Kumpulan Artikel Menarik , Tips Bermanfaat Serta Bacaan Yang Menghibur

ENTRI POPULER

Home » » Cahaya Untuk Icha

Cahaya Untuk Icha

Share on :

 Cerpen : Aulia Farhah FA



Cahaya Untuk Icha
Cahaya Untuk Icha

“ aah Riki, basah tahu.. aah udah..” rengekku ketika bermain pistol air bersama Riki sahabat kecilku. Tawa kami bisa jadi tawa paling istimewa di kompleks ini. Rumahku dengan rumah Riki bersebelahan, bahkan jendela kamarku dengan jendela kamarnya pun saling berhadapan. “ Icha…!!! iiih lengket nih.. malu tahu belepotan ” jerit Riki saat kulempari dia dengan kue tart ulang tahunnya yang ke-10. Senyum riangnya selalu menghiasi hariku. Aku juga sering bermain telephone kaleng yang dihubungkan dari kamarku sampai kamar Riki, dan juga sebuah kotak musik pemberian seorang kakek yang kami temui didekat sekolah kami gunakan kotak musik itu untuk bermain sebagai game tantangan bagi kami berdua.
Namun kini semua berubah, aku seperti kehilangan sosok Riki yang dulu. Tak lagi kupernah melihat tawanya, hanya senyum kecil yang ia berikan kepadaku, dan disaat kutembaki dia dengan balon air dia lebih memilih untuk menghindar dari pada membalasku. “ Cha, udahlah.. kita bukan anak kecil lagi ” katanya. Matanya yang indah tampak melayu dan suram berbeda dengan dulu yang selalu berbinar.
Tiga jam aku menunggu disini berharap ia akan datang, yah aku sedari tadi memang menunggu Riki. Menunggu dan menunggu dibawah pohon tua dipinggir danau. Tiba-tiba phonselku menyala dan bergetar, oh ternyata sebuah pesan darinya yang berisikan “maaf, hari ini aku tidak bisa menemuimu” oh betapa kecewanya aku. Gerimis dan angin sepoi-sepoi menerpa wajahku yang kusut tak bergairah oleh rasa kecewaku. Entah apa yang membuatnya tidak bisa datang pada saat hari ulang tahunku yang ke-14 ini. Namun kutemukan sebuah kado didepan pintu rumah “Riki?” iya itu darinya, sebuah gaun putih cantik dengan pita hijau kecil dipinggang.
Dipagi harinya disekolah aku melihat wajah Riki yang Kusam matanya bengkak seperti orang menangis seharian, ”Riki” sapaku seperti biasa, namun keherananku semakin menjadi ketika aku tak mendengar secuilpun suaranya “apa dia marah?” gumamku. Beberapa jam kemudian pak Harry guru seni rupaku datang dan memanggil Riki, entah ada apa Rikipun tak mau bicara. Aku memutuskan untuk berpura-pura pergi ke toilet karena akupun ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dengan hati-hati aku mengintip dari balik jendela ruang kepala sekolah yang sebenarnya sangat jauh dari toilet siswa, ternyata om Rahmad (ayah Riki) datang ke sekolah untuk menjemput Riki, ia tak menyebutkan alasannya dengan jelas ia hanya berkata “ada urusan penting”. Tiba-tiba dengan suara yang lantang dan keras bu Anggi meneriakiku “Icha..!!”, jantungku terasa hampir copot dan telingaku terasa hampir pecah.
Ya, belakangan ini sepertinya memang ada yang aneh dengan Riki. Satu per satu halaman album foto milik ibu aku buka, ternyata itu adalah sebuah ringkasan persahabatan aku dengan Riki sejak kecil. Tertawa aku melihat wajahku dan wajah Riki yang begitu polosnya. Namun, ini sudah jam 17.40 kenapa Riki masih belum menghubungi aku? Betapa ingin hatiku menyeberang taman sebelah rumah untuk mencari Riki, tapi begitu keinginan itu terjadi ternyata ia tak ada dirumah. Kata bi Eti, Riki dan keluarganya sedang pergi kerumah sakit dan entah siapa yang sakit aku tak tahu karena bi Eti merahasiakannya.
Satu dua jam aku menunggu didepan rumah dan akhirnya mobil sedan warna silverpun muncul dan masuk ke rumah Riki, ya itu memang Riki. Aku berlari dan menarik tangannya yang setikit hangat, aku bertanya padanya “ kamu kenapa sih Rik? Kok diem sama aku. Kamu marah ? ” namun yang aku dapat hanya beberapa kata dengan suara lirih “ga apa-apa cha.. udah sekarang mendingan kamu pulang” aku menyadari sikap Riki sekarang benar-benar berbeda, namun tak mungkin juga aku menanyakan langsung, disatu sisi aku begitu penasaran namun disisi lain aku tak berani untuk menanyakannya.
