihat engkau berpimpin tangan dengan sidia… sakit hati, sakit sekali.. pabila cinta yang aku beri tak dihargai…”
Karena malam semakin larut, sedang purnama telah meninggi bertahta disinggasananya sambil memancarkan sinarnya yang kuning keemasan. alam yang indah ini kulalui dengan hati yang gundah tak tercegah, sungguh tersiksa aku dibuatnya. ku coba menghubungi no hp nya, masih tidak aktif. ku coba mengirim sms padanya, tertunda… ah…
ku lihat sekeliling keadaan mulai sepi, tinggal beberapa pasangan yang masih asik bercanda di bawah sinaran rembulan. entah apa yang ada di pikiran mereka (bahagia tentunya ya..?). beberapa pasangan yang lewat di depanku memandang dengan heran, mungkin aku di kira orang gila karena duduk sendirian hanya bertemankan asap r*kok… hemmm, entahlah, aku masa bodo dengan persepsi mereka terhadapku.
Ahirnya kuputuskan untuk pulang, karena aku menganggap penantianku sepertinya akan sia sia belaka. ku ayunkan langkah dengan gontai. sejenak ku pandang sang rembulan, dia masih saja memberikan senyumnya yang indah untukku. atau hanya senyum kasihan terhadapku.. entahlah…
Sebelum pulang ke rumah aku sengaja untuk jalan jalan malam, untuk sedikit untuk menenangkan hatiku yang berkecamuk dengan seribu prasangka. ku pacu kuda besiku dengan santai sambil menghayati suasana malam yang mulai lengang. tiba tiba sesosok yang ku kenal ku lihat duduk di sebuah taman, dia berdua, mereka kelihatan sangat mesra. entah mengapa tiba tiba semua kenangan itu berpacu di ingatanku, mendobrak segala penghalangnya meski aku mencoba untuk menghalaunya. tiba tiba aku merasa percuma dengan penantianku, semua seolah sia sia. ya semuanya sia sia…


Cerpen Karangan: M.Munif Fannani

Gelap Terang Senyuman



“Gapai semua jemariku, rangkul aku dalam bahagiamu, ku ingin bersama berdua selamanya. Jika ku buka mata ini ku ingin selalu ada dirimu dalam kelemahan hati ini bersamamu, aku tegar”

