Kumpulan Artikel Menarik , Tips Bermanfaat Serta Bacaan Yang Menghibur

ENTRI POPULER

Home » » Air Mata Seorang Kawan

Air Mata Seorang Kawan

Share on :
 

Air Mata Seorang Kawan

“Mah, korupsi itu apa sih?” tanya Kintan.
Mama agak bingung juga menjawab pertanyaan anaknya yang berumur delapan tahun duduk di kelas tiga SD. Kintan kelihatannya tidak serius dengan pertanyaannya tadi, malahan sekarang sedang asik main Boneka. Mamanya menonton TV kembali mengabaikan pertanyaan Kintan tadi
“Jahat mana Korupsi dengan Maling?” Tanya Kintan lagi. Kali ini Boneka ditinggalin lalu mendekati pangkuan mamanya.
“Mama enggak tau ya, jahat mana korupsi dengan maling?” rupanya dia bertanya serius ke mamanya dan biasanya kalau sudah begini harus ada jawabannya atau dia akan mengambek
“Lebih jahat korupsi.” jawab Mama.
Kintan termangu dan menatap mata Mamanya sambil berpikir.
“sama Ryan pembunuh itu, jahat mana?” tanya Kintan
Wah ini pasti Ryan pembunuh berantai yang dari Jombang itu. Ada rasa bersalah di hati Mama kenapa Kintan bisa tau berita tentang Ryan itu dan memori itu kini keluar mengikuti keingin-tahuannya tentang korupsi. Harusnya Kintan tidak boleh nonton berita tentang pembunuh sadis itu
“Mah, lebih jahat mana?” Ih mama ditanya malah bengong”
“Kejahatannya berbeda, Nak, Ryan membunuh banyak orang, sedangkan Korupsi itu mencuri uang Negara” kata Mama.
“lebih jahat mana, mah?” Pasti ada yang lebih jahat dong!” Sanggah Kintan
“Pokoknya sama-sama jahat deh, Korupsi itu membuat Negara jadi miskin, akibatnya banyak orang jadi melarat anak-anak kecil menjadi pengemis ga bisa makan dan sekolah, kalau sakit ga bisa berobat”
Kintan tercengang-cengang dengan penjelasan itu “Masa sih sejahat itu?” Kintan berkata sambil terisak-isak. Mama terkejut dengan pernyataan Kintan belakangan. “Lho, kamu kenapa, Nak?”Tanya Mama
“Masa sih Mamanya Marni se jahat itu? Hiks hiks, Maa..! Mamanya ditangkap karena korupsi” kata Kintan.
Terkejut Mama mendengar jawaban itu “Kamu tau dari mana, Nak? Mudah-mudahan tidak benar.
“Sonya yang bilang, dia tau dari Mamanya” Jawab Kintan
Marni adalah teman Kintan, hampir tiap hari mereka bersama, belajar bersama. Marni anak orang kaya menurut ukuran di kampung ini, Mama dan Papa nya kerja, di rumah tinggal Marni dan Abangnya Rizki, Rizki duduk di SMP kelas dua. Kintan dan Marni berkawan sejak dari TK sama dengan kawan-kawan sekelas lainnya. Keluarga orangtuanya Marni naik daun sejak Ibunya yang PNS bekerja di Dep Keu bagian Pajak. Tapi biarpun menjadi orang kaya
Marni tetap akrab dengan Kintan, bahkan Mamanya sering membagi oleh-oleh buat Kintan jika pulang dari bepergian
“Oh Tuhan tolonglah Mamanya Marni dan jangan sampai dia menjadi Koruptor, jangan biarkan dia tertangkap, lepaskan dia Tuhan, amin. Kintan berdoa untuk kawannya Marni…
Suasana pagi di SDN 233 Kampung Sari sudah mulai ramai, anak-anak dengan seragam putih merah sudah mulai berdatangan, sebagian sudah ada yang bermain di halaman sekolah, anak-anak perempuan duduk di teras depan kelas sambil ngobrol.
Dia belum datang juga, pikir Kintan. Berarti benar Ibunya di tangkap polisi kemarin seperti cerita orang-orang. Tak terasa air matanya menetes buat kawannya Marni.
“Udah ga usah ditungguin, ibunya aja Koruptor ngapain ditungguin, ha ha ha” Suara seorang anak lelaki memecah lamunannya”
