Kumpulan Artikel Menarik , Tips Bermanfaat Serta Bacaan Yang Menghibur

ENTRI POPULER

Home » » Selembar Kertas Kesedihan

Selembar Kertas Kesedihan

Share on :
Di sebuah sekolah dasar terdapat banyak siswa yang mempunyai banyak bakat, salah satunya adalah B’tari Calista Febrianty yang sering disapa dengan sebutan Calista ini anak kelas VI yang mempunyai banyak bakat, seperti salah satunya adalah melukis ia juga selalu aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler dan Calista juga aktif di kelas.

Tetapi semua itu berakhir ketika Calista melemah karna menderita tumor ganas. Semua teman-temannya rindu akan Calista yang dulu, sekarang ia jarang berangkat ke sekolah, semua itu terjadi dengan tiba-tiba.
Di ruang kelas Calista yang semuanya terdiri dari perempuan ini terlihat sangatlah sepi tanpa kehadiran Calista. “aku kasihan melihat Calista yang sangatlah melemah, aku rindu akan semangatnya” ucap teman sebangkunya bernama Dewi “gimana kalau nanti sepulang sekolah kita kerumah Calista” saran Windy “aku setuju banget win, aku kangen banget sama Calista, ia sudah hampir 2 minggu ini tak pernah berangkat sekolah” jawab dinda. Seorang gurupun masuk ke kelas mereka “selamat pagi anak-anak” sapanya “pagi miss” jawab para murid serempak “ibu perhatikan Calista jarang berangkat minggu-minggu ini, mengapa?” tanya guru tersebut “katanya keadaan Calista saat ini semakin parah miss, makanya kita sepulang sekolah kita akan kerumah Calista untuk melihat keadaan Calista miss” jawab windy “memangnya Calista sakit apa win? Kok sampai 2 minggu ini ga berangkat” “akupun tak tau, gimana kalau miss riri ikut kita kerumahnya Calista agar tau keadaannya” saran windy “iya miss riri akan ikut” jawab guru tersebut.
Jam pulang sekolahpun sudah tiba. Windy, dewi, dinda dan miss riri segera pergi kerumah Calista. Setibanya di sana, “assalamu’alaikum” miss riri mengetuk pintu rumah Calista dan seorang perempuan setengah baya membukakan pintu “maaf anda siapa ya?” tanya ibu setengah baya itu “saya riri bu, saya guru kelasnya Calista” jawab miss riri “oh mau bertemu Calista” “iya bu” jawab miss riri menganggukkan kepala “ayo masuk” ajak ibu itu. Merekapun masuk dan ibu itupun mempersilahkan kita duduk di sofa “saya panggilkan dulu calistanya bu” “iya bu” ibu itupun pergi memanggil calista yang sedang tertidur di kamarnya.
Sudah lama kemudian ibu itupun menghampiri kita kembali tanpa membawa Calista. “loh bu, Calista mana?” tanya miss riri “maaf bu, calista sedang tidur saya ga tega membangunkannya” “tidak apa-apa bu, trus bagaimana sekarang keadaan calista bu?” “calista sekarang ini, hari-hari ini semakin melemah bu semenjak ia menderita tumor di kepalanya” jawab ibu itu dengan wajah memerah “sabar ya bu, memangnya apa kata dokter bu?” tanya miss riri “saya belum membawanya ke dokter minggu ini bu, karena biaya yang cukup mahal kita habiskan untuk sekali memeriksa calista bu” ibu itu meneteskan air mata “apa tumor di kepala calista itu tumor ganas bu?” “saya tak tau bu” “sabar ya bu. Kita pasti bantu kok”.

Setelah lama kita berdialog calistapun bangun “ibuuuuuuuuu” suara itu yang kami dengar dari kamar calista “maaf bu, saya ke anak saya dulu” ibu itupun menghampiri calista yang terbangun dari tidurnya. Miss riripun ikut menghampiri calista. Ibu calista dan miss riri masuk ke kamar calista “calista” sapa miss riri “miss” sapa calista kembali, miss riri memegang tangan calista “calista sabar yaa” “iya miss” “ibu gimana kalau kita bawa calista ke rumah sakit, saya kasihan bu melihat calista” saran miss riri “tapi bu. Biaya dari mana, untuk makan saja kita susah bu” “iya bu saya tahu, biaya sekarang biarkan dari saya bu, saya sangat kasihan melihat calista seperti ini” “tapi bu, nanti kita dapat uang dari mana untuk membayarnya ke ibu” “tenang bu. Saya iklas membantu, jadi ibu ga usah membayarnya” “trimakasih buu”