Aku masih termenung menatap senja taman kota ini, Jogjakarta. Masih sama seperti yang dulu, hatiku hancur mengingat semuanya, sesal memang hari ini yang kurasa, coba saja waktu itu aku mengikuti saran ayah, mungkin semua cerita ini tak akan terjadi.
Dan sore itu enam tahun yang lalu keluarga Mas Teguh datang untuk melamarku, aku masih berusaha ikhlas demi ayah, meski sebenarnya aku tak menginginkan untuk terjadi secepat ini. Episode yang begitu menyesakkan dada, bagiku semuanya akan berakhir, tentang angan dan pula mimpi mimpiku. Aku sangat ingin melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi untuk mendapat karir yang bagus, jika aku sudah menjadi istri maka aku harus tunduk dan taat padanya, aku diwajibkan fokus berbakti pada suami dan anak anak ku kelak. Lalu bagaimana dengan cita citaku untuk berkeliling dunia? pikiran-pikiran seperti ini yang terus saja memenuhi otakku.
“ahhhhhh, wahai angin segar, lewatlah sejenak lewati hatiku. Bosan, penat, sesak, penuh di dadaku. Tuhan, aku tak dapat menyebut ini tentang apa, hanya kurasa berat sekali. Tuhan, aku ini milikmu, maka aku ingin selalu ikhlas atas segalamu. Dan aku yakin engkau selalu memberiku yang terbaik.”
Teguh Iman Mahadi dialah lelaki pilihan ayah, dia sarjana ilmu telekomunikasi di salah satu universitas ternama di Indonesia, anak dari teman ayah semasa dulu tinggal di Jakarta, aku tak tahu banyak tentang dia, wajahnya saja aku tak pernah faham hanya lewat foto aku memandangnya, laki laki yang terlihat gagah dan tampan, tapi entahlah aslinya aku juga tak tau, tapi pada suatu sore dia pernah menelefonku, suaranya begitu menyejukkan hati, tutur katanya yang sopan dan lembut memaksaku untuk tidak mengecewakan ayah. Kata ayah dia adalah sosok lelaki yang tak mau main-main tentang apa itu yang namanya cinta, dan pula tak suka mempermainkan wanita, hingga akhirnya Mas Teguh menyetujui saran ayah terhadapnya untuk menjadikan ku sebagai pendamping hidupnya, bukan pacar atau sejenisnya. Padahal aku tau mungkin saja banyak wanita yang mendambanya di luar sana, tapi dia tetep teguh pendirian, persis seperti nama nya Teguh Iman Mahadi. Aku tak peduli itu semua, pikirku perjodohan ini adalah hal terkonyol dalam hidupku. Jujur sebenarnya hatiku berat untuk mendengar namanya dari mulut ayah, dan aku ingin sekali menggagalkan acara perjodohan ini.
Ayahku memang sedikit kolot, baginya hal terpenting bagi seorang wanita adalah bukan berilmu tinggi atau berkarir cemerlang, ia hanya ingin aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak anakku kelak, masalah financial itu hanya kewajiban seorang laki laki, ya memang ada benarnya juga agar aku menjadi sebaik baiknya wanita bagi keluargaku kelak, tapi di sisi lain pemikiran ini sangat kontras dengan ide ideku, simpel saja, toh aku ingin jadi wanita sukses untuk membahagiakan ayah, karena beliaulah satu satu nya yang kumiliki, tak ada ibu, tak ada pula saudara.
Sebelas tahun yang lalu ayah mendapat kabar dari saudara bahwa nenek sedang sakit, aku ingat sekali hari itu hari kamis dua puluh lima januari dua ribu tiga, dan di hari selanjutnya ayah benar benar tak bisa meninggalkan kantor Karena ada rapat dadakan dengan klien dari luar daerah, sehingga terpaksa hanya ibu dan kak farhan yang berangkat ke Blitar untuk menengok kedaan nenek, lalu ibu menyuruhku bersama ayah agar menyusul di keesokan harinya, waktu itu aku marah pada ibu kanapa aku harus berangkat dengan ayah tiri ku, aku memang tak mau mencoba akrab dengannya, ya aku memang selalu tak mau mencoba akrab dengannya, karena sejak ayah kandungku meninggal tepatnya saat aku duduk di bangku kelas dua SD, aku memang selalu kekeuh untuk tidak menerima ayah baru untuk menggantikan posisi ayah, aku sangat menyayanginya melebihi apapun, ayahku mengidap penyakit leukemia tiga tahun sebelum meninggal, aku selalu menungguinya di rumah sakit, ikut mengantarkan nya berobat kemana-mana, hingga suatu saat ada teman ibu yang menyarankan agar ayah di bawa ke tempat pengobatan tradisional milik H. Syamsul Bahri yang berada di kota Blitar, jauh memang dari Jogjakarta, namun demi ayah ibu tak pernah menyerah, ibu selalu bersemangat untuk membantu ayah menyembuhkan penyakitnya, nah di sana lah ibu dipertemukan dengan ayah tiriku. Om Mafatih Ali begitu dulu aku selalu memanggilnya, walaupun sudah punya anak tapi beliau masih muda plus masi kece gitu, dia adalah putra pertama dari H. Syamsul yaitu beliau yang rutin mengobati ayah.
Hingga pada saat itu tiba hari minggu empat belas agustus dua ribu satu di salah satu rumah sakit di Jogjakarta ayah menghembuskan nafas terakhirnya, aku tak kuat sungguh tak kuat melihat ayahku di detik detik terakhir sakarotul mautnya, terus saja ku peluk suster yang memang sedari tadi menemaniku dengan sangat erat sambil menangis sesenggukan di pelukannya. Entah apa yang ku rasa saat itu, yang aku tahu hanya tuhan sangat jahat kepada kami kerena telah mengambil ayah dengan secepat itu, aku masih ingin bermain dengan nya, aku masih ingin pergi ke pasar malam dengan nya, aku masih ingin dibacakan dongeng oleh ayah sebelumku tidur di pangkuan nya.
Beberapa tahun setelah itu memang ibu menikah dengan Om Mafatih seorang ayah tiri yang ternyata benar-benar mencintaiku dengan sangat tulus, Om mafatih punya satu anak lelaki dari istri pertamanya yang sudah meninggal sejak anak pertama mereka lahir. Dia itu adalah kak Farhan.
Aku sangat sadar kalau Om Mafatih itu sangat menyayangiku layaknya anak kandung sendiri, seperti dia menyanyangi kak Farhan anak kandungnya, tapi sekali lagi aku belum bisa menerimanya sepenuhku persis seperti aku menyayangi ayah kandungku.
Hingga selanjutnya datang hari dimana tuhan telah menggariskan aku harus kehilangan orang yang sangat aku sayangi untuk yang kedua kalinya, pagi itu jumat dua puluh enam januari dua ribu tiga ibu bersama kakak berangkat ke Blitar tanpa sepengetahuanku, saat itu memang masih sangat pagi dan aku pun jelas masih tidur, ibu hanya pamit pada ayah “yah, ibu berangkat dulu ke Blitar untuk menjenguk ibu ya, jaga nada ya yah, jangan lupa besok ajak dia menyusul ke Blitar bersamamu, aku tak mau dia banyak bolos sekolah seperti tahun kemarin, cukup izin untuk hari sabtu besok saja, toh hari minggunya dia libur.”
Tidak terlalu jelas memang pesan ibu, dan tak memberikan pertanda apapun bahwa akan terjadinya musibah besar di hari itu, setelah minta izin pada ayah, ibu dan kakak pun segera bergegas berangkat menuju ke stasiun.
Aku bangun, tak tau kenapa pagi itu terasa sangat aneh, tak ada teriakan ibu seperti biasanya, aku malah seperti mendengar suara ayah kandungku memanggil manggil nama ibu, aku menuju ke lemari pendingin untuk mengambil segelas air putih, aku terkejut melihat di depan pintu kulkas ada tulisan ibu, kira kira seperti ini tulisannya, “sayang, pasti baru bangun tidur yaa?, tuh kan dugaan ibu benar, hehehe. Nak ibu minta maaf ya ninggalin kamu di rumah sendirian sama ayah, nada gak boleh nakal ya sayang, harus nurut sama ayah gak boleh keras kepala kaya kemaren-kemaren ya nak, love you sayang, muach” aku cuman nyengir baca tulisan ibu, soalnya apa yang di tulis ibu itu semuanya benar.