“Huuuu ngapain juga temenan sama dia, anak Koruptor aja” Suara anak yang lain
“Najis!”
Kintan melihat teman lelakinya 3 orang sedang tertawa-tawa melihatnya bersedih untuk Marni
“Yeee siapa?” emangnya Gue, huh!” Kata Kintan sambil berlalu.
Ia berjalan mendekati kawannya Dewi, Sonya dan Desi yang sedang ngobrol di dekat pintu ruangan kelas 3b
“Belum tentu benar kata Bapak gue, itu kan baru tersangka” Kata Dewi.
“Tapi kenapa Ibunya di tangkap, kalu ga bersalah ga mungkin di tangkap” Kata Sonya.
“Ya ga tau, kan itu kata bapak gue, lu tanya aja ke bapak gue hi hi hi” Jawab Dewi
“Bodo! Pokoknya kata nyokap gue korupsi itu jahaaaat banget kayak teroris” Kata Sonya “Eh Kintan, sini deh jangan temen sama Marni lagi, Mamanya Koruptor, najis!
Kintan tertegun mendengar kata-kata Sonya, dia tidak sanggup berkata-kata.
“Lho memang kenapa kalau dia berteman sama Marni?” Tanya Dewi.
“Ihh namanya najis ya menular hi hi hi Lu mau jadi najis juga? Ya terserah” kata Sonya
Kintan tidak sanggup melihat kenyataan sekelilingnya dia kembali melihat ke 3 anak lelaki tadi, melihat ke kawan Sonya dan kawan-kawan, dia melihat ke anak-anak yang lain mereka semua sepertinya melihat dia meneteskan airmata untuk Marni dan mereka semua mengatakannya ; jangan berteman dengan Marni….
Di dalam kelas 3b
“Anak-anak mohon perhatian semuanya , sebelum mulai pelajaran Ibu ingin menjelaskan pertanyaan yang ditanyakan beberapa orang murid.” Kata Bu Nina wali kelas 3b
Anak-anak mendadak diam, Bu Nina menunggu anak-anak tenang dulu lalu berkata:
“Ibu ingin bertanya, tolong yang sudah tau di jawab bergantian ya, siapa yang sudah pernah dengan kata Korupsi? Dengar dari mana atau siapa?”
“Saya Bu, kata Tono yang duduk di depan, nonton di televisi Bu.”
“Ya, Bu, lihat di televisi Bu.” Sambung menyambung anak-anak menjawab dari TV
“Saya mendengar dari Mama waktu mengobrol dengan Papa” jawab Sonya
“Ya, betul jadi kita mendengar dan melihat korupsi itu dari berita di TV.” Jawab Bu Nina
“Horeeee, aku betul” seru anak-anak rame-rame
Bu Nina kembali menenangkan murid-muridnya
“Menurut kalian, apa itu Korupsi?” Tanya Bu Nina kembali
“DPR Bu” kata Tono lagi, yang lain mengiyakan. Jawaban yang membuat Bu Nina tersenyum.
“Siapa yang mengerti apa itu Korupsi?”
Murid-murid saling melihat satu sama lainnya sambil berpikir tapi nampaknya mereka belum mengerti apa artinya
“Korupsi itu jahat, kata mama, lebih jahat dari pada Maling dan hampir sama dengan Teroris.” Kata Sonya “Jangan mau berteman sama anak korupsi”
“Ha???.” Seru yang lain ber ramai-ramai
“Teroris itu apa?” Tanya Dewi. “Huuuu Teroris aja enggak tau, cemeeen!” Kata seorang anak laki-laki
“Ehh, tidak boleh begitu, kalau kamu tau apa itu teroris ya jelaskan.” Kata Bu Nina
“Teroris itu yang suka bunuh banyak orang pake Bom.” Kata Tono
“Korupsi enggak ada yang pake Bom.” Kata Joko
“Sekarang kalian diam dulu anak-anak.”
Anak-anak diam kembali
“Siapa yang tau korupsi itu kejahatan seperti apa?” Tanya Bu Nina
Anak-anak tidak menjawab malah berbisik-bisik tapi tidak ada yang menjawab. Mereka kebingungan dengan kata korupsi itu
“Kalau begitu ibu beri contoh; misalnya ibu menyuruh Joko membeli Air Mineral yang harganya Rp. 3000.- Joko pergi membeli dan dia bilang bahwa Air Mineral ini harganya Rp. 5000.- Jadi Joko mengambil uang lebihnya Rp. 2.000.- Nah itu yang namanya Korupsi