Kami, calista dan ibunya pergi ke rumah sakit menaiki mobil miss riri. “calista cepat sembuh yaa. Kita kangen banget semangat kamu cal” kata dewi “iya cal. Kelas sepi tanpa kamu” lanjut dinda “makasih teman-teman” jawab calista dengan suara pelan. Setalah lama berbincang-bincang kamipun tertidur tetapi calista masih terbangun dan terus menatap keluar jendela. Dan tiba-tiba ada yang terjatuh dikaki dewi dan dewipun terbangun “windy, dinda bangun-bangun” dewi membangunkan dinda dan aku (windy) kaget melihat calista terjatuh di kaki dewi “calista?” katanya “dewi itu wi calista jatuh di kaki kamu wi” lanjutku “hah calista” dewipun ikut kaget “ada apa anak-anak” tanya miss riri, ibunya calista menoleh ke belakang dan melihat anaknya terjatuh “calista?” “ibu tolong bu” kata dinda panik. Miss riripun langsung menghentikan mobilnya dan langsung ke belakang “calista?” “ayo angkat anak-anak” kata miss riri, kitapun mengangkatnya ke tempat duduknya semula “ya allah calista?” ibu calistapun menangis melihat anaknya sangat pucat “calista sadar cal” kataku membangunkan calista.

Miss riri segera kedepan dan melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. “calista bangun calista” kata-kata itu selalu terdengar di sepanjang perjalanan semua yang ada kita semua panik dengan keadaan calista yang belum tersadar selama ini ibu calista tak berhenti melinangkan air matanya sedangkan ibu riri panik sambil kebut-kebutan di jalan.
Selembar Kertas Kesedihan


Setibanya di rumah sakit. Miss riri berlari menggendong calista memasuki rumah sakit kami mengikutinya di belakang. Tiba-tiba ada seorang perawat yang membawa ranjang beroda itu menghampiri kami “ada apa bu?” tanya seorang perawat perempuan “sus tolong suster anak saya sus” jawab ibunya calista, miss riri membaringkan calista di ranjang itu para perawat segera membawa calista ke ruang UGD dengan terburu-buru.

Sesampainya di pintu ruang UGD “percayakan pada kami” kata seorang perawat dan menutup pintu tersebut. Kami semua panik akan keadaan calista ibu calista dan miss riri banjir air mata. Setelah lama kita menunggu kabar calista seorang dokterpun keluar dari pintu UGD “dok bagaimana anak saya dok” tanya ibu calista panik “sabar ya bu sabar” kata miss riri “bagaimana bu keadaannya?” lanjut miss riri pada dokter “sekarang keadaan anak ibu sangatlah kritis dan kami minta anak ibu segera kami lakukan operasi pengangkatan tumor karna tumor yang ada di kepalanya sangatlah besar, tangisan ibu feby (ibunya calista) semakin menjadi “baik dok, lakukan sekarang” jawab miss riri santai “bu dari mana biaya operasi itu bu, jangan bu saya tidak akan bisa menggantinya” kata ibu feby “bu selama saya masih mampu akan saya usahakan sampai calista sembuh bu, walaupun dana yang saya harus keluarkan begitu banyak saya iklas bu, karna calista itu anak yang baik bu” kata miss riri dan ibu feby pun langsung memeluk erat miss riri “trimakasih banyak bu” kata itu terucap ibu feby dengan penuh senyuman diwajahnya “sama-sama bu” merekapun saling memisahkan pelukannya “bagaimana sekarang bu?” tanya dokter tersebut “kami siap untuk operasa calista dok” jawab miss riri “baiklah” dokter itupun kembali memasuki ruang UGD.
Tidak lama kemudian calista di bawa keruang inap untuk besok tim dokter melakukan operasi pengangkatan tumor di kepalanya dan sudah hampir malam ini calista belum tersadar juga. Kitapun bergegas pulang untuk besok kembali bersekolah.

Keesokan hari kami berangkat kesekolah “kita sepulang sekolah ke calista kan?” tanyaku “tentu saja win” jawab dinda & dewi bersamaan “aku ga nyangka ternyata calista punya penyakit yang membahayakan hidupnya dan selama ini ia terus semangat” kata dewi “aku juga ga nyangka semua itu terjadi pada calista” jawab dinda.

Bell pulang sekolahpun sudah terdengar saatnya kita pergi ke rumah sakit. Dan setibanya di sana ternyata calista sudah terbangun “calista apa kabar” tanyaku sambil berjabat tangan “baik win” “semangat ya calista, kamu pasti bisa habiskan penderitaan ini dan kitapun dapat bersenang-senang kembali” kata dewi “makasih wi” “teman-teman doakan aku yaa semoga operasi ini berjalan lancar” lanjut calista “kita akan selalu doakan kamu yang terbaik cal” jawab dinda “makasih din”.