Sekitar jam sepuluhan ayah masih sempat menelephon ibu “assalumualaykum, dekk” “waalaykum salam ayah sayang” “sudah sampai mana dek?” “emm, nyampe mana ya yah, kurang paham juga, kayanya nyampe hatinya ayah deh, hahaha” “adek ni bisa aja” “tapi intinya bentar lagi udah mau nyampe kok yah, kenapa? kangen ya?” “hwahaha GR abis deh, tapi emang bener sih kangen pengen cepet ketemu besok, atau secepatnya” “hehehe iya deh secepatnya bakal ketemu, nih farhan lagi tidur yah, capek katanya, dia bilang nanti kalo udah sampai dia mau langsung tidur” “haha farhan mah emang hobi tidur tuh, haha” “emang ayah nggak?” “hahaha sama, ya udah dek, ni abang mau jemput nada ke sekolahnya dulu ya! kasian dia nanti kalo lama nungguin nya.” “iya yah hati hati ya” “iya sayaaaang, kamu juga hati hati ya, ayah love ibu so much, assalamualykum” “hihi love you too ayah sayang, iya waalaykusalam.”, dan tiba tiba ibu menambahkan bicaranya “yah, jaga nada ya selama aku gak ada di rumah.” tut tut tut telepon pun terputus sebelum ayah menjawab perkataan ibu yang terakhir tadi.
Begitupun selanjutnya ayah langsung menuju ke sekolahku untuk menjemputku pulang, lalu mampir sebentar ke warung makan untuk makan siang bersama.
Di perjalanan pulang tiba tiba handphone ayah berbunyi, di lihatnya telephon itu, “siapa yah?” Tanya ku, “ini kok ibu tiba tiba telepon lagi ya nak, padahal ayah kan baru aja telepon dia” “ya udah sini nada aja yang angkat”. langsung aja aku teriak “ibuuuuuuuuuu, kanapa tinggalin nada?” tapi yang kudengar bukan suara ibu, hanya suara gemuruh tidak jelas, dan sesekali sepertiku mendengar teriakan, bahkan tangisan. “Yah, coba ayah aja yang bicara, berisik banget nada gak denger apa apa” “ya sini, hallo assalamualaykum, dek, assalmualaykum sayang, hallo dek kenapa nggak jawab, halloo”, terus saja ayah mengulanginya tapi tak ada suara jawaban. “mungkin handphone ibu tadi kepencet nak, kata ayah mencoba menenangkan ku, meski aku sangat tau mukanya berubah seketika jadi panik.
Sesampainya di rumah seperti biasanya sepulang dari kantor ayah pasti menyalakan televisi. Betapa sangat terkejutnya ayah ketika melihat siaran lansung di salah satu stasiun TV yang memberitakan kecelakaan kereta api jurusan blitar yang kemungkinan besar ada ibu dan kak farhan didalamnya, Ya memang benar, ibu dan kak farhan ada didalamnya, tapi pertanyaannya adalah apakah mereka selamat?, seketika itu ayah tanpa pikir panjang membawaku kemudian melaju dengan kecepatan yang tak seperti biasanya menuju ke tempat dimana kereta itu mengalami kecelakaan.
Sungguh nyata perkataan ibu kepada ayah, secepatnya mereka akan bertemu, bahkan selang beberapa jam mereka dipertemukan kembali, tapi dalam keadaan ibu yang telah tak bernyawa, kak farhan juga begitu, ia benar benar istirahat panjang setelah sampai, ternyata maksudnya adalah saat sampai ajalnya tiba, sedih tak terkira rasanya. Aku kehilangan separuh jiwaku, bahkan pada bulan bulan awal kepergian ibu aku seperti mayat hidup yang tak berdaya, aku enggan menjalani hidupku kembali, rasanya aku ingin mati juga bersama ibu. Tapi ayah dengan sabarnya selalu berusaha menenangkanku, menghiburku, hingga sampai saat ini aku menjadi sangat tegar dan menerima dengan ikhlas apa yang telas digariskan Allah kepada keluarga kami.
Kembali lagi ke mimpiku untuk berkeliling dunia, melanjutkan study ke jenjang lebih tinggi, dan akhirnya menjadi wanita sukses, ayah masih saja kekeuh dengan pendiriannya, menentang keras permintaanku yang satu ini, hingga pada suatu ketika keluarlah dari mulutku, “yah, tujuan hidup nada cuman satu, ingin membahagiakan ayah, membalas semua kebaikan ayah, aku tak punya siapa siapa kecuali ayah, kalau nada menikah sekarang pasti fokus nada akan terpecah kepada suami nada, anak-anak nada kelak, dan juga kepada keluarga besar suami nada, ibu mertua, ayah mertua dan masih banyak lagi yah pastinya, dan sebelum itu semua, nada benar benar ingin membahagiakan ayah, tolong yah dukung nada untuk yang satu ini, kemauan nada besar sekali yah dan satu lagi, Nada sangat percaya bahwa jodoh sudah di atur oleh tuhan, tolong ayah jangan paksa nada untuk perjodohan ini”, dengan air mata yang tiba tiba mengalir deras juga perasaan lega akhirnya kata-kata ini yang sejak dulu ingin aku ucapkan akhirnya keluar juga dari mulutku. Tiba tiba ayah diam tanpa sedikitpun jawaban dan memelukku dengan sangat erat, seketika suasana berubah menjadi haru biru, ku lihat ayah yang ternyata sedari tadi ikut menangis sambil memelukku. “maafkan ayah nak, ayah yang salah, seharusnya ayah mendukungmu untuk mencapai cita cita yang kau inginkan, bukan malah memaksamu seperti ini, ternyata berusaha menjodohkanmu dengan lelaki pilihan ayah itu adalah ambisi ayah sendiri, kemarin ayah takut kamu akan salah melangkah dalam memilih pasangan hidup, ayah cuman ingin kamu mendapatkan yang terbaik, sekarang ayah sadar kalau jodoh tak akan kemana, kalau kalian berjodoh pasti saatnya tiba kalian akan dipertemukan, jodoh ditangan Allah, terimakasih nak telah menyadarkan ayah.”
Hatiku lega selega leganya karena satu pintuku telah terbuka, dan ternyata Allah telah mengatur semunya dengan sangat indah pada waktunya, lamaran beasiswa yang aku ajukan lima bulan yang lalu ke salah satu perguruan tinggi di Australia terjawab sudah. Dan taukah engkau apa jawabnya? “Aku diterimaaaaaaaa”, puji syukur ini tak henti hentinya ku ucap, dari dua ribu pundaftar hanya di ambil sepuluh orang, dan akulah salah satuya. aku bukan orang yang pintar, hanya saja Allah adalah Sang Maha Pemurah kepada setiap hambanya. Allah sangat baik kepadaku hingga Beliau memberiku semua ini. sunguh beruntung, ya aku merasa menjadi orang yang sangat beruntung di dunia ini. “Ya robb terimakasih” ini sungguh di luar dugaanku, selainku bisa melanjutkan study, ini juga menjawab mimpiku yang kedua untuk berkeliling dunia.
Ku kabarkan pada ayah berita yang sangat menggembirakan ini, ayah lantas menghubungi Mas Teguh Iman Mahadi dan pula menceritakan semuanya, tentang rencanaku untuk melanjutkan belajarku di Australia, aku tercengang mendengar jawaban yang di lontarkan Mas Teguh pada ayah, “Alhamdulillah, demi Allah saya ikhlas om, saya justru sangat mendukung keputusan Dek Nada untuk melanjutkan belajar.” “lantas bagaimana rencanamu kedepan Nak Teguh? kamu boleh menikahi siapa saja, kamu bebas. Om telah ikhlaskan seandainya kamu menjadi menantu orang lain.” “he he he Om ini bisa saja, insyaallah saya akan bisa menunggu Dek Nada sampai ia menyelesaikan belajarnya, saya justru bangga padanya, dan semakin mantap hati ini terhadapnya Om.” “subhanallah memang kau anak yang baik, tak salah kalau Om kemarin ngotot untuk menjadikan mu sebagai menantu Om.” “aduh teguh jadi malu Om bilang seperti itu.” “lantas apa rencanamu kedepan nak?” “insyaallah teguh mau melanjutkan study ke jenjang selanjutnya Om.” “oh bagus sekali, Om dukung seratus persen nak,hehehe” “trimaksih Om atas dukungannya.”
Mendengar jawaban Mas Teguh yang mau menungguku sampai aku menyelesaikan belajarku di Australia. Bagiku ini aneh, tiba tiba saja perasaan ini muncul, aku tak tau kenapa hatiku bisa berubah dengan begitu cepatnya, sejak saat itu kuasa aku benar benar mencintainya, dan kini aku merasa tak mau kehilangan dia, sungguh aku sangat yakin bahwa dia adalah imam yang sangat pas untukku, bisa membimbingku menjadi lebih baik, ayah memang sangat pintar memilihkan nya untukku.