Hari senin seperti biasa aku menunggu Riki didepan pagar untuk berangkat sekolah bersama, namun ia tidaklah muncul-muncul, beberapa menit kemudian tante Rina (mama Riki) keluar dengan sepeda motornya, ternyata hari ini Riki diantar percuma aku berlama-lama menunggunya didepan pagar, akhirnya aku berjalan sendiri dengan sepi dan terpaan angin liar. Sesampainya disekolah aku tidak langsung masuk kesekolah, aku menuju ruang kesenian untuk mencari Riki karena biasanya ia berada disitu, dan ya memang benar dia ada disitu sedang memegang kuas kecilnya dan dengan sangat hati-hati ia mengoleskannya pada kanvas putih yang sudah bercoretan cat. Ku panggil dia dua tiga kali namun tak ada jawaban, sewaktu aku memegang bahunya dan membalikkan wajahnya betapa terkejutnya aku hidung Riki mengeluarkan darah, “ Ya Allah Rik.. kamu sakit? Hidung kamu.. ayo ke UKS ” namun hanya tatapan mata dingin yang ku dapatkan. Keherananku semakin menjadi, namun aku terus berusaha agar Riki tidak terlalu jauh dariku.
Sepulang sekolah aku memaksanya untuk pulang denganku , aku memohon dan memohon karena aku tahu tidak bisa menolak permintaanku jika aku sudah menangis. Akhirnya aku dan Riki pulang dari sekolah dengan berjalan kaki, terik matahari menerpa kulit kami, berulang-ulang aku menolehkan wajahku kearah Riki namun tak sepatah katapun ia utarakan untukku. Ia memang menbuat aku selalu bertanya dan mencari apa sebenarnya yang tengah terjadi, langkahku sempat terhenti aku bertanya kepadanya “ Rik, kamu cape? Atau kamu bosen sama aku” belum sempat aku mendengar jawaban darinya tiba-tiba ia jatuh pingsan dipinggir jalan yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumah. Teriakku terdengar oleh para kakak yang sedang bermain basket dilapangan yang tak jauh dari tempatku tertunduk saat itu. Sesampainya dirumah Riki aku terus menatap wajahnya yang pucat masam, aku heran dengannya sungguh. Beberapa lama kemudian tante Rina pulang dari tempat kerjanya dan langsung memberikan beberapa obat kepada Riki yang baru sadar, badannya panas namun keringat yang membasahi sekujur tubuhnya terasa begitu dingin. Sempat aku meneteskan air mata, Riki menatap dingin mataku yang membuatku tak bisa berkutik lagi dan membuat air mata ini semakin deras, entah mengapa ada sesuatu yang hilang dari hidupku setelah Riki bersikap dingin kepadaku. Hujan lebat yang mengguyurku saat aku menyeberang jalan untuk pulang kerumah itu seperti melukiskan perasaan hatiku saat ini.
Dan akhirnya sudah beberapa minggu ini aku tidak pernah mengunjungi Riki, entah mengapa hatiku begitu kecewa. Aku merasakan rindu yang mendalam dan aku berharap Riki punya rasa yang sama. Aku heran tak ada satupun pesan ataupun telphone dari dari Riki dan itu membuat aku berfikir bahwa ia tidaklah peduli lagi dengan aku, aku merasa begitu jauh dengannya. Disekolahpun aku hanya berdiam, teman-temanpun heran mengapa kami berdiaman tapi akupun tak punya jawaban pastinya karena aku sendiri tak tahu apa yang membuat Riki jauh dariku. Namun aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri yang begitu sayang dengannya, suatu hari aku mengajak Riki bermain kepantai.
Dipantai ini kami bermain walau masih ada sedikit jarak namun aku merasa lega karena ia mau bermain denganku lagi, saking asyiknya bermain dan bercanda tak sengaja pasir yang dilempar Riki kearahku itu mengenai mataku, lalu mataku terasa sangat perih dan buram entah apa yang terjadi. Tiba-tiba semuanya gelap hanya suara Riki dan deru ombak yang kurasakan. Aku takut aku cemas, entah bagaimana aku sudah ada disebuah tempat dan sepertinya ini sebuah ruangan kecil namun banyak orang, dari aroma-aromanya ini.. “Rumah Sakit, siapa yang sakit? Kenapa gelap sekali” dalam benakku. Suara Riki dan suara mama sangat jelas terdengar namun ada suara laki-laki yang lirih dan siapa dia?.