Tiba-tiba calista mengambil selembar kertas di meja dan menggambar sesuatu di kertas tersebut “kamu menggambar apa cal?” tanya dinda “aku menggambar kita semua yang sedang menunggu detik-detik operasi aku” sebuah gambar yang sangat indahpun jadi “coba kalian lihat deh” kami semua melihat gambar karya calista “bagus bukan?” lanjutnya “iya cal bagus banget, kamu memang jago menggambar cal” jawabku “yang ini siapa cal, kok dia cemberut?” tanya miss riri “itu dewi miss” “kok gambar aku cemberut sih?” tanya dewi “abis dari tadi kamu cemberut aja” “haha iya aku khawatir sama calista” “kenapa kamu khawatirkan aku?” “karena kamu sahabat terbaik aku calista” dewipun memeluk calista “good luck ya calista Allah good bless to you terus berdo’a ya cal” dewi mengatakan itu hingga meneteskan air mata, calistapun menghapus air mata dewi “kita pasti bisa seperti dulu lagi wi” kita semua terharu. “calista kok Cuma dewi sendiri yang dibuatnya cemberut?” tanyaku “ya karna aku lihat cuma dewi yang cemberut” “kalian coba lihat” lanjutnya “bagus banget calista menggambarnya” kata miss riri “makasih miss, kalau aku udah sembuh nanti boleh ya gambar ini calista pasang di mading?” “boleh kok sayang”.

Detik-detik operasipun sudah dekat “ibu akan selalu ada disampingku kan bu?” tanya calista “iya cal, ibu slalu ada di dekat kamu” jawab ibunya “berarti ibu akan ada disaat aku masuk ruang operasi?” “iya calista ibu akan selalu ada apapun yang terjadi” jawab ibu feby meneteskan air mata “calista ga takut kan?” tanyanya “ga bu. kan ada ibu di samping calista”.

Jam demi jam kami lalui, menit demi menit kami lewati dan detik demi detik kini menanti. Para perawat datang untuk membawa calista ke ruang operasi.

Setibanya pintu ruang operasi “calista berani kan?” tanya ibunya “ibu ikut calista ke dalam kan?” “iya sayang, ibu akan ikut kamu kedalam” calista yang di bawa oleh para perawatpun memasuki ruang operasi dan diikuti oleh ibu feby.

Tim dokter segera berbuat sesuatu pada calista sehingga calistapun tidak sadarkan diri dan ibu feby segera keluar dari ruang tersebut karna selama operasi berlangsung hanya tim dokter dan perawat yang ada di dalam.

Kami di luar hanyalah dapat membantu dengan do’a agar calista dapat kembali seperti dulu. Dewi menangis terseda-seda sambil membawa kertas yang bergambarkan sedangkan miss riri dan ibu feby menangis tiada henti sedari tadi, aku dan dindapun ikut sedih.
Setelah lama kemudian seorang perawat datang menghampiri kami “gimana operasinya sus” tanya miss riri “alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar” mendengar kata-kata itu kami semua tersenyum bahagia “alhamdulillah trimakasih ya Allah” kata ibu feby

Calista yang belum tersadar di bawa keruang ICU untuk menjalani masa koma nya “anak ibu akan terbangun 2 sampai 3 jam lagi” kata dokter yang ikut melakukan operasi pengangkatan tumor dikepala calista “trimakasih dok” kata ibu feby “sama-sama, permisi bu” dokter itupun keluar dari ruangan calista dirawat.
Sudah 6 jam kami menunggu calista terbangun tetapi calista tidak terbangun juga hingga melebihi jam yang diperkirakan “kanapa calista tidak bangun juga bu” tanya ibu feby pada miss riri “sabar bu” seorang dokter masuk diikuti oleh 2 orang perawat “kok bisa sudah 6 jam belum sadar juga, biasanya 2 jam atau 3 jam sudah sadar?” “coba sus ada apa?” “maaf dek silahkan keluar dulu” kata salah satu perawat. Kamipun keluar dan para perawat itupun mencoba mencari apa yang terjadi pada calista sampai jam segini belum sadar juga.

Malam sudah tiba, kitapun pulang ke rumah masing-masing untuk besok kembali ke rumah sakit menengok keadaan calista.

Keesokan harinya kami kembali ke rumah sakit tersebut tatapi calista belum sadarkan diri juga. Dan hingga 1 minggu berlalu calista masih belum sadarkan diri. “calista bangun cal” kata-kata itu sering kami ucapkan jika kita berkunjung untuk mengnengok calista dan tetesan air matapun mengalir setiap kita menjenguk calista.
2 minggu sudah calista koma, dan tentu banyak biaya yang mereka keluarkan untuk kesembuhan calista. Kamipun meminta izin sekolah untuk membuat bakti sosial untuk calista yang isinya acara pensi, pertunjukan ekstrakulikuler dan menjual barang bekas yang masih layak pakai yang uangnya akan kita pakai untuk sumbangan biaya rumah sakit calista.