Sejak saat itu aku semakin sering berkomunikasi dengan Mas Teguh, semakin akrab dan sangat akrab, hingga pada hari itu aku harus berangkat ke Australia, ayah bersama Mas Teguh lah yang mengantarkanku sampai ke Bandara, rasa bahagia karena akhirnya apa yang aku dambakan bisa terwujud, bercampur dengan sedih karena harus meninggalkan tanah air dan ayah tercinta, pula harus meninggalkan dia sang pujaan hati. Tapi rasa semangatku ini mengalahkan semuanya, hasrat untuk merealisasikan citi-cita pun semakin menggebu, aku sangat yakin bahwa aku bisa!!!.
“Australiaaaaa indah sekali kau, terima kasih tuhan telah kau izinkan kau memijaki tanah asing ini”. Ya aku sampai di Australia. Pulau terbesar di dunia, tetapi merupakan benua terkecil dari semua benua-benua yang ada, dan taukah kamu dua puluh persen dari penemuan ilmiah di dunia berasal dari Australia. kata orang-orang gelar atau ijasah yang diperoleh dari Universitas di Australia telah diakui oleh seluruh dunia. Di sana tepatnya aku tinggal di Sidney, aku punya orang tua angkat, Mr. Bob yang sangat ramah dan Mom Greeta yang begitu cantik dan baik hati, juga Judith anak perempuan kecilnya yang lucu, aku di sambut hangat oleh keluarga ini, dengan cepat aku bisa menganggap mereka layaknya keluarga sendiri.
Aku juga senang dengan situasi belajar di sana, di dukung pula oleh teman teman yang semuanya well come kepadaku, seminggu sekali aku menghubungi ayah yang berada di Indonesia. Dan menceritakan semuanya. Juga mas teguhku, dia semakin sejuk di hati, bicaranya yang kalem dan santun membuatku tenang di buatnya. Tapi aku tak tahu kenapa tiba tiba di awal tahun ke tigaku ini dia berubah. “Apa aku punya salah? tapi tenang aja mas aku akan selalu mencintaimu, sampai kapanpun, meski di sini banyak bule bule cakep, masih hanya kamu yang ku damba”. Kira kira seperti inilah pesan yang kukirimkan untuknya melalui ponselku. “maaf ya dek!”, jawaban yang begitu singkat namun aku paham apa maksudnya, mungkin dia sedang sibuk atau mungkin kelelahan dengan aktivitasnya, sejak saat itu komunikasi dengannya mulai punya jeda yang panjang, dan tak terhitung sering lagi, aneh memang, tapi kupikir ini mungkin cara yang terbaik untuk menjaga dan menguatkan rasa sayang pula rindu di antara kita.
Empat tahun pun akhirnya telah terlewati dan Alhamdulillah aku telah lulus dari Universitas ini dengan nilai yang lumayan lah, cukup memuaskan pula tidak memalukan. senang sekali rasanya sebentar lagi akan pulang ke Negara halamanku Indonasia.
Pulang, akhirnya aku pulang juga ke Indonesia tercinta, pagi-pagi sekali aku sampai di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Ku lihat ayah dari jauh memanggilku dengan penuh suka cita, di situ kulihat ada ayah, kakek, nenek, dan beberapa saudara, ada juga tetangga samping rumah yang ikut pula menjemputku. Aku bahagia sekali melihat senyum mereka yang berbinar-binar sambil sesekali menunjuk ke arahku. aku melambaikan tangan lalu tersenyum membalas tatapan-tatapan merdu mereka. Degg, hatiku tiba-tiba berdesir, “tapi kenapa tak kulihat di antara mereka pujaan hatiku, mas Teguh Iman Mahadi?, ah mungkin saja dia sedang sibuk.”
Kusalami semua orang yang menjemputku, ku peluk ayah dengan erat, dan tangis terpecah di antara kita karena bahagia, bahagia sekali bisa berkumpul dengan sanak saudara. Sesampainya di rumah langsung kubuka tas besarku dan ku keluarkan semua jenis oleh-oleh yang kubawa dari Australia.
Pada malam harinya aku dan ayah duduk berdua di teras rumah, sambil memandang bintang bintang yang sangat indah berkerlip di langit, suasana tenang dan sunyi. “yah, kenapa tadi Mas Teguh tidak ikut bersama menjemput Nada?”, tiba tiba raut wajah ayah terlihat bereda, seperti ada yang ingin ia sampaikan, “nak, masihkah kau mencintai nak teguh?” “kenapa ayah bertanya seperti itu?, masih lah yah, bahkan sangat mencintainya.” “ayah mau cerita sama Nada, tapi janji ya gak boleh marah sama ayah atau siapapun setelah ayah cerita ini!” “cerita apa sih yah? Nada jadi panasaran, iya iya Nada gak bakalan marah ke siapapun, Nada janji!”
Dan tau kah kamu apa yang bakal di ceritakan ayah pada malam itu?, sungguh berita ini membuatku hancur sejadi jadinya, air mata nenetes begitu derasnya, tiada bencana yang menyedihkan, tiada luka yang menyakitkan tapi kecewa karena cinta. “Nak, sebenarnya nak Teguh sudah mengatakan ini tepatnya setahun yang lalu saat kau masih di Australia, bahwa dia minta maaf sebesar besarnya karena telah menghianatimu, nak teguh cerita banyak dengan ayah tentang kegundahannya ini, dia mencintai seorang gadis teman kuliahnya namanya Shofia, dia juga tak menyangka kenapa tiba tiba saja ia begitu jatuh cinta dengan Shofia ini, waktu itu dia juga bilang sama ayah untuk mau menceritakan apa yang sedang ia gundahkan kepadamu, tapi ayah menolaknya. Ayah tau kau begitu mencintainya, ayah takut ini akan sangat menyakitkanmu. Dan menjadikan konsentrasi belajarmu buyar oleh kekecewaan. Dia sudah menikah dengan shofia tiga bulan yang lalu.” “kenapa ayah membiarkannya?, padahal ayah tahu kalau Nada benar benar mencintainya.” “maafkan ayah nak, ayah ingat kata katamu waktu itu bahwa jodoh telah di atur oleh tuhan, dan tak bisa dipaksakan, bagitupun ayah tak mungkin melarang nak Teguh untuk mencintai wanita pilihannya itu.” “tapikan yah…” “Nada Kamila Fajrina anak ayah tersayang, tolong jangan egois nak, mencintai itu tidak harus memiliki, dan ayah yakin tuhan akan memberikan yang lebih baik untukmu. bahkan jauh lebih baik, kamu percaya itukan?. Aku mengangguk pelan sambil menangis sesenggukan di samping ayah, lalu aku masuk ke kamar meninggalkan ayah tanpa mempedulikan panggilannya. Tangis kutahan dihadapan para saudara yang memang sedari tadi sedang menonton TV di ruang tengah.
Hingga tak ada lagi celah hati yang kosong,
Semua telah terisi penuh tentang cinta untukmu,
Dan berapa banyak air mata yang menetes karenamu,
Harapan agar kau berada satu shof didepan ku, itu hanya mimpi,
Ternyata, ketulusan cintaku tiada pernah kau anggap ada,
Tuhan, beri aku petunjuk tuk memperoleh sirnanya,
Setelah berjam jam merenung, akhirnya hanya rasa tak pantas untuk bersanding dengannya lah yang bisa kujadikan sebagai penutup lara hati ini, mungkin dia terlalu baik jika untukku, berkali kali kupaksa hatiku untuk menerima kenyataan ini, Menegaskan dengan keras kepada diri sendiri bahwa aku memang bukan jodohnya.
Satu minggu setelah itu, ayah mendapatkan kabar bahwa istri mas Teguh sedang di rawat di rumah sakit karena penyakit demam berdarah. Ayah lantas mengajakku untuk ikut serta menjunguknya. Di rumah sakit itu adalah pertama kalinya ku menatap wajahnya setelah kepulanganku dari Australia, masih saja sejuk di mata, sejuk pula di hati, tutur katanya masih sama sopan dan halus. “dek nada?” dia seperti tak percaya akan kedatanganku siang itu, ku lihat ada sedikit rasa bersalah dari sorot matanya, “kapan kamu pulang dari Australia dek?”, Tanya nya gugup. “seminggu yang lalu mas.” Jawabku singkat. Ayah memegang tanganku erat, seakan akan ia berbisik, “tegarlah nak, ikhlaskan dengan keikhlasan yang seikhlas ikhlasnya bahwa dia bukan jodohmu”. Kupandangi istrinya yang sedang tidur dengan selang infus di tangannya, mangenakan jilbab hijau yang di urai ke bahu, parasnya cantik dan tak bosan di pandang. “Beruntung sekali Mas Teguh Iman Mahadi ini mandapatkan istri secantik kak shofia”, batinku semakin ikhlas melepasnya setelah memandangi wanita cantik di hadapanku itu…