“Wah, Joko Penipu!” kata seorang anak. “Pencuri!” “Maling!”
“Ehh, bukan Joko, kan Ibu bilang misalnya Joko.” Kata Bu Nina
“Kalau koruptor itu apa Bu?” Tanya Jane
“Koruptor itu orang melakukan korupsi” Jawab Bu Nina. “Anak-anak masih ada pertanyaan?”
“Lebih jahat mana Koruptor sama Maling?”
“Maling itu mengambil uang seseorang di suatu tempat, tapi Koruptor itu mencuri uang Negara sehingga Negara jadi miskin dan menyengsarakan banyak orang, jadi…. menurut kalian siapa yang lebih jahat?”
“Koruptor…….! Jawab mereka serempak
“Eh, Kintan kenapa, Nak ? Kenapa kamu menangis ?” Tanya Bu Nina. “Ga apa apa Bu, kata Kintan sambil menghapus airmatanya
“Anak-anak dengar pengumuman dari Ibu ya. Kawan kita Marni sedang di timpa musibah. Kalian mengerti…?”
“Mengerti, Bu guru….!”
“Bagus…! Bagaiman seharusnya sikap kita terhadap kawan kita yang sedang tertimpa musibah?”
“Menolong, Bu…!” Jawab sebagian anak-anak. “Kata mama ga boleh temen sama anak Koruptor, Najis!” Kata Sonya.
“Kalian dengar, anak-anak…! Kalian harus belajar untuk tidak menyalahkan orang lain apalagi mengatakan Najis! Mengerti…? Ibunya Marni sekarang disebut tersangka jadi dia belum tentu betul-betul melakukan korupsi. Mengerti…?
“Jika nantinya ternyata Ibunya terbukti melakukan Korupsi nanti dia akan di hukum tetapi… itu bukan salahnya Marni kawan kalian, mengerti….?”
“Mengerti Bu Guru……!” Jawab anak-anak…
“Bang minta siomay satu dong..!” Kata Mama Dani ke Penjual Siomay. “Baik Bu!” Jawab si Abang. Mama Dani dengan ibu-ibu yang lain sedang menunggu di tempat tunggu di depan sekolah
“Enggak pesan sekalian, Mama Mel?” Tanya Mama Dani yang anaknya duduk di kelas dua kepada Mamah Melati yang anaknya juga di kelas dua
“Ah nanya doang traktir kagak.” Jawab Mama Mela bercanda sambil ketawa
“Ntar gue korupsi dulu ya, baru gue traktir.” Jawab Mamah Dani
“Najis!” Kata Mama Mela sambil ketawa “Ntar gue mencret-mencret makan hasil korupsi.”
“Ala.. jangan muna deh lu, emangnya uang hasil korupsi teriak-teriak gue hasil korupsi?” Kata Mama Dani. “Lagian belum ada fatwa yang menyatakan uang korupsi haram.”
“Kalau ada fatwa pun belum tentu di dengar.” Kata Mama Mela
“Minimal kan bagi calon pelaku korupsi tau bahwa korupsi itu haram.” Kata Mama Dani
“Ah udah ah lu makan aja tuh, ga usah ceramah ah namanya Koruptor ya tetap aja Maling Busuk, nanti Si Marni juga bakal jadi Koruptor Najis!
“Eh Kintan…!” nunggu mama jemput ya?” Kata Mama Dani melihat Kintan melihatnya sambil melongo
Kintan sudah mendengar obrolan mereka dari tadi, airmatanya tak terasa menetes lagi. Dia tidak tau apa korupsi itu, korupsi adalah dunia orang dewasa.
Kintan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan kawannya Marni jika harus menghadapi sikap semua orang, apa salah Marni……



Ditulis Oleh : Punky Styo

Artikel Air Mata Seorang Kawan ini ditulis oleh Punky Styo pada hari Kamis, 10 Januari 2013 . Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Air Mata Seorang Kawan dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

::! ::

0 komentar on Air Mata Seorang Kawan :

Post a Comment and Don't Spam!

 

Total Tayangan Laman

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.