Acara itu berlangsung dengan sangat sukses dan banyak sumbangan yang kita kumpulkan untuk biaya rumah sakit calista. “trimakasih teman-teman sudah iklas menyumbangkan uang kalian untuk teman kia B’tari Calista Febrianty yang sedang menjalani masa coma nya di rumah sakit, kita mohon kalian semua juga membantu do’a untuk calista agar ia dapat kembali berkumpul di sini bersama kita” pidato dinda saat acara pembukaan

Setelah acara itu berlangsung kami mengadakan do’a bersama. Di acara tersebut semua guru dan semua orang yang kenal dengan calista meneteskan air mata, sungguh sudah banyak yang calista beri untuk kami dan untuk sekolah. Calista memang orang yang sangat aktif tetapi karna semua ini sekolah tak ada yang di banggakan kembali.
Keesokan harinya kami kembali ke rumah sakit untuk memberi uang sumbangan dari anak-anak dan dari sekolah “bu, ini ada uang sumbangan dari anak-anak dan dari sekolah, semoga bermanfaat ya bu” kata dinda memberikan uang tersebut “trimakasih dek” ibu feby kembali meneteskan air mata.
3 minggu kita jalani hidup tanda calista yang selalu membuat kami semangat dan calista 3 minggu menjalani masa comanya.

Dihari ke-24 ia menjalani masa koma. Ia pun tersadar “calista sayang” kata ibu feby “ibu?” kata yang calista beri untuk ibunya “calista akhirnya kamu sadar juga cal” kataku memberi senyuman dan calistapun membalas senyuman kami. Calista ingin berbicara tetapi ia masih sangat lemas sehingga masih susah untuk berbicara “ibu ga dengar kata kamu cal, coba kamu ulang pelan-pelan ya calista” dewi memberikan selembar kertas yang dibaliknya ada gambar yang calista gambar saat detik-detik operasinya. Miss riri memegangkan kertasnya dan calista memulai menulis sedikit-demi sedikit. Huruf awal yang ia tulis adalah M dan selanjtunya A A dan F “maaf” kami semua setelah membacanya meneteskan air mata calistapun tertidur kembali “calistaaaaaaaaaaaaaa” jerit ibu feby “dokter-dokter toloooongg” teriak miss riri.
Seorang dokter dan 3 orang perawat mendatanginya, dokter dan ke-3 asistennya mencoba mencari denyut nadi dan detak jantung calista dan tidak lama kemudian dokter mencabut semua selang-selang yang menempel dan manutupi calista dengan kain putih. “calisssstaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” jeritan histeris dari ibu feby, kami semua menghampiri calista dan memeluk calista mungkin untuk yang keterakhir kalinya.

Deraian air mata berjatuhan dari mata kita. Calista pergi untuk selamanya.

Seorang yang sangat beharga bagi kami telah pergi kembali kepadanya dan menempati tempat terindah di atas sana. Selamat tinggal kawan kami akan selalu mengenang semua dari kamu dan akan kami jadikan pelajaran apa yang telah engkau beri pada kami sahabatmu. Semoga kamu di terima olehnya semoga kamu bahagian di sana karna perbuatan yang baik telah engkau beri pada kami semua.

Selembar kertas kesedihan ini sangatlah berarti bagi kami untuk belajar semangat sperti kamu sobat. Dan sekarang kertas itu terpampang di musium seni sekolah bersama lukisan-lukisan mu yang lain tetapi lukisan yang kau buat saat detik-detik operasi kamu itu lukisan paling beharga karena semua semangatmu dan harapanmu untuk hidup semua tertuang dilukisanmu itu.

Selembar kertas kesedihan itu kini telah berakhir menjadi selembar kertas kehidupan. selamat jalan kawan 

Saat musim kelulusan tiba kita teringat pada semangat seorang sahabat yaitu B’tari calista Febrianty yang semangatnya tak ujung putus hingga kami lulus dengan lulusan terbaik tahun ini karna kita mencoba belajar dari semangat seorang sahabat.



Cerpen Karangan: Firda E. Ramadhanty

Ditulis Oleh : Punky Styo

Artikel Selembar Kertas Kesedihan ini ditulis oleh Punky Styo pada hari Minggu, 28 April 2013 . Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Selembar Kertas Kesedihan dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

::! ::

5 komentar :

 

Total Tayangan Laman

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.