Tiga Sore Yang Dungu



Suara ombak terus memukul telinga. Tampak menghantam karang lalu pecah menjadi bulir-bulir udara, sebagian menerpa wajahku, membuat basah. Mungkin sebasah hatiku yang sedang digelayuti rasa tak tentu. Angin terus menghempas, kaki-kakiku yang kuselonjorkan ke karang-karang kecil juga terlihat mulai dingin dan pucat karena basah. Kapal-kapal melintas dengan sirine yang memekakkan telinga laut sore ini. Camar tak henti menjadi lukisan langit yang mulai keluar warna jingganya, berarak turun-naik membentuk formasi yang kerap berubah lalu hilang di sebelah timur yang daratan ini kemudian terlihat seperti sabit.
Ingatanku mulai bercengkrama. Benar-benar di luar dugaku. Tadi malam ia menghubungiku. Setelah perpisahan kami yang lama. Setelah ketika itu, semua menjadi pecah bagiku, berserak dan seperti tak mungkin lagi bisa menjadi utuh kembali. Ia mengajakku bertemu di sini, sore ini. Tempat yang berapa bulan yang lalu ia pilih untuk memutuskan rantai-rantai perasaanku dan membuatnya tak bisa di sambung kembali. Ucapnya waktu itu begitu menyayat hati sehingga aku merasa terbuang seperti dermaga ini.
Aku memang pernah menghabiskan hari-hari dengannya. Setelah perkenalan yang singkat dan entah waktu yang memang tak pernah bernama untuk kita ingat, ia dan aku tak perlu mengucap sepakat untuk bersama menghabiskan hari. Aku merasa nyaman berada di dekatnya dan ia juga mengatakan itu padaku. Sejak itu dialah yang kuasa mengoyak tabir pada setiap malamku, mengganggu tidurku, membuatku benar-benar menjadi perempuan, merasakan kegilaan tentang apa yang tak bisa kujelaskan dengan kata dan hanya bisa membuatku melepas senyum saat-saat sendiri mengingatnya. Aku merasa telah jatuh. Dan apakah itu cinta? Entahlah.
Sementara aku, aku tak pernah merasa punya kuasa padanya. Aku selalu merindunya dalam setiap denyut nadi. Saat-saat aku begitu sangat berharap, aku tak selalu bisa bertemu dengannya. Tidak, dialah yang tak selalu bisa bertemu denganku. Dan aku hanya bisa menerima kapan ia akan meledakkan rindu itu padaku. Setiap harinya, meski mungkin lebih banyak aku yang merasakan kecewa karena dengan segala alasan tiba-tiba ia tak jadi menemuiku yang telah begitu sangat berembun.
Pada akhirnya, memang ada yang harus kupaksakan mengerti tentang dirinya. Ada bentang jarak yang menyekat aku dan dirinya. Jarak yang ia dan aku abaikan sebagai sebuah batas di awal-awal kebersamaan kami, yang meskipun berkali-kali ia dan aku coba bunuh dengan segala cara, tetap saja tak pernah berhasil mendekatkan kami selayak kekasih. Terlebih jarak itu yang perlahan tapi pasti seperti ingin membunuh kami, perlahan juga aku akui, aku tak berdaya. Aku merasa bersalah. Aku sadari, aku dan mungkin sedikit ia yang menyebabkan jarak itu sendiri ada.
Menerima perpisahan darinya adalah saat terberat dalam hidupku. Semua terasa begitu cepat. Bagiku mungkin juga baginya. Ia tiba-tiba memintaku untuk melupakannya. Dan aku pikir mengapa begitu mudah ia mengatakannya sedang tanpa ia tau begitu sangat hangat ia berada dalam setiap harapan-harapanku. Bertengger sebagai satu-satunya sosok yang sangat aku kehendaki dapat menggandengku kepada senja. Apa mungkin karena jarak itu? Apa ia semudah ini menyerah? Aku mulai menerka, bermain dengan ego yang jujur begitu sangat menginginkan ia tetap ada untukku, juga ketakutan yang teramat sangat—jika ia pergi. Tetapi betapapun aku bisa menerima tetap saja ada yang kurasa tertinggal dalam diriku dan aku tak bisa serta merta melepasnya untuk kemudian aku wakilkan dengan kata ikhlas. Ketidak terimaan, terlebih bila teringat ketika malam itu ia membawaku pergi. Malam yang menyebabkan kami tersesat pada pagi. Gerimis mendinginkan tangannya waktu itu, kami terus menjelajahi panjang kota tanpa mau sedikitpun sia-sia. Karena kami tau saat itu adalah kesempatan paling merdeka buat kami dan kami tak tau apakah kami akan bisa mengulangi dan mempunyai kesempatan berikutnya. Aku memeluknya, melingkarkan tanganku ke pinggangnya. Ada gemetar di jari-jari tangannya ketika jemariku menggenggamnya. Dan kami larut dan tersesat sampai pekat malam mulai memudar.
Benar sekali dugaanku. Aku tak pernah lagi punya kesempatan seperti malam itu. Semakin susah saja ia aku temui. Kalaupun bisa bertemu, ia hanya tersenyum dan menanyakan kabarku sebentar saja lalu buru-buru pergi entah kemana. Hatiku remuk. Oleng. Tak mengerti harus bagaimana. Satu-satunya cara untuk bisa ada dan merasa dekat dengannya adalah dengan menumpahkan segala ombak hatiku menjadi tulisan, puisi, seperti yang biasa ia ajarkan padaku. Hingga aku bisa mulai melupa, semakin lama, hambar dan sepi.
Dan sore ini aku harus menemuinya kembali. Setelah kecewa yang ia titipkan. Sebenarnya aku tak ingin lagi kesini. Dermaga mati yang menyaksikan rinduku mati. Sebab kesini hanya memulangkan segala kenang lalu menyayatku hingga berdarah oleh luka lama. Tapi, bayang wajahnya, jejak dan aroma tubuhnya yang menyihir dan membuat kakiku melangkah untuk tetap pergi menemuinya disini. Mungkin ini adalah sore yang dungu, tapi kenapa seperti ada yang mengembang bungah di dadaku. Seperti pertama mengenalnya.
***
Apakah aku harus tetap pergi menemuinya? Apakah ini tak salah? Aku terus saja di serang tanya sendiri. Kebodohan apa yang kulakukan ini? Kenapa aku harus menghubunginya semalam dan memintanya untuk menungguku di dermaga itu? Dermaga yang mati tapi tak pernah mati arti bagiku. Ah, gusarku makin menjadi. Aku bimbang sekaligus tak kuasa lagi menahan gejolak untuk kembali berjumpa dengannya, bersitatap, menukar gelisah sambil melihat kapal-kapal terapung, berlayar ke tengah laut dan saat itu ia pasti merebahkan kepalanya di bahuku sambil menunjuk ke arah kapal-kapal yang kemudian hilang di ujung pandangan.
Kebersamaan kami tak cukup panjang. Aku yang memulai semua ini. Dekat dan tak menamakan apapun tentang kebersamaan kami. Yang aku tau ia begitu nyaman di sisiku, setidaknya ia pernah bicara seperti itu dan akupun demikian. Kami telah menghabiskan hari demi hari sedemikian indah. Walaupun harus aku akui, aku dan mungkin juga ia yang pandai mencuri hari untuk dihabiskan bersama. Itu terjadi karena memang aku yang tak selalu bisa menemuinya. Aku tau ia kecewa saat seharusnya aku bisa berlama-lama dengannya tetapi kemudian aku harus pergi, itu terlihat jelas di wajahnya. Namun, setauku ia selalu bisa menerima, ya, meskipun aku tau ia tak sepenuhnya jujur tentang hal itu.
Ia gadis yang lembut. Sederhana. Dan yang paling aku suka darinya adalah karena ia juga menyukai puisi. Tapi bukan sepenuhnya puisi yang membuatku kemudian merasa nyaman bersamanya, Sikapnya yang penuh pengertian namun apatis, dan dingin yang membuatku penasaran untuk dekat dengannya. Lalu, ia mulai menjadi gambar-gambar dalam benakku. Ada kerinduan yang teramat sangat tak bisa ku bendung jika sudah ingin bertemu dengannya. Dan bila itu datang logikaku tak bekerja, apapun bisa aku lakukan untuk menemuinya barang sebentar.
Aku sudah terlanjur berjanji, dan kuputuskan aku tetap berangkat menemuinya. Perlahan dan hati-hati memacu motorku menuju dermaga. Dan seperti sekarang inilah yang aku katakan bahwa aku bisa tiba-tiba nekat untuk sekedar menemuinya. Aku tak menghiraukan perasaanku yang takut, merasa bersalah dan berdosa, ketika rasa itu datang, timbullah bahasa lain yang keluar dari jauh dalam diriku, bahwa bukankah jika cinta itu datang apa daya kita menolaknya? Dan sampai kapan hukum-hukum selalu mengekang kita? Ah, aku tak mau terikat. Aku ingin bebas dan aku yakin Tuhan sangat mengerti itu.
Lambat-laun semua keyakinan-keyakinanku terkikis dengan sendirinya. Bagaimanapun aku tetap sadar jika aku hanyalah mahluk yang juga tak sempurna. Keyakinan itu mulai habis. Terlebih saat ini kondisinya terbalik, setiap bersama atau bertemu dengannya ada hantu-hantu dosa yang menampakkan diri sangat jelas dan membuatku ketakutan. Kebebasan dulu yang kuagungkan bukan sebenar kebebasan yang aku rapal pada hidupku. Dengan berat ketika aku memiliki kesempatan berjumpa dengannya maka aku katakan agar ia bisa melupakan aku, menjauhkan aku dari mimpi, harapan juga hidupnya. Aku tau ucapanku ini pasti sangat terasa menyayat hati. Menenggelamkannya ke dalam kesedihan. Tapi, aku hanya memiliki pilihan ini agar semua kembali sediakala dan tak ada yang tersakiti.
Malam sebelum perpisahan itu aku mengajaknya pergi ke kota. Kami tak punya tujuan, jadi kami sengaja menyesatkan diri sepanjang malam. Seperti kunang-kunang. Ia terus memelukku. Menggenggam jemariku yang gemetar karena gerimis yang tak henti seolah ia tau bahwa ia yang bisa menghangatkanku. Kepalanya terasa begitu teduh bersandar di punggungku. Semakin erat ia memeluk seperti tak hendak melepasku atau sepertinya ia memang menyadari kesempatan seperti ini sulit untuk kami dapat, karenanya ia tak mau sia-sia menghabiskan malam itu bersamaku hingga dini yang dingin merebutku dari peluknya.
Berpisahlah kami dengan kesepakatan, setelah obrolan kami yang panjang di dermaga. Ombak mengalun menyaksikan ia terdiam lalu menjatuhkan air mata. Sore yang cerah itu menjadi mendung gelap bagi kami berdua, sebelum aku pergi meninggalkan ia sendiri bersama kesedihan, kekecewaan dan kemarahan. Sejak itu aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Aku pikir setelah ini hidupku dan mungkin hidupnya jauh akan lebih berwarna. Tak perlu lagi ada kebohongan-kebohongan dan kesempatan yang aku ciptakan. Dan semoga ia ikhlas menjalani ini semua.
Takdir Tuhan begitu misteri dan ghaib, betapapun aku berusaha menjalani kehidupan dengan semua yang aku rencanakan, jika Tuhan tak berkehendak putuslah segala upaya yang dilakukan. Mendadak aku merasa begitu sepi. Entah, tapi aku merasa asing dengan semua keterdiamanku. Dan muncullah ia kembali dalam memoriku. Seakan mengundangku kembali kepada kenangan silam, sesuatu yang sekian waktu berusaha ku kubur. Kadang aku merasa labil, terombang-ambing tapi aku tak pernah kuasa untuk melawannya.
Dermaga yang sama. Ia terlihat sudah di sana, mungkin sedari tadi menungguku. Takut. Khawatir dan gemetar untuk menemuinya. Seperti apa dan bagaimana ia sekarang? Apa ia tak akan marah padaku? Ah, sontak aku merasa menjadi manusia paling dungu sore ini.
***
Apa mataku tak salah melihat ini semua? Tidak, yang ku lihat ini memang nyata. Ia datang kemari untuk menemui gadis itu. Tapi siapakah dia? Apakah dia adalah jawaban-jawaban dari kegelisahanku selama ini? Apakah perubahan-perubahan sikapnya padaku karena dia juga? Beginikah ia membalas kesetiaanku? Dadaku bergemuruh hebat, seperti ada yang naik dan menusuk ke jantungku. Mataku memerah mungkin sebagai tanda bahwa aku tak percaya dan benar-benar muak melihat ini semua. Berat. Aku merasa ada yang tak kuasa lagi ku bendung dan ingin tumpah dari mata dan mulutku. Tapi, entahlah, aku tak sanggup untuk berkata-kata lagi. Semua seperti berakhir. Dasar bodoh, ia pikir ia bisa selalu membodohiku setelah keanehan-keanehan sikapnya di rumah. Ia mungkin terlalu percaya bahwa aku tak akan mencium ini semua, kelakuannya yang busuk. Dan tak sadar bahwa aku telah mengikutinya sedari tadi. Sudahlah lebih baik aku akhiri perjalananku dengannya. Pengkhianatannya ini sungguh keterlaluan. Apa ia pikir hanya ia yang bisa melakukan itu. Biarlah nanti ia rasakan bagaimana bila aku tinggalkan.
Ah, tidak, terlalu banyak hari dan kebahagiaan yang telah aku lewati bersamanya. Apa hanya dengan kesalahannya ini kemudian harus ku tukar dengan kesedihan si kecil. Mungkin benar aku bisa menahan dan memaksakan untuk melupa dan pergi darinya, tapi si kecil? Tidak, aku tak boleh egois. Lagipula sebenarnya aku juga tak benar-benar berani untuk berpisah darinya. Ah, sial. Brengsek! Kenapa harus aku yang mengalami dan tak berdaya menjalani ini.
Aku putuskan pulang. Meredam dan menahan semua sesak dada. Dan berusaha tak tau dan tak terjadi apa-apa tentangnya dan juga sore ini, sore paling dungu dalam hidupku.

(Bangkalan, 28 April 2013.)


Cerpen Karangan: Andy Moe

Di Bawah Rinai Hujan



Aku mendongak menatap langit. Tersenyum seiring dengan titik-titik hujan membasahi bumi ini. Tanpa kuhiraukan tatapan-tatapan orang, aku berputar seirama dengan titik-titik hujan yang semakin lama semakin deras. Aku memejamkan mata, mencoba meresapi karunia Tuhan ini. Siluet-siluet kejadian beberapa bulan yang lalu mulai berdatangan dipikiranku.
18 Desember 2009
Aku bersenandung kecil saat ku mulai melangkahkan kaki di koridor sekolah. Setiap orang tersenyum ke arahku. Seolah ikut merasakan kebahagiaan yang sedang kurasakan. Kemarin siang adalah hal yang tak mungkin kulupa. Seseorang yang telah lama ku suka, menyatakan cintanya di cafe langgananku. Ternyata, ia memang sengaja mengikutiku. Aah, Tuhan! Aku bahagia sekali hari ini.
“Ify!” kutolehkan kepala, bermaksud mengetahui seseorang yang telah memanggilku tadi.
“Eh, Via. Kenapa, Vi?” aku tersenyum padanya. Via terlihat menggigit bibirnya. Ia sepertinya ingin mengucapkan sesuatu.
“Emm” dia mengulurkan tangannya. Ragu-ragu, kubalas uluran tangan itu.
“Selamat ya!” lagi-lagi ia membuatku bingung.
“Buat?”
“Buat jadiannya kamu sama Cakka” aku menganggukkan kepala sembari tersenyum lebar kepadanya.
“Iya, makasih ya Via” Via mengangguk.
“Emm, aku duluan ya, Fy! Bye” aku hanya menganggukkan kepala. Lalu kulanjutkan perjalanan menuju kelasku. Sebenarnya, aku sedikit bingung dengan tingkah Via tadi. Ya, ia tak sekelas denganku. Namun, kuketahui dia dekat dengan Cakka, kekasihku.
21 Desember 2009
Semenjak kejadian 3 hari yang lalu, aku dan Via semakin dekat. Entah, aku merasa nyaman berteman dengannya. Dan sudah hari hubunganku dan Cakka berjalan. Aku semakin menyayanginya.
Fy, sorry. Hari ini kita nggak bisa ketemuan. Aku ada latihan basket dadakan hari ini. Maaf ya!
Aku menghembuskan napas pasrah. Dengan gerakan cepat, aku membalas pesan singkat dari Cakka itu.
Iya, nggak papa kok, Kka! Kapan-kapan kan bisa ?
Setelah membalas pesan singkatnya itu, kumasukkan kembali handphoneku di dalam saku kemeja. Tak lama, aku merasakan bahuku di tepuk seseorang. Refleks, aku menoleh, mendapati Via berdiri di hadapanku.
“Fy, maaf ya! Hari ini aku nggak bisa nemenin kamu ke toko buku. Aku mau nemenin nenek aku ke rumah sakit. Maaf ya” bisa kulihat raut wajah menyesal tergambar di wajahnya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Aku pergi dulu, Fy. Sekali lagi, maaf ya!” aku lagi-lagi hanya bisa mengangguk. Lalu berjalan lesu ke jalan raya. Menunggu jemputan datang.
28 Desember 2009
Seminggu telah berlalu. Entah aku yang terlalu peka, atau memang begitu adanya, seminggu ini Via dan Cakka terlihat aneh. Mereka selalu berusaha menghindariku. Saat janji telah terucap, mereka pasti selalu membatalkannya.
Tangan kananku terangkat menutupi mulut yang refleks terbuka saat melihat pemandangan yang sungguh membuatku ingin terbang ke langit dan tak kembali ke bumi ini lagi. Aku melihat Cakka dan Via sedang berhadapan dan Cakka mencondongkan wajahnya ke arah wajah Via! Tuhan, angkat aku ke langit. Jangan biarkan aku kembali ke bumi lagi! jeritku dalam hati.
“Bagus ya, kalian! Selama ini menghindariku karena ini? Bagus Via, setelah kau membuatku nyaman berteman denganmu, kamu melakukan ini padaku?” airmata perlahan jatuh di kedua pipiku.
“Fy” Cakka mendekat ke arahku. Aku bergerak mundur.
“Stop!” teriakku kencang. Cakka terlihat kaget.
“Kka, kamu tahu? Sejak dulu aku udah suka sama kamu. Saat kamu nembak aku, aku bahagia banget! Aku berharap kamu juga ngerasain sama kayak aku. Tapi, ternyata aku salah. Aku salah udah nilai kamu selama ini. Dan aku mau kita…” airmata semakin deras merebak dari kedua mataku.
“Putus” lanjutku berat.
“Ify, maafin aku, Fy. Ini nggak kayak yang kamu lihat, Fy. Percaya sama kita, Fy! Percaya” ucap Via sambil menangis. Aku tak memperdulikan tangisannya. Aku kecewa pada mereka. Ya, kecewa.
“Kamu, Vi. Dan kamu, Kka! Mulai sekarang, jangan pernah hubungi aku lagi dan jangan pernah nampakin diri di hadapanku lagi” aku langsung berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.
Hujan yang mulai turun membuatku berhenti melangkah. Ku hapus airmataku kasar. Baru kusadari, ternyata aku ada di sebuah taman di atas bukit kecil yang terdapat sebuah danau buatan kecil. Samar-samar, karena tertutup air hujan, aku melihat seorang pemuda berjalan menuju ke arahku. Aku bergerak mundur.
“Gabriel” pemuda tadi mengulurkan tangannya padaku. Ragu-ragu ku terima uluran tangan itu.
“I-ify” jawabku gugup.
“Jangan takut, gue bukan orang jahat kok” ia tersenyum. Membuat aku ikut tersenyum.
“Kita neduh di situ yuk!” ajak Gabriel sambil menunjuk sebuah gubuk kecil yang terletak di tepi danau. Aku hanya mengangguk. Gabriel menarik tanganku lembut. Membuat mataku kembali terasa panas. Mengingatkanku pada perlakuan Cakka padaku selama kita pacaran.
“Lo kenapa ke sini? Sambil nangis lagi. Putus sama pacar lo?” tanya Gabriel cuek. Aku menatapnya tak percaya.
“Kamu kok..”
“Haha, iyalah gue tahu! Gabriel gitu!” ucapnya PD sambil menepuk dadanya bangga. Aku hanya dapat mengerucutkan bibir melihatnya. Ia mengarahkan tangannya untuk mengacak poniku pelan.
“Lo lucu ya” aku terdiam. Sungguh, perlakuannya, ucapannya, mirip.. Cakka.
Aku masih terdiam, menunduk. Berusaha menahan airmata yang siap meluncur lagi.
“Em, lo bisa cerita sama gue kok. Tapi, kalau lo mau. Kalau nggak, nggak usah nggak papa kok” aku mendongak, menatap wajahnya yang tenang, membuatku yakin untuk menceritakan masalahku padanya.
Dengan lancar serta airmata yang satu persatu membasahi pipiku, aku menceritakan semua masalahku padanya. Rasa nyaman mulai menjalar dalam tubuhku.
“Udah?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Fy, lihat gue!” dia mengangkat daguku untuk menghadap ke arahnya.
“Lo nggak boleh terus terpuruk dengan keadaan lo saat ini. Biarin aja mantan pacar lo sama temen lo itu ngehianatin lo. Asal, lo nggak kayak mereka. Lo harus kelihatan kuat di hadapan mereka, meski lo ngerasain sakit. Kalau lo terpuruk di hadapan mereka, mereka pasti puas karena mereka ngerasa udah berhasil bikin lo sakit. Move on, Fy. Jangan biarin diri lo kayak gini terus. Gue nggak mau lihat cewek nangis di hadapan gue” jelasnya sambil menghapus lembut airmataku.
“Aku sakit banget, Gab! Kamu bisa bilang kayak gitu sama aku, karena kamu nggak pernah ngalamin apa yang aku alami saat ini. Teori itu gampang, tapi prakteknya? Nol besar!”
“Fy, lihat gue! Terserah lo mau anggap gue gimana. Tapi, paling nggak lo harus bisa buktiin ke mereka bahwa lo bisa tanpa mereka. Lo nggak terpuruk dengan perlakuan mereka ke lo. Lo harus bisa bangkit dan move on, Fy. Percaya sama gue, bahwa lo bisa” aku menunduk. Tak lama, aku mendongak dan tersenyum tulus ke arah Gabriel.
“Makasih, Gab. Aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu. Makasih banget” senyum masih terukir di bibirku.
“Fy, boleh gue peluk lo?” entah mengapa, aku langsung mengangguk dan menghambur ke dalam pelukannya. Hangat, itulah yang kurasakan. Meski dingin menerpa kulitku.
“Gab, aku pulang dulu ya! Pasti udah di cari Mama” aku beranjak dari gubuk itu, namun tangan kokoh Gabriel menahanku.
“Please, lo tinggal di sini dulu. Sebentar aja!” aku menggeleng.
“Sorry, Gab. Ini udah sore dan hampir malem. Besok, dua hari lagi gue ke sini lagi kok! Oke!” aku mengacungkan jempol tanganku dan segera berlalu. Namun, sebelum itu, aku sempat melihat Gabriel menggeleng pelan.
30 Desember 2009
Setelah 2 hari yang lalu aku bertemu dengan Gabriel, saat ini aku ingin bertemu dengannya kembali. Aku berjalan meniti satu persatu anak tangga untuk menuju ke atas bukit. Dan aku berharap, saat ini dia juga berada di sini.
Kutolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Mencari sosoknya yang aku akui, sempurna dimataku. Ia tinggi, berparas tampan, berkulit sawo matang, mata yang bersinar membuatnya terlihat cerah, dan hati yang tulus.
“Pak!” ku panggil seorang pria paruh baya. Pria itu menoleh ke arahku dan langsung berjalan ke tempat dimana aku berdiri saat ini.
“Iya, dek. Kenapa?”
“Bapak pernah lihat pemuda seumuran saya nggak, Pak? Dia tinggi, kulitnya sawo matang” kulihat bapak tadi sedang berpikir.
“Kalau boleh tahu, namanya siapa ya, Dek?”
“Gabriel” jawabku mantap.
“Gabriel? Gabriel Stevent Damanik maksudnya?” aku mengangguk
“Gabriel anak pengusaha yang meninggal karena bunuh diri di danau itu?” tanya bapak tersebut sambil menunjuk danau di hadapanku. Aku terkejut.
“Mening..gal?” tanyaku terbata.
“Iya, dia meninggal 3 bulan yang lalu. Ia ditemukan terapung di danau itu oleh warga setempat. Emm, adek pacarnya?” belum sempat aku menjawab, bapak tadi langsung berbicara lagi.
“Kalau adek pacarnya, harusnya adek sadar kalau punya pacar kayak Gabriel. Dia itu baik, kaya, ganteng lagi. Kenapa adek selingkuh malah sama sahabatnya sendiri?” aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat.
“Pak, saya temannya, bukan pacarnya. Bapak kenal Gabriel?” tanyaku lagi.
“Ooh, maaf kalau kayak gitu, Dek. Saya nggak bermaksud” aku hanya mengangguk.
“Kalau Gabriel, saya kenal betul sama dia, Dek. Dia itu sering banget ke sini. Dia sering bantu warga sini mengurus danau dan bukit ini, Dek. Dan terakhir, dia cerita ke saya, kalau pacarnya selingkuh sama sahabatnya sendiri. Dan besoknya, dia ditemukan meninggal” lagi-lagi aku terkejut dibuatnya.
“Emm, makasih kalau gitu, Pak! Saya pulang dulu. Permisi” pamitku.
“Ya ya, mari”
Aku menangis terisak, ternyata.. 2 hari yang lalu aku berbicara dengan roh tak beraga? Tuhan! Sungguh besar kuasa-Mu. Mungkin ini cara-Mu untuk menyadarkanku. Terimakasih Tuhan!
“Kalau Gabriel, saya kenal betul sama dia, Dek. Dia itu sering banget ke sini. Dia sering bantu warga sini mengurus danau dan bukit ini, Dek. Dan terakhir, dia cerita ke saya, kalau pacarnya selingkuh sama sahabatnya sendiri. Dan besoknya, dia ditemukan meninggal”
Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku. Ternyata, Gabriel bernasip sama denganku. Berkali-kali kupanjatkan syukur pada Tuhan karena aku masih diberi akal dan tidak melakukan apa yang dilakukan Gabriel. Tapi, aku juga berterimakasih pada Gabriel karena ia telah membuatku sadar. Dan yang paling gila, aku mulai mencintainya.
Hujan telah berhenti, namun aku masih tetap di sini. Di bukit yang dulu telah mempertemukan aku dengannya. Gabriel Stevent Damanik. Satu nama yang telah membuatku mengerti arti sebuah cinta. Satu nama yang telah membuatku sadar bahwa cintaku bukan hanya untuk Cakka. Aku menengadah menghadap langit. Gabriel, semoga kamu tenang di sana, doaku selalu menyertaimu.