Tiba-tiba aku mendengar kalimat yang tidak aku senangi “ aku buta ” sungguh kau kecewa, marah, kesal, terpukul, sedih, dan campur aduk. Aku mendengar dengan jelas suara Riki yang terus minta maaf namun aku sangat terpukul dan berfikir ini pasti karena pasir tadi. Dokter mendiaknosa ini bukan buta permanen dan aku akan dicarikan donor tapi kapan. Berulang-ulang Riki meminta maaf namun aku tak menggubrisnya, namun Riki tak pantang menyerah. Aku tahu aku masih ingat dengan keadaan Riki saat ini yang sangat ringkih, namun bagaimana aku sudah terlanjur terluka.
Di siang yang terik dengan tongkat aku berjalan kearah pantai untuk menenangkan diri dan ini juga hari ulang tahunku yang ke-16. Dengan sunyi aku menenagkan diri berusaha bersatu dengan alam ini, beberapa lama kemudian aku merasakan sosok yang rasanya sangat dekat denganku tapi siapa dia, suaranya sangat hangat dan aku tahu ini Riki. “ngapain kamu disini? pergi” bentakku namun betapa terkejutnya aku mendengar suaranya yang begitu membuatku tenang “ berapa kali aku harus yakinkan kamu? Aku sayang sama kamu, maaf aku memang yang membuat kamu menjadi seperti ini tapi aku mohon cha maafin aku ” namun aku tak mau mendengarkannya. Aku pergi dari pantai kearah jalan Riki terus mengikutiku, sampai aku mendengar suara mobil yang begitu cepat dan teriakan Riki “awas cha!!” aku tak tahu apa yang terjadi namun aku takut. Aku merasakan dekapan yang begitu hangat, aku tahu ini Riki karena dekapan itu yang menyelamatkan hidupku. Namun, dimana Riki sekarang, aku tak mendengar suaranya tapi kenapa terdengar suara banyak orang berlari kearahku. Aku menangis sungguh menangis, “Riki.. bangun Rik.. maafin aku.. Riki please bangun Rik bangun, aku sayang kamu” rengekku namun aku tak mendengar sepatah katapun dari Riki. Tiba-tiba ada seorang ibu yang memapahku masuk kedalam sebuah mobil yang berbau medis, apa ini ambulance? Aku tak tahu. Sesampainya dirumah sakit Riki segera dibawa masuk ke UGD. Tiga hari aku menemani Riki yang terdiam, sewaktu aku pergi ketaman aku mendengar suara mama yang langsung membawaku keruang dokter, dan ternyata sudah ada donor mata untukku. Tak lama kemudian aku menjalani operasi mata, namun aku mendengar dokter yang menangani pasien disebelahku itu seperti menanyakan dan menyebut nama Riki, aku berfikir apa Riki ada disini. “ ma, pa, makasih ya, maaf aku hanya ngrepotin terus. Tapi tenang aja, aku akan segea pergi kok. Dan aku ga akan manja lagi ” suara kecil terdengar dari arah samping kananku dan aku sangat mengenal suara itu, tiba-tiba tanganku mendapatkan sentuhan lembut yang membuatku enggan untuk melepasny, juga aku mendapat sebuah ciuman kecil dikeningku namun ada air yang menetes “ Riki? Dokter apa ada Riki disini? ” tanyaku namun tak ada satupun yang menjawab. Selama operasi tanganku terus menggenggam dan digenggam oleh tangan sesorang yang begitu lembut sehingga membuatku terbuai. Seketika aku mendengar suara tangisan dan tangan yang menggenggamku terlepas begitu saja, aku tak mengerti namun aku masih mencari tangan itu lagi.
Operasi sudah berjalan sekitar dua jam, dalam batinku lebih mengkhawatirkan Riki dari pada diriku sendiri. Menit demi menit berjalan, entah hanya khayalanku atau mimpi, Riki hadir dalam anganku dengan pakaian putih lembut dan aku tahu Kemeja itu hadiah ulang tahun Riki yang ke-15, tapi kenapa aku mengenakan gaun ini.. ini hadiah ulang tahunku yang ke-14 dari Riki. Aku heran sungguh heran. Setelah empat jam operasi aku dibawa kekamar, namun aku kenal aroma ini, aroma tubuh Riki “ apa Riki ada disini?” gumamku. Tante Rina menangis disampingku dan itu membuatku semakin bingung. Namun ada satu yang aneh karena biasanya orang yang operasi mata itu satu minggu baru bisa dibuka perbannya namun aku bisa langsung dibuka. Setelah perbanku dibuka aku melihat keluargaku dan keluarga Riki menangis, aku heran “ Icha, kamu nyari siapa? Riki?” tanya tante Rina namun aku hanya mengangguk “ Riki ada disini, ada dideket kamu. Dimata kamu, mata kamu itu kenang-kenangan darinya dan kini kamu ada dikamar tempat Riki kemarin ” kata tante Rina. Kejutku menangis, aku meminta mama untuk mengantarku ke Riki yang sudah dingin di kamar mayat, tubuh kakunya tidak melayukan senyumannya. Air mata tak sanggup kutahan, hingga aku sadar bahwa Riki ada disampingku sedang tersenyum dan membelai kepalaku yang penuh akan keringat. Aku tahu apa yang dikatakan Riki, dan aku juga bingung, dalam operasi ini mataku disimpan dalam tubuh Riki, biarlah mata itu sebagai gantinya dan biarlah mata itu yang menemanimu dalam sepinya kubur.
Setelah tubuh Riki disemayamkan, tante Rina memberi aku sebuah bingkisan dan sebuah surat kecil berwarna biru buda dan bertuliskan kalimat yang berwarna hijau daun. Sungguh aku terpukul ketika membaca surat itu yang ternyata berasal dari Riki, dan ternya karya terakhirnya ya lukisan pantai disore hari dengan diriku dan dirinya. Itu sangat memilukan, dan surat yang berisikan sesuatu yang begitu membuat aku terkejut dan menangis, begitu menyesalinya. Surat kecil berwarna biru muda dengan pita berwarna kuning halus dan tulisan berwarna hijau, tuliasan tangan yang rapi dan berirama juga tampak setitik bercak merah seperti darah ditanda tangannya. Kata demi kata kubaca perlahan sembari kuteteskan air mata.
“ Icha.. sahabatku., aku menulis surat ini sambil mengenang persahabatan kita yang penuh dengan kegembiraan dan tawa.. sedari kecil kita bermain bersama hingga akhirnya penyakit yang membuatku terjatuh ini hadir, kita berjauhan hingga aku melukaimu aku tahu usiaku tak akan lama lagi dan ketika aku sadar akan itu aku memutuskan untuk memberikan mataku ini untukmu. Dan dengan mataku yang ada ditubuhmu itu aku akan selalu menjagamu dan menemanimu dimana saja dan kapan saja. Aku akan selalu mengenang kisah indah kita, dan sudah saatnya kita berpisah biar tubuh ini jauh darimu namun jiwa ini ada didekamu, biar raga ini menjadi butiran debu namun perlu kau tahu bahwa sebenarnya aku mencintaimu dan cinta ini akan abadi untukmu. Terimakasih sudah memberi arti dihidupku maaf aku tak bisa menjadi cinta yang sempurnakan hidupmu, izinkan aku menggantikan senyummu yang pernah hilang karena aku. ? sahabatmu cintamu RIKI ”
Ya , kini Riki sudah Tiada disisiku lagi, namun aku akan selalu mengenang kisah kita ini karena cintanya sudah terukir abadi didalam hati ini, air mata yang menetes ketanah kuburnya kuharap akan sampai kehatinya sehingga ia tahu betapa aku menyayanginya, burung yang bernyanyi diatas pohon biar menjadi senandung perpisahan kami.
Namun ini bukan akhir dari persahabatan kami, aku selalu datang kerumah Riki terutama kamarnya yang kental dengan warna hijau dan biru. Ada beberapa foto kami yang terpajang didinding kamarnya, juga buku diary coklatnya yang telah usang membuatku merasakan akan kehadiran sosoknya. Handphonenya yang berwarna putih kebiruan juga masih bisa digunakan, sms, video, foto, rekaman dan kenangan kami masih tersimpan dengan baik disitu.
Terimakaish Riki, terimakasih karena sudah pernah menjadi hal terindah dalam hidupku, memberiku kebahagiaan saat bersamamu. Kenanglah aku dalam setiap mimpimu disana karena aku disini juga akan selalu mengenangmu dalam setiap nafas dan langkah ini. Kau adalah sang Kejora yang selalu terangi dalam gelapku dan aku ingin mengakui satu hal karena hal ini kamu berhak tahu bahwa aku mencintaimu sungguh mencintaimu sebagai sahabat yang selalu ada untukku.

Ditulis Oleh : Punky Styo

Artikel Cahaya Untuk Icha ini ditulis oleh Punky Styo pada hari Kamis, 10 Januari 2013 . Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Cahaya Untuk Icha dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

::! ::

0 komentar on Cahaya Untuk Icha :

Post a Comment and Don't Spam!

 

Total Tayangan Halaman

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.