02 Maret 2012


Cerpen Karangan: Hach Dhini Sekarwangi

Cerita di Balik Mimpi Kita



“Selamat pagi pemimpi”. Sapaku di dalam hati. Aku memang tak mengucapkannya dalam lisan. Namun dari dalam hati. Sapaanku ku berikan khusus bagi mereka yang merasa dirinya adalah seorang pemimpi. Sepertiku, dan seperti para pemimpi lainnya.
Pemilik sepasang kaki menghampiriku. Dengan menjinjing sebuah kamera, ia berjalan menuju tempatku berdiri. Disunggingkannya sebuah senyum. Hingga membuatku tak mampu berkata-kata lagi. Ia menyapaku dengan lembut “Hai, Pemimpi. Siapkah anda berpetualang dengan Pengawal Nando hari ini” Ia berhasil membuatku tersipu karena kalimat-kalimat berlebihannya.
Namaku Nanda, Aku akan berpetualang bersama sahabat lelakiku, Nando. Kita berdua bukanlah sepasang saudara kembar. Aku pun tak mengerti mengapa nama kita hampir sama dan hanya berbeda satu huruf. Ia adalah sahabat lelaki terbaik yang aku miliki. Dapat dibuktikan ketika aku mengajaknya berpetualang di dekat hutan yang di penuhi pohon-pohon rindang beserta sawah-sawah hijau dan juga sungai yang airnya mengalir deras. Ia menyanggupi dengan senang hati tanpa keberatan sama sekali.
Aku dan Nando adalah seorang pemimpi. Nando sering bercerita padaku, bahwa Ia sangat ingin sekali menjadi seorang fotografer terkenal. Selain itu Ia sangat pandai melukis. Ia sering melukis foto yang berhasil Ia potret. Lukisannya indah sekali, malah lebih indah dari gambarnya. Namun aku tak mengerti mengapa sahabatku ini sangat berambisi menjadi seorang fotografer. Aku sendiri sangat suka sekali menulis sebuah cerita. Entah itu fiksi atau kisah nyata. Dan sebenarnya aku ingin sekali menulis ceritaku sendiri. Cerita nyata yang benar-benar ku alami. Namun aku tak mengerti mengapa sampai saat ini aku tak dapat melakukannya. Bagiku cerita yang ku alami tak ada yang menarik.
Ku langkahkan kakiku bersama Nando, sahabatku yang sangat menerima apa adanya diriku. Ia tak pernah mengeluh akan semua kekuranganku. Ia tak pernah merasa malu ketika ku ajak jalan berdua. Karena Ia mengerti persahabatan bukan hanya dari satu golongan jenis, dari lawan jenispun bisa yang penting dapat saling menghargai.
Tujuan utama kami adalah sebuah hutan. Akan tetapi kita menyempatkan diri untuk menghampiri sebuah perlintasan kereta api yang sering disebut rel. Nando sangat senang sekali memotret sebuah kereta. Dari jauh aku hanya memperhatikannya. Namun tiba-tiba saja ia menghampiriku, ia berlari seperti seseorang yang sedang di kejar setan “Nan, nan nanda!”
Sontak aku terkejut, tingkahnya benar-benar seperti orang kesetanan. Aku yang kebingungan menegurnya dengan lembut namun sedikit kejam “Apaan sih, Do. Lagi di kejar anjing ya? Atau di kejar setan?” Aku sedikit menaikkan alisku. Nando tertawa geli. “Hahaha, maaf-maaf. Alay lah sedikit. Nggak papa, tadi aku liat siapa tuh. Kakak kelas yang kamu taksir.” Dia menepuk pahaku seolah-olah member isyarat.
Ternyata penglihatan Nando masih normal dan perkiraannya benar. Kak Dito, kakak kelas yang aku kagumi sejak pertama kali bertemu dengannya sedang berduaan dengan seorang perempuan cantik berjilbab. Mereka berdua terlihat sedang bermesraan, tersenyum bersama, tertawa bersama sambil berebut kamera. Yang aku tau Kak Dito juga menyukai fotografi. Mungkin ketika mereka sedang berencana untuk menikmati pemandangan sekitar. Tak sengaja melintaslah sebuah kereta api yang melaju lambat di antara hamparan hijau sesawahan. Mereka terlihat sangat bahagia sekali. Aku tak menyangka akan hal itu.
Dahulu, sebelum aku tak sedekat ini dengan Nando. Kak Dito adalah teman laki-laki terbaikku dan sekaligus juga seseorang special di hati ini walau tak ada hubungan apa-apa antara kita. Namun, sejak aku dengar dari teman-temanku bahwa Kak Dito telah mengungkapkan rasa kepada teman sekelasnya. Harapan-harapan itu mulai pupus. Jarak kita semakin merenggang. Pada akhirnya kita jauh seperti tak pernah kenal sebelumnya.
“Nando, ayok pulang aja yuk. Gerah disini..” Nadaku mulai terlihat resah. Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Mulutku telah terkunci. Hatiku terbakar. Dalam hati tangisku mulai pecah. Aku tak henti-hentinya menggigit bibir bawahku menahan airmata yang tinggal hitungan detik lagi akan pecah dan membasahi pipiku.
Nando hanya tersenyum miris ketika melihat mimik wajahku yang seketika berubah. Ia menepuk pundakku seraya merangkulku. “Sabar yah, Nan. Aku ngerti kok perasaanmu sekarang udah nggak usah sedih. Nggak usah monyong gitu mulutnya. Jelek tau kayak monyet.” Ia mencoba menghiburku. Namun tak sedikitpun senyum itu menyungging dibibirku.
Dalam hati aku berkata “Makasih Nando, kamu sahabat yang paling bisa ngerti aku. Ngerti setiap keadaanku. Tapi maaf kali ini aku nggak bisa berbuat banyak buat ngerespon semua usahamu buat ngehibur aku. Maaf ya, Nando” Tangisku tiba-tiba pecah, aku menangis bukan karena masih merasakan terbakarnya perasaanku. Namun aku terharu karena mempunyai sahabat sepertinya. Aku bersyukur.
Aku lemah pada saat itu. Aku terus mencoba menahan tangisku. Namun aku tak bisa. Tangisku telah terlanjur pecah. Nando yang menyaksikan itu sontak menghapus airmataku. “Udahlah, Nan. Cowo di dunia ini bukan Cuma dia kok. Kan ada aku.” Aku tersenyum mendengar perkataannya yang berusaha menyadarkanku.
Tiba-tiba ia merangkulku kembali, merangkulku yang sedang duduk pilu di sebuah jalan setapak di sesawahan yang hijau. Aku mencoba untuk kuat, aku berusaha tegar dihadapannya. “Iya-iya, Do. Aku Cuma lagi kangen Kak Dito. Aku kangen Kak Dito yang dulu. Kak Dito yang selalu nemenin aku. Dulu aku juga sering kayak Kakak berjilbab tadi. Ketawa bareng. Rebutan kamera. Aku kangen moment itu, Do” Aku terisak. Namun terus mencoba menahan tangis yang akan mengalir lagi. “Oiya, satu lagi. Aku terharu. Aku bersyukur ada temen sebaik kamu yang masih bisa ngerti perasaan ini. Makasih ya”
“Hahahaha, lucu kamu ini. Ternyata seseorang cerpenist kayak kamu bisa sesedih ini Cuma karena kayak beginian, Hahaha” Aku merasa tersindir. Gelaknya sungguh tak kurasa lucu. Tiba-tiba wajahku yang pilu berubah menjadi wajah monster yang siap untuk marah. “Nandooo!! Aku ini cewek ya jelaslah bisa nangis. Emangnya aku ini kamu apa. Yang gampang banget ngilangin rasa sedih. Lagian aku sedih bukan karena ngeliat mereka berdua kok. Aku sedih gara-gara kamu. Gara-gara kata-katamu yang berhasil buat aku tenang. NGERTI!!” Kata-kataku sedikit menyentak karena sedikit jengkel. Nando terus menahan gelaknya. Memang anak satu itu kadang berhasil membuatku tenang dan juga bisa membuatku merasa jengkel sekali.
“Hahaha, kamu cantik ya kalo abis nangis trus marah-marah kayak tadi. Hehe.”
“Hih, modus ya? Biar aku nggak marah lagi gitu? Oh tenang aja aku cewek sabar marahnya cepat reda” Gelak tawa mulai berbaur antara kita. Aku sudah melupakan airmata itu. Airmata rindu. Lagi-lagi Nando yang berusaha menghilangkan semua rasa itu.
“Mau lanjut nggak nih petualangannya? Udah jauh-jauh rugi kalo nggak jadi Cuma gara-gara kamu broken heart” Dan kali ini ia tertawa lagi. Aku hanya bisa tersenyum. Namun senyumku kali ini bukanlah senyum pilu lagi.
“Jadi dong. Sapa pula yang nggak mau ngeliat sawah ijo seger begini. Malah aku pengen terus-terusan disini. Nikmati hawa sejuk ini. Kalo bisa aku pengen ngewujudin mimpiku disini. Mustahil banget gitu” Aku menghirup nafas panjang seraya berdiri dan menikmati segala sesuatunya yang ada di hamparan sawah hijau yang sejuk ini.
Nando menarik tanganku dan mengajakku melangkah. Ia berusaha menarikku seakan-akan Ia ingin menarikku dari sebuah kesedihan. Ia mengajakku berjalan lurus ke depan seolah-olah mengajakku untuk move on dari sebuah kenangan masalalu. Ia berusaha menemaniku. Menemaniku untuk melangkah kedepan dan menatap masadepan. Seakan Ia tak ingin melihatku bersedih. Seolah tak ingin melihat tangisku akan kerinduan masalalu indah namun tinggal puing-puing.
“Kita langsung ke sungai aja yuk. Waktu kita udah kemakan waktu kamu nangis nih. Gapapa kan?” Ia melirikku. Memasang wajah memohon. Wajahnya lucu sekali. Seperti anak kecil yang ingin dibelikan balon. Aku ingin tertawa karena hal itu.
“Jangan buru-buru lah, aku masih pengen nikmatin pemandangan ini. Jarang banget loh aku jalan di sawah yang sejuk ini. Untung kamu sahabatku jadi nggak canggung lagi jalan bareng kamu” Sambil terus menikmati pemandangan dan sawah nan sejuk. Seakan-akan aku lupa diri. Seolah-olah sedihku terhempas akan semua ini. Indahnya hamparan hijau sesawahan, udara sejuk nan rindang dan juga Nando. Ya, anak satu itu membuatku merasa menemukan diriku kembali setelah sekian lama menghilang karena kesedihan yang sangat tak perlu untuk di sedihkan.
Kini aku sadar Kak Dito hanya bayang-bayang. Ya hanya bayang-bayang masa lalu. Dan Nando, Nando adalah sebuah kenyataan, kenyataan yang kini menemaniku. Kini aku tak takut lagi untuk melangkah. Apalagi dalam hal yang satu ini. Aku tak ingin kesedihanku ini merusak semua mimpi. Semua mimpi yang telah ku temukan sejak dulu. Mimpi yang berharga bagiku. Dan hari ini aku akan mencoba mewujudkan mimpiku. Menuliskan kisahku sendiri…
Aku dan Nando terus menelusuri sesawahan, tanpa terasa kita telah sampai pada tujuan utama kita “Sebuah sungai dekat hutan dan sawah” Tempat yang aku idam-idamkan, dan kali ini aku dapat mewujudkannya bersamanya. Lagi-lagi bersama dia.
Di tempat ini, aku merasa sangat bahagia sekali. Ada kesejukan, keindahan, rasa kagum akan ketenangan air sungai dan juga perasaan aneh. Entah perasan aneh apa yang sedang merayapi hatiku. Sepertinya aku pernah merasakannya namun aku masih belum bisa menangkap jelas apa itu.
Dengan jahilnya, Nando menyipratkan air sungai ke arahku. “brass” Wajahku basah kuyup nyaris mengenai sebagian bajuku. Aku juga membalasnya dengan cipratan air yang jauh lebih banyak dari yang Ia berikan padaku. Perang air semakin menjadi-jadi. Dan pada saat itu, jadilah kami seperti anak kecil yang tak pernah bermain air. Seusai itu, kita saling menggelaki diri kita masing-masing.
Tak lupa Ia mengabadikan moment dalam foto dengan kameranya. Kami meneruskan petualang. Menyusuri hutan, dan berlari berkejaran disana. Sudah persis seperti sepasang anak kecil yang baru saja menemukan permainan baru. Berkali-kali Nando mencuri gambarku tanpa minta izin. Wajahku sudah persis seperti ibu kos yang ingin marah ketika anak kosnya telat bayar kamar. Namun ia tak menanggapinya dan terus mencuri gambarku. Ucapnya “kalo ada wajahmu yang jueeleek, aku pengen majang gambarmu di mading sekolah biar rame gitu. Hahaha” aku ikut tertawa namun tetap dengan nada ingin marah namun terhenti karena candaanya.
Kami berlarian seperti anak kecil, seperti mengejar sesuatu yang tak jelas. Lalu kami berteriak “AKU INGIN SELALU JADI PEMIMPI” seraya melompat. Nando berbisik dengan lembut di telingaku “Aku juga pengen selalu ada di deketmu” Aku tersipu hampir salah tingkah. Kini aku sadar perasan apakah itu. Perasaan yang tadinya sempat membuatku gelisah. Dan terjawab sudah semua itu.
Kami duduk diatas sebuah batu besar. Melihat matahari terbenam, tak terasa sudah sehari aku berpetualang dengannya, Ada rasa sedih, kecewa, rindu, bahagia, kagum, terharu, dan lainnya. Tak lupa juga dengan perasaan itu. Perasaan yang sering di landa oleh anak remaja era ini.
“Makasih, Do buat hari ini. Jangan lupain tentang ini ya.” Aku berkata padanya masih dengan keadaan wajah menatap prosesnya matahari terbenam.
“Aku juga makasih. Makasih ya foto-foto culunmu. Nanti pasti aku pajang di mading deh. Haha” Ia tertawa seperti puas karena berhasil menjebakku.
“Sialan. Terserah kamu deh.” Aku memasang wajah ogah untuk menoleh padanya. “Makasih juga udah ngilangin galauku tadi. Boleh nggak aku nulis cerita tentang kita? Tentang petualang kita hari ini?” Akhirnya aku menoleh padanya.
“Boleh juga tuh. Itu salah satu impian terpendammu kan? Bagus tuh, tercapai nih impianmu”
“Alhamdulillah, berkat kamu juga nih. Sekali lagi aku bilang Makasih banyak buat kamu. Suatu hari nanti mimpimu pasti juga terwujud.” Aku menyunggingkan sebuah senyuman khusus untuknya sebagai salah satu perwujudan terimakasihku. “Oiya maksudmu apa tadi? Setelah kita teriak bareng-bareng tiba-tiba kamu bisik-bisik itu maksudnya apa?”
“Aku suka sama kamu”
Oh Tuhan. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Nafasku bak ingin berhenti ketika mendengar pernyataan itu. Perasaan yang sama telah mengalir dalam dua raga yang memiliki ambisi untuk menjadi seorang pemimpi. Persahabatan ini masih terus mengalir. Terbenamnya matahari menjadi saksi bagaimana dua insan menyatakan rasa yang sebenarnya mustahil untuk terjadi. Dan lagi-lagi, aku memutuskan untuk menyimpan baik-baik perasaan ini.


Cerpen Karangan: Silvia Mayningrum
 

Total Tayangan Halaman